
Yunita mendorong Anggun, hingga kening Anggun membentur pinggiran meja. Seketika kening Anggun mengeluarkan darah segar.
" Awww." Sontak Anggun memegang keningnya yang terbentur tadi. Anggun pun kaget melihat darah ditangannya. Anggun mencoba untuk berdiri.
Salah satu karyawan yang melihat Anggun kesusahan untuk bangun, dengan sigap membantu Anggun untuk berdiri.
" Kening kamu berdarah." Kata karyawan yang membantu Anggun tadi.
Anggun pun melihat name tag karyawan tersebut dan tertulis Nada disana. " Aku nggak apa-apa kok Nada dan makasih karena udah mau membantu aku."
Setelah Anggun berhasil berdiri, Anggun pun menatap tajam pada Yunita. Karyawan lain yang melihat tatapan Anggun pun bergidik ngeri.
Anggun menghampiri Yunita, "Jangan salahkan aku kalau kau dipecat dari perusahaan ini." Bisik Anggun ditelinga Yunita.
Yunita pun tertawa mendengar ucapan Anggun tadi. " Emang kau siapa, berani berbicara seperti itu kepada ku..!!."
" Nanti kau akan tau siapa aku."
Penglihatan Anggun mulai kabur, darah dari keningnya masih mengalir seketika tubuh Anggun jatuh kelantai, Anggun pun tidak sadarkan diri.
Marko dan kedua sahabatnya baru selesai makan siang dikantin kantor. Saat mereka mau menuju lift, mereka pun melihat banyak karyawan yang berkumpul dilobi.
" Ada apa tuh rame-rame disana, kata Marko.
" Kita liat yuk," kata Aryo.
Marko dan kedua sahabatnya pergi ketempat keruman karyawan itu. Sesampai nya disana alangkah kagetnya mereka melihat ada yang pingsan dan tidak ada yang mau membantu perempuan itu.
" Kenapa kalian cuma diam saja melihat ada orang yang pingsan ucap Marko."
Marko berjalan menghampiri perempuan yang pingsan tersebut, saat Marko akan menggendong perempuan itu, alangkah kagetnya Marko melihat siapa perempuan yang ada didepannya itu.
" Siapa yang sudah melakukan ini pada Anggun ..!!! teriak Marko."
Semua karyawan yang ada disana kaget mendengar teriakan Marko tak terkecuali
Aryo dan Ardian. Mereka pun menghampiri Marko.
" Anggun ucap Aryo dan Ardian."
Saat Marko mau mengakat tubuh Anggun tiba-tiba mereka dikagetkan sama suara barinton seseorang.
" Ada keributan apa ini..!!?."
Ya suara barinton tadi milik Presiden Direktur Arga Wiguna.
Wiguna pun berjalan, semua karyawan pun menundukkan kepala mereka dan memberikan jalan untuk presdir mereka.
__ADS_1
" Siapa perempuan yang pingsan itu Marko tanya Wiguna."
" Anggun pak jawab Marko."
Deg
Wiguna kaget mendengar ucapan Marko tadi. Apa yang Marko maksud itu Anggun putri nya, atau Anggun yang lain, tak mau banyak berfikir Wiguna pun memastikan siapa perempuan yang pingsan itu.
Deg
Seketika jantung Wiguna berhenti berdetak melihat keadaan putrinya. Bagaimana tidak putri yang paling dia sayangi pingsan dan dikeningnya banyak keluar darah. Wiguna pun tidak dapat menahan emosinya.
" Siapa yang melakukan ini...!!." Teriak Wiguna.
Semua karyawan disana kaget mendengar teriakan presdir mereka dan mereka pun tidak ada yang berani menjawab.
" Saya tanya sekali lagi, siapa yang melakukan ini, jawab..!!."
Semua karyawan masih diam membisu, tetapi mereka pada bertanya-tanya didalam hati mereka apa hubungan presdir dengan perempuan yang pingsan itu, sehingga bisa membuat presdir semarah itu.
" Jika tidak ada diantara kalian yang menjawab saya akan pecat kalian semua dan saya pastikan kalian masuk dalam black list, ancam Wiguna."
" Yu.. yunita pak jawab Nada gugup."
" Siapa yang bernama Yunita disini tanya Wiguna."
" Kenapa kau melakukan ini padanya tanya Wiguna."
" Karena dia perempuan jal*ng pak, dan tadi dia juga mau ketemu bapak, dan saya yakin dia pasti mau merayu bapak ucap Yunita."
Winata pun tambah emosi mendengar ucapan Yunita tadi.
" Kau tau siapa perempuan yang kau hina tadi, Dia putri ku...!!!, dia kebanggaan keluargaku..!!."
Deerr
Bagai tersambar petir disiang bolong Yunita mendengar ucapan presdir tadi.
Tak hanya Yunita semua karyawan yang ada disana pun kaget, dan juga menyangkan tingkah bod*h Yunita.
" Kau hanya seorang resepsionis berani sekali tangan kotor kau menyentuh putri ku..!!!, mulai hari ini kau aku pecat..!!, dan aku pastikan kau tidak akan pernah dapat pekerjaan dimana pun, kau juga harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu dikantor polisi."
Seketika badan Yunita lemas tak bertenaga.
Padahal aku baru mendapatkan pekerjaan, sekarang sudah hilang lagi. Setalah ini mau mencari kerjaan dimana. Semua nya sudah hancur.
" Tuan kita harus cepat membawa nona muda kerumah sakit, badan nona makin pucat tuan ucap Robert."
__ADS_1
Wiguna pun dengan cepat mengendong putri nya kedalam mobil sebelum berjalan menuju mobilnya.
" Kalau sampai terjadi sesuatu pada putriku jangan harap Kau bisa bernafas besok pagi.Urus perempuan itu, aku ingin dia dihukum dengan seberat-berat nya. Aku dan Marko yang akan membawa Anggun kerumah sakit."
Wiguna dan Marko pun bergegas membawa Anggun kerumah sakit. Sesampai di parkiran Wiguna memberikan kunci mobil pada Marko dengan cepat Marko membuka pintu mobil untuk Wiguna. Mobil pun melaju meninggalkan perusahaan dan pergi menuju rumah sakit.
Diperjalanan menuju rumah sakit Wiguna tak henti-hentinya berdoa, supaya putri nya baik-baik aja.
Sampai dirumah sakit.
" Dokter, suster cepat tolong anak saya."
Dokter dan suster cepat membawa Anggun keruang IGD untuk segera ditangani. Diluar ruangan Wiguna sangat khawatir pada keadaan putri putrinya.
Marko pun tak jauh beda dari Wiguna, Marko takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada Anggun. Marko sempat mempunyai rasa buat Anggun, tapi setelah dia tau Anggun mencintai Vandy, Marko pun membuang perasaan cinta nya buat Anggun dan menganggap Anggun sebagai adiknya.
Sudah setengah jam Anggun berada diruang IGD tapi Dokter belum keluar juga. Tak berapa lama dokter dan suster pun keluar dari ruangan. Wiguna yang melihat dokter sudah keluar dari ruangan IGD dengan cepat menghampiri dokter.
" Bagaimana keadaan putri saya dok?. "
" Nona tidak apa-apa tuan dan kami juga sudah menjahit luka yang ada dikeningnya. Setelah nona siuman nanti tolong kasih makan nona, karena perut nona lagi kosong. Tuan boleh menemui nona setelah kami memindahkan nona keruang rawat."
"Alhamdulillah, terimakasih dok."
" Sama-sama tuan itu sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya permisi dulu tuan."
Wiguna pun hanya menganggukkan kepala nya. Setelah dokter pergi dan Anggun sudah dipindahkan keruang rawat Wiguna pun mencoba menghubungi istrinya.
" Hallo Assalamualaikum pah," terdengar suara istrinya diseberang telpon.
" Wa'alakum salam, mah cepat datang kerumah sakit ya, papa tunggu."
Belum sempat Kiara menjawab Wiguna sudah mematikan telponnya.
"Papa kenapa bisa dirumah sakit, apa terjadi sesuatu pada Anggun."
Kiara tidak mau berfikir yang aneh-aneh dulu. Kiara pun segera mengambil tas nya. Setelah itu Kiara pergi menemui putranya yang sedang bermain.
" Adek ikut mama yuk sayang."
Aska yang melihat mamanya seperti mengkhawatirkan sesuatu, mengurungkan niatnya untuk bertanya. Aska pun menganggukkan kepalanya.
Kiara dan Aska berangkat kerumah sakit diantarkan supir pribadi keluarga Wiguna.
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya guys...😉😉
HAPPY READING GUYS.. 😉😉😉
__ADS_1