
Malam hari semuanya sudah berkumpul dirumah Aldi. Mereka akan melakukan acara baberque bersama. Semua yang diperlukan sudah disiapkan oleh tuan rumah.
Para suami sudah mulai membakar daging, sosis dan yang lainnya. Sedangkan para istri hanya melihat para suami membakar daging-daging sapi pilihan itu.
" Weekend besok kita mau kepuncak ya?" tanya Sisil.
" Mas Vandy bilang sih gitu" jawab Anggun.
Tak berapa lama para suami pun datang dengan membawa hasil bakaran mereka.
" Waah seperti nya enak nih" ucap Anggun
" Tentu dong sayang"
Para istri pun memasukan suapan demi suapan daging dan sosis bakarnya. Tak berapa lama semua yang dimasak sama suami mereka tadi sudah habis tak bersisa.
" Alhamdulillah kenyang" ucap Anggun
" Aku belum kenyang" kata Sinta
" Belum kenyang? tapi kamu udah banyak makan dari tadi Honey?" ucap Aldi.
" Iya, tapi aku belum kenyang?!" kata Sinta
" Kamu mau makan apalagi Honey?" tanya Aldi
" Aku mau makan martabak manis" jawab Sinta
" Iya aku beliin dulu" kata Aldi
" Isi nya coklat sama keju ya Bee" kata Sinta
" Ok Honey"
Aldi mengambil kunci mobilnya dan pergi membeli martabak untuk istrinya.
" Aku kok belum ada tanda-tanda bakal hamil ya" ucap Sisil
" Mungkin belum rezeki kita Sweety" kata Gio
" Jangan putus asa, terus berusaha" ucap Vandy
" Thank's bro" kata Gio.
Mereka pun mengobrol ringan dan sesekali bercanda. Tak berapa lama Aldi pun kembali dengan membawa martabak manis pesanan istrinya.
" ini Honey" kata Aldi sambil memberikan kantong kresek pada istrinya.
Sinta mengambil kantong kresek yang diberikan suaminya tadi. Sinta membuka isi box nya dan tercium aroma wangi martabaknya. Sinta menghirup aroma wangi yang keluar dari martabak manis itu.
" Honey kok cuma dicium doang? kata nya masih lapar?" tanya Aldi
" Iya, tapi aku cuma mau mecium aroma nya aja"
Apa!! dia cuma mau mencium aromanya aja. Gue udah capek-capek ngantri tadi untuk mendapatkan martabak itu.
" Sabar bro, begitulah uniknya wanita hamil" kata Vandy.
__ADS_1
Malam sudah semakin larut, Anggun dan suaminya pamit untuk pulang kerumah mereka, begitu juga dengan Gio dan Sisil.
Anggun dan Vandy berjalan kaki menuju rumah mereka, karena rumahnya cuma berseberangan dengan rumah Sinta.
Sampai dirumah Anggun dan Vandy langsung menuju kamar mereka. Anggun dan Vandy membersihkan diri dulu. Setelah itu Anggun dan Vandy mengganti baju mereka dengan baju tidur.
Selesai mengganti pakaian Anggun langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya, diikuti oleh suaminya. Vandy membaringkan tubuhnya disamping sang istri.
Vandy membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya. Vandy membelai rambut istrinya dan sesekali mencium pucuk kepala istrinya. Anggun merasa bahagia bisa dicintai suaminya.
Setelah Vandy membelai rambut sang istri, Vandy beralih keperut istrinya. Vandy mengelus perut sang istri, dan seperti biasa bayi nya selalu merespon sentuhan Daddy nya.
" Mas"
" Iya sayang"
" Mas pengennya anak kita cowok apa cewek?"
" Mas pengennya cowok sih sayang, tapi apapun jenis kelaminnya nanti, Mas akan tetap sayang sama dia"
" Mas"
"Hhmmm"
" Baby pengen ditengokin Daddy nya"
" Baby atau Mommy nya yang pengen?"
" Dua-duanya" jawab Anggun malu
Vandy tersenyum mendengar jawaban istrinya. Vandy merasa senang, karena baru pertama kali istrinya meminta duluan, tentu saja Vandy tidak menyia-nyiakan kesempatan yang langka itu.
Vandy pun memulai penyatuannya, desahan dan lenguhan yang keluar dari dalam mulut Anggun membuat Vandy tambah semangat, tapi Vandy melakukannya dengan sangat hati-hati, karena Vandy tidak ingin menyakiti anaknya yang ada dalam kandungan sang istri.
Setelah melakukan selama 1 jam akhirnya Vandy pun tumbang disamping sang istri.
" Makasih sayang"
Anggun hanya membalas dengan senyuman ucapan suaminya itu. Mereka pun tertidur sambil berpelukan.
Ditempat lain.
Sisil sedang memikirkan kenapa dia belum juga bisa hamil, sedangkan usia pernikahannya sama dengan Sinta.
Gio tau apa yang dipikirkan sama istrinya itu. Jujur dia juga ingin cepat-cepat punya anak, tapi jika Allah belum ngasih rezeki mau gimana lagi. Mereka hanya bisa berusaha.
" Oppa"
" Hmmm"
" Kalau aku nggak bisa hamil, Oppa cari istri lagi aja"
" Kamu ngomong apa sih?!"
" Aku bukan wanita yang sempurna buat kamu"
" Jangan ngomong yang aneh-aneh, aku nggak akan pernah cari wanita lain"
__ADS_1
" Aku nggak bisa kasih kamu anak"
" Itu karena belum rezeki kita, yang penting kita harus selalu berdoa dan berusaha"
" Kalau aku nggak bisa hamil juga, kamu harus ceraikan aku!!"
Deg
Seketika jantung Gio berhenti berdetak mendengar ucapan sang istri. Gio tidak habis pikir dengan sang istri.
" Apa maksud omongan kamu"
" Aku nggak bisa kasih kamu anak, jadi buat apa lagi kita bersama" tutur Sisil
" Kamu pikir cinta aku hanya sebatas anak?!" mulai emosi
" Iya"
" Aku nggak nyangka kamu menilai cinta aku seperti itu"
Gio bangun dari tidurnya, dan berjalan keluar kamar. Gio akan tidur dikamar tamu malam ini, dia tidak ingin karena emosi dia menyakiti sang istri.
Sepeninggal suaminya, Sisil menangis sejadi-jadinya. Dia nggak ingin mengucapkan kata cerai, tapi Sisil juga tidak mau egois. Sisil tau kalau suaminya itu juga ingin seperti para sahabatnya. Cukup lama Sisil menangis dan akhirnya dia pun telelap.
Pagi hari
Gio sudah bangun dari tidurnya. Gio melangkahkan kakinya kekamar mandi. Setelah mandi Gio memakai pakaian kantornya.
Selesai memakai pakaiannya, Gio menuju meja makan. Gio sarapan duluan tanpa menunggu sang istri. Setelah sarapan Gio pun pergi kekantor. Tapi sebelum pergi Gio berpesan pada Bibik untuk menyuruh istrinya sarapan dulu sebelum berangkat kekantor.
Sisil baru bangun dari tidurnya, dan dia mendengar suara mobil sang suami. Sisil bangun dari tempat tidurnya dan melihat dari jendela kamarnya.
Benar saja, suaminya sudah berangkat duluan kekantor tanpa menunggu dirinya. Sisil merasa sedih karena suaminya pergi tanpa berpamitan kepada dirinya terlebih dahulu. Setelah mobil suaminya sudah tidak terlihat lagi, Sisil pun masuk kekamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
Selesai mandi Sisil memakai pakaian kantornya. Setelah itu Sisil mengambil kunci mobilnya dan turun kebawah.
" Non nggak sarapan dulu?" tanya Bibik
" Aku sarapannya dikantor aja Bik" jawab Sisil.
Sisil pun berlalu meninggalkan Bik Jum. Sisil mengeluarkan mobilnya dari garasi, setelah itu Sisil melajukan mobilnya menuju kantornya.
Sampai dikantor Sisil langsung menuju ruangannya. Sepanjang jalan Sisil tidak menghiraukan sapaan karyawan lain. Sisil terus berjalan menuju meja kerjanya.
Sisil tidak menyapa para sahabatnya, dan itu membuat Anggun dan Sinta menjadi bingung.
" Sisil kenapa ya Sin?" tanya Anggun
" Gue juga nggak tau" jawab Sinta
" Apa dia ada masalah?"
" Ntar kita tanya pas makan siang" jawab Sinta.
Ingin rasanya menanyakan sekarang pada sahabatnya itu, tapi ini masih jam kerja. Jadi Anggun harus menahannya sampai jam makan siang nanti. Anggun pun memulai pekerjaannya dan berharap waktu berjalan dengan cepat.
To be continue..
__ADS_1
Happy Reading Guys.. 😉😉