
Waktu begitu cepat berlalu, sekarang usia kandungan Vanya sudah 9 bulan, dan sekarang tinggal menunggu kelahiran sang cabang bayi.
Marko benar-benar menjadi suami yang siaga untuk istrinya. Seperti saat ini dia sedang mengepak pakaian istri dan juga calon anaknya.
" Kak"
" Hhmm"
" Apa bajunya nggak kebanyakan?" tanya Vanya.
" Nggak sayang"
" Tapi bawaan kakak itu sudah seperti orang pindahan"
" Masa sih sayang"
" Iya, mana ada orang mau melahirkan bawa dua koper"
" Hehehe untuk jaga-jaga sayang"
" Cukup bawa dengan tas kecil aja"
" Baiklah" pasrah.
Marko pun mengikuti titah sang istri. Marko memasukkan beberapa helai pakaian istri dan calon baby nya kedalam tas kecil. Setelah itu dia memindahkan lagi pakaian yang di dalam koper ke dalam lemari.
" Apa ini cukup sayang?" tanya Marko sambil memperlihatkan tas kecil pada sang istri.
" Cukup" jawab Vanya sambil tersenyum pada sang suami.
Marko meletakkan tas kecil itu didekat nakas, supaya nanti tidak susah mencarinya. Marko berjongkok didepan sang istri. Kemudian dia menempelkan kepalanya diperut sang istri.
" Kami sudah tidak sabar menunggu kamu lahir sayang" kata Marko sambil mengelus perut sang istri.
Vanya membelai rambut suaminya. Vanya merasa beruntung mendapatkan suami seperti Marko.
" Sayang, sekarang kita tidur ya"
" Hhmm"
Marko membantu istrinya berdiri, karena Vanya memang agak kesusahan untuk berdiri. Vanya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Vanya mencari posisi yang enak untuk dia tidur.
Marko kadang kasihan melihat sang istri yang selalu mencari posisi nyaman untuk tidurnya. Ingin rasanya Marko menggantikan posisi istrinya, tapi apalah daya lelaki tidak bisa mengandung.
Vanya tidur dengan posisi miring kekanan. Ya itu posisi yang paling nyaman untuk dia sekarang. Marko memeluk tubuh istrinya dari belakang.
" Selamat tidur istriku"
" Selamat tidur juga suamiku"
Vanya mulai memejamkan matanya, begitu juga dengan Marko. Tak berapa lama mereka pun tertidur dengan posisi Marko memeluk sang istri.
__ADS_1
Jam 2 dini hari Vanya terbangun karena merasakan sakit di pinggangnya. Vanya mencoba menahannya dengan memejamkan matanya kembali.
Benar saja rasa sakitnya pun hilang. Tepat pukul 3 pagi rasa sakit itu kembali datang. Kali ini rasa sakitnya 2 kali lipat dari yang tadi.
" Arrgkk" rintih Vanya.
Marko pun terbangun karena mendengarkan rintihan sang istri.
" Sayang"
" Sa-sakit Kak" tangis Vanya.
Marko bangun dari tidurnya dan bergegas keluar kamarnya.
" Ma.. mama!"
Diana dan Dwipangga pun keluar dari kamar mereka karena mendengar teriakan Marko.
" Marko, kenapa kamu berteriak pagi-pagi begini Nak?" kata Diana
" Iya, kalau mau latihan vokal nanti jam 7 pagi " kata Dwipangga.
" Maaf Ma, Pa kalau aku sudah membangunkan kalian. Tapi ini darurat Ma, Pa" kata Marko.
" Darurat gimana?" tanya Dwipangga.
" Istri aku mau melahirkan Ma, Pa"
Seperkian detik. " Apa!, kenapa kamu baru bilang" kata Dwipangga.
" Tunggu apalagi cepat bawa istri kamu kerumah sakit" kata Diana mertu Marko.
" Baik Ma"
Marko segera kekamarnya, diikuti sama mama mertuanya. Sedangkan Dwipangga menyiapkan mobil untuk mereka pergi nanti.
Marko menggendong istrinya kemobil, Diana membawa tas yang sudah disiapkan Marko tadi. Sampai dimobil Dwipangga membukakan pintu untuk Marko.
" Biar papa yang nyetir, kamu temenin istri kamu dibelakang" kata Dwipangga.
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Dwipangga. Sepanjang jalan Marko disiksa sama sang istri, tapi Marko mencoba menahannya.
Karena dia tau rasa sakit yang dirasakan istrinya jauh lebih parah dari yang dia rasakan sekarang ini.
" Tahan ya sayang, bentar lagi kita nyampe" kata Marko sambil menenangkan istrinya.
" Gimana mau tahan, ini sakit banget. Kamu nggak merakan" tangis Vanya.
" Aku tau sayang"
" Tau apa kamu!, laki-laki itu cuma tau enaknya aja,termaksud papa" kata Vanya.
__ADS_1
" Kok papa juga kena, kan papa diam aja dari tadi" protes Dwipangga.
" Emang papa bukan laki-laki?" tanya Vanya.
" Ya laki-laki lah" jawab Dwipangga.
" Terus kenapa protes tadi" kata Vanya.
Dwipangga pun memilih untuk diam kembali. Diana susah payah menahan tawanya mendengar perdebatan Vanya dan papanya. Diana tak habis pikir dalam kesakitan Vanya masih bisa berdebat dengan suami dan juga papa nya.
Mereka pun sampai di depan rumah sakit. Marko menggendong istrinya masuk kedalam rumah sakit. Dwipangga dan Diana pergi keparkiran untuk memarkirkan mobilnya.
" Dokter!, suster!" teriak Marko.
" Ada apa tuan?, kenapa anda berteriak dirumah sakit" tanya dokter
" Tolong istri saya mau melahirkan"
Dokter itu melihat penampilan Marko yang hanya mengenakan baju tidur saja. Pergi begitu saja meninggalkan Marko.
Dokter itu tidak mengenali Marko. Dia juga tidak melihat wajah Vanya, karena wajah Vanya tertutup sama rambut panjangnya.
Ck.. hanya orang miskin ternyata, berani sekali mereka datang kerumah sakit terbesar dikota ini.
Marko kaget melihat Dokter itu berlalu pergi tanpa membantu dia dan sang istri. Begitu juga dengan suster, mereka hanya melihat Marko yang masih menggendong Vanya.
" Berani sekali mereka mengacuhkan istriku!,apa kalian mau cari mati!" teriak Marko.
" Maaf, anda bisa menganggu ketenangan pasien lain " kata salah satu perawat
" Panggilkan pihak keamanan" saran dokter yang baru datang.
Petugas resepsionis pun memanggil petugas keamanan.
" Kak, aku sudah nggak kuat" kata Vanya sambil memjamkan matanya.
" Sayang, bangun.." kata Marko sambil memukul pelan pipi sang istri.
Beberapa petugas keamanan datang. Marko menatap tajam pada petugas itu. Para petugas kemanan itu pun begidik ngeri melihat tatapan membutuh dari Marko. Mereka mundur beberapa langkah.
" Kalau sampai terjadi sesuatu pada istri dan calon anak saya, maka kalian semua akan saya habisi!"
Dwipangga dan istrinya baru masuk kedalam rumah sakit. Dwipangga melihat banyak kerumunan orang di lobi rumah sakit.
" Ada apa ini!"
To be continue...
Jangan lupa kasih dukungannya untuk Author..
Happy Reading...😚😚
__ADS_1