
Ketika pintu terbuka tampaklah wajah dua orang laki-laki yang sudah tidak mudah lagi namun masih terlihat tampan.
" Papa..!!."
Winata dan Dwipangga tersenyum penuh kemenangan, karena mereka berhasil mengganggu Vandy, dan itu melihat jelas dari wajah Vandy yang terlihat frustrasi.
" Papa ngapain sih malam-malam begini masih keluyuran!?."
" Papa dan Papa mertua kamu nggak bisa tidur jadi kita datang kesini minta kamu buat temenin kita main catur."
" Nggak..!?, lagian Vandy udah ngantuk dan capek juga.
" Waah parah kamu Van, emang kamu mau jadi anak durhaka?" kata Wiguna.
" Justru Papa berdua yang akan dicap jadi Papa-papa durhaka."
" Mana ada seperti itu, dimana-mana yang sering disebut itu anak yang durhaka bukan Papa durhaka" ucap Dwipangga.
" Terserah Papa aja mau anak durhaka kek, Papa durhaka kek aku nggak peduli. Yang jelas sekarang aku mau tidur. Selamat Malam."
Saat Vandy mau menutup pintu tiba-tiba Wiguna menahan pintunya jadi pintunya nggak bisa tertutup.
" Apalagi si Pa!?, aku udah ngantuk ni."
" Ayolah Van temenin kita main" kata Wiguna.
" Nggak mau..!!."
Saat Dwipangga mau menjawab tiba-tiba hawa disekitar mereka terasa dingin seperti ada makhluk halus.
" Kok tiba-tiba hawa disini jadi dingin dan membuat bulu kuduk ku merinding" kata Wiguna.
Giliran Vandy yang tertawa melihat ekspresi Papa dan Papa mertuanya.
" Emang Papa fikir Mama makhluk halus" ucap Kiara istri Wiguna.
" Berani sekali kalian mengganggu anak dan anak mantu ku yang lagi tidur" kata Diana.
" Hukuman apa yang pantas buat mereka Di" tanya Kiara.
" Gampang kita suruh aja mereka tidur diluar malam ini?" jawab Diana.
" Jangan dong Ma?" ucap Dwipangga.
" Pilih tidur diluar atau puasa satu Minggu" ucap Kiara.
Para suami itu pun pasrah tidur diluar daripada puasa satu Minggu.
" Van cepat istirahat besok kaliankan mau berangkat" ucap Diana.
" Iya Ma, Vandy pamit kedalam dulu."
Vandy menutup pintu kamarnya kembali dan menghampiri istrinya. Vandy tersenyum melihat istrinya yang sudah ketiduran.
" Selamat tidur my Wife." Vandy mencium kening istrinya dan ikut berbaring disamping Anggun. Seperkian menit Vandy belum juga bisa memejamkan matanya. Melihat tubuh Anggun yang begitu menggoda membuat sesuatu dibawa sana menegang. Vandy mencoba menidurkan benda pusakanya itu tapi tidak bisa.
Vandy memberikan sentuhan lembut kepada Anggun, dan sentuhan itu berhasil membuat Anggun bangun dari tidurnya.
" Mas ngapain?."
" Mas nggak bisa tidur sayang, kita lanjutin yang tertunda tadi ya?."
Anggun melihat wajah suaminya yang lagi memelas gitu jadi nggak tega. Anggun menganggukan kepalanya. walaupun Anggun masih ngantuk dia tidak ingin membuat suaminya kecewa. Vandy yang mendapatkan izin dari istrinya pun melanjutkan aksinya ya kembali.
Vandy memberikan kecupan-kecupan lembut diwajah Anggun, setelah itu turun keleher jenjang milik istrinya dan meninggalkan stempel kepemilikan yang cukup banyak disana. Setelah tubuh Anggun merasa rileks Vandy membuka pakaiannya. Vandy mencium bibir istrinya sekiras dan turun kebawah ketempat dua gunung kembar, tidak terlalu besar tapi pas digenggam. Vandy mengecup secara bergantian dan memberikan stempel kepemilikan disana. Setelah puas bermain-main disana Vandy mencoba memasukan benda pusakanya. Karena itu baru pertama kali buat Anggun. Vandy begitu kesusahan memasukan benda miliknya.
Anggun yang merasakan ada sesuatu yang mencoba menerobos masuk kedalam miliknya. Anggun tidak dapat menahan sakitnya.
" Sakit Mas."
" Tahan bentar ya sayang."
__ADS_1
Setelah melalui perjuangan yang sangat melelahkan akhirnya Vandy berhasil menyatukan benda miliknya dengan mahkota milik istrinya. Saat benda pusaka milik suaminya berhasil masuk tanpa sadar Anggun menitikan air matanya. Walaupun terasa sakit tapi Anggun bahagia karena memberikan mahkota yang selalu dia jaga kepada suaminya.
Sakit yang tadi dirasakan sudah tidak terasa lagi, berganti dengan suara-suara yang merdu. Setelah mencapai puncaknya Vandy memuntahkan benih miliknya kedalam milik sang istri, dan berharap benih itu akan segera tumbuh. Setelah itu Vandy pun ikut tumbang disamping istrinya.
" Makasih sayang."
" Hhhmmm." Anggun menjawab dengan sisa-sisa tenaganya.
Mereka pun terlelap karena kecapekan kerja menggarap sawah tadi.
Pagi hari.
Semua orang sudah berkumpul untuk pergi kerestoran yang ada dihotel Wiguna. Mereka akan sarapan bersama.
" Anggun sama Vandy kok lama banget si Ma?" kata Wiguna.
" Mungkin mereka masih tidur" jawab Kiara.
" Kita bangunin aja mereka" kata Dwipangga.
" Nggak boleh, biarkan saja mereka tidur, awas kalau Papa ganggu mereka" ucap Diana.
" Kita duluan aja sarapan, nanti mereka makan dikamar saja" ucap Kiara.
Mereka berjalan menuju restoran hotel untuk sarapan bersama. Direstoran Aldi dan yang lain sudah menunggu dua keluarga besar itu.
" Kira-kira mereka udah buka kado dari kita belum ya?" tanya Sisil.
" Gue rasa udah deh, jadi penasaran seperti apa ekspresi Anggun melihat kado dari kita" jawab Sinta.
" Iya, apalagi ekspresi Vandy liat kado dari gue dan Aldi" kata Gio.
" Emang kado kalian apa?" tanya Sinta.
" Obat kuat" jawab Aldi.
" Waah parah kalian, gue yakin Vandy pasti akan ngamuk besar nanti" ucap Sinta.
" Mungkin Vandy sama Anggun nggak bakal turun deh" ucap Sisil.
" Gue rasa juga begitu" kata Sinta.
Saat mereka sedang asik ngobrol, tiba-tiba mereka dikagetkan sama suara Vanya.
" Kak Aldi."
" Eh Vanya, ayo duduk" tawar Aldi.
" Kamu sendirian aja Vanya?" tanya Gio.
" Nggak kok Kak, Mama, Papa dan yang lainya bentar lagi juga sampai" jawab Vanya.
" Ini pacarnya Kak Aldi sama Kak Gio ya."
" Iya, kenalan dong" kata Aldi.
Vanya berkenalan dengan Sinta dan Sisil. mereka pun asik ngobrol dan bercanda.
" Udah lama ya" ucap Diana.
" Kita baru nyampe kok tante" kata Aldi.
" Kalian udah pesan makanan?" tanya Kiara.
" Belum tante" jawab Gio.
Kiara memesan makanan yang terbaik direstoran itu. Sambil menunggu pesanan datang mereka pun mengobrol.
" Anggun nggak ikut sarapan Tan?" tanya Sinta.
" Nggak Sin, mungkin mereka akan sarapan dikamar" jawab Kiara.
__ADS_1
" Kenapa nggak dibangunin aja tadi Ma, Kak Anggun nya" kata Vanya.
" Kakak kamu kecapekan, jadi nggak boleh diganggu" ucap Diana.
Pesanan pun datang, semua makanan terbaik sudah terhidang dimeja. Mereka pun mulai menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.
Dikamar hotel.
Vandy baru bangun dari tidurnya, Vandy tersenyum melihat istrinya yang masih telelap dalam dekapannya. Vandy mengusap pipi istrinya yang lembut bak kulit bayi itu.
" Dalam keadaan tidur aja kamu masih keliatan cantik. Aku sangat mencintai kamu sayang."
Vandy mencium kening istrinya, setelah itu dia berlalu kekamar mandi dan membersihkan dirinya. Tidak berapa lama Vandy pergi kekamar mandi, Anggun pun terbangun dari tidurnya. Anggun melihat kesamping ternyata suaminya sudah nggak ada. Anggun mendengar bunyi gemericik air dikamar mandi, itu bearti suaminya sedang berada dikamar mandi.
Anggun membayangkan kejadian semalam dimana dia menyerahkan miliknya yang beharga pada suaminya. Anggun pun senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam. Saat Anggun sedang membayangkan kejadian semalam, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Sontak Anggun melihat kearah kamar mandi. Vandy keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya sudah bangun, Vandy menghampiri istrinya.
Cup
Vandy mencium bibir Anggun sekilas.
" Morning kiss sayang."
Anggun hanya membalas dengan senyuman. Anggun bangun dari tidurnya, saat Anggun mau berdiri Anggun merasa sakit dibagian selangkangannya.
" Awww."
" Masih sakit ya?."
Anggun menganggukan kepalanya.
" Maafin Mas ya sayang, karena perbuatan Mas kamu jadi sakit kayak gini" merasa bersalah.
" Aku nggak apa-apa kok Mas, nanti juga hilang sakitnya" mencoba menenangkan suaminya.
" Mas bantu kekamar mandi ya."
Vandy menggedong Anggun kekamar mandi. Vandy mengisi bathup dengan air panas. Setelah bathup terisi dengan air panas Vandy pun menurunkan Anggun dari gendongannya.
" Mas keluar dulu, aku bisa sendiri kok."
" Kenapa Mas harus keluar."
" Aku malu."
" Kenapa harus malu, Mas ini kan suami kamu sayang, lagian Mas juga udah liat semuanya."
Anggun bertambah malu mendengar kalimat vulg*r dari suaminya itu, walaupun Vandy suaminya tapi Anggun tetap saja merasa malu.
" Pokoknya Mas tunggu diluar, kalau nggak aku nggak akan mau lagi ngomong sama Mas."
" Baiklah Mas akan tunggu diluar, nanti kalau sudah selesai panggil Mas."
Vandy keluar dari kamar mandi dan menunggu istrinya didepan pintu kamar mandi. Setelah suaminya keluar Anggun masuk kedalam bathup.
" Ah nyamannya, sakitnya juga agak berkurang."
Sudah 20 menit Anggun berada dikamar mandi. Kaki Vandy sudah mulai pegal karena berdiri dari tadi.
Tok tok
" Sayang udah belum?, kaki aku udah pegal ni?."
" Sudah Mas."
Vandy masuk kekamar mandi dan membantu istrinya. Setelah membantu istrinya berpakaian, Vandy dan Anggun turun kebawah untuk sarapan.
To be continue..
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian buat Authorπππ
HAPPY READING GUYS... πππ
__ADS_1