
Vandy kaget mendengar ucapan sang istri, begitu juga dengan Kenzo. Apa istrinya itu akan menampar istrinya Pak Sigit, itulah yang ada dalam pikiran Vandy saat ini.
" Ma-maksud anda nyonya?" tanya istri Sigit terbata.
" Jangan berpura-pura lupa, anda pasti tau maksud saya" kata Anggun.
" Apa nyonya akan menampar saya juga?"
" Tentu saja, kau sudah berani mengangkat tangan mu pada putraku" kata Anggun.
Sigit merutuki tindakan istrinya yang ceroboh. Dia takut Anggun akan membatalkan bantuannya untuk perusahaannya.
Plak..
Semua orang di sana kaget melihat apa yang terjadi di hadapan mereka. Ya Sigit menampar istrinya dengan sagat keras.
" Apa yang anda lakukan!" hardik Anggun.
" Sa-saya membantu nyonya memberi pelajaran untuk istri saya" kata Sigit.
" Apa saya ada minta bantuan sama anda" tegas Anggun.
" Ti-tidak nyonya"
" Lalu kenapa anda menampar istri anda?"
" Refleks aja nyonya"
"Apa anda sering melakukan kekerasan pada istri anda"
" Ti-tidak nyonya, ini pertama kalinya saya menampar istri saya" kata Sigit.
Anggun melirik istri Sigit sekilas, kemudian beralih kepada Sigit. " Baiklah, berhubung hari ini saya baik, maka saya maafkan kau yang sudah menampar istrimu" kata Anggun.
Bukan apa-apa, Anggun melihat pipi istri Sigit sudah merah. Jadi kalau Anggun menampar lagi, bisa-bisa pipi istri Sigit tak berbentuk lagi.
" Te-terima kasih nyonya" ucap Sigit.
" Sekarang kalian pulanglah, kalau kalian masih disini bisa-bisa emosi saya naik lagi" kata Vandy.
" Sekali lagi terima kasih tuan. Kami permisi dulu" ucap Sigit.
" Hhmm"
Sigit, istri dan anaknya pun pergi meninggalkan gazebo itu. Sigit bersyukur karena Vandy masih mau membantunya. Dia berjanji akan berubah, begitu juga dengan Gilang.
" Sayang kenapa kamu nggak jadi tampar istri Sigit tadi?" tanya Vandy setelah Sigit dan keluarganya pergi.
" Aku kasihan melihat pipi istrinya sudah merah, jadi kalau aku tampar lagi, takutnya wajahnya tak berbentuk lagi" Kata Anggun.
" Kulitnya kan setebal kulit badak" kata Vandy.
__ADS_1
" Tapi nggak apa-apa, yang penting dia bisa merasakan apa yang putra kita rasa kan, tanpa harus mengotori tangan kita. Karena sudah di wakilkan sama suaminya" kata Anggun.
" Sigit takut kalau kita akan membatalkan bantuan kita, jadi dia berinisiatif sendiri untuk menampar istrinya" kata Vandy.
Anggun dan istrinya tertawa melihat kejadian tadi. Kenzo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kedua orangtuanya tertawa lepas seperti itu.
Kenzo ikut senang dan bahagia melihat mommy dan daddy nya tertawa lepas seperti itu. Kenzo berharap semoga kebahagiaan akan selalu menyertai mommy dan daddy nya.
***
Sigit baru sampai dirumah nya. Dia segera menyuruh pelayannya untuk mengambilkan es batu dan juga kain kecil. Sigit akan mengompres pipi istrinya yang sudah mulai membengkak akibat ulahnya tadi.
" Ini gara-gara kamu Pah!" kata istri Sigit.
" Maaf Ma, papa nggak sengaja"
" Ck.. bohong!"
" Benar Ma, lagi pula mama beruntung karena papa yang nampar. Kalau istrinya tuan Vandy yang melakukan, bisa-bisa pipi mama nggak berbentuk lagi"
" Tidak mungkin, tenaga istrinya tuan Vandy itu pasti lemah"
" Papa rasa tidak, justru papa lihat dia seperti wanita yang kuat "
" Entalah, tapi mama lega karena perusahaan kita akan baik-baik saja"
" Kita harus bisa mendidik Gilang untuk menjadi lebih baik lagi Ma"
" Kau dengar Gilang, jika kau membuat masalah lagi. Papa tidak akan segan-segan mengeluarkan mu dari ahli waris papa"
" Iya Pa, aku janji ini yang terakhir kalinya aku membuat masalah" kata Gilang.
" Papa akan pegang janji kamu itu"
Gilang memang sudah bertekad untuk berubah. Besok dia juga akan meminta maaf pada anggota OSIS yang lain. Dia tidak ingin menggunakan kekuasaan papanya lagi. Gilang sekarang percaya kalau di atas langit masih ada langit.
Malam hari.
Para sahabat Anggun dan Vandy datang kerumah mereka. Karena sudah lumayan lama mereka tidak berkumpul dan mengobrol bersama.
Anggun menceritakan kejadian tadi sore kepada para sahabatnya. Anggun menceritakan semuanya.
" Sayang sekali istri Sigit tidak mendapatkan cap stempel dari ratu singa" kata Aldi.
" Benar banget " kata Gio.
" Kalau dia mendapatkan cap stempel ratu singa, gue pastiin dia langsung kerumah sakit" kata Sinta sambil tertawa.
" Stempelnya memberi bekas seumur hidup" kata Sisil.
" Lebai kalian berdua, tangan gue nggak sekuat itu kali memberi stempelnya" kata Anggun.
__ADS_1
" Nggak kuat gimana, Kia saja sampai tersungkur saking kuatnya stempel dari ratu singa" kata Sinta.
" Gue bayangin istri Sigit dulu ya guys" kata Aldi.
" Apa!, kalau kamu coba bayangin perempuan lain, aku nggak akan kasih kamu jatah seumur hidup" ancam Sinta pada suaminya.
" Papa cuma bayangin saat dia tersungkur, karena stempel dari ratu singa Ma. Lagi pula mana berani papa bayangin yang lainnya" kata Aldi.
" Bohong itu Sin" kata Gio mengompori Sinta.
" Iya Sin, Aldi pasti mau bayangin tubuh istri Sigit yang lagi polos tanpa sehelai benang pun" kata Vandy ikut mengompori.
" Benar itu Pah, kamu lagi bayangin tubuh polosnya istri Sigit"
" Dasar teman nggak ada akhlak lo bedua. Honey jangan dengarkan mereka berdua. Untuk apa juga papa bayangin tubuh istri Sigit, mending papa bayangin tubuh istri papa sendiri" kata Aldi.
" Baguslah, kalau sampai apa yang dibilang Vandy itu benar, habis pusaka kamu Pah" kata Sinta.
" Kalau di potong, mama juga yang rugi nanti" kata Aldi.
" Tidak akan, karena mama bisa cari pusaka lain" kata Sinta.
" Aku akan bunuh laki-laki itu!" kata Aldi.
Semua orang disana tidak dapat menahan tawa mereka, melihat tingkah Aldi yang sangat lucu. Vandy dan Gio membayangkan kalau Sinta benar memotong pusakanya Aldi.
Sedangkan diruangan lain ketiga cowok tampan sedang bermain game. Ya mereka adalah Kenzo cs. Mereka lebih memilih bermain game dari pada berkumpul sama orangtua mereka.
Sedangkan Kiran dan Daffin lagi main boneka.Daffin terpaksa mengikuti keinginan Kiran untuk bermain boneka, karena kalau tidak dia akan menempel terus sama Tristan dan Daffin tidak suka itu.
" Princes" panggil Daffin.
" Hhmm"
" Kalau sudah besar nanti maukah Princes menikah dengan Affin"
" Mau "
" Benar ya princes akan menikahinya dengan Affin, bukan dengan bang Tian"
" Iya Affin" jawab Kiran.
" Affin mau princes berjanji" kata Daffin sambil memberikan jari kelingkingnya.
" Promise " kata Kiran sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Daffin.
Daffin tersenyum pada Kiran, begitu juga dengan Kiran. Tapi mereka tidak tau bagaimana takdir mereka nantinya akan seperti apa.
To be continue..
Happy Reading.. 😚😚
__ADS_1