Pelabuhan Cinta CEO Arrogant

Pelabuhan Cinta CEO Arrogant
CEO Bucin


__ADS_3

Vanya bangun dari duduknya. Saat Vanya mau pergi tangan Vanya dicekal Marko.


" Lepasin tangan aku."


" Nggak akan."


" Buat apa aku disini. Kamu bilang nggak baik kan seorang cewek yang sudah bertunangan ada disini?."


Marko menarik tangan Vanya hingga membuat Vanya jatuh kepangkuan Marko. Mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Marko begitu terpesona melihat kecantikan Vanya. Bola mata yang indah. kulit yang begitu putih dan mulus seperti kulit bayi.


Perlahan Marko membelai pipi Vanya yang lembut. Vanya memejamkan matanya menikmati sentuhan yang diberikan Marko untuknya. Marko mengusap bibir Vanya yang merah seperti buah cerry. Marko ingin sekali mencipipi bibir Vanya yang lembut itu.


" Jangan pernah berhenti untuk mengganggu aku. Jangan pernah bilang kalau kamu akan berhenti mengejar dan mencintai aku. Jangan pernah lakukan itu. Karena aku sudah terbiasa dengan itu. Beri aku waktu untuk meyakinkan hati aku. Apa kamu mau menunggu ku."


Vanya menganggukkan kepalanya.


Marko mencium kening Vanya sangat lama sekali. Vanya memejamkan matanya. Marko menyalurkan perasaannya melalui kecupan yang diberikannya itu.


" Beri aku waktu untuk meyakinkan hati aku. Apakah kamu mau menunggu?."


Vanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Marko membawa Vanya kedalam pelukannya. Vanya pun membalas pelukan Marko. Wangi aroma tubuh Marko memberikan ketenangan buat Vanya. Setelah seperkian menit drama romantis itu harus selesai gara-gara bunyi perut Marko.


Krucuk krucuk ( Anggap aja bunyi perut lapar ya guys 😁😁).


Vanya yang mendengar bunyi perut Marko sontak melepaskan pelukannya.


" Kamu lapar?" tanya Vanya.


" Iya" jawab Marko malu-malu.


" Tunggu disini ya aku mau masak dulu."


" Nggak usah. Kita makan bakso yang dekat lampu merah aja."


" Enak nggak."


" Enak. Aku jamin pasti kamu suka."


" Yuk."


" Bentar aku ngambil kunci mobil dulu."


" Pake mobil aku aja."


Mereka pun berangkat dengan mobil Vanya. Mereka masuk kedalam mobil Marko memasangkan seatbelt buat Vanya. Marko memacu mobilnya meninggalkan Apartemennya. Marko fokus mengemudi dan sesekali melirik Vanya.


" Liat kedepan ntar nabrak."


" Siap nona kecil."


" Aku udah besar bahkan udah siap menjadi ibu buat anak-anak kamu."


Ciiiiiiiiiiiiit.


Marko merem mendadak mobilnya. Untung Vanya memakai seatbeltnya kalau tidak sudah dipastikan kepalanya sudah benjol karena terbentur dashboard.


" Kamu kenapa sih?!."


" Maaf tadi ada kucing lewat."


Marko melajukan mobilnya kembali. Tak berapa lama akhirnya mereka sampai ditempat penjual bakso. Marko memakirkan mobilnya disebelah mobil Vandy.


Alangkah kagetnya Vanya melihat Kakak dan Kakak iparnya sudah ada disana. Sebelum Vanya menyapa Anggun sudah lebih dulu memanggil Vanya.


" Hai Dek."


Sontak Vandy menoleh kebelakang. Anggun berjalan menghampiri Vanya.


" Kamu sama siapa kesini?."


" Sa-sama Ma-marko" terbata.


" Maksud kamu Kak Marko teman Kakak."


Vanya menganggukan kepalanya.


" Apa orang yang kamu suka itu Kak Marko" bisik Anggun.


" I-iya Kak."


Anggun tersenyum mendengar jawaban Vanya.

__ADS_1


" Jangan bilang sama Kak Vandy ya Kakak ipar."


" Kenapa?."


" Aku takut dia marah."


" Tenang aja kalau dia berani marahin kamu maka Kakak akan kasih hukuman buat dia. Kakak dukung kamu sama Kak Marko."


" Makasih Kakak ipar."


Tak berapa lama Marko datang dan menghampiri Vanya.


" Anggun."


" Hai Kak Marko."


Vandy kesal melihat interaksi istrinya dengan Marko. Karena Vandy tau kalau Marko suka sama istrinya. Vandy menghampiri istrinya.


" Sayang. Kamu kok berdiri disini sih."


" Kita duduk disana yuk sambil ngobrol-ngobrol" ucap Anggun.


Mereka pun duduk dikursi agak pojok.


" Vanya kamu sama siapa kesini?" tanya Vandy.


" Sama gue " jawab Marko.


" Gue nggak nanya sama lo. Gue nanya sama Adek gue."


" Gue wakilin Adek lo" jawab Marko.


" Lo pikir Adek gue nggak punya mulut buat jawab."


" Sudah-sudah kalian ini seperti anak kecil saja" ucap Anggun.


" Dia yang mulai duluan sayang" kata Vandy.


Anggun menatap tajam suaminya itu. Vandy yang mendapatkan tatapan tajam dari istrinya langsung diam.


" Kak Marko udah lama kenal sama Vanya?" tanya Anggun.


" Baru satu bulan yang lalu."


" Uhuk uhuk."


Anggun memberikan air mineral pada suaminya.


" Hati-hati dong Mas."


" Vanya masih kecil jadi belum boleh pacaran."


" Vanya sudah dewasa jadi bole-boleh aja."


" Sayang."


" Apa?!."


Kalau sang Ratu sudah bicara Vandy tidak bisa berkata-kata lagi. Vanya dan Marko tertawa melihat Vandy yang tidak bisa berbuat apa-apa. Vandy menatap tajam Vanya karena berani menertawakannya. Vanya yang ditatap tajam sama Kakaknya cuma cuek aja.


" Mas kamu jangan menatap Vanya seperti itu."


" Kok kamu belain dia sih sayang."


" Bukan belain tapi dia punya salah apa sama kamu. Sehingga kamu natap dia kek gitu."


" Dia ngejek Mas tadi."


" Benar Vanya kamu ngejek suami Kakak."


" nggak kok Kak. Vanya mana berani."


" Tuh kamu dengar sendiri kan Mas."


" Huuuh" Vandy membuang nafasnya dengan kasar.


Mereka pun asik mengobrol dan sesekali diselingi dengan bercanda dan perdebatan kecil antara Anggun dan Vandy.


Malam hari.


Pasangan pasutri sudah bersiap mau pergi keacara lamaran Gio dan Sisil. Anggun terlihat cantik dengan gaun yang dia pakai sekarang. Vandy juga terlihat tampan dengan jas yang dia pakai sekarang.

__ADS_1


Aldi dan Sinta sudah menunggu mereka dibawah. Anggun dan Vandy berjalan menuruni tangga.


" Cantik banget sayangnya aku" puji Sinta.


" Kesayangan aku juga cantik banget" puji Anggun.


" Yuk berangkat. Nanti kita telat" ucap Aldi.


Mereka berangkat pakai mobil masing-masing. Mobil mereka pun melaju meninggalkan rumah Vandy. Jarak rumah Vandy dengan rumah Gio tidak terlalu jauh hanya butuh waktu 15 menit. Mereka pun sudah sampai dirumah Gio.


Anggun dan Sinta yang memang baru pertama kali kerumah Gio. Mereka merasa takjub dengan dekorasi rumah Gio. Rumah yang bernuansa eropa. Walaupun rumah itu tidak sebesar rumah utama Wiguna dan Dwipangga.


Gio dan kedua orangtua nya menyambut kedatangan Vandy dan yang lainnya. Delon mempersilakan Vandy dan yang lain masuk. Mereka duduk disofa ruang tamu.


" Ini istri kamu ya Van" tanya Delon Papanya Gio.


" Iya Om."


Anggun pun bersalaman dengan orangtua Gio dan diikuti oleh Sinta.


" Cantik" ucap Delon.


" Ya cantik lah om. Makanya aku nikah sama dia" kata Vandy.


" Anggun kok bisa betah sama dia" tanya Delon.


" Dibetah-betahin aja Om" jawab Anggun.


" Sayang kok kamu jawab nya gitu" merajuk.


" Ck sejak kapan sifat kamu berubah manja kayak gini Van" tanya Dion.


" Sejak ada yang manjain aku Om" jawab Vandy sombong.


" Om nggak nyangka Aldi sama Gio bakal nikah barengan" ucap Delon.


" Iya Om. Padahal kemarin aku meragukan mereka berdua" ucap Vandy.


" Meragukan apa maksud lo" ucap Gio dan Aldi barengan.


" Ya gue kira kalian nggak normal gitu."


" Waaah sialan lo. Benar-benar teman laknat" ucap Aldi dan Gio sambil memukul Vandy.


" Sayang tolong aku."


" Nggak itu pantas buat kamu Mas."


Semua orang disana pun tertawa mendengar ucapan Anggun yang tidak mau membela Vandy. Setelah drama kekonyolan tiga sahabat itu sehabat itu selesai. Mereka pun berangkat menuju rumah Sisil.


Rombongan Gio pun sampai dikediaman Revanof. Para rombongan pun turun dari mobil dan para pelayan membawa seserahan pengantin. Revanof dan istrinya menyabut kedatangan calon besan mereka didepan pintu.


Setelah orangtua Gio masuk dan diikuti para rombongan yang lain. Vandy dan Anggun turun dari mobil. Seperti biasanya mereka akan selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Anggun dan Vandy tidak menghiraukan tatapan para tamu disana.


Acara pun dimulai dengan menyerahkan seserahan pernikahan dan bertukar cincin. Setelah rangkain acara inti selesai. Para tamu undangan dipersilakan mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Anggun segera menarik tangan suaminya.


" Sayang pelan-pelan dong jalannya."


" Aku lapar Mas."


Vandy heran melihat nafsu makan istrinya akhir-akhir ini, tapi Vandy merasa bahagia itu artinya istrinya sehat. Anggun mengambil beberapa cake yang ada disana.


" Sayang jangan terlalu banyak makan cakenya."


" Kenapa?."


" Nanti kamu sakit sayang."


" Insya Allah nggak Mas."


Setelah mengambil cake dan beberapa buah Anggun dan Vandy bergabung kembali dengan teman-temanya.


To be continue.


Bambang yang manja akhir-akhir ini.



Yang selalu dibikin kesal sama Bambangnya.


__ADS_1


Makasih buat kalian para Redears yang selalu ngasih aku suport buat nulis. Author sayang kalian... 😉😉


Happy Reading Guys.. 😉😉


__ADS_2