
Siang hari Vandy dan Aldi sudah bersiap mau ketemu klien. Aldi menyiapkan semua dokumen-dokumen yang akan dibawa. Sebelum berangkat Vandy mengirim sms kepada istrinya.
My Wife ❤: " Sayang, Mas berangkat dulu, nanti jangan lupa makan siangnya. Love you My Wife😘😘."
Anggun yang mendengar bunyi pesan masuk diHPnya segera melihat. Saat melihat layar HPnya tertera nama My Hubby senyum tipispun terlihat dibibir Anggun ketika membaca pesan dari suaminya.
My Hubby ❤: " Iya Mas, hati-hati dijalan dan semoga kerja samanya berhasil, Love you more My Hubby."
Setelah membaca balasan pesan dari istrinya Vandy dan Aldi berangkat untuk bertemu dengan kliennya. Aldi memacu mobilnya menuju sebuah restoran dikota D.
Sesampainya direstoran Vandy dan Aldi langsung menemui kliennya disalah satu ruang VIP direstoran itu.
" Selamat Siang Pak Gilang, maaf telah membuat anda menunggu" ucap Vandy.
" Saya juga baru datang kok Pak Vandy, mari silakan duduk" kata Gilang.
Vandy dan Aldi pun duduk berseberangan dengan Gilang dan sekretarisnya. Mereka pun mulai membahas kerja sama yang akan mereka lakukan dan keuntungan apa yang akan didapat oleh masing-masing perusahaan itu.
Aldi menyerahkan dokumen kerja sama yang dia bawa tadi kepada Gilang. Vandy memberi waktu Gilang untuk melihat dan mempelajari dokumen kerja sama yang diberikan Aldi tadi. Kalau Gilang setuju maka kerja sama ini akan sangat menguntungkan bagi kedua perusahaan itu.
Setelah Gilang membaca dengan teliti isi dokumen itu, tanpa ragu Gilang langsung menanda tangani dokumen kerja sama yang dibawa Vandy tadi. Vandy yang melihat Gilang menanda tangani dokumen kerja sama itu pun tersenyum tipis. Dokumen sudah ditanda tangani dan itu artinya kedua perusahaan itu akan bekerja sama.
" Saya harap kerja sama ini akan terlaksana dengan baik" ucap Gilang.
" Insya Allah Pak Gilang" kata Vandy.
" Kita maka siang dulu Pak Vandy" kata Gilang.
" Tentu Pak Gilang."
Mereka pun makan siang bersama direstoran itu. Gilang sudah memesan beberapa menu makanan terbaik direstoran itu. Pesanan pun datang, mereka mulai menyantap makanan yang sudah ada dimeja itu. Mereka menikmati makanan itu dengan lahap.
Ditempat lain.
Keadaan Kia sudah mulai membaik dan sudah diperbolehkan pulang. Bryan memasukan barang-barang milik Kia untuk dibawa pulang. Setelah semuanya selesai Bryan mendorong kursi roda Kia sampai keparkiran. Bryan mengangkat tubuh Kia keatas mobil dan memasangkan seatbelt. Mobil Bryan pun melaju meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang jalan hanya ada keheningan didalam mobil itu, dan saat melewati tempat para pedagang yang menjual jajanan, ada cilok, bakso bakar, dan banyak lagi. Mata Kia sangat bebinar dan ingin membeli jajanan itu. Tapi seketika wajah Kia menjadi sedih, Kia takut kalau Bryan tidak membolehkannya membeli jajanan itu. Bryan yang melihat wajah Kia yang tiba-tiba sedih pun tidak tega, Bryan sangat tau Kia menginginkan jajanan tadi.
" Sayang apa kamu ingin membeli jajanan itu."
" Apakah boleh" penuh harap.
" Tentu saja boleh, tapi jangan banyak-banyak makannya yah."
Kia menganggukan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dibilang Bryan. Bryan meminggirkan mobilnya. Mereka turun dari mobil dan dengan cepat Kia berjalan menuju Tempat-tempat jajanan yang akan dia beli.
__ADS_1
Kia membeli begitu banyak jajanan yang ada disana. Ditangan Bryan sudah penuh dengan kantong kresek yang berisi berbagai macam jajanan yang ada disana.
" Sayang udah dulu ya beli jajanannya, soalnya aku udah nggak bisa bawa lagi."
Kia menoleh kearah Bryan dan benar saja ditangan Bryan sudah terisi penuh. Kia pun tersenyum kearah Bryan, karena saking senangnya jadi Kia tidak menyangka kalau jajanan yang dia beli sudah begitu banyak.
Kia menyudahi acara belanja jajanannya karena kalau beli lagi kasian Bryannya karena sudah nggak bisa membawa jajanannya lagi.
" Yuk kita pulang."
Saat sudah sampai dimobil Bryan kesusahan untuk mengambil kunci mobilnya. Kia yang melihat Bryan kesusahan mengambil kunci mobilnya membantu Bryan mengambil kunci mobil itu.
" Sini aku bantu ngambil kuncinya."
Kia mulai memasukan tangannya kedalam saku celana Bryan. Kia kesusahan mengambil kunci mobilnya karena celana Bryan agak ketat gitu. Saat Kia berhasil mengambil kuncinya, tidak sengaja tangan Kia menyenggol sesuatu yang keras disana, dengan cepat Kia menarik tangannya keluar.
Kia menyerahkan kunci mobilnya pada Bryan.
" Kamu aja yang buka pintunya sayang, kamu nggak lihat tangan aku penuh dengan belanjaan kamu."
" O iya ya."
Kia membuka pintu mobil dan membantu Bryan meletakkan kantong kresek kedalam mobil. Setelah semuanya selesai, Bryan melajukan mobilnya kembali.
Dikampus.
" Aduh perut aku kok sakit banget ya."
Vanya berusaha bangun dari duduknya, tapi saat Vanya mencoba untuk berdiri perutnya terasa sangat nyeri. Vanya berusaha untuk menghubungi Kakaknya, tapi tidak diangkat, Vanya mencoba menghubungi Kakak iparnya.
" Hallo" terdengar suara lembut dari seberang telpon.
" Kak tolong Vanya."
" Kamu kenapa Dek?" cemas.
" Perut Vanya sakit banget Kak, Kakak cepatan kesini, Vanya sudah nggak kuat."
" Ok, kamu tunggu Kakak disana ya, Kakak akan segera kesana."
Panggilan berakhir.
Setelah mendapatkan telpon dari Adik iparnya tadi. Anggun pun bergegas pergi kekampus Vanya.
" Sin, tolong selesaikan kerjaan gue ya."
__ADS_1
" Emang lo mau kemana?."
" Nanti gue ceritain, sekarang gue harus cepat pergi kesana."
Anggun berlalu pergi meninggalkan Sinta yang masih bingung. Sepanjang jalan menuju lobi Anggun tidak menghiraukan sapaan para karyawan. Anggun tidak membawa mobil, Anggun mencari taxi yang lewat. Tak berapa lama taxi pun datang, Anggun masuk kedalam taxi.
" Mau kemana nona" tanya supir taxi.
" Kampus YY ya Pak."
Taxi pun melaju meninggalkan perusahaan Dwipangga Group. Sesampainya dikampus Vanya, Anggun turun dari taxi dan segera membayar taxi.
Anggun masuk kedalam kampus, belum sempat Anggun mau masuk Security sudah menahannya.
" Maaf nona, ada keperluan apa kesini?."
" Saya mau ketemu Adek saya Pak."
Security itupun membukakan pintu gerbangnya buat Anggun.
" Terimakasih Pak."
Anggun mencari ruang kelas Vanya. Para mahasiswa pun terpesona dengan kecantikan Anggun, mata mereka seakan tak berkedip melihat Anggun, tetapi Anggun tidak mempedulikan mereka. Anggun berlari menyuri kelas-kelas yang ada disana. Anggun sudah menemukan kelas Adik iparnya itu, saat mau masuk kedalam kelas Vanya Anggun tidak sengaja menabrak seorang cowok. sehingga buku-buku yang ada ditangannya jatuh berserakan.
" Maaf" ucap Anggun.
Anggun membantu cowok itu mengumpulkan buku-buku yang berserakan karena ulahnya tadi. Setelah semua buku itu terkumpul, Anggun memberikannya kepada cowok itu. Cowok itu terpesona melihat kecantikan Anggun, apalagi jarak Anggun yang begitu dekat dengannya.
" Sekali lagi aku minta maaf ya" ucap Anggun sambil tersenyum.
Deg
Jantung cowok itu berdetak dengan kencang.
Anggun heran melihat cowok itu yang diam mematung. Anggun teringat sama Vanya, Anggun pergi meninggalkan cowok itu. Anggun tidak melihat Vanya didalam kelasnya.
" Kamu dimana sih Vanya?."
Saat Anggun mau menelpon Vanya, ternyata HP Anggun tertinggal dikantor. Saat Anggun masih bingung mau mencari Vanya dimana, tiba-tiba Anggun mendengar ada mahasiswa yang pingsan diperpustakaan. Anggun pun bergegas pergi kesana.
Anggun tidak bisa lewat karena banyaknya mahasiswa disana. Anggun mencoba menerobos masuk, karena badannya yang kecil Anggun akhirnya bisa masuk. Saat sudah masuk Anggun kaget.
" Vanya!!, kenapa kalian cuma diam dan melihat saja, cepat bantu saya bawa dia kerumah sakit ?!."
Mahasiswa yang ada disana pun kaget dan takut mendengar teriakan Anggun. Para mahasiswa itu mengangkat tubuh Vanya dan membawa kerumah sakit.
__ADS_1
To be continue..
Happy Reading Guys.. 😉😉