
Sesampainya dirumah sakit, Dokter langsung membawa Vanya ruang IGD. Anggun menunggu didepan ruangan itu dengan perasaan yang tak menentu.
Tak berselang lama dokter pun keluar dari ruangan IGD. Anggun yang melihat Dokter keluar pun langsung menghampiri Dokter itu.
" Bagaimana keadaan Adek saya Dok."
" Tenang nona, Adik anda baik-baik saja, cuma gejala maag."
" Gejala maag?."
" Iya nona."
" Apa saya boleh melihatnya Dok."
" Boleh, setelah kita pindahkan pasien keruang rawat, saat dia siuman nanti tolong kasih dia makan, karena perut Adek nona kosong karena nggak diisi makanan."
" Baik Dok, terimakasih atas bantuannya."
" Sama-sama nona, itu sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah Dokter itu pergi, Anggun pun masuk kedalam ruang rawat Vanya. Anggun memandangi wajah Adik iparnya yang pucat dan ditangannya terpasang selang infus. Anggun menghampiri Vanya, dan duduk dikursi sebelah ranjang Vanya.
Tak berselang lama Vanya pun siuman. Anggun yang melihat Vanya sudah membuka matanya pun tersenyum kepada Adik iparnya itu.
" Kakak."
" Kenapa kamu bisa ceroboh begini sih?."
" Maafkan Vanya."
" Lain kali jangan diulangi, sesibuk apapun kamu harus makan."
Vanya hanya menganggukan kepalanya.
" Sekarang kamu makan bubur ini ya."
" Vanya nggak mau makan bubur Kak."
" Untuk sekarang makan bubur ini dulu."
Anggun mulai menyuapi Vanya dengan bubur yang sudah disediakan sama pihak rumah sakit. Vanya pun tak bisa membantah ucapan Kakak iparnya lagi, dengan berat hati Vanya menerima suapan bubur yang diberikan Kakak iparnya itu.
Ditempat lain.
Vandy dan Aldi baru selesai makan siang dengan kliennya. Setelah makan mereka ngobrol-ngobrol santai dulu.
" Saya dengar-dengar Pak Vandy sudah menikah" tanya Gilang.
" Benar, saya sudah menikah satu Minggu yang lalu" jawab Vandy.
" Waah bearti masih hangat-hangat nya dong ya?."
" Ya begitulah, bagaimana dengan anda sendiri Pak Gilang?."
" Saya juga sudah menikah, dan sudah memiliki satu orang putri."
Aldi dan sekretaris Gilang hanya jadi pendengar yang baik.
" Pasti putri anda sangat cantik sekali."
" Pastinya, kapan-kapan boleh kah saya mengundang anda dan istri anda untuk makan malam?."
" Tentu saja Pak Gilang, dengan senang hati."
Mereka pun mengobrol sampai sore hari.
__ADS_1
" Kalau begitu saya pamit dulu, karena hari sudah sore, kebetulan saya juga mau menjemput putri saya."
" Oh ya, silakan Pak Gilang."
" Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik."
"Insya Allah Pak Gilang."
Mereka pun saling berjabat tangan. Gilang pun berlalu pergi meninggalkan Vandy dan Aldi. Tak berapa lama Vandy dan Aldi pun meninggalkan restoran dan kembali kekantor.
Vandy dan Aldi sampai dikantor. Vandy dan Aldi berjalan dengan gaya datar tapi tetap membuat semua karyawan wanita klepek-klepek melihat mereka. Walaupun sudah menikah pesona Vandy tetap tidak hilang malahan bertambah.
Vandy dan Aldi tidak masuk kedalam lift khusus CEO melainkan lift khusus karyawan. Para karyawan pun kaget, karena baru pertama kali melihat CEO mereka masuk kedalam lift khusus karyawan. Vandy menekan angka 15, lift itu pun bergerak membawa Vandy dan Aldi kelantai 15.
Vandy dan Aldi sampai dilantai 15. Mereka pun berjalan keruang desain. Para karyawan lain heboh melihat CEO dan Asistennya itu berjalan keruang desain. Vandy dan Aldi masuk kedalam ruang desain. Sontak semua karyawan desain kaget melihat CEO mereka datang.
Mereka bertanya-tanya kesalahan apa yang telah mereka lakukan. Mereka juga tidak pernah mengganggu Anggun lagi setelah tau kalau Anggun istri CEO mereka.Vandy seperti tau yang ada didalam pikiran karyawannya.
" Lanjutkan pekerjaan kalian, saya kesini cuma mau melihat istri saya."
Semua karyawan pun merasa lega, dan kembali mengerjakan pekerjaan mereka.
" Kenapa mereka takut sekali Al?, apa tampang gue menyeramkan?" tanya Vandy.
" Iya, tampang lo itu menyeramkan banget buat mereka" jawab Aldi.
" Sialan lo, tampang gue ganteng begini lo bilang seram."
Aldi yang melihat kekasihnya tetap fokus sama kerjaannya dan tidak terpengaruh sama suara gaduh yang diterciptakan oleh para fans Vandy itu pun datang menghampiri kekasihnya.
" Serius banget Honey."
Sinta merasa familiar dengan suara yang barusan dia dengar. Sinta menoleh kesumber suara.
" Bee, ngapain kamu disini?."
" Boleh, emang kamu nggak kerja, nanti kalau ketahuan Vandy kamu bisa dipecat."
" Nggak akan, lagian dia mana berani mecat aku, dia itu takut sama aku Honey."
" Siapa yang takut sama lo."
" Semut Van" ucap Aldi asal.
" Sin, Anggun kemana ya" tanya Vandy.
" Gue juga nggak tau Anggun kemana?, soalnya Anggun buru-buru perginya" jawab Sinta.
" Buru-buru, apa terjadi sesuatu" tanya Aldi.
" Nggak tau juga."
Vandy merasa khawatir pada istrinya, saat Vandy menghubungi istrinya, HP Anggun pun berbunyi tak jauh dari Aldi berdiri.
" HP Anggun ketinggalan disini Van" kata Aldi.
" Kemana perginya istri gue Al" cemas.
" Tenang, kita coba cari istri lo sekarang?" ucap Aldi.
Mereka pun mencoba mencari keberadaan Anggun.
Sedangkan dirumah sakit Anggun sedang membantu Vanya untuk minum obatnya.
" Kak, apa Kakak sudah memberi kabar sama suami Kakak."
__ADS_1
" Astagfirullah, Kakak lupa Van."
" Tunggu apalagi, cepat hubungi sekarang sebelum suami Kakak itu membuat kehebohan."
" Itu masalahnya, HP Kakak juga tertinggal dikantor."
" Pake HP Vanya aja Kak."
Anggun mencoba menghubungi suaminya dengan memakai HP Adik iparnya.
" Hallo Vanya, nanti aja telponnya Kakak lagi mencari Kakak ipar kamu."
Anggun yang mendengar suara Vandy yang begitu khawatir pun merasa bersalah. Belum sempat Anggun menjawab Vandy sudah mematikan sambungan telponnya.
" Kok dimatiin sih" kesal.
" Coba lagi Kak."
Anggun pun mencoba menghubungi suaminya kembali.
" Apaan lagi sih Vanya!" teriak Vandy.
Sontak Anggun menjauhkan HP dari telingannya karena mendengar teriakan suaminya.
" Mas, berani sekali kamu berteriak kepadku."
" Mamp*s deh gue, ternyata singa betina."
" Mas!!."
" Maaf sayang, Mas kirain tadi Vanya?, kamu dimana, Mas khawatir sama kamu?."
" Aku lagi dirumah sakit."
" Ngapain kamu disana sayang?."
" Vanya masuk rumah sakit?."
Deg
Mendengar nama Adiknya membuat Vandy tidak bisa berfikir jernih. Ada perasaan takut dalam hatinya. Anggun yang tidak mendengar suara suaminya mencoba memanggil kembalu.
" Mas, kamu masih mendengar suara aku kan?."
" Vanya kenapa?!." mulai emosi.
" Mas tenang dulu ya."
" Kamu bilang tenang, Adik aku masuk rumah sakit kamu bilang aku harus tenang, cepat katakan dirumah sakit mana" masih emosi.
Anggun yang tidak mau lagi berdebat dengan suaminya itu langsung mengatakan nama rumah sakitnya.
Setelah telponnya mati. Anggun memberikan HP Vanya kembali. Vanya yang melihat Kakak iparnya sedih pun bertanya.
" Kakak kenapa?."
" Kakak nggak apa-apa kok Dek, sekarang kamu istirahat ya biar nanti bisa pulang" mencoba tersenyum kepada Vanya.
Vanya menganggukkan kepalanya. Vanya juga sudah mulai mengantuk mungkin karena pengaruh obat yang dia minum tadi. Setelah Vanya tertidur Anggun pun juga memilih untuk tidur disofa karena dia juga merasa lelah.
Saat Anggun mau berdiri dari duduknya, tiba-tiba pintu ruangan Vanya terbuka. Sontak Anggun menoleh kearah pintu untuk melihat siapa yang datang. Saat sudah tau siapa yang datang, Anggun kembali berjalan menuju sofa, dan tidak mempedulikan suaminya. Ya yang datang tadi adalah Vandy.
Vandy yang melihat istrinya bersikap dingin kepadanya pun merasa sakit. Vandy memilih menghampiri Adiknya yang terbaring dibed hospital.
To be continue.
__ADS_1
Happy Reading Guys... 😉😉😉
"