Pelabuhan Cinta CEO Arrogant

Pelabuhan Cinta CEO Arrogant
Kecewa


__ADS_3

Anggun tidur diatas sofa dengan membelakangi suaminya. Hari ini dia sangat lelah dan dia tidak ingin berdebat dengan suaminya itu. Tak berapa lama Anggun pun terlelap dan masuk kedunia mimpinya.


Setelah melihat secara langsung keadaan Adiknya Vandy baru merasa lega, tapi dia juga merasa sedih karena tanpa disengaja dia telah membentak istrinya, padahal baru kemarin dia meminta maaf kepada istrinya itu.


Vandy menghampiri istrinya yang tertidur disofa. Vandy membelai rambut istrinya, sesekali dia mengusap pipi lembut istrinya.


" Maafkan Mas sayang, udah dua kali Mas melakukan hal yang sama kepadamu, apa Mas masih pantas mendapatkan maafmu sayang?."


Vandy masih memandangi istrinya. Tak berapa lama Vanya terbangun dan melihat Kakaknya telah duduk disana.


" Kakak."


Vandy menoleh kearah Adeknya yang sudah bangun dari tidurnya.


"Kamu udah bangun."


" Iya, tolong ambilkan Vanya minum Kak."


Vandy mengambilkan minum untuk Adiknya, dan memberikan minum kepada Adiknya.


" Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit."


" Aku melewatkan makan siangku tadi, terus pingsan untung ada Kakak ipar jadi aku selamat deh."


" Kamu itu ceroboh sekali."


" Tapi setelah menelpon Kakak tadi, Kakak ipar kok sedih. Kakak bilang apa sama Kakak ipar."


" Kakak nggak sengaja bentak dia" sedih.


" Dasar Kakak laknat, kenapa Kakak membentak Kakak iparku?!."


" Kakak nggak sengaja Dek."


" Pergi sana!!, aku tak sudi melihat Kakak sepertimu."


Anggun yang mendengar ada suara ribut-ribut pun terbangun, Anggun melihat mendengar Vanya yang sedang emosi. Anggun pergi kekamar mandi mencuci mukanya. Setelah selesai Anggun menghampiri Vanya. Anggun fikir Vanya sudah ada yang jagain, Anggun pun berniat pergi kekantornya.


" Dek, Kakak kekantor dulu ya, mau ngambil tas dan HP Kakak dulu."


" Iya, Kakak hati-hati ya."


" Nanti Kakak nggak bisa mampir lagi, salam buat Mama dan Papa ya."


" Kenapa Kakak nggak kesini lagi?."


" Kakak masih banyak kerjaan, kalau Vanya kangen kan bisa telpon Kakak."


" Ok Kak."


Anggun pun memeluk Adik iparnya itu.


" Kakak pergi dulu ya."


" Hati-hati Kakak sayang."


" Biar aku yang antar kamu kekantor sayang."


Anggun tidak menghiraukan Vandy. Anggun tetap berjalan keluar, walaupun tak tega melihat suaminya seperti itu, tapi dia tidak boleh lemah dan harus memberi pelajaran buat suaminya itu.

__ADS_1


Vandy yang melihat istrinya tak memandang kearahnya pun tambah sedih. Saat istrinya sudah keluar Vandy terduduk lesu.


" Kalau Kakak menyadari kesalan Kakak cepat kejar Kakak ipar, sebelum dia pergi jauh."


Vandy pun berlari mengejar istrinya itu. Vandy melihat istrinya yang sedang menunggu taxi lewat, dengan sekuat tenaga Vandy berlari kearah istrinya. Vandy membawa Anggun kedalam pelukannya.


Anggun kaget karena mendapatkan pelukan dari suaminya, tapi karena Anggun masih marah dan kecewa, Anggun tidak membalas pelukan suaminya. Setelah seperkian menit Vandy belum juga melepaskan pelukannya.


" Maaf tolong lepaskan pelukan anda."


Deg


Vandy merasakan sakit dihatinya mendengarkan ucapan istrinya.


" Sayang."


" Tolong jangan memanggil saya dengan sebutan itu lagi?, karena orang yang anda sebut dengan kata sayang itu sudah mati."


Hati Vandy bertambah sakit mendengar ucapan istrinya itu. Air mata yang ditahan dari tadi akhirnya keluar tanpa permisi padanya.


" Sayang, Mas tau kalau Mas sudah sangat membuat kamu kecewa, Mas juga tidak pantas mendapatkan maaf kamu, tapi tolong jangan ucapan kata-kata itu, Mas mohon sayang."


Anggun tak tega melihat suaminya menangis. Walaupun Vandy sudah membuat dia kecewa, tapi Vandy tetaplah suaminya.


" Apa Mas harus bersimpuh dihadapan kamu sayang?, Mas akan lakukan itu sayang asalkan kamu jangan bicara seperti itu lagi sama Mas."


Vandy melepaskan pelukannya dari istrinya, saat Vandy akan mulai berjongkok, badannya ditahan oleh tangan Anggun.


" Jangan lakukan itu, kamu seorang suami dan juga imam untuk keluargamu jadi jangan pernah lakukan itu."


Vandy yang mendengar ucapan Anggun pun tersenyum tipis, walaupun Anggun tidak memanggilnya dengan sebutan Mas, tapi dia cukup senang.


" Untuk sekarang belum."


" Tidak mengapa kalau kamu belum bisa memaafkan Mas, tapi Mas akan selalu mencoba dan berusaha supaya kamu mau memaafkan Mas."


" Kembalilah, kasihan Vanya ditinggal sendiri."


" Ya, tunggu Mas dirumah sayang." Vandy mencium bibir istrinya sekilas dan langsung kabur sebelum singa betina itu berteriak.


" Vandy!!."


Vandy yang mendengar suara Anggun pun tertawa puas.


" Dasar suami laknat, berani-beraninya dia mengambil kesempatan, awas saja kamu nanti" emosi.


Tak berselang lama Taxi pun datang, Anggun pun masuk kedalam Taxi, kemudian Taxi itupun melaju pergi membawa Anggun kekantornya.


Sementara itu Vandy masih tersenyum bahagia karena bisa mencuri ciuman dari istrinya yang sedang marah itu.


Vanya yang melihat Kakaknya tersenyum seperti orang gil* pun merasa kasihan.


" Kakak, aku tau kalau kau sedang sedih karena Kakak ipar tidak memaafkanmu, tapi aku mohon jangan gil* dulu, aku pasti akan membantumu supaya Kakak ipar memaafkan mu Kak."


Pletak...


Vandy memukul kepala Adiknya itu.


" Tidak!!, Kakak ku semakin gil*."

__ADS_1


" Berani sekali kau bilang Kakak mu yang tampan ini gil*?!."


Vanya langsung menarok punggung tangannya didahi Kakaknya.


" Tidak panas, tetapi kenapa Kakak menjadi semakin gil*."


" Vanya!!," teriak Vandy.


" Apaan sih Kak teriak-triak ini dirumah sakit, kau bisa mengganggu ketenangan pasien lain."


" Nggak peduli, kapan perlu aku akan ratakan rumah sakit ini kalau mereka berani memarahiku."


" Ya ya terserah kaulah, tapi jangan salahkan aku kalau nanti Kakak dimasukan kerumah sakit jiwa."


Pletak


Vandy memukul kepala Vanya agak keras.


" Kakak!!, kenapa kau selalu memukul kepalaku."


" Biar otak kamu itu bisa normal kembali, karena sejak kamu pingsan itu otak kamu agak tergeser sedikit."


" Enak aja, yang ada otak Kakak yang kegeser, karena Kakak bertingkah seperti orang gil*."


Saat Vandy mau memukul kepala Vanya lagi, dengan sigap Vanya mengambil bantal untuk melindungi kepalanya.


" Ck.. tau takut juga kamu."


" Bukan takut cuma waspada aja, karena orang gil* didepan aku ini selalu menyerang dengan tiba-tiba."


" Vanya?!, kamu benar-benar adik laknat ya, Kakak kutuk kamu jadi batu seperti malin kundang baru tau rasa kamu."


" Kakak kan bukan Mama, sedangkan yang mengutuk malin kundang itukan Emaknya, jadi yang bisa mengutuk Vanya cuma Mama."


" Iya juga ya, tapi Kakak lebih tua dari kamu jadi Kakak masih tetap bisa mengutuk kamu."


" Kenapa kesannya jadi kayak sinetron-sinetron didalam tv."


" Ya udah, Kakak mau pergi menemui istri Kakak dulu."


" Emang Kakak ipar udah maafin Kakak?."


" Belum sih, tapi Kakak akan selalu berusaha supaya Kakak ipar mau memaafkan Kakak."


" Sekarang Kakak bawa Vanya pulang dulu, nanti Vanya bantuin Kakak."


" Emang kamu udah boleh pulang sama Dokter?."


" Udah, lagian aku sakit karena telat makan aja, bukan karena penyakit berat."


" Ya udah kalau gitu sekarang kita pulang."


Vandy pun mengantarkan Adiknya pulang kerumahnya dan setelah itu dia akan pergi menemui istrinya dirumah mertuanya.


To be continue


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya... 😉😉


Happy Reading Guys.. 😉😉

__ADS_1


__ADS_2