
" Abang "
Merasa ada yang memanggilnya Sontak Kenzo menoleh kearah suara. Alangkah kagetnya Kenzo melihat siapa yang datang menghampiri nya.
Uncle.
" Hei!, kenapa bengong " kata Marko, sambil duduk di kursi yang kosong disebelah Kenzo.
" Uncle kok ada disini?" tanya Kenzo.
" Tadi uncle habis ketemu sama klien. Kalian kesini cuma bertiga aja?" tanya balik Marko.
" Mereka pergi sama saya" jawab Rangga yang baru datang dari toilet.
" Maaf anda siapa?" tanya Marko.
" Oh iya, perkenalankan saya Rangga" kata Rangga sambil mengulurkan tangannya.
" Saya Marko" kata Marko sambil menyambut tangan Rangga.
" Anda kenal ketiga anak-anak ini tuan?" tanya Rangga.
" Tentu saja, mereka bertiga adalah keponakan saya" jawab Marko.
Habislah aku, uncle pasti memberi tau mommy.
" Wah, kebetulan sekali, ketiga keponakan anda ini bekerja di perusahaan saya" kata Rangga.
" Kerja!" kaget Marko.
" Iya, mereka bertiga kerja menjadi model" kata Rangga.
Marko mentap Kenzo meminta jawaban atas apa yang dikatakan oleh Rangga tadi.
Habislah aku, pasti uncle akan menceritakan semuanya pada mommy.
" Benarkah yang dibilang Om ini, Bang?" tanya Marko pada Kenzo.
" Benar uncle " jawab Kenzo sambil menundukkan kepalanya.
" Apa mommy tau abang kerja?" tanya Marko lagi.
Kenzo menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
" Saya juga sudah bilang sama mereka bertiga. Kalau mereka harus kasih tau orangtua mereka" kata Rangga.
__ADS_1
" Kalau gitu saya izin bawa mereka pulang dulu" kata Marko.
" Tapi mereka mau makan siang sama saya tuan" kata Rangga.
" Makan siangnya lain waktu aja. Permisi" pamit Marko sambi membawa Kenzo, Gian dan Tristan.
Mereka berjalan menuju parkiran, sampai dimobilnya, Marko membukakan pintu untuk ketiga keponakannya itu. Saat pintu terbuka mereka bertiga belum berani masuk kedalam mobil.
" Kok malah diam, ayo masuk" kata Marko.
" Uncle " panggil Kenzo.
" Nanti cerita, kalau kita sudah sampai dirumah" kata Marko.
" Abang maunya disini aja uncle " kata Kenzo.
" Huufftt!" Marko membuang napasnya dengan kasar. " Baiklah, kita duduk disana" kata Marko.
Mereka duduk disebuah taman, tak jauh dari tempat parkiran tadi. Mereka duduk bangku panjang yang ada ditaman itu.
" Ok, sekarang kalian ceritakan semuanya sama uncle, tanpa ada yang ditutupin" pinta Marko.
Kenzo pun mulai menceritakan semuanya dari awal pada Marko, tanpa ada yang dia tutupi. Marko pun mendengarkan cerita Kenzo dari awal sampai akhir tanpa ada yang terlewatkan.
" Kenapa Om nggak boleh kasih tau Mommy" kata Marko.
" Karena abang lagi nunggu waktu yang tepat untuk kasih tau sama mommy, jadi abang harap uncle mau menjaga rahasia ini" kata Kenzo.
" Baiklah uncle akan bantu kamu, tapi secepatnya abang harus kasih tau mommy ya, karena kalau mommy tau dari orang lain, pasti mommy akan sedih dan juga kecewa sama abang" nasihat Marko.
" Makasih karena uncle sudah mau merahasiakannya. Abang janji secepatnya akan memberi tau mommy" kata Kenzo.
" Karena kami sudah menceritakan semuanya sama uncle, jadi sekarang uncle harus traktir kami makan" kata Gian.
" Betul itu, tadi kan uncle menggagalkan rencana makan siang kami" kata Tristan.
" Ya ampun uncle lupa, gimana kalau kita makan bakso ditempat langganan orangtua kalian" saran Marko.
" Ok uncle " kata mereka bertiga.
Mereka pun masuk kedalam mobil, setelah mereka memasang seatbelt nya. Barulah Marko melajukan mobilnya menuju warung bakso Kang Mamad.
Mereka pun sampai diwarung bakso Kang Mamad. Marko memarkirkan mobilnya tidak jauh dari warung bakso itu. Mereka berempat turun dari mobilnya.
" Eh ada Marko dan juga tampan" kata Lina istrinya Mamad.
__ADS_1
" Siapa Ma?" tanya Mamad pada istrinya.
" Marko sama pasukannya Mas " jawab Lina.
" Suruh duduk atuh" titah Mamad.
" Ya ampun sampai lupa, silakan duduk " kata Lina.
Marko mencari tempat duduk yang kosong. Karena didalam warung tidak ada tempat duduk yang kosong, mereka memelih duduk ditaman belakang, kebetulan disana ada saungnya.
Disana sangat adem, ditambah pemandangannya sangat bagus. Kenzo, Gian dan Tristan sangat senang duduk disana. Jadi Marko tidak sia-sia membawa mereka kesana.
Mamad membawa pesanan Marko ketaman belakang. Mamad mehidangkannya di atas meja yang ada disana. Setelah meletakkan pesanannya, Mamad pun undur diri.
Mereka pun mulai menyantap bakso yang ada didepan mereka. Kenzo memasukkan sedikit cabe kedalam mangkok baksonya, diikuti sama Gian.
" Kenapa kamu ngikut-ngikut aku pake cabe" kata Kenzo pada Gian.
" Siapa yang ngikut kamu. 'Papa aku bilang kalau aku harus belajar makan cabe" kata Gian.
" Asal kamu jangan nangis aja ntar" ledek Kenzo.
" Enak aja kamu, yang ada kamu tu yang akan nangis" kata Gian tak mau kalah.
" Aku nggak akan nangis, karena aku sudah sering makan cabe" kata Kenzo.
" Benar Gian jangan sok kuat begitu" kata Tristan.
" Kamu kenapa sih, selalu saja mengacau" kata Gian.
" Kau yang sering mengacau, bukan aku" kata Tristan.
" Kau!" kata Gian.
" Kau!" kata Tristan tak mau kalah.
" Berisik!, aku mau makan bakso. Bukan mau mendengarkan pertengkaran kalian berdua" kata Kenzo.
Gian dan Tristan pun berhenti bertengkar.
Marko tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka keponakannya itu akan mewarisi sifat daddy nya.
To be continue..
Happy Reading Guys.. 😉😉
__ADS_1