Pelabuhan Cinta CEO Arrogant

Pelabuhan Cinta CEO Arrogant
Lamaran


__ADS_3

Mobil Vandy sampai dikediaman Dwipangga.Pasutri itu pun turun dari mobil. Diana melihat menantunya datang langsung menghampiri Anggun.


" Kalian sudah datang" sambil memeluk menantunya.


" Baru aja nyampe Ma" ucap Anggun.


" Kita kedalam yuk. Mama sudah siapkan puding buah buat kamu."


Hardian yang baru keluar dari kamarnya.


" Menantu kesayangan Papa sudah datang."


Hardian mau memeluk Anggun dengan sigap Vandy jadi tameng buat istrinya itu alhasil Hardian pun memeluk anaknya.


" Ck.. anak ini selalu saja."


Diana dan Anggun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Vandy dan Papanya. Diana membawa menantunya duduk disofa.


" Bik tolong ambilkan puding yang saya buat tadi."


" Baik Nyah."


" Aldi belum datang ya Ma" tanya Vandy.


" Mungkin sebentar lagi" jawab Diana.


" Gimana dengan seserahan pernikahannya" tanya Vandy lagi.


" Sudah siap."


Mereka pun asik mengobrol dan sesekali diselingi dengan candaan dan perdebatan kecil antara Vandy dan Papanya.


" Kakak ipar" Vanya berlari dan langsung memeluk Anggun.


" Kamu jangan terlalu lama memeluk istri Kakak" ucap Vandy sambil melepaskan pelukan Vanya.


" Kenapa?."


" Karena Anggun istri Kakak."


Vandy dan istrinya pamit kekamar untuk beristirahat sebentar.


" Kita istirahat dulu Ma, Pa, Dek" ucap Vandy.


" Iya sayang" kata Diana.


" Aku juga mau kekamar dulu Ma" ucap Vanya.


Mereka pergi kekamar masing-masing. Kalau Vandy mengajak istrinya kekamar tentu saja mau ninaena sama sang istri. Karena mereka harus berusaha lebih keras lagi. Itulah kata yang selalu digunakan Vandy untuk istrinya.


Vanya membaringkan tubuhnya diatas kasur Queen sizenya sambil mencari nomor orang yang selalu dijahili. Setelah ketemu dan tertulis nama dilayar HPnya itu my Prince. jari-jati Vanya langsung mengetik huruf demi huruf yang ada diHPnya.


My Prince: " Hai cintanya aku lagi apa?."


Tak berapa lama pesan Vanya dibalas sama my Prince nya.


Gadis nakal: " Lagi tiduran aja."


Isi balasan pesan Vanya.


My Prince: " Waah sama dong. aku juga lagi tiduran. Itu bearti kita sehati 😍😍."


Gadis nakal: " Aku kan nggak nanya kamu lagi ngapain?."


My Prince: " Justru karena kamu nggak nanya makanya aku bilang Bambang 😀😀."


Gadis nakal: " Bambang itu siapa?."


My Prince: " Tukang bakso kompleks πŸ˜’πŸ˜’."


Gadis nakal: " Katanya kamu lagi tiduran, tapi sekarang udah ditempat orang jual bakso aja 😏😏."


My Prince: " Kenapa? apa kamu pengen aku ketempat kamu 😌😌."


Gadis nakal: " Emang kamu berani 😈😈."


My Prince: " Berani dong πŸ˜‰πŸ˜‰."


Gadis nakal: " Coba buktikan."


My Prince: " Sekarang aku nggak bisa."


Gadis nakal: " Kenapa?."


My Prince: " Mau pergi lamaran."


Gadis bakal: " Lamaran?."

__ADS_1


My Prince: " Sama siapa?."


Vanya tersenyum licik membaca pesan dari Marko.


My Prince: " Sama anak rekan bisnisnya Papa πŸ˜”πŸ˜” "


Gadis nakal: " Kok bisa. Apa kamu nggak menolak."


My Prince: " Aku nggak bisa nolak."


Gadis nakal: " Kenapa nggak bisa. Apa kamu sudah tidak mencintai aku?!."


My Prince: " Cinta, tapi buat apa kalau cuma aku yang cinta sedangkan kamu tidak 😩😩."


Gadis nakal: " Kamu harus batalin dong."


My Prince: " Sudalah Roma mungkin kita tidak bejodoh πŸ˜”πŸ˜”."


Gadis nakal: " Jadi nama tunangan kamu itu Roma."


My Prince: " Au ah gelap πŸ˜–πŸ˜–."


Gadis nakal: " Disana mati lampu ya."


Vanya tidak semangat lagi membalas pesan Marko.


" Apaan si dia itu masa istilah gaul saja nggak tau. Masa dia bilang Roma itu nama tunangan gue. Ngeselin banget ."


Mending gue tidur. Tak berapa lama Vanya pun tertidur dengan rasa kesalnya kepada Marko.


Ditempat lain.


Marko yang uring-uringan nunggu balasan pesan dari Vanya. Marko tidak tau kalau Vanya sudah tertidur.


" Kok dia nggak balas pesan gue si?. Apa dia benaran mau lamaran. Bagus deh kalau begitu jadi dia nggak bisa lagi ganggu gue, tapi kok hati gue sakit dengar dia mau lamaran seperti nggak terima gitu."


Marko mencoba untuk memejamkan matanya. Tak berselang lama Marko pun tertidur.


Kediaman Winata.


Kiara sedang bersiap-siap mau kerumah besannya. Karena hari ini Kiara akan membantu besannya membawa seserahan pernikahan Aldi kerumah Sinta.


" Pa, buruan dong nanti kita telat."


" Sebentar lagi Ma."


Tok tok


" Adek udah siap belum."


" Masuk aja Ma pintunya nggak dikunci."


Kiara masuk kedalam kamar putranya itu. Kiara tersenyum melihat penampilan putranya.


" Waah anak Mama tampan sekali" puji Kiara.


" Mama juga cantik" puji Aska.


" Kita turun yuk Papa udah nungguin kita dibawah."


Kiara dan Aska berjalan menuruni anak tangga. Benar saja sampai dibawah suaminya itu sudah selesai dan mereka pun siap berangkat.


" Bik kita pergi dulu ya. Tolong jaga rumah" kata Kiara.


" Baik nyonya. Sampaikan salam Bibik buat non Anggun ya Nyah."


" Iya Bik. Kita berangkat dulu."


Pak Ujang membukakan pintu mobil buat tuan dan nyonyanya. Ya hari ini Wiguna pergi dengan sopir. Mobil pun melaju meninggalkan kediamannya.


Kediaman Dwipangga.


Para pelayan sibuk memasukan seserahan pernikahan kedalam mobil. Mereka membawa barang-barang tersebut dengan sangat hati-hat.


Aldi sudah siap dengan pakaian formalnya. Aldi melihat pantulannya dicermin. " Perfect"


Setelah memastikan penampilannya Aldi pun keluar dari kamarnya.


Dikamar lain.


Anggun sedang sibuk mengurus bayi besarnya. Mulai dari menyiapkan air buat mandi sampai pakaian yang akan dipakai sama bayinya itu.


" Mas buruan mandinya kalau nggak aku tinggal."


" Iya sayang."


Vandy keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar dipinggangnya.

__ADS_1


" Sayang bantu Mas ngeringkan rambut dong."


" Pakai hair dryer aja ya Mas biar cepat."


Anggun mulai mengeringkan rambut suaminya. Selesai mengeringkan rambut Vandy masuk kedalam walk in closet untuk memakai pakaiannya.


Vandy berkaca untuk memastikan tampilannya. " Perfect" Setelah memastikan tampilan nya Vandy berjalan menghampiri istrinya.


" Yuk sayang kita kebawah."


Mereka pun berjalan bergandengan menuruni anak tangga. Semua orang disana terpesona melihat ketampanan dan kecantikan yang dipancarkan oleh pasutri itu. Anggun dan Vandy pun bergabung dengan keluarga mereka.


" Makin tampan aja lo bro" puji Gio.


" Gue kan emang selalu tampan Yo."


" Ck.. nyesel gue udah muji lo."


" Lo tampan banget Al" puji Vandy.


" Kita kan sebelas dua belas Van tampanya."


" Iya, tapi tetap lebih tampan gue."


Semua orang disana hanya geleng kepala melihat kenarsisan Vandy.


" Nggun tolong bantu Mama bentar."


Diana menarik tangan menantunya kekamarnya. Diana pun mengunci pintu kamarnya. Diana membawa menantunya duduk disofa yang ada dikamarnya.


" Sayang bantu Mama cari tau cowok yang disukai sama Vanya."


" Maksud Mama Vanya sedang jatuh cinta."


" Bagus dong Ma."


" Iya, tapi cinta Vanya bertepuk sebelah tangan sayang. Mama kasian banget melihat Adek kamu itu."


" Mama tau darimana cinta Vanya bertepuk sebelah tangan."


" Dari Adek kamu yang bod*h itulah. Ternyata ada juga yang menolak pesona anak Mama" sedih.


" Mama tenang aja. Anggun pasti akan bantuin Mama kok."


" Makasih ya sayang, tapi kamu jangan bilang sama Vandy ya."


" Mama tenang aja ini rahasia kita berdua. Sekarang kita keluar yuk."


Mereka pun keluar dan bergabung kembali dengan yang lain. Tak berapa lama keluarga Wiguna sampai.


Anggun menyambut keluarganya. Kiara melihat anak dan menantunya datang menyambutnya pun tersenyum hangat. Kiara berjalan menghampiri anak dan mantunya itu.


Anggun dan Vandy pun bersalaman dengan kedua orangtua mereka. Aska ikut bersalaman sama Kakak dan Abangnya. Saat Vandy mau menggendong Aska tiba-tiba Aska mundur kebelakang.


" Abang. Aska udah gede jadi nggak boleh digendong lagi."


Semua orang pun tertawa mendengar ucapan dari anak kecil itu. Mereka pun berangkat menuju rumah Sinta.


Sepanjang jalan didalam mobil Vandy penuh dengan canda tawa Aska. Ada saja kelakuan bocah itu.


" Apa Aska nggak mau menikah" tanya Aldi.


" Tidak" jawab Aska.


" Kenapa?" tanya Gio.


" Menikah itu bikin takut" jawab Aska.


" Takut kenapa " ucap Vandy.


" Iya, takut sama istrinya. Seperti abang yang takut sama Kakak."


Semua orang yang ada didalam mobilpun tertawa mendengar ucapan Aska kecuali Vandy.


" Itu bukan takut namanya, tetapi menghargai istri. Kalau Adek sudah besar nanti pasti Adek mengerti" ucap Vandy.


Aska pun menganggukkan kepalanya. Mereka pun asik bercanda dan tertawa tanpa terasa mereka pun sampai didepan rumah Sinta.


To be continue....


Hy Readers ku tersayang apa kabar. Mudah-mudahan dalam keadaan sehat ya.


Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian buat Author. Buat kalian yang nggak ngerti cara Vote ni Author kasih tau caranya.



Terimakasih buat kalian yang selalu setia menggu UP nya novel iniπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


HAPPY READING GUYS.. πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2