
Kenzo berhenti di sebuah danau buatan yang ada di kota itu. Ya hari ini Kenzo tidak semangat pergi ke sekolah. Pikirannya lagi kacau, karena sang daddy.
Kenzo duduk di kursi yang di bawah pohon besar di tepi danau itu. Kenzo menatap langit biru sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
Andai gue terlahir dari keluarga biasa-biasa saja, pasti gue tidak akan pernah mengenal kata perjodohan.
Menyesal?, tentu saja tidak!. Hanya sedikit kecewa sama sang daddy. Ingin rasanya pergi jauh dari rumah, tapi tidak bisa. Karena kalau dia melakukan itu, pasti mommy dan adeknya akan sedih.
"Aaaaaaaa" teriak Kenzo.
Di danau itulah Kenzo melihatkan sisi lemahnya. Ya air mata Kenzo keluar tanpa permisi dulu kepada dirinya. Kenzo mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada.
Di Sekolah.
Gian dan Tristan sedang cemas karena nomor Kenzo tidak aktif dari tadi. Padahal jam pelajaran akan segera akan segera dimulai.
" Coba hubungi lagi Tian" kata Gian pada Tristan.
" Ini sedang gue coba" kata Tristan.
Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan.
Ya itulah nada yang selalu terdengar saat menghubungi nomor Kenzo.
" Bagaimana mana?" tanya Gian.
" Masih sama"
" Kemana si tu anak, nggak biasanya dia kek gini?"
" Apa dia kecelakaan" kata Tristan.
Pletak.
" Lo kalau ngomong jangan asal" kata Gian sambil mendaratkan pukulan ke kepala Tristan.
" Habis nomornya nggak bisa di hubungi gitu"
" Melodi juga nggak masuk" kata Gian.
" Apa mereka pergi kencan"
" Nggak mungkin, lo kan tau gimana mommy Kenzo. Jadi dia tidak akan melakukan hal yang akan membuat mommy nya marah dan kecewa"
" Terus gimana?" tanya Tristan.
" Kita tanya sama yayang gue dulu" kata Gian.
" Ck.. yayang"
" Kenapa?" tanya Gian.
" Jijik gue dengernya" kata Tristan.
" Bilang aja Lo iri" kata Gian sambil berlalu kedalam kelas.
Gian berjalan menghampiri sang kekasih. "Yank, kamu udah hubungi Melodi?" tanya Gian setelah duduk di kursi sebelah sang kekasih.
" Udah. Melodi lagi demam, jadi dia nggak masuk"
" Jadi mereka tidak bersama?, terus Kenzo kemana?" kata Gian khawatir.
" Kamu udah hubungi ke rumahnya?"
" Ya ampun, kenapa nggak kepikiran ke sana, thank's sayang udah ngingetin"
" Sama-sama"
Gian langsung menghubungi nomor rumah Kenzo. Tidak berapa lama panggilan pun tersambung.
" Assalamualaikum" terdengar suara di seberang sana.
" Wa' Alaikum salam Bik"
" Ini siapa?"
" Ini Gian Bik"
" Oh Den Gian, ada apa ya Den"
" Kenzo ada di rumah nggak Bik?"
__ADS_1
" Nggak Den. Den Kenzo kan pergi sekolah jam segini Den. Emang Aden nggak sekolah"
" Sekolah dong Bik. Makasih ya Bik, teleponnya aku tutup dulu. Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam"
Panggilan pun berakhir.
" Gimana?" tanya Keyra.
" Bibik Mirna bilang, Kenzo sudah berangkat dari tadi"
Kalau Kenzo sudah berangkat dari tadi, kenapa dia belum sampai juga. Seketika Gian teringat akan ucapan Tristan tadi.
" Yank, aku pergi cari Kenzo dulu. Tolong ambilkan absen aku" kata Gian.
" Iya, kamu hati-hati ya Bee"
Gian menganggukkan kepalanya. Gian dan Tristan pun segera berlari menuju parkiran untuk mengambil motor mereka.
" Gue takut Ian" kata Tristan.
" Berdoa saja, semoga Kenzo baik-baik saja"
Gian dan Tristan melajukan motor mereka meninggalkan sekolah. Mereka melajukan motor mereka dengan kecepatan sedang.
Mata Gian dan Tristan mengitari sudut-sudut jalan. Mata mereka tertuju pada kerumunan orang yang tidak jauh dari lampu merah. Gian dan Tristan mempercepat laju motor mereka.
Gian dan Tristan memarkirkan motor mereka di pinggir jalan. Kemudian mereka segera menghampiri kerumunan orang tersebut.
" Permisi, ada apa rame-rame gini ya Pak?" tanya Gian pada salah satu bapak-bapak yang ada di sana.
" Ada anak sekolah korban tabrak lari. Keadaannya sangat parah"
Deg.
Jantung Gian dan Tristan seketika berhenti berdetak. Tanpa menunggu lama mereka berdua langsung menerobos kerumunan itu.
" Minggir!" teriak Gian dan Tristan.
Orang-orang di sana memberikan jalan untuk Gian dan Tristan. Tubuh Gian dan Tristan seketika lemas melihat sosok yang ada di depan mereka.
Wajah korban sudah sulit di kenali. Tapi Gian dan Tristan mengenali seragam yang di pakai korban itu.
" Tenang Tian" kata Gian.
" Apa korban itu teman kalian?" tanya salah seorang ibuk-ibuk.
" Iya" jawab Gian.
Gian teringat sesuatu, bukannya Kenzo pergi sama motor. " Buk, kemana motor korban?" tanya Gian.
" Anak muda ini tidak bawa motor Nak, dia kecelakaan saat mau menyeberang jalan" tutur Ibuk itu.
Gian pun tersadar, kalau yang jadi korban itu bukan sahabat mereka. Gian langsung menarik tangan Tristan pergi dari sana.
" Ian, lo mau bawa gue kemana?"
" Cari Kenzo"
" Maksud lo"
" Dasar bodoh!, itu bukan Kenzo"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Kenapa lo nggak bilang dari tadi, kan air mata gue nggak terbuang sia-sia" kata Tristan.
" Ck.. lo nya aja yang cengeng"
Gian dan Tristan melajukan kembali motor mereka. Motor sport itu terus menyusuri jalan raya mencari keberadaan Kenzo.
Mata Gian menangkap motor yang sangat mereka kenal. Gian dan Tristan langsung memarkirkan motor mereka di sebelah motor sport merah itu.
Gian dan Tristan menghampiri sosok yang sedang tertidur lelap di kursi panjang yang ada di bawah pohon besar.
" Bangun!, dasar pemalas" kata Gian sambil menarik tas dari kepala Kenzo.
"Aww" rintih Kenzo.
__ADS_1
Kenzo membuka matanya karena mendengar suara cempreng yang dia kenal. " Kalian disini?"
" Tentu saja, emang lo pikir siapa?" tanya Gian sambil duduk di samping Kenzo.
" Gue pikir demit penghuni danau ini" jawab Kenzo.
" Sembarangan lo. Lagian mana ada demit yang tampan kek gue"
" Ken" panggil Tristan sambil memeluk Kenzo.
" Tian lepas, gue masih normal woy" kata Kenzo.
" Kita khawatir sama lo. Gue pikir lo kecelakaan" kata Tristan tanpa melepaskan pelukannya.
Kenzo tersenyum mendengar ucapan sahabatnya yang paling bontot itu. " Gue nggak apa-apa. Buktinya gue ada di hadapan lo sekarang"
" Cengeng lo" ledek Gian.
" Ken, Ian selalu menindas gue" rengek Tristan.
" Nggak usah lebay deh Tian" kata Gian.
" Biarin"
" Lo tau nggak Ken, tadi dia juga nangis-nangis di depan korban tabrak lari yang dia yakini itu lo" kata Gian.
" Benarkah?"
" Iya, bikin malu aja kan tu anak" kata Gian.
" Eleh, padahal kan lo juga nangis tadi" kata Tristan.
" Mana ada. Gue itu tidak secengeng lo" kata Gian.
" Maaf sudah membuat kalian berdua khawatir" ucap Kenzo.
" Karena gue sama Gian baik, maka kali ini kita maafkan" kata Tristan.
" Lo ada masalah apa?" tanya Gian.
" Iya, cerita sama kita" kata Tristan.
" Gue mau di jodohkan sama putri rekan kerja bokap gue"
" Apa!" teriak Gian dan Tristan.
" Haiis, kenapa kalian berteriak" kata Kenzo sambil menutup telinganya.
" Biar kek di drama-drama gitu lo Ken" kata Gian.
" Korban sinetron piring terbang dia, Ken" kata Tristan.
" Terus gimana dengan Melodi?" tanya Gian.
" Melodi juga di jodohkan sama rekan kerja papinya" kata Kenzo.
" Tapi gue nggak percaya bokap lo akan melakukan hal itu" kata Gian.
" Iya, setau gue om Vandy sangat menyayangi Lo" kata Tristan.
" Tadinya gue juga nggak percaya, tapi kenyataannya daddy gue melakukan itu"
" Terus apa yang akan lo lalukan?" tanya Tristan.
" Gue akan menolak perjodohan itu"
" Lo udah pernah ketemu cewek itu?" tanya Gian.
" Belum, daddy gue bilang ntar malam cewek itu dan keluarganya akan makan malam ke rumah gue. Gue harus bikin cewek itu ilfil sama gue" kata Kenzo.
" Kita hanya bisa bantu lo dengan doa" kata Gian.
" Thank' s bro"
Kenzo senang dan bahagia, karena kedua sahabatnya itu selalu ada di saat di butuhkan, seperti saat ini. Karena mereka bertiga best friend forever.
To be continue..
Hai Reader tersayang, jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian untuk Author..
__ADS_1
Happy Reading 😚😚