
Vanya lebih mendekatkan lagi tubuhnya ke Marko sehingga nggak ada jarak lagi antara mereka. Vanya menatap mata Marko, saat Vanya mendekatkan wajahnya ke Marko, sontak Marko menutup matanya. Seperkian menit Marko juga belum merasakan apa-apa. Marko membuka mata perlahan.
" Apa kamu berfikir aku akan mencium mu" ucap Vanya sambil menahan tawanya.
" Bodoh kenapa aku bisa memikirkan hal itu si, apalagi sama anak kecil ini."
" Kenapa wajah kamu ditekuk begitu, apa kamu kecewa karena nggak jadi aku cium?."
" Jangan ngaco kamu anak kecil, mana mungkin aku kecewa."
" Oh syukur deh kalau gitu."
" Ngapain kamu kesini?" tanya Marko.
" Nemuin calon imam " jawab Vanya.
Marko melangkahkan kakinya kedapur sampai disana Marko membuka kulkas kemudian mengambil air mineral dan meneguk air itu sampai habis.
" Kamu masak apa hari ini?" tanya Vanya.
" Aku nggak masak apa-apa."
" Ok, berhubung calon istri mu ini baik, maka aku akan memasak untuk mu."
" Nggak perlu repot-repot, lagian kamu tamu yang nggak diundang."
" Sebentar lagi aku akan menjadi tamu yang akan selalu kamu undang."
" Ck.. anak kecil ini."
Vanya memakai apronnya dan memulai memasak masakan untuk Marko. Tangan Vanya sangat lihai memotong wortel dan juga kentang. Marko yang melihat Vanya begitu lihainya memotong sayuran menarik bibirnya sedikit membentuk senyuman.
" Kalau mau senyum, ya senyum aja jangan ditahan" kata Vanya.
" Emang siapa yang senyum."
" Orang kepala batu."
" Sialan ni anak kecil pinter banget ngaduk-ngaduk emosi gue."
Marko meninggalkan Vanya yang sedang memasak, karena dia malas berdebat dengan anak kecil itu. Marko menghidupkan televisi melihat siaran yang bagus. Sudah berapa menit Marko didepan televisi tapi belum juga menemukan siaran yang bagus. Akhirnya Marko mematikan televisinya dan kembali melihat Vanya.
" Kamu bisa masak nggak sih?, daritadi kok belum kelar-kelar juga masaknya."
" Kenapa udah lapar ya, tenang aja bentar lagi selesai kok."
Tak berapa lama masakan Vanya pun matang. Vanya mematikan kompor dan mulai menata masakannya diatas meja. Aroma wangi masakan Vanya membuat Marko tambah lapar.
Kruuuuk kruuuuuk.. bunyi perut Marko.
Vanya tertawa mendengar bunyi perut Marko.
" Sialan ni perut pake bunyi segala lagi, bikin malu gue aja."
" Kamu lapar ya."
" Iya" tersenyum kikuk.
__ADS_1
Vanya mengambilkan nasi beserta lauk untuk Marko. Vanya begitu telaten melayani Marko. Setelah itu Vanya baru mengambil nasi untuk dirinya. Mereka pun menikmati makanannya.
" Kita seperti suami-istri beneran ya?" kata Vanya.
"Uhuk uhuk"
Dengan sigap Vanya memberikan air kepada Marko.
" Makanya kalau sedang makan jangan mikirin aku" ucap Vanya.
" Ck.. geer banget kamu."
Mereka pun melanjutkan makan mereka kembali tanpa ada yang bersuara, kecuali suara garpu dan sendok. Setelah makan Vanya membawa piring kotor kedapur dan mencuci bersih piring itu.
Marko sedang bersantai diruang tamu. Vanya datang dari dapur dan langsung duduk disamping Marko. Vanya melihat kearah Marko.
" Gimana, apa kamu udah jatuh cinta sama aku?."
" Nggak dan nggak akan pernah."
" Itu mulut kamu yang bilang gitu, tapi tidak dengan hati kamu. Awas nanti kamu bucin loh sama aku."
" Kamu terlalu pede nona."
" Kita liat aja nanti, aku yakin kalau aku udah pulang nanti kamu bakal kangen sama aku."
Vanya berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan Marko. Sebelum menghilang dibalik pintu Vanya menoleh kearah Marko.
" Jaga hati kamu jangan sampai bucin sama aku."
Ditempat lain.
Aldi dan Sinta sedang menikmati waktu weekend mereka dengan pergi jalan-jalan kekebun teh. Aldi terlihat gagah dengan mengendarai motor kesayangannya.
" Honey pegangan yang erat dong?."
" Ne juga udah erat Bee."
Sinta sangat senang bisa menghabiskan waktu weekend nya dengan sang kekasih. Apalagi beberapa hari ini mereka sama-sama sibuk dan jarang ada waktu untuk bertemu.
" Bee kapan Vandy sama Anggun pulang?."
" Dua Hari lagi Honey, kenapa?."
" Nggak apa-apa, cuma kangen aja sama Anggun."
Tak terasa mereka pun sampai dikebun teh. Aldi memakirkan motornya. Sinta begitu takjub melihat pemandangan yang ada didepan matanya.
" Udaranya segar banget ya Bee."
" Iya, kamu senang nggak."
" Senang banget Bee."
Sinta dan Aldi berjalan menyusuri luasnya kebun teh. Aldi merasa otaknya jadi fresh kembali, karena kemarin sibuk ngurus kerjaan big bos membuat otak Aldi mumet.
" Bee kita istirahat disini dulu yuk."
__ADS_1
Mereka istirahat dibawah pohon yang sangat rindang. Sinta menyandarkan kepalanya dibahu Aldi. Mereka menikmati indahnya pemandangan yang ada disana. Aldi membelai rambut Sinta dan mencium wangi rambut kekasihnya itu.
" Rambut kamu Wangi sekali Honey."
" Boong, yang ada bau keringat Bee."
" Nggak, ini wangi sampo Honey bukan bau keringat."
" Yang benar nggak bau keringat Bee."
" Benar Honey, suka aku sama wangi rambut kamu."
" Makasih Bee."
" Honey, aku nggak sabar pengen cepat halalin kamu, gimana kalau 2 bulan lagi kita nikah?."
" Aku sih terserah kamu aja Bee, aku mah ngikut aja."
" Ok, tunggu aku dan keluarga ku datang melamarmu."
Sinta menganggukan kepalanya tanda setuju. Aldi memberikan kecupan di kening Sinta. Entah siapa yang memulai duluan hingga bibir mereka sudah saling menempel. Aldi melum*t lembut bibir Sinta.
Paris.
Anggun dan Vandy sudah kembali kehotel. Anggun yang merasa tubuhnya sangat lengket langsung menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Sesampainya dikamar mandi Anggun mengisi bathtubnya dengan air hangat dan memasukan wewangian beraroma Vanilla. Setelah airnya dirasa cukup Anggun pun berendam dibathtub.
Setelah berendam selama 20 menit, Anggun pun memakai handuknya dan keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi Anggun tidak melihat suaminya. Saat mau memanggil suaminya tiba-tiba Vandy datang dengan rambut yang sudah basah.
" Mas mandi dikamar mandi dapur ya."
" Iya, habisnya kamu lama sayang."
Anggun membantu suaminya mengeringkan rambut. Dengan sangat telaten Anggun mengeringkan rambut suaminya. Karena posisi Anggun lagi berdiri dan Vandy duduk diatas tempat tidur. Vandy memeluk pinggang Anggun.
" Sayang kapan Vandy junior ada disini" kata Vandy sambil mengelus-elus perut datar Anggun.
" Aku juga nggak tau Mas, lagian kita menikahnya juga baru."
" Bearti kita harus bekerja lebih keras lagi sayang, supaya dia cepat hadir disini."
Anggun kaget mendengar ucapan Vandy tadi. Bagaimana bisa suaminya itu ngomong seperti itu. Padahal Anggun sangat capek hari ini.
" Aku tidur dulu ya Mas, capek banget soalnya.
" Iya sayang, Mas juga mau tidur."
Vandy membawa Anggun kedalam pelukannya.
" Tidurlah sayang, Mas nggak akan memakan kamu Malam ini."
Anggun sangat senang dan bahagia banget, karena suaminya itu selalu pengertian. Tak berapa lama Anggun pun terlelap, mungkin karena kecapekan habis jalan-jalan tadi. Vandy mencium kening istrinya, setelah itu Vandy ikut telelap disamping istrinya.
To be continue
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya
Happy Reading Guys.. 😉😉
__ADS_1