
6 bulan kemudian.
Tidak terasa umur baby Kiran sudah 6 bulan. Kiran juga sudah mulai memakan nasi tim, atau sering dikenal dengan istilah MPASI. Anggun dan Vandy sangat bahagia melihat tumbuh kembang baby Kiran.
Anggun akan membuatkan MPASI untuk Kiran. Anggun minta tolong sama Kenzo untuk menjaga Kiran sebentar, dengan senang hati Kenzo menjaga adik kecilnya itu.
Kenzo memberikan mainan pada adik kecilnya itu. Kiran menggenggam mainan yang diberikan abangnya. Saat Kiran mau memasukkan mainannya kedalam mulutnya, dengan sigap Kenzo menahannya.
Kiran yang tidak bisa memasukkan mainan kedalam mulutnya, karena dihalangi terus sama abangnya. Akhirnya Kiran pun menangis.
" Cup.. cup, adek cantik abang jangan menangis"
Kiran tidak mendengarkan ucapan Kenzo, dia tetap menangis. Vandy yang baru turun dari kamarnya, mendengar suara tangis Kiran pun bergegas menghampiri putrinya.
Sampai disana Vandy langsung menggendong putri kecilnya itu. Seketika tangis Kiran pun berhenti.
" Adek kenapa nangis Bang?" tanya Vandy
" Karena nggak bisa masukkin mainan kedalam mulutnya, tapi abang halangin terus" kata Kenzo.
" Lain kali biarkan saja adeknya mengigit mainannya"
" Kenapa?" tanya Kenzo.
" Karena itu bisa melatih pertumbuhan gigi dedek nantinya, lagian mainan dedek itu sudah aman untuk dia. Abang ngertikan"
" Ngerti daddy"
" Mommy mana Bang?"
" Didapur bikin nasi tim untuk dedek"
Anggun membawa nasi tim yang dia buat untuk Kiran tadi. Anggun melihat Kiran sudah berada dalam gendongan daddy nya.
" Dedek mamam dulu ya" kata Anggun.
Vandy mendudukkan baby Kiran di atas pahanya itu. Anggun memasang celemek dileher Kiran, supaya baju Kiran tidak kotor nantinya.
Anggun menyuapi Kiran dengan sangat telate. Suapan demi suapan nasi tim itu sudah masuk kedalam mulut mungil Kiran. Akhirnya nasi tim tadi sudah berpindah kedalam perut Kiran.
" Alhamdulillah mamamnya sudah habis. Pintar putri mommy"
Kiran hanya tersenyum mendengarkan ucapan sang mommy. Anggun membersihkan sisa makanan dibibir Kiran, Anggun mengusap lembut bibir Kiran dengan tisu.
" Sehat selalu putri kecilnya daddy" kata Vandy sambil mengecup pipi Kiran.
" Cepat gede adek kecilnya abang" kata Kenzo sambil mencium pipi kanan Kiran.
" Kamu itu ya Bang, selalu saja ikut-ikutan kalau daddy cium dedek" omel Vandy.
" Kiran kan juga adik abang, jadi nggak apa-apa kalau abang cium dia terus"
Ck.. anak ini bisa aja bikin gue kesal. Sebenarnya dia itu anak siapa sih?.
Kiran memandang daddy dan juga abangnya yang sedang berdebat.
" Sudah-sudah, kalian berdua dilihatin Kiran tu" kata Anggun.
Vandy melirik putri kecilnya itu, seulas senyum pun terukir dibibir Vandy. Putri kecilnya itu sangat menggemaskan.
Dikediaman Aldi.
Sinta dan Aldi sedang menunggu dokter datang untuk memeriksa keadaan Daffin. Ya dari semalam tubuh Daffin panas dan sampai sekarang panasnya belum turun-turun.
" Lama banget sih dokternya" kata Sinta.
" Sabar dong Ma, dokter nya lagi diperjalanan" kata Aldi.
__ADS_1
" Sabar.. sabar, kita udah nunggu dari tadi, tapi dokternya belum juga nyampe"
" Mungkin kena macet" kata Aldi menenangkan istrinya itu.
" Awas aja nanti kalau dia sudah sampai disini"
" Emang mau mama apakan tu dokter?" tanya Aldi.
" Aku jadiiin pergedel"
Ting nong
Bel rumah Sinta pun berbunyi. Bik Iyem segera membukakan pintu.
Ceklek..
Saat pintu terbuka tampaklah cowok tinggi berkulit sawo matang dengan memakai jas kebanggaannya yang berwarna putih sedang berdiri didepan pintu.
" Assalamualaikum "
" Wa'alaikum salam, mari silakan masuk Dok. Nona sudah menunggu dari tadi"
Bik Iyem langsung membawa dokter muda nan tampan itu kekamar Daffin.
" Nona, dokternya sudah datang"
" Cepat suruh masuk Bik"
Bik Iyem mempersilakan dokter tampan itu masuk kedalam kamar Daffin.
" Selamat pagi nona, tuan" sapa sang dokter.
Sinta yang tadinya ingin marah dan mengumpat sang dokter. Tiba-tiba nggak jadi, amarah dan emosi nya hilang seketika, karena melihat ketampanan sang dokter.
" Pagi dokter" balas Sinta sambil tersenyum ramah.
Ck.. coba liat itu, tadi emosinya sudah seperti gunung berapi mau meletus, tapi sekarang dia tersenyum lembut. batin Aldi
" Silakan dokter"
Dokter tampan itu mulai memerikas Daffin. Dia menempelkan Stetoskop didada Daffin, setelah itu dia juga mengukur suhu tubuh Daffin. Setelah beberapa menit pemeriksaan pun selesai.
" Bagaimana Dok?" tanya Sinta.
" Anak nona cuma demam biasa, nanti saya akan berikan resep untuk menurunkan panasnya"
Dokter tampan itu mulai menuliskan resep obatnya, kemudian memberikannya pada Sinta.
" Ini nona resepnya, nanti obatnya diminum secara teratur" kata sang dokter sambil menyerahkan kertas kecil pada Sinta.
" Baik dokter" kata Sinta.
" Kalau gitu saya permisi dulu nona, tuan"
" Terima kasih ya Dok. Kalau nanti demamnya nggak turun, saya boleh telpon dokter lagi kan" kata Sinta.
" Tentu saja nona" kata sang dokter.
Berani sekali dia menggoda laki-laki lain didepan suaminya. Awas kamu nanti ya Ma, papa kasih hukuman berat kamu.
" Pah, kamu jagain Daffin sebentar, aku mau mengantarkan dokter kedepan" kata Sinta.
" Papa saja yang mengantarkan dokternya, lagi pula Daffin butuh mama" kata Aldi.
Dasar suami nggak pengertian. Nggak tau istrinya mau cuci mata apa.
Aldi mengantarkan sang dokter sampai kedepan pintu.
__ADS_1
" Saya permisi dulu tuan"
" Baik Dok, hati-hati dijalan"
Dokter itu pun pergi meninggalkan kediaman Aldi. Setelah mobil dokter itu tidak terlihat lagi barulah Aldi masuk kedalam rumah, tapi sebelum itu dia minta tolong sama Pak Sapri untuk menebus obat untuk Daffin.
Saatnya memberikan hukuman pada istri tercinta.
Aldi segera menemui istrinya dikamar Daffin.
" Dokternya sudah pulang Pah?" tanya Sinta tanpa menoleh pada sang suami.
" Sudah" jawab Aldi sambil mendekatkan wajahnya pada sang istri.
" Pa-papa mau ngapain?"
" Menurut kamu"
Sinta berusaha menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Tapi Aldi dengan sigap menahan pinggang sang istri.
" Berani menggoda laki-laki lain didepan aku. Kamu sungguh berani honey"
" Si-siapa yang menggoda coba"
Aldi mengecup bibir istrinya sekilas. " Tu hukuman karena berani tersenyum kepada lelaki lain" kata Aldi.
Aldi mengecup kembali bibir merah sang istri. Tapi kali ini Aldi tidak hanya sekedar mengecup, tapi dia ******* habis bibir sang istri.
" Itu hukuman karena berbicara manja dengan lelaki lain" kata Aldi sambil mengusap bibir sang istri.
" Jadi kamu cemburu Pah?" tanya Sinta.
" Tentu saja aku cemburu. Hanya suami bod*h yang tidak cemburu melihat istrinya berbicara lembut pada laki-laki lain"
" Ck.. kamu sama kek Vandy tau nggak"
" No, aku tidak sama dengan beruang kutub itu"
" Ia, Vandy lebih posesif dari pada kamu" kata Sinta.
" Kok malah bahas manusia kutub itu sih. Aku marah sama kamu loh "
Cup
Satu kecupan mendarat dibibir Aldi. " Udah jangan marah-marah lagi, nanti tampannya hilang"
Ah gimana bisa marah lama-lama, kalau dia bersikap manis kek gini.
Sore hari.
Kiran sedang jalan-jalan bersama mommy, daddy dan juga abangnya. Baby Kiran sangat anteng di atas kereta bayinya. Para tetangga sangat terpesona melihat kecantikan baby Kiran.
Vandy terus mendorong kereta bayinya. Anggun tersenyum melihat suaminya, yang sedang mendorong kereta bayi dengan wajah datarnya.
Vandy melirik istrinya yang sedang senyum-senyum nggak jelas. " Sayang, kamu kenapa senyum-senyum gitu?"
" Lucu Mas"
" Apanya yang lucu?" tanya Vandy.
" Melihat daddy berwajah datar sedang mendorong kereta bayi" jawab Anggun.
" Datar-datar gini, tapi kamu cintakan" kata Vandy.
" Tentu saja, kalau nggak cinta udah aku tinggalkan dari dulu" kata Anggun.
Seulas senyum pun muncul dibibir Vandy. Sekarang dia sudah memiliki keluarga yang bahagia. Vandy tidak akan membiarkan orang mengusik keluarga kecilnya.
__ADS_1
To be continue...
Happy Reading.. 😚😚