
Selesai sarapan, para istri membawa piring kotor ke daput untuk di cuci bersih. Sedangkan para suami memanaskan mesin mobil, karena sebentar lagi mereka akan segera berangkat.
" Affin" panggil Kiran sambil berlari menghampiri Daffin.
Daffin tersenyum pada Kiran. Entah kenapa dia suka mendengar Kiran memanggilnya dengan sebutan Affin.
" Kenapa lari-lari begitu?, ntar jatuh"
" Nggak kok. Ini untuk Affin" kata Kiran sambil memberikan buah apel.
" Makasih Kiran" ucap Daffin sambil tersenyum pada Kiran.
" Sama-sama" balas Kiran sambil berlalu pergi.
Para istri pun sudah selesai mencuci piring. Mereka semua masuk kedalam mobil masing-masing. Semua barang-barang keperluan piknik sudah di masukka kedalam mobil.
Mereka semua pun siap untuk berangkat. Mobil melaju meninggalkan kediaman Vandy. Ketiga mobil itu berjalan beriringan. Mobil Vandy berada di depan, diikuti sama mobil Aldi dan terakhir baru mobil Gio.
Ketiga mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota. Kenzo memasang headset ke telinganya, kemudian dia menyetel musik dari ponselnya.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka pun sampai di lokasi piknik. Para istri dan anak-anak pun turun dari mobil, sedangkan para suami pergi memarkirkan mobil.
Mereka semua sangat suka dengan pemandangan yang ada di depan mereka. Padang rumput yang sangat luas terpampang nyata di depan mata mereka.
Terdapat pohon besar dan juga ayunan disana. Di dukung juga sama suasana yang sejuk. Para istri pun mengelar tikar di atas rerumputan.
Kiran juga tidak mau ketinggalan, dia juga mengelar tikar yang dia bawa sendiri dari rumah. Kiran menggelar tikarnya agak jauh dari mommy nya.
Semua barang-barang yang dia bawa tadi di keluarkan satu persatu dari dalam tas kecil yang selalu dia bawa. kiran menata semua barangnya di atas tikar tadi.
Kiran mengambil beberapa bunga yang ada disana. Karena Kiran perempuan jadi dia sangat menyukai bunga. Kiran meletakkan bunga yang sudah di ambil tadi, kemudian dia mengambil buku dan mulai menulis.
Anggun memandang puntrinya yang sedang fokus menulis, entah apa yang di tulis sama putri kecilnya itu. Anggun melihat ada bunga juga disana.
Para suami dan anak laki-laki mereka pergi memancing di sungai kecil yang ada di sekitar sana. Mereka sangat antusias menunggu ikan memakan umpan mereka.
Karena suami dan anak-anak mereka pada sibuk nggak jelas, para istri pun memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar tempat piknik mereka.
" Bagus banget ya pemandangannya" kata Sisil.
" Kita kesana yuk" ajak Anggun sambil menunjuk rumah pohon.
Ketiga wanita cantik itu pun naik ke atas rumah pohon itu. Rumah pohonnya lumayan tinggi. Para wanita cantik itu melepaskan sandal yang mereka pakai.
Sampai ditempat paling atas mereka bisa menikmati pemandangan yang indah. Anggun ingin sekali tinggal ditempat yang suasana nya asri seperti ini.
" Kapan bisa tinggal di tempat seperti ini" kata Anggun.
__ADS_1
" Iya, kadang gue bosan tinggal di kompleks perumahan" kata Sinta.
" Benar, nggak ada pohon-pohon yang seperti di sini" kata Sisil.
" Mau gimana lagi, pekerjaan suami kita ada di sana"
Setelah puas melihat pemandangan yang ada disana. Ketiga wanita cantik itu kembali ke tempat suami dan anak-anak mereka.
" Kalian dari mana saja?" tanya Gio.
" Jalan-jalan sebentar Pih" jawab Sisil.
" Ni hasil tangkapan kami" kata Vandy sambil menyerahkan ember yang sudah terisi penuh dengan ikan besar.
" Wah ikan nya besar-besar sekali Mas" kata Anggun.
" Iya sayang, Mas juga nggak menyangka di sini banyak ikannya"
" Baiklah kita akan pesta ikan" kata Aldi.
Para suami menyiapkan tempat pembakaran ikan. Ya mereka akan membakar ikannya, dan separuhnya lagi akan di goreng.
Para istri pun mencuci bersih ikan yang sudah di dapatkan suaminya tadi. Sedangkan Kiran dan Daffin sedang menikmati camilan yang di bawa Kiran tadi.
Selesai mencuci bersih ikan-ikan itu, para istri itu memberikannya pada suami mereka. Anggun mengambil beberapa ikannya untuk di goreng.
Ke tiga wanita cantik itu membagi kerjaan. Anggun kebagian mengulek cabai, Sinta bertugas menggoreng ikannya. Sedangkan Sisil kebagian menyiapkan bumbu untuk ikan bakarnya.
Aroma wangi dari ikan bakar sudah memenuhi tempat itu, membuat cacing-cacing dalam perutpun sudah mulai berbunyi.
Para istri pun melayani suami dan anak mereka. Mereka makan sambil menikmati pemandangan yang ada di depan mata mereka.
Selesai makan, para istri membawa piring kotor kesungai kecil yang ada disana. Ya mereka akan mencuci piring dan perabotan dapur yang mereka pakai tadi.
" Air sungainya jernih banget" kata Anggun.
" Iya. Gimana kalau nanti kita mandi disini" usul Sinta
" Boleh, air sungainya juga jernih" kata Anggun.
" Iya, sekali-kali kita nyoba mandi di sungai" kata Sisil.
" Kalian bawa peralatan mandi nggak?" tanya Anggun.
" Bawa, tapi coba gue cek lagi ntar" kata Sinta.
Selesai mencuci piring dan perabotan dapur tadi, ketiga wanita cantik itu kembali ketempat suami dan anak mereka.
Para istri pun duduk di samping suami mereka masing-masing.
" Kalau kalian gerah, mandi aja di sungai itu" kata Aldi.
__ADS_1
" Rencananya emang gitu" kata Sinta.
" Adek juga mau mandi mommy" kata Kiran.
" Iya sayang, nanti kita mandi bareng di sungai" kata Anggun.
" Asik mandi di sungai" kata Kiran kegirangan.
" Emang kamu bisa berenang?" tanya Daffin pada Kiran.
" Tentu saja bisa, emangnya aku kamu yang takut sama air" kata Kiran.
" Siapa bilang aku takut sama air" kata Daffin.
" Aku " kata Kiran.
" Bearti kamu nggak pernah melihat aku mandi" kata Daffin.
" Nggak, lagi pula mana boleh melihat laki-laki mandi, itu tidak sopan. Benarkan mommy" kata Kiran.
" Benar sayang" jawab Anggun.
Semua orang yang ada disana tersenyum mendengarkan perdebatan Kiran dan Daffin. Ya seperti itulah mereka berdua, kadang damai, terkadang berantem.
Sore hari para perempuan mandi di sungai. Air sungai di sana sangat dingin. Kiran sangat senang bisa mandi di sungai, walau dia mandi hanya di pinggir-pinggir sungai.
Selesai perempuan mandi, barulah para lelaki mandi di sungai itu. Para lelaki beda usia itu memang jago berenang, jadi mereka memilih mandinya agak ketengah. Kecuali Daffin, bocah 8 tahun itu memilih mandi pakai gayung.
" Daf sini tempat abang" kata Gian.
" Nggak mau, dalam" tolak Daffin.
" Payah kamu, masa cowok mandi pakai gayung" ledek Gian.
" Biarin "
" Sudah-sudah, kamu itu selalu meledek adik kamu" kata Aldi.
" Biar dia kuat dikit Pah"
" Ntar kalau aku sudah gede pasti kuat" kata Daffin.
Yang lain hanya jadi pendengar yang baik kedua kakak beradik itu. Selesai mandi dan berpakaian, barulah mereka memutuskan untuk pulang.
To be contonue..
Kiran
Jangan lupa like dan vote nya ya..
__ADS_1
Saranghaeeee... 😘😘
Happy Reading..