Pelabuhan Cinta CEO Arrogant

Pelabuhan Cinta CEO Arrogant
Season 2


__ADS_3

Dwipangga memberi tau para pengawal untuk mengamankan dokter, suster yang sudah menelantarkan pasien. Dan juga beberapa karyawan yang hanya melihat dan membiarkan kejahatan dokter itu. Tidak boleh ada yang lepas satu orang pun, karena mereka akan mendapatkan hadiah.


Setelah berpamitan sama mertuanya, Marko keluar dari ruang rawat istrinya. Dia akan menemui orang sombong tadi. Hanya karena dia dokter jadi dia bisa menindas orang lain.


Marko melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat dokter dan yang lainnya itu di amankan. Ya mereka diamankan disalah satu ruangan yang ada dirumah sakit itu.


Didalam ruangan itu dokter dan yang lainnya sedang menyersali perbuatan mereka. Dokter itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada karirnya nanti.


Tap..


Tap..


Tap..


Terdengar langkah kaki, semua orang yang ada diruangan itu saling melirik. Yang perempuan saling berpelukan, mereka saling menguatkan.


Didepan pintu, ada dua orang penjaga. Marko sampai didepan pintu ruangan itu. Para penjaga membukakan pintu untuk Marko.


" Apa mereka sudah ada di dalam?"


" Sudah tuan"


Marko pun masuk kedalam ruangan itu. Marko menatap mereka satu persatu. Kemudian dia duduk di kursi yang sudah disediakan oleh para pengawal.


Dokter itu menghampiri Marko, kemudian dia bersujud di kaki Marko. Saat dokter itu akan menyentuh kaki Marko, dengan sigap para pengawal menjauhkan dokter itu.


" Tuan maafkan saya, saya tidak tau kalau anda menantu tuan besar" ucap sang Dokter.


" Oh?!, jadi kalau saya bukan siapa-siapa nya Dwipangga anda berhak melakukan hal semacam tadi!"


" Ti-tidak tuan"


" Kau beruntung karena istri dan anakku baik-baik saja, kalau tidak kau dan keluarga mu sudah ku kirim ke neraka!"


" Ja-jangan sakiti keluarga saya tuan"


" Kenapa saya tidak boleh menyakiti mereka?. 'Apa cuma kau yang boleh menyakiti orang lain"


" Ti-tidak tuan"


" Kau seorang dokter, dan kau sudah mengucapkan sumpah jabatan, tapi lihat apa yang kau lakukan!. Kau menilai orang dari segi harta dan kau melupakan sumpahmu itu!"


Dokter itu tertunduk lesuh, apa yang dibilang Marko memang benar. Dia sudah melanggar sumpahnya sendiri.


" Hukuman apa yang pantas untuk Pak dokter dapatkan" kata Marko dengan menekan kata Pak dokter.


Gleg..


Dokter itu pun susah payah menelan salivanya. Dia akan menerima apapun hukuman yang akan diberikan sama Marko.


" Orang-orang seperti kalian harus di basmi!, karena kalian itu tidak ada bedanya dengan sampah!"


Marko meminta pistol salah satu pengawalnya. Marko mengarahkan pistol itu ke kepala sang dokter.


" Aaaaaa!" teriak suster dan para karyawan yang ada didalam ruangan itu.


Wajah dokter itu pun menjadi pucat. Keringat dingin pun mengucur deras dari dahi sang dokter. Tubuhnya juga bergetar karena takut.


" Tenang aku belum membunuhmu. Karena mati itu hukuman ringan untukmu, dan juga kalian semua"


Marko mengembalikan pistol pengawal tadi. Tiba-tiba Marko dan yang lainnya mencium bau pesing.


" Bau apa ini?!" tanya Marko sambil menutup hidungnya.


" Sepertinya dokter itu ngompol tuan" jawab salah satu pengawal sambil menutup hidungnya.


Sontak semua orang melihat kearah dokter itu. Marko dan yang lain susah payah menahan tawanya.


Aku belum melakukan apapun dia sudah ngompol.


Dokter itu sangat malu, dia tidak bisa menegakkan kepalanya lagi. Marko tersenyum smirk pada dokter itu.


" Kau akan dipecat dengan cara tidak terhormat, dan kau juga tidak akan pernah bisa lagi memakai gelar doktermu lagi" kata Marko.


" Ma-maksud tuan?"


" Kau tidak akan diterima kerja dirumah sakit mana pun!"

__ADS_1


" Kenapa anda tega melakukan itu tuan?"


" Tega kau bilang!, itu hanya hukuman kecil yang ku berikan padamu"


" Terus gimana dengan keluarga saya tuan, kalau saya tidak bisa bekerja lagi?"


" Sekarang kau bicara tentang keluarga mu?!, saat istriku kesakitan apa kau peduli?, tidakkan?, kau mengacuhkan aku dan istriku!" hardik Marko.


Dokter itupun tidak bisa berkata-kata lagi. Dia membeku ditempatnya.


" Kau beruntung karena aku hanya memberi hukuman seperti itu. Dan kau harusnya bersyukur karena aku tidak menyakiti tubuhmu, atau bahkan membunuhmu?. Kalian urus sisanya " kata Marko pada para pengawal


" Baik tuan"


Marko pun pergi meninggalkan ruangan itu. Karena kalau berlama-lama disana, bisa-bisa timah panas mendarat di kepala dokter itu.


Marko akan menemui istri dan putranya yang baru lahir. Marko ingin meredakan emosinya Karena sang istrilah yang bisa meredakan amarah dan emosinya sekarang ini.


Marko memutar handle pintu ruangan istrinya. Marko melihat istrinya masih terlelap dalam tidurnya.


" Kamu sudah kembali Nak?" kata Diana.


" Iya Ma. Apa Vanya belum bangun dari tadi Ma?" tanya Marko.


" Belum Nak, kamu makanlah dulu"


" Ntar aja de Ma, aku mau nunggu Vanya siuman dulu"


" Nak, kamu harus jaga kesehatan kamu juga. Apa nanti kata istrimu kalau dia tau kamu belum makan"


" Benar kata mama mu, Nak. Kau juga butuh tenaga" kata Dwipangga.


" Baiklah Ma, Pa"


" Sebentar lagi, Vandy dan keluarga kecilnya akan kesini" kata Dwipangga.


" Pasti disini akan rame" kata Diana.


Marko pun sarapan bersama kedua mertuanya. Walaupun tidak selera makan, Marko tetap memakan sarapannya. Karena dia tidak ingin mengecewakan mama mertuanya.


Di kediaman Vandy.


Anggun dan Vandy memakai baju kaos biasa, begitu juga dengan Kenzo dan Kiran. Mereka terlihat sangat tampan dan juga cantik, walaupun memakai kaos biasa.


" Abang, daddy buruan?!" kata Anggun.


" Siap mommy" jawab Vandy dan juga Kenzo.


Vandy dan Kenzo bergegas menuruni tangga. Karena kalau mereka terlambat sedikit, bisa-bisa sang mommy akan mengomel sepanjang hari.


" Daddy" panggil Kiran.


" Princes daddy "


Vandy menggendong putri kecilnya menuju mobil, diikuti sama Anggun dan Kenzo.


" Adek mau duduk di depan atau di belakang sama mommy dan abang?" tanya Vandy pada Kiran.


" Di depan cama daddy" jawab Kiran.


Vandy mendudukan putri kecilnya di kursi depan. Kemudian memasang sabuk pengaman pada Kiran.


Mobil pun melaju menuju rumah sakit. Sepanjang jalan Kiran dan Kenzo bernyanyi bersama, walaupun Kiran bernyanyi dengan versinya sendiri. Tapi itu menjadi hiburan tersendiri untuk Anggun dan juga Vandy.


Mereka pun sampai dirumah sakit. Vandy memarkirkan mobilnya. Setelah itu mereka masuk kedalam rumah sakit.


Di depan pintu rumah sakit Vandy berpapasan dengan pengawal keluarganya. Para pengawal itu memberikan hormat pada tuan muda mereka.


" Kalian mau kemana bersama orang-orang ini?" tanya Vandy.


Para pengawal itu pun tak tau harus menjawab apa. Karena mereka tidak boleh memberi tau Vandy soal kejadian ini. Mereka pun merutuki diri mereka sendiri.


" Kenapa kalian diam saja"


" A-anu tuan muda"


" Anu opo?" tanya Vandy.

__ADS_1


" Ka-kami mau mengantarkan mereka pulang kerumah mereka"


" Ya sudah, kalian hati-hati" kata Vandy.


" Te-terima kasih tuan muda"


Akhinya selamat.


Vandy melanjutkan perjalanan menuju ruang rawat Vanya. Sepanjang jalan banyak orang terpesona sama Ketampanan dan juga kecantikan mereka.


" Sunguh potret keluarga yang bahagia " kata ibuk-ibuk.


" Benar, mereka juga tampan dan cantik-cantik" kata teman ibuk itu.


Anggun tersenyum mendengar omongan ibuk -ibuk itu. Mereka pun masuk kedalam lift, kemudian pintu lift pun tertutup. Kiran memeluk tubuh daddy nya.


" Adek takut" tanya Vandy saat mereka berada didalam lift.


Kirang menganggukkan kepalanya. Vandy membelai rambut putri kecilnya.


" Adek baca doa ya, biar nggak takut lagi" kata Vandy.


Kiran pun membaca doa, selesai Kiran membaca doa.


Ting


Pintu lift pun terbuka.


Vandy keluar dari dalam lift, diikuti sama istri dan juga putranya. Mereka langsung menuju ruang rawat Vanya. Mereka pun sampai didepan pintu ruang rawat Vanya.


Tok


Tok


Tok


Diana membukakan pintu.


Ceklek..


" Assalamualaikum nenek" ucap Kenzo.


" Wa'alaikum salam, yuk masuk" ajak Diana.


Sampai didalam ruangan Vanya, Kiran minta turun dari gendongan daddy nya.


" Daddy tuyun" kata Kiran.


" Adek mau turun"


" Ia"


Vandy pun menurunkan Kiran. Kiran langsung berlari menuju box bayi. Anggun menyalami kedua mertuanya, diikuti sama Kenzo.


" Adek nggak mau salaman sama kakek dan juga uncle ?" tanya Dwipangga.


Kiran pun berlari kearah Dwipangga dan Marko, kemudian dia menyalami kakek dan juga uncle nya.


" Masya Allah, tampa sekali baby nya Kak" puji Anggun.


" Makasih Nggun, Kakak dan abang nya kan juga tampan dan cantik" puji balik Marko.


" Siapa nama putra tampannya Kak?" tanya Anggun.


" Elvano Putra Juanda, di panggil baby El" jawab Marko.


" Nama yang bagus"


Anggun duduk di sofa disamping suaminya. Mereka membiarkan Kenzo dan Kiran melihat baby El nya. Sambil menunggu Vanya siuman mereka pun bercengkerama bersama.


To be continue..


Welcome baby El..



Jangan pelit ngasih jempolnya ya.. 😉😉

__ADS_1


Happy Reading..😚😚


__ADS_2