
Semakin hari hubungan Marko dan Vanya semakin dekat. Marko juga sudah memantapkan hatinya buat Vanya. Malam ini Marko akan mengungkapkan perasaannya pada wanita yang beberapa bulan ini mengisi hari-harinya. Gadis kecil yang sudah mengisi hatinya dan membuat hari-harinya lebih berwarna.
" Kita mau kemana?" tanya Vanya.
" Nanti kamu juga akan tau" jawab Marko.
Vanya mengerucut kan bibirnya mendengar ucapan Marko tadi.
" Kenapa manyun gitu? apa minta dicium?."
" Ck.. dasar mesum."
Mobil Marko pun sampai direstoran mewah. Marko memakirkan mobilnya. Kemudian dia turun mengitari mobilnya dan membukakan pintu buat sang kekasih. Ralat maksud calon kekasih.
" Silakan My Princes" sambil mengulurkan tangannya ke Vanya.
Vanya pun menyambut uluran tangan Marko dan keluar dari mobil.
" Thank you My Prince."
Mereka pun masuk kedalam restoran dengan bergandengan tangan. Sampai didalam restoran Vanya heran kenapa restoran itu terasa sepi. Bukankah itu salah satu restoran termewah dikota itu tapi kenapa sepi.
Marko tersenyum melihat tingkah Vanya yang seperti orang kebingungan. Marko menarik kursi dan mempersilakan Vanya untuk duduk. Setelah memastikan Vanya duduk dengan baik Marko pun duduk dikursi seberang Vanya. Jadi posisi mereka sekarang berhadap-hadapan.
Pelayan datang membawa dua porsi steak dan juga minuman yang terkenal dari restoran itu. Setelah meletakkan pesanan para pelayan pun pergi dari sana.
" Hebat ya restorannya padahal kita belum pesan tapi makanannya udah datang?" ucap Vanya.
" Aku yang pesan" tutur Marko.
" Kapan?" tanya Vanya.
" Seminggu yang lalu" jawab Marko santai.
" Aku jadi nggak selera makan."
" Kenapa? bukannya kamu suka makan steak?."
" Suka tapi ini kan steak yang sudah dibuat satu minggu yang lalu."
Marko pun tertawa mendengar ucapan Vanya.
" Kenapa kamu tertawa? emang ada yang lucu?."
" Ada."
" Apa?" tanya Vanya.
" Kamu" jawab Marko.
" Aku."
" Iya, lagian mana ada steak dibuat satu minggu yang lalu. Steak ini dibuat Malam ini dan itu khusus mereka buat untuk kamu."
" Khusus untuk aku?."
__ADS_1
" Udah cepat makan ntar keburu dingin makanannya."
Mereka pun makan dengan ditemani alunan musik menambah kesan romantis buat Marko dan Vanya. Selang berapa menit steak tadi pun sudah masuk kedalam perut mereka.
" Vanya."
" Hhmmm."
" Aku tau kita baru saling mengenal. Tapi aku senang dan bahagia bisa mengenal wanita seperti kamu. Gadis kecil yang mampu merubah duniaku menjadi lebih berwarna. Vanya maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Marko.
Vanya kaget serta terharu. Ini waktu yang ditunggu-tunggu Vanya dari dulu. Ungkapan cinta dari Marko. Vanya merasa bahagia akhirnya penantiannya selama ini berbuah manis sekarang.
" Aku mau " jawab Vanya.
Marko sangat bahagia mendengar jawaban dari Vanya.
" Jadi hari ini kita resmi pacaran nih?" tanya Marko.
Vanya pun menganggukkan kepalanya.
" Terimakasih karena sudah mau menerima cinta aku."
" Sama-sama Pookie" balas Vanya.
" Pookie" kata Marko.
" Hhhmm panggilan sayang aku ke kamu."
" Baiklah Pinky."
" Pulang yuk" ajak Marko.
" Hhmmm."
Mereka pun berlalu pergi meninggalkan restoran dan menuju parkiran. Marko membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu. Setelah itu baru Marko masuk kedalam mobil.
" Siap berangkat Pinky?" tanya Marko.
" Siap Pookie" jawab Vanya.
Marko melajukan mobilnya meninggalkan restoran dan pergi menuju kerumah kekasihnya.
" Pookie."
" Hmmmm."
" Apa kamu membooking restoran tadi" tanya Vanya.
" Iya" jawab Marko singkat.
" Pantasan restoran itu sepi."
" Aku nggak mau ada orang yang mengganggu acara dinner kita."
" Lain kali jangan lakukan itu lagi."
__ADS_1
" Kenapa? apa kamu nggak suka?" tanya Marko beruntun.
" Suka. Tapi aku nggak suka kamu buang-buang uang kayak gitu. Apalagi kamu susah payah mencari uang itu."
" Demi membahagiakan kamu aku rela menghabiskan semua tabungan aku" kata Marko.
" Membahagiakan aku tidak perlu dengan materi. Cukup berada disisiku itu sudah membuat aku bahagia."
" Kamu tenang aja aku akan selalu berada disisi kamu sampai kita menua bersama dan mati bersama" kata Marko.
" Ck gombal."
" Aku nggak lagi ngegombal. Kata-kata itu tulus dari dalam hati aku."
" Iya. Sekarang fokus bawa mobilnya dan pandangan lurus kedepan" kata Vanya.
Tak berapa lama mobil yang dikendarai Marko sampai didepan pintu gerbang rumah Vanya. Marko membunyikan klakson mobilnya. Satpam yang mendengar bunyi klakson mobil pun membukakan pintu gerbang.
Marko melajukan mobilnya kerumah utama. Mobil Marko pun sampai dirumah utama. Vanya turun dari mobil dan diikuti sama Marko.
" Aku masuk kedalam dulu ya."
" Iya. Makasih untuk malam ini."
" Sama-sama."
Saat Vanya mau melangkahkan kakinya masuk kedalam tiba-tiba Marko menarik tangan Vanya hingga tubuh Vanya terbentur kedada bidang milik Marko. Vanya mendongak kan kepalanya. Mata mereka saling bertemu.
Marko menempelkan bibirnya ke bibir Vanya. Hanya menempelkan tidak lebih. Mata Vanya membesar dengan sempurna karena kaget. Marko pun melepaskan bibirnya dari bibir Vanya.
Marko tersenyum melihat ekspresi Vanya. Marko tau itu ciuman pertama buat Vanya begitupun untuk dirinya.
" Masuk sana atau kamu mau aku cium lagi."
" Ck.. dasar tukang sosor" ucap Vanya sambil Melangkah pergi meninggalkan Marko.
Mobil Marko pun pergi meninggalkan rumah mewah milik keluarga Dwipangga. Sepanjang jalan Marko seperti orang gila senyam-senyum sendiri. Sampai diapartemennya senyum Marko pun belum hilang.
Marko masuk kedalam Apartemen dan langsung menuju kamarnya. Marko membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. Marko tidak bisa memejamkan matanya. Marko memegang bibirnya dan terbayang kejadian dirumah Vanya tadi. Bibir Marko pun terangkat keatas membentuk sebuah senyuman.
" Apa aku sudah gila? bisa-bisanya aku mencium Vanya. Baru beberapa menit nggak ketemu gue udah kangen aja sama dia? apa dia sudah tidur" Marko bermonolog.
Marko mencoba memejamkan matanya dan berharap bisa bertemu dengan Vanya dalam mimpi. Tak berapa lama Marko pun telelap dengan seulas senyum dibibirnya.
Tidak jauh berbeda dengan Marko. Vanya pun tidak bisa memejamkan matanya. Vanya berguling-guling diatas kasurnya mencari posisi yang baik agar matanya cepat terpejam. Tapi usaha Vanya sia-sia, matanya tidak bisa terpejam.
Vanya menatap langit-langit kamarnya. Vanya memegang bibirnya. Terbayang kejadian beberapa menit yang lalu. Dimana bibir Marko mendarat sempurna dibibirnya. Vanya senyam-senyum sendiri membayangkannya.
" Aaaa bibir ku udah nggak perawan lagi? Apa aku akan hamil karena dicium sama Pookie tadi? tidak itu tidak boleh terjadi. Karena kalau sampai itu terjadi bisa-bisa aku digantung sama Papa dan Kak Vandy" Vanya bermonolog.
Vanya mencoba memejamkan matanya berharap mata itu akan terpejam. Tapi sia-sia mata Vanya tidak mau mengikuti perintah otaknya. Mata Vanya masih setia menatap langit-langit kamarnya. Susah payah Vanya mencoba memejamkan matanya. Akhirnya mata Vanya pun mau dipejamkan. Vanya pun terlelap menuju alam mimpinya.
To be continue.
Hy Readers ku tersayang jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian buat Author ya dengan cara Like, Komen dan Votenya juga. Vote yang banyak ya... 😉😉
__ADS_1
Happy Reading Guys.. 😉😉