
Malam hari
Seperti yang disarankan kedua sahabatnya tadi, Sisil akan mencoba berbicara pada suaminya. Setelah menidurkan Tristan, Sisil menunggu suami nya pulang.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi suami nya belum juga pulang. Sisil masih setia menunggu suaminya.
" Nona, lebih baik tunggu didalam saja" saran bik Pur.
" Makasih Bik, tapi aku nunggu nya disini aja" kata Sisil sambil tersenyum.
" Tapi diluar dingin Non, nanti non sakit. Kalau Non sakit nanti tuan sama Den Tristan sedih" kata bik Pur
Sisil pun memikirkan ucapan bik Pur. "Baiklah Bik"
Sisil pun masuk kedalam rumah dan menunggu suaminya diruang tamu. Karena menunggu terlalu lama Sisil pun ketiduran di atas sofa.
Gio baru sampai dirumahnya. Gio meminta tolong sama Pak Narto untuk memasukkan mobilnya kedalam garasi. Gio melihat lampu rumahnya masih menyala. Gio melangkahkan kaki nya masuk kedalam rumah.
Gio tersenyum melihat istrinya tertidur diatas sofa. Gio menghampiri istrinya itu. Gio duduk disamping istrinya.
" Maaf sudah membuat kamu menunggu" kata Gio sambil mengecup kening sang istri.
Gio tidak membangunkan istrinya, dia menggendong tubuh istrinya kekamar mereka. Saat menaiki tangga Sisil terbangun. Gio tersenyum kepada istrinya.
" Papi sudah pulang"
" Hhhmm"
Sisil masih berada dalam gendongan suaminya. Sisil masih mengalungkan tangannya dileher sang suami.
" Kalau ngantuk kenapa nggak tidur aja " kata Gio sambil berjalan menaiki tangga.
" Aku mau nunggu kamu, ada yang mau aku bicarakan nanti sama kamu"
" Bicaralah, aku akan mendengarkan nya"
" Ntar aja, lagian ini belum dikamar kita"
Gio membuka pintu kamarnya. Gio berjalan menuju bed. Gio membaringkan sang istri diatas bednya.
" Bentar ya, aku kekamar mandi dulu" kata Gio
" Hhhmm"
Gio berjalan menuju kamar mandi. Saat suaminya sudah masuk kedalam kamar mandi, Sisil bergegas menuju lemari untuk mengambil lingerie nya. Sisil memakai lingerie nya itu, setelah itu Sisil berbaring kembali dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Sisil memikirkan cara gimana cara memulainya nanti. Apa dia harus menggoda suaminya itu terlebih dahulu. Sisil tersenyum sendiri membayangkan dia akan menggoda suaminya sendiri.
Gio yang baru keluar dari kamar mandi, menatap heran pada istrinya.
Apa yang sedang dipikirkannya?, kenapa dia senyum-senyum begitu.
__ADS_1
Gio berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Selesai memakai baju, Gio bergabung dengan istrinya. Gio berbaring disamping sang istri.
Sisil melihat suaminya sudah berbaring disampingnya pun memulai aksinya. Sisil mengelus dada bidang sang suami. Gio yang melihat istrinya ingin menggoda pun tersenyum licik.
Kamu mulai nakal ya sweety.
Gio hanya diam, dia membiarkan istrinya terus menggoda nya. Gio ingin melihat sampai dimana kemampuan menggoda istrinya itu.
Kok dia cuma diam aja sih, apa dia tidak tergoda.
Karena cara yang pertama tidak berhasil Sisil memakai cara yang kedua. Sisil membuka selimut penutup badannya tadi. Sehingga menampilkan tubuh indahnya yang hanya tertutup lingerie tipis.
" Panas banget ya Pih" kata Sisil sambil mengipas-ngipas tubuhnya pake tangan.
Gio susah payah menelan saliva nya, karena melihat pemandangan yang disugukan sang istri. Gio nggak menyangka kalau istrinya akan memakai lingerie yang begitu woow malam ini.
Sisil tersenyum melihat ekspresi suaminya. Sisil yakin suaminya itu sudah tergoda. Sisil mendekatkan tubuhnya ke sang suami.
" Kamu nggak kepanasan Pih" bisik Sisil ketelinga sang suami.
Gio masih mencoba untuk mengontrol hasratnya. Walaupun benda pusakannya sudah mulai bereaksi, tapi Gio tidak mau kalah dari istrinya.
Kita lihat, sampe dimana kamu bisa bertahan Pih.
Sisil memeluk tubuh suaminya. " Ah nyamannya kalau memeluk kamu Pih"
Gio dapat merasakan gunung kembar milik istrinya menempel dengan sempurna diatas dada bidangnya itu. Gio sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya itu.
" Kamu menggoda aku Mih, maka jangan salahkan aku. Karena kamu yang memulai nya duluan"
Cukup lama mereka malakukan olahraga malamnya, akhirnya Gio tumbang disamping sang istri. Gio mengecup kening sang istri.
" Makasih Mih"
" Sama-sama Pih"
Gio menutup tubuhnya dan sang istri dengan selimut. Gio membawa istrinya kedalam pelukannya. Gio membelai rambut sang istri dengan penuh sayang.
" Pih"
" Hhhmm"
" Apa papi tidak ingin punya baby lagi?" tanya Sisil
Kalau ditanya soal keinginan tentu saja dia ingin memiliki anak lagi. Tapi disisi lain dia tidak ingin melihat sang istri kesakitan.
" Kenapa tanya begitu"
" Karena aku ingin punya baby lagi Pih"
Gio kaget mendengar ucapan istrinya itu. Gio nggak menyangka istrinya ingin punya baby lagi. Senang?, tentu saja senang, tapi ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya.
__ADS_1
" Pih kenapa diam aja"
" A-aku masih takut Mih"
Sisil mengelus dada suaminya. " Aku akan baik-baik aja Pih"
" Apa kamu yakin"
" Hhmm, sangat yakin"
" Ya udah, besok kita kerumah sakit untuk melepaskan alatnya"
" Makasih Pih"
" Sama-sama Mih. Sekarang kita tidur ya"
" Hhmm"
Gio memeluk istrinya, Sisil sangat nyaman tidur dipelukan suaminya itu. Tak berapa lama mereka berdua pun tertidur dengan saling berpelukan.
Pagi hari Sisil terbangun dari tidurnya. Sisil tersenyum melihat suaminya yang masih terlelap. Sisil berjalan menuju kamar mandi, tapi sebelum itu dia memungut pakaian suami dan lingerie yang berserakan dilantai.
Sisil masuk dalam kamar mandi dan memulai ritual mandi nya.
Setelah 15 menit Sisil keluar dari kamar mandi, Sisil mengambil pakaiannya didalam lemari. Setelah mengambil pakaian Sisil membangunkan suami nya.
" Pih bangun"
" Mmm, udah jam berapa mih"
" Setengah tujuh Pih"
" Apa!, kok nggak bilang dari tadi"
Gio bergegas menuju kamar mandi. Saat suaminya sudah masuk kekamar mandi, Sisil menyiapkan baju untuk suaminya. Setelah itu Sisil kebawah menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.
Tristan sudah bangun dari tidurnya. Pagi ini Tristan tidak perlu dibangunkan oleh mami nya. Tristan pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah 10 menit Tristan keluar dari kamar mandi. Tristan melangkah menuju lemari pakaiannya. Tristan pun memakai seragam sekolahnya.
Tristan keluar dari kamarnya, Saat keluar kamarnya, Tristan berpapasan dengan papinya. Gio tersenyum pada putranya itu.
" Anak papi sudah siap berangkat "
" Sudah dong"
Ayah dan anak itu berjalan beriringan menuruni anak tangga. Sampai dibawah mereka langsung menuju ruang makan. Sampai diruang makan mereka duduk dikursi masing-masing.
Sisil melayani suami dan anaknya itu. Setelah mengambilkan nasi dan juga lauk untuk suami dan anaknya, barulah Sisil mengambil nasi untuknya. Mereka pun mulai menyantap sarapan mereka.
To be continue..
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya..
Happy Reading Guys..😉😉