
Malam hari.
Selesai makan malam. Vandy, istri dan kedua anaknyanya berkumpul di ruang keluarga. Ya itu merupakan agenda keluarga itu setiap malam.
" Mom" panggil Kenzo.
" Hhmm"
" Sabtu besok, Abang kek nya nggak bisa ikut pesta barbeque deh"
" Kenapa?"
" Abang mau pemotretan"
" Pemotretannya kan siang hari" kata Anggun.
" Iya, tapi Abang pemotretannya nggak di indo, Mom"
" Terus?"
" Diluar negeri"
" Luar negeri nya dimana?, Paris, Belanda, Amerika, india" kata Anggun.
" Korea"
" Mommy ikut ya Bang" kata Anggun.
" Ikut kemana?" tanya Vandy.
" Korea Dad" jawab Anggun.
" Nggak boleh" kata Vandy.
" Kenapa?" tanya Anggun.
" Karena kamu pasti mau ketemu sama si Mimin nggak jelas itu" jawab Vandy.
" Lee Min-ho Daddy, bukan Mimin " kata Anggun.
" Suka-suka Mas dong mau manggil dia dengan sebutan apa " kata Vandy.
" Iya, tapi jangan nama suami cadangan aku"
" Apa!, kamu bilang apa tadi?" tanya Vandy.
" Nggak bilang apa-apa" jawab Anggun.
" Kamu jangan bohong dong sayang. Jelas-jelas Mas dengar tadi"
Anggun mencari ide, supaya suaminya itu tidak marah, kalau tidak bisa gagal rencananya, ketemu dengan suami cadangannya.
Tak berselang lama Anggun menemukan ide, dan membisikkan sesuatu ke telinga sang suami. Seketika wajah Vandy berubah menjadi cerah seperti sinar mentari pagi.
" Benarkah?" kata Vandy.
" Benar dong. Jadi kapan kita berangkat Bang?" tanya Anggun pada sang putra.
" Apa Daddy sudah mengizinkan mommy pergi?" tanya Kenzo.
" Tentu saja. Iya kan Dad?"
" Iya, tapi daddy juga ikut"
" Apa!" teriak Kenzo.
" Abang kalau mau teriak-teriak, di hutan sana!" kata Vandy sambil menutup kedua telinganya.
" Kenapa daddy harus ikut juga?" tanya Kenzo.
" Karena daddy mau melihat Namsan tower" jawab Vandy.
" Cepat katakan kapan kita akan berangkat?"
" Jum'at Mom"
" Yeey.. sudah sekian purnama menunggu, akhirnya bisa pergi ke Korea juga"
Lee Min-ho tunggu istri cadangan mu datang.
Kediaman Aldi.
Gian juga sedang bersantai di ruang keluarga bersama kedua orang tua dan adiknya. Gian berbaring di sofa, sedangkan Daffin adiknya menonton film kartun kesukaannya.
" Ma" panggil Gian.
" Hhmm"
__ADS_1
" Aku mau ke Korea"
" Oh" Sinta hanya ber oh ria.
Seperkian detik barulah dia tersadar apa yang di ucapkan putranya itu. " Mama ikut!"
" Nggak boleh, mama kan harus ngurus papa sama Daffin di sini" kata Aldi.
" Kan ada Bik Yum Pa" kata Sinta.
" Yang istri papa itu mama atau Bik Yum?"
" Bik Yum lah"
" Apa!" teriak Aldi.
" Ma-maksud mama, istri Papa itu mama" kata Sinta.
" Tugas istri apa?" tanya Aldi.
" Tau Pa"
" Nggak tempe " kata Aldi.
" Papa mau jualan gorengan" kata Sinta.
" Cepat bilang, tugas seorang istri"
" Mengurus suami dan anak-anaknya"
" Pinter, jadi mama harus tinggal di rumah. Jangan membantah suami kalau tidak--"
" Masuk Neraka Pa"
" Pinter banget istri aku ini, sini cium dulu"
Aku harus cari cara ni, supaya bisa ke Korea.
Setelah berpikir dengan keras, akhirnya Sinta menemukan cara untuk membujuk suami tercintanya itu.
" Pa"
" Hhmm"
Sinta membisikkan sesuatu di telinga sang suami. Setelah mendengar bisikan sang istri Aldi pun menyetujui sang istri pergi ke Korea.
" Jadi kapan kita berangkat ke Korea nya?" tanya Aldi antusias.
" Sudah jawab aja" kata Aldi.
Gian menatap sang mama. Sinta yang di tatap sang anak hanya nyengir kuda.
Mama bisikin apa sama papa, sampe-sampe papa bersemangat gitu.
" Gian, kapan berangkatnya?" tanya Aldi lagi.
" Jum'at Pa"
" Baiklah papa harus kerja lembur besok, supaya kerjaan papa cepat selesai" kata Aldi.
" Sekarang kita harus istirahat, besok papa sama anak-anak kan mau kerja" kata Sinta.
" Mama nggak tidur juga?" tanya Aldi.
" Tidur dong Pa"
Mereka semua pun beranjak dari duduk mereka. Kemudian pergi menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
Kediaman Gio.
Tristan sedang nonton bersama kedua orang tuanya. Atau lebih tepatnya sedang menemani sang mami menonton acara Drakor kesukaannya.
" Tian mau ke Korea Mi" kata Tristan tiba-tiba.
" Jangan bercanda kamu" kata Sisil.
" Siapa yang bercanda" kata Tristan.
" Beneran kamu mau ke Korea?"
" Bener Mi"
" Mami ikut!"
" Nggak boleh" tolak Gio.
" Mami perginya sama Tian, bukan sama papi" kata Sisil.
__ADS_1
" Tetap saja mami nggak bisa pergi tanpa seizin papi. Apa mami mau jadi istri durhaka"
" Tentu saja tidak"
" Makanya nurut kalau papi bilang"
Nggak bisa, aku harus cari cara supaya bisa ke Korea dan bertemu dengan Oppa-Oppa idola aku.
" Ya Allah pengen liburan, tapi suami sibuk kerja terus. Apakah suami akan berdosa tidak membawa istrinya jalan-jalan?. Bukankah dia juga bisa di bilang suami yang durhaka" kata Sisil.
Gio kaget mendengar ucapan sang istri. Ya walaupun dia emang jarang membawa istrinya jalan-jalan, tapi nggak harus bilang dia suami durhaka juga kan.
" Coba cari di google ah, azab untuk suami durhaka" kata Sisil.
" Mana ada suami durhaka. Yang ada cuma istri" kata Gio.
" Sama aja, Bukankah suami harus memberi istri nafka lahir dan batin?" tanya Sisil.
" Betul sekali" kata Gio
"Jalan-jalan itu termasuk menafkahi istri secara lahir Pi" kata Sisil.
Kenapa istri gue jadi pintar kek gini.
" Baiklah mami boleh ikut, tapi dengan syarat" kata Gio.
" Kenapa harus pake syarat" kata Sisil.
" Mau pergi nggak" kata Gio.
" Ya maulah. Cepat bilang syaratnya"
Demi ketemu Lee Min-ho, apapun syaratnya akan mami penuhi Pi.
" Papi juga harus ikut"
" Kenapa papi juga harus ikut" protes Sisil.
" Kalau papi nggak boleh ikut, berarti mami juga nggak boleh pergi"
Tidak!, rencana aku nggak boleh gagal. Aku sudah menunggu sekian abad mau ketemu sama Oppa-Oppa idaman, sekarang udah ada kesempatan, dan sekarang akan gagal gara-gara suami nggak ada akhlak itu.
" Baiklah papi boleh ikut" kata Sisil.
" Nah gitu dong"
Mami pikir papi akan biarkan mami ketemu sama selingkuhan online mami itu. Tidak akan ya mi.
Gio dan Sisil saling lirik, kemudi mereka tersenyum. Senyuman mereka itu mempunyai arti lain.
Tristan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang tuanya. Dia yang akan pergi pemotretan, tapi mami dan papi nya yang semangat ingin pergi.
Setelah perdebatan antara mami dan papinya selesai, mereka memutuskan untuk beristirahat. Karena besok Tristan akan ke sekolah dan Gio akan pergi ke kantor.
Pagi hari.
Kenzo sudah bersiap pergi ke sekolah. Selesai memakai seragam dan menyisir rapi rambutnya, Kenzo turun kebawah untuk sarapan bersama kedua orang tua dan adiknya.
Di ruang makan kedua orang tua dan adiknya sudah menunggu kedatangannya. Sesampainya di meja makan, Kenzo langsung duduk di tempat biasa.
Anggun membuatkan susu coklat hangat untuk sang putra. Kemudian memberikan susu coklat hangat itu pada putranya.
" Makasih Mom"
" Sama-sama sayang"
Kenzo mengambil roti tawar dan mengoleskan selai ke roti tawarnya itu.
" Abang nggak sarapan pake nasi?" tanya sang Mommy.
" Abang lagi diet mungkin Mom" kata Vandy.
" Nggak lah. Abang lagi pengen sarapan pake roti aja"
Mereka mulai menyantap sarapan mereka masing-masing. Karena Kenzo sarapannya cuma sama roti, jadi dia pun selesai lebih dulu.
Kenzo berpamitan sama kedua orang tuanya.
" Abang berangkat dulu ya Mom, Dad" pamit Kenzo sambil mencium kedua tangan mommy dan daddy nya.
" Hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa motornya" pesan sang mommy.
" Siap ibunda ratu. Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam "
Kenzo memakai helm, setelah itu barulah dia melajukan motornya meninggalkan kediaman orang tuanya.
__ADS_1
To be continue..
Happy Reading 😚😚