Pelabuhan Cinta CEO Arrogant

Pelabuhan Cinta CEO Arrogant
Season 2


__ADS_3

" Tumben Roma nebeng ama lo, Ian?" tanya Tristan setelah Gian sampai di persimpangan.


" Lagi galon dianya" jawab Gian.


" Galon kenapa?" tanya Tristan.


" Di tolak jadi calon mantu" jawab Gian.


Pletak.


" Kalau ngomong jangan asal" kata Kenzo setelah memukul kepala Gian dengan tasnya.


" Lo kejam amat sih, untung kepala gue pake helm. Kalau nggak bisa geger otak gue"


" Udah, cepat jalan" titah Kenzo.


Kedua cowok tampan itu melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju sekolah. Sedangkan Kenzo duduk manis di kursi penumpang.


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit mereka pun sampai di sekolah. Setelah memarkirkan motornya, ketiga cowok tampan itu langsung menuju kelas mereka.


" Kita ngapain ke kelas?" tanya Tristan.


" Oh ia, kita kan nggak belajar" kata Gian.


" Kita ke rooftop aja, yuk" ajak Tristan.


" Gimana Roma, lo mau ikut nggak?" tanya Gian pada Kenzo.


" Hhmmm"


"Hhmm apa? mau atau nggak?"


" Gue ikut" jawab Kenzo.


" Nah gitu dong"


Ketiga cowok tampan itu memutuskan untuk pergi ke rooftop. Gian dan Tristan memang mencium ada yang aneh sama sahabatnya itu. Pasalnya Kenzo lebih banyak diam dari biasanya.


Para murid-murid cewek selalu terpesona sama ketampanan ketiga model terkenal itu. Kenzo cs terus berjalan melewati murid-murid cewek itu. Mereka tidak menghiraukan tatapan memuja yang di berikan cewek-cewek itu.


Kenzo cs pun sampai di rooftop. Gian menggelar tikar yang sengaja mereka tinggalkan di sana saat sedang berada di rooftop.


" Sekarang cerita sama kita?" tanya Gian setelah mereka duduk di atas tikar itu.


" Cerita apa?" tanya balik Kenzo sambil membaringkan tubuhnya di atas tikar.


" Kenapa lo lesu nggak ada tenaga kek gitu?" tanya Gian.


" Gue nggak apa-apa"


" Jangan bohong! kita itu udah temenan dari kecil, jadi kita tau gimana lo"


" Gue lagi bingung aja "


" Bingung kenapa?"


" Orang tua gue sudah menemui kedua orang tua Melodi"


" Terus?"


" Gue pengen kita nikah secepatnya sama Melodi, dan Melodi juga gitu"


" Bagus dong, jadi kenapa lo murung gitu?"


" Papi Melodi memberikan beberapa syarat sama gue"


" Syarat?" tanya Gian dan Tristan berbarengan.


" Hhhmm"


" Syarat seperti apa?"


" Pertama gue harus membeli mansion, tampan bantuan uang keluarga gue"


" Ya lo tinggal beli aja, lagian uang gaji lo selama jadi model cukup untuk membeli satu mansion, bahkan lebih"


" Gue menyanggupi syarat itu. Bahkan syarat keduanya gue juga menyanggupi"


" Emang syarat keduanya apa?" tanya Tristan.

__ADS_1


" Gue nggak boleh bikin Melodi hamil" jawab Melodi.


" Mungkin menurut papinya Melodi, kalian belum bisa merawat bayi itu nanti"


" Gue tau, makanya gue terima persyaratan itu. Karena kami bisa pake pengaman saat berhubungan"


" Jadi yang membuat Roma galau apa?" tanya Tristan lagi.


" Kalau seandainya gue kecolongan dan Melodi hamil, papinya akan membawa Melodi dan calon anak gue pergi jauh dari gue"


" Apa!" kaget kedua sahabat Kenzo itu.


" Bagaimana bisa papi Melodi melakukan itu" kata Gian.


" Gue juga nggak tau Ian" kata Kenzo.


" Terus gimana pendapat mommy dan Daddy lo saat mendengarkan itu?" tanya Gian.


" Nyokap sama bokap gue nggak tau soal itu "


" Maksud lo?"


" Cuma gue dan papa Melodi yang tau"


" Terus gimana sekarang?"


" Entahlah, apa gue tunangan aja dulu sama Melodi?"


" Menurut gue sih lebih baik begitu, jadi setelah lulus baru kalian menikah"


" Ntar gue bicarakan sama Melodi"


" Sekarang lo jangan galau lagi. Karena kita akan selalu mendukung lo" kata Tristan.


" Thank's bro"


Gian dan Tristan memeluk sahabatnya itu. Mereka berdua tau gimana sedihnya Kenzo, kalau seandainya papi Melodi benar-benar memisahkan mereka.


Kenzo tidak dapat menahan air matanya. Ini pertama kalinya dia mengeluarkan air mata demi seorang wanita.


" Hikz...hikz.. G-gue sangat mencintai Melodi, tapi gue juga nggak tau harus gimana" tangis Kenzo.


" Kita tau itu Ken" kata Gian sambil menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


Setelah beberapa menit akhirnya Kenzo sudah mulai tenang, Gian dan Tristan pun melepaskan pelukannya dari Kenzo.


" Lo harus cuci in baju gue ntar nih" kata Gian.


" Iya, coba liat ingus lo banyak banget nempel di baju gue" kata Tristan.


" Ck..sahabat nggak ada akhlak kalian berdua. jangankan baju, pabrik baju pun sanggup gue beli"


Gian dan Tristan tersenyum melihat Kenzo sudah kembali seperti biasa.


" Gitu dong senyum" kata Gian.


" Iya, kita tu udah kangen sama mulut pedas lo, Ken" kata Tristan.


" Ck.. lo kata mulut gue ada cabainya"


" Ya kurang lebih seperti itu"


" Sekarang kita ke kelas yuk, ntar lagi bel bunyi" kata Tristan sambil beranjak dari duduknya.


" Tunggu!" kata Kenzo.


" Apaan?!"


" Mata gue gimana?"


" Emang kenapa mata lo?" tanya Gian.


" Tau, gue melihat mata lo masih lengkap kok " kata Tristan.


Pletak.


" Bukan itu maksud gue"


" Terus apa?"

__ADS_1


" Lo nggak liat mata gue merah kek gini"


Gian dan Tristan melihat mata Kenzo. Dan benar apa yang di bilang sama Kenzo.


" Gampang! ntar kalau ada yang tanya, bilang aja lo lagi sakit mata" kata Gian.


Pletak.


Sekarang kepala Gian yang mendapatkan pukulan. " Kenapa lo pukul kepala gue?"


" Karena lo ngasih ide jelek banget"


" Pake kacamata hitam aja" usul Tristan.


" Iya bener" kata Gian.


" Tapi gue nggak bawa kacamata hitam"


" Ya gimana dong?"


" Lo jalannya merem aja" kata Gian dan sontak mendapatkan pukulan lagi dari Kenzo.


" Lo kalau ngasih ide itu yang bener. Gimana caranya gue mau jalan kalan mata gue tertutup"


" Salah mulu gue di mata lo" kata Gian.


" Emang lo gudangnya salah"


" Roma, kau sungguh kejam!" kata Gian.


" Cepat pikirkan ide untuk menutupi mata gue yang merah ini. Kan nggak lucu cowok tampan kek gue matanya merah kek Vampire"


" Ya nggak apa-apa, jadi ceritanya Vampire tampan tersesat di sekolah" kata Gian yang kemudian kabur dari sana.


" Gian! awas lo ya kalau ketangkep, gue karungin lo" kata Kenzo sambil berlari mengejar Gian.


" Coba liat, tadi dia galon karena nggak tau gimana cara menutupi matanya yang merah itu. Tapi sekarang liat, dengan pedenya dia berlari mengejar Gian" kata Tristan sambil berlari menyusul ke dua sahabatnya itu.


Aksi kejar-kejaran antara Gian dan Kenzo masih berlanjut. Kenzo tidak mempedulikan tatapan murid-murid yang memandangnya. Tapi dia tidak menyadari kalau para murid itu bukan melihat wajah tampannya, melainkan matanya yang merah.


Sampai di dalam kelas, Gian langsung bersembunyi di balik punggung kekasihnya.


" Honey tolong aku. Aku dikejar sama Vampire nyasar" kata Gian.


" Vampire?"


" Iya honey, sekarang dia mau menghisap darah kekasih mu yang tampan ini"


Belum sempat Keyra bicara, dia dikagetkan sama suara Kenzo.


" Gian! sini Lo?!"


" Tu Vampire-nya udah datang honey"


" Itu bukanya Kenzo?"


" Hhmm"


" Terus kenapa kamu bilang dia itu Vampire?"


" Tadi di rooftop dia berubah jadi Vampire"


Kenzo berjalan menghampiri Gian yang masih setia bersembunyi di balik tubuh kekasihnya.


" Minggir Key, gue mau bikin perhitungan sama pacar lo yang luknut ini" kata Kenzo.


" Dengan senang hati Ken " kata Keyra sambil bergeser.


" Tidak! honey jangan lakukan itu" kata Gian.


" Sekarang lo mau lari kemana lagi, Huh?!"


" Ken, kita damai aja yuk" bujuk Gian.


" Ogah"


Teeeet.


Bel sekolah berbunyi, Gian pun bisa bernafas lega. Karena dengan begitu, dia terbebas dari Vampire yang lagi haus darah itu.

__ADS_1


To be continue.


Happy Reading 😚😚


__ADS_2