
Anggun di pindahkan keruang rawat VVIP, Wiguna duduk di kursi disebelah tempat tidur Anggun, dengan setia Wiguna menunggu anaknya siuman.
Marko ingin menemani Anggun sampai siuman, tapi apa boleh buat dia juga masih ada kerjaan. Toh besok dia juga bisa membesuk Anggun.
" Pak, saya ijin pamit pergi kekantor dulu."
" Oh iya, terimakasih Marko karena sudah mau membantu putri ku."
" Sama-sama pak, itu juga sudah menjadi tugas saya."
Marko berlalu meninggalkan Wiguna dan Anggun. Tidak lama Marko pergi Anggun pun siuman. Anggun mencoba membuka matanya. Saat matanya sudah mulai terbuka Anggun melihat papanya sedang serius melihat HP nya.
" Papa", panggil Anggun dengan nada parau.
Wiguna pun menoleh ke sumber suara.
" Sayang kamu sudah siuman, mana yang sakit?" tanya Wiguna.
Anggun pun tersenyum mendengar pertanyaan dari papanya.
" Anggun baik-baik aja Pa, nggak ada yang sakit kok jawab Anggun."
Kiara yang baru sampai di rumah sakit langsung saja mencari ruang rawat anaknya. Tak berapa lama Kiara sampai di ruangan anaknya. Dengan cepat Kiara membuka handle pintu.
Ceklek
Anggun dan Wiguna menoleh kearah pintu.
" Mama," panggil Anggun.
Kiara menghampiri anaknya, dan memeluk Anggun.
" Apa yang terjadi?, kenapa kepala kamu sampai diperban begini?" tanya Kiara.
Anggun tersenyum mendengar serentetan pertanyaan dari mamanya. Anggun melihat Aska yang sedang berdiri mematung didepan pintu.
" Adek sini, kenapa cuma berdiri di sana" ucap Anggun.
Kiara baru menyadari kalau dia membawa putranya. Kiara dan Wiguna menghampiri putranya yang masih berdiri di depan pintu.
" Maaf ya sayang, mama lupa kalau ngajak Adek tadi."
Wiguna pun menggendong putra nya dan mendudukkan nya di atas kasur di samping Anggun.
" Kakak kenapa?," tanya Aska sambil memegang pipi Anggun.
Anggun yang mendapatkan perhatian dari adek kecilnya tersenyum bahagia. " Kakak nggak apa-apa kok dek."
" Sayang kamu belum jawab pertanyaan mama tadi."
" Anggun tadi nggak hati-hati mah, jadi kepala Anggun terbentur meja deh" ucap Anggun bohong.
" Lain kali kamu harus berhati-hati."
" Iya ma, pa Anggun lapar," kata Anggun.
" O iya papa lupa sayang, kakak sama adek mau makan apa?" tanya Wiguna.
" Bakso" jawab Anggun dan Aska.
Wiguna dan Kiara pun tersenyum melihat kekompakan kakak beradik itu. Walaupun mereka tidak lahir dari ibu yang sama tetapi banyak kesamaan diantara mereka, salah satunya soal makanan.
" Papa pergi beliin dulu yah my Princes dan my Prince."
" Ok papa", ucap Anggun dan Aska.
__ADS_1
Wiguna pun pergi membelikan bakso untuk para kesayangannya.
" Sayang, kamu udah hubungi Vandy belum."
" Belum mah, HP Anggun tinggal dikantor papa, mama aja deh yang telpon Vandy, sekalian kerjain dia," kata Anggun.
Anggun pun menceritakan rencananya kepada mamanya. Kiara pun menganbil HP nya dan menghubungi calon mantunya.
Ditempat Lain.
Vandy yang sedang memimpin rapat, tiba-tiba kaget karena HP dicelananya bergetar. Vandy pun mengambil HP nya dan terlihat dilayar HP nya Camer is Calling, Dengan cepat Vandy menggeser tombol hijau dilayar HP nya.
" Hallo Assalamualaikum," terdengar suara diseberang telpon.
" Wa'alaikum salam mah," balas Vandy.
" Van bisa datang kerumah sakit sekarang nggak?, kata Kiara dengan nada suara sedih.
" Siapa yang sakit mah?. "
" Anggun, van."
Deg
Sontak HP pun jatuh dari tangannya.
" Hallo Vandy, kamu masih disana nak."
Vandy kembali tersadar karena mendengar suara calon mertuanya dan mengambil HP nya kembali.
" Anggun nggak apa-apa kan mah, dia baik-baik ajakan."
Kiara pun taktega mendengar suara calon mantu nya yang terdengar sangat khawatir, tapi mau gimana lagi, ini demi kelancaran rencana putri kesayangannya.
" Kamu liat sendiri kesini nak."
" Dirumah sakit mana mah."
Kiara pun menyebutkan nama rumah sakitnya.
" Aku segera kesana mah."
Panggilan pun berakhir.
" Al tunda rapatnya, gue mau kerumah sakit."
" Emang siapa yang sakit."
" Anggun masuk rumah sakit."
" Gue ikut."
" Lo nyusul bareng Sinta dan Sisil aja, gue pergi dulu."
Vandy pun keluar dari ruang rapat, dan mengambil kunci mobilnya.
Dirumah Sakit.
" Mama kasihan sama Vandy, walaupun mama nggak bilang keadaan kamu, tapi dia sangat khawatir sekali sayang."
" Iya sih mah, aku cuma mau liat ekspresi Vandy kayak apa nanti."
Wiguna datang dengan membawakan pesanan para kesayangannya.
" Lagi pada ngomongin apa sih, sampe nggak tau papa datang."
__ADS_1
" Ini loh pah, Anggun ngerjain calon mantu kita."
" Ngerjain gimana maksud mama."
Kiara menceritakan rencana putri kesayangan kepada suaminya. Setelah mendengar cerita istrinya Wiguna pun tertawa.
" Hahaha... sayang kamu ini jahil banget."
" Biar muka Vandy nggak datar lagi pah."
" Kalau ide kamu kayak gitu, bukan bikin dia senang tapi shok sayang."
" Hehe iya juga yah pah," jawab Anggun sambil terkekeh.
" Nih pesan kamu sama adek, habis makan baru panggil dokter buat kesini lagi, buat mastiin keadaan kamu."
" Ok pah."
Anggun dan Aska menikmati bakso yang dibelikan sama papa nya tadi.
" Alhamdulillah kenyang," kata Aska sambil mengelus-elus perutnya.
Wiguna, Kiara dan Anggun tertawa melihat tingkah Aska yang mengelus-elus perutnya.
Vandy sudah berada diparkiran rumah sakit. Vandy keluar dari dalam mobilnya. Vandy berlari menyusuri koridor rumah sakit. Sepanjang koridor Vandy mendapat umpatan dari para pasien dan perawat tapi Vandy tidak mempedulikannya. Vandy tetap berlari.
Akhirnya Vandy sampai didepan pintu ruangan Anggun dirawat, dengan cepat Vandy membuka Handle pintu.
Ceklek...
Vandy berlari menghampiri Anggun dan membawa Anggun kedalam pelukannya. Vandy tidak melihat kalau disana ada kedua orang tua dan adik Anggun.
Anggun kaget karena kedatangan Vandy secara tiba-tiba. Tetapi akhirnya Anggun membalas pelukan Vandy.
" Sayang kamu kenapa bisa masuk rumah sakit?" tanya Vandy yang masih dalam posisi memeluk Anggun.
Belum sempat Anggun, Vandy sudah dikagetkan sama suara Wiguna.
" Sampai kapan kamu mau meluk anak saya..!. "
Vandy melepaskan pelukannya. "Eh papa, aku pikir papa nggak ada disini."
" Oh.. , kalau saya tidak ada kamu mau peluk anak saya terus begitu..?!"
" Hehehe malahan udah pernah lebih dari meluk pah," gumam Vandy tapi masih bisa didengar oleh Wiguna.
" Apa..!!, kamu ngomong apa tadi..!!."
" Eng... nggak ngomong apa-apa pah," gugup Vandy.
Anggun yang melihat ekspresi ketakutan Vandy tersenyum.
" Awas yah kalau kamu peluk-peluk anak saya lagi."
Galak baget calon mertua gue, gimana kalau papa tau kalau gue udah pernah cium anaknya, bisa-bisa digantung gue.
" Sudah-sudah pah, kalau papa bikin calon mantu mama takut lagi, siap-siap tidur diluar" ancam Kiara.
Kenapa istri gue malah belain bocah tengik ini, malah ancamannya seram banget lagi.
Vandy tersenyum penuh kemenangan. mama benar-benar penyelamat gue, papa seperti macan yang kehilangan taringnya kalau sudah berhadapan dengan mama.
Hy Readers semuanya, jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian buat Author ya, dengan cara Like, Komen dan Vote... 😘😘
HAPPY READING GUYS.. 😉😉
__ADS_1