
Pagi hari Anggun dan yang lain sudah siap pergi ke kebun teh. Mereka semua kompak pakai sweater. Karena udara Pagi hari lumayan dingin. Mereka sarapan dulu sebelum pergi.
Selesai sarapan mereka langsung pergi kebun teh. Mereka berjalan kaki menuju perkebunan teh.Tak butuh waktu lama mereka pun sampai dikebun teh.
Sampai disana, mereka sudah disuguhkan dengan pemandangan luasnya kebun teh. Disana mereka juga bisa melihat ibuk-ibuk sedang memetik pucuk daun teh.
Sungguh hal yang menakjubkan buat Anggun, karena dia bisa melihat bagaimana cara memetik daun teh.
Mereka berjalam menyusuri kebun teh yang sangat luas itu. Anggun menghampiri ibuk-ibuk yang sedang memetik daun teh dan diikuti sama suami dan para sahabatnya.
" Selamat Pagi ibuk" sapa Anggun
" Pagi Neng" balas sang Ibuk
" Bisa ajarin saya cara metik daunnya nggak Buk?" tanya Anggun
" Boleh Neng"
Anggun melihat bagaimana cara Ibuk itu memetik pucuk daun teh. Waktu melihatnya sangat mudah, tapi disaat sudah mempraktek kannya sangat susah.
" Aww" tangan Anggun berdarah saat melakukan percobaan yang kedua
Vandy pun panik melihat tangan istrinya berdarah.
" Al!!" teriak Vandy
Aldi yang mendengar teriakan Vandy pun bergegas menghampiri Vandy.
" Cepat panggilkan Dokter"
Huh! itu cuma tergores, nggak perlu kedokter segala. Kumat lagi bodohnya kalau menyangkut soal Anggun.
" Kenapa lo cuma diam aja, buruan!!"
Ibuk-ibuk yang ada disana tersenyum melihat tingkah lebay Vandy. Anggun sangat malu melihat tingkah suaminya itu.
" Mas"
" Iya sayang"
" Ini cuma tergores, jadi nggak perlu ke dokter"
" Tangan kamu berdarah sayang"
" Iya, tapi nggak perlu ke Dokter juga Mas. Kasih obat merah, ntar juga sembuh"
" Benarkah?"
Anggun mengangguk kan kepala nya.
" Ah baiklah. Al cepat lo cariin obat luka buat ngobatin luka istri gue"
" Kebetulan Ibuk ada bawa obat merah ni Nak" ucap salah satu ibuk pemetik daun teh.
Ibuk itu pun mengambil obat merah dari dalam tas kecil yang dia bawa. Ibuk itu memberikan kepada Vandy.
Vandy mengoleskan obat merah ketangan istrinya itu dengan sangat hati-hati. Setelah itu Vandy membalutnya dengan plester untuk luka.
" Makasih ya Buk" ucap Vandy
" Sama-sama Nak"
__ADS_1
" Sekarang kita pulang" ajak Vandy
" Kok pulang sih? aku kan masih mau liat ibuk-ibuk memetik daun teh, dan juga aku mau melihat perkebunan sayur warga" ucap Anggun
" Lain waktu aja kita lihat lagi"
" Nggak mau, aku mau nya sekarang?! kalau Mas mau pulang, ya pulang aja sendiri biar aku sama yang lain aja pergi melihat kebun sayur warga nya"
Anggun pun pergi meninggalkan suaminya, diikuti sama yang lain.
" Sayang" panggil Vandy
Anggun tidak menghiraukan panggilan suaminya. Dia terus saja berjalan menyusuri kebun teh. Vandy pun mau tak mau menyusul sang istri.
Anggun pun sampai kebun sayur warga sekitar. didepan Anggun terpampang nyata kebun kol yang sangat luas.
" Waaww luas banget kebun kol nya" ucap Anggun.
" Tu ada Bapak yang lagi panen" tunjuk Sinta
" Kita kesana yuk" ajak Sisil
" Yuk"
Aldi dan Gio hanya mengikuti kemana langkah kaki ketiga cewek cantik itu. Anggun dan kedua sahabatnya sangat senang melihat para petani panen kol nya.
Anggun dan kedua sahabatnya pengen ikut panen kol juga.
" Al, sini" panggil Anggun.
Aldi pun menghampiri Anggun dan disusul sama Gio dan Vandy.
" Kita bertiga mau ikut panen kol nya, tolong bilangin ke bapak-bapak itu dong" ucap Anggun.
" Kita bisa Bee" ucap Sinta
" Baiklah, aku coba"
" Asik, Aldi memang yang terbaik" ucap Anggun dan Sisil
Aldi pun menghampiri Bapak yang punya kebun, dan disusul sama yang lain, kecuali Vandy.
Vandy kembali pulang ke penginapan. Dia merasa sedih karena istrinya mengabaikannya. Vandy merasa tak dianggap. Kekanakan memang, tapi itulah yang dirasakan Vandy sekarang.
Sampai dipenginapan Vandy masuk kekamarnya, dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Vandy memakai baju santai dan membaringkan tubuhnya diatas kasur. Tak berapa lama Vandy pun terlelap.
Anggun dan yang lain masih asik panen kol. Mereka sangat senang karena bisa memanen kol. Bapak yang punya kebun nya pun juga baik. Walaupun perut Anggun sudah membuncit, tapi itu tidak menghalangi nya untuk memanen kol.
Hari sudah mulai Siang Anggun dan yang lain pun pamit pulang. Bapak tukang kebun pun memberi beberapa kol untuk Anggun dan kedua sahabatnya.
" Makasih ya Pak" ucap Anggun, Sinta dan Sisil.
" Sama-sama Neng"
Mereka pun kembali kepenginapan, tentu saja dengan membawa beberapa kol yang mereka panen tadi.
Sampai dipenginapan mereka masuk kekamar masing-masing untuk segera membersihkan diri. Saat Anggun membuka pintu kamarnya, Anggun melihat sang suami sedang tertidur lelap.
Anggun menghampiri suaminya, tapi keingat dia belum mandi, jadi dia mengurungkan niat nya untuk menghampiri sang suami. Anggun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri.
__ADS_1
Tak berapa lama Anggun keluar dari kamar mandi. Setelah itu Anggun memakai pakaiannya. Anggun berjalan menghampiri sang suami yang lagi tidur. Anggun duduk dipinggiran tempat tidur.
Anggun membelai pipi mulus suaminya. Tidak hanya itu Anggun juga mengecup seluruh wajah suaminya. Anggun mencubit gemas hidung suaminya, tapi tetap aja tidak ada hasil, suaminya itu masih tertidur.
" Daddy nyenyak banget ya Dek tidurnya?"
Anggun membaringkan tubuhnya disamping suaminya. Anggun mengambil tangan suaminya dan menjadikannya bantal. Anggun mencium aroma tubuh suaminya. Entah kenapa aroma tubuh sang suami sangat membuat Anggun nyaman. Tak berapa lama Anggun pun terlelap sambil memeluk tubuh suaminya.
Vandy merasakan kram ditangannya. Vandy membuka matanya, dia melihat istrinya tertidur lelap dengan menjadikan tangannya sebagai bantal. Vandy tersenyum dan membelai rambut istrinya dan sesekali mencium pucuk kepala istrinya.
" Kamu capek banget ya sayang, sampai tertidur kek gini"
Vandy mengelus perut istrinya.
" Adek cepat lahir ya sayang, biar kita berdua bisa jaga Mommy"
Seperti biasa bayi yang ada dalam perut istrinya itu selalu merespon ucapan Daddy nya. Vandy merasa senang baby nya selalu merespon setiap ucapannya.
Vandy terus mengajak baby nya mengobrol. Anggun pun terbangun karena tendangan Baby nya. Vandy tersenyum kepada istrinya. Anggun pun membalas senyuman suaminya.
" Sakit ya ditendang Baby"
" Nggak kok Mas, senang aja liat Baby nya aktif didalam sini"
Vandy mengelus lagi perut sang istri.
" Sayang jangan kencang-kencang ya tendang perut Mommy, kasian Mommy nanti kesakitan " ucap Vandy
Baby itu pun menendang kembali. Anggun sangat bahagia karena Baby nya sangat mengerti sentuhan kedua orangtua nya.
" Mas nggak sabar nunggu Baby nya lahir" ucap Vandy.
" Aku juga Mas"
Vandy mengecup kening istrinya lama, menyalurkan cinta, dan kasih sayangnya pada sang istri.
" Mas"
" Hmmm"
" Maaf soal yang tadi dikebun teh"
Vandy tersenyum dan mencium bibir istrinya sekilas.
" Mas sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kamu meminta maaf sama Mas. Mas cuma ingin yang terbaik untuk kamu sayang, dan Mas nggak ingin kamu kenapa-kenapa"
" Makasih untuk semuanya Mas" ucap Anggun sambil memeluk suaminya.
Vandy pun membalas pelukan sang istri.
"Lapar nggak?" tanya Vandy
" Banget Mas"
" Yuk kita cari makan diluar"
" Kita kerumah kakek Slamet aja Mas, sekalian kita bawa makanan untuk mereka"
" Boleh"
Mereka pun turun dari tempat tidur, dan berjalan keluar kamar. Anggun mengajak yang lain untuk makan ditempat kakek Slamet, yang lain pun setuju dan senang juga.
To be continue
__ADS_1
Kalau Like, Komen dan Vote nya banyak, ntar Author Up 1 Bab lagi... 😘😘
Happy Reading Guys.. 😉😉