
Anggun dan Vandy berjanan menuruni tangga. Sampai dibawah teman-temannya sudah menunggu untuk pergi makan siang.
" Guys, kita kepasar yuk?" ajak Anggun
" Boleh juga tu, dari pada kita beli mending kita masak sendiri" ucap Sinta.
" Iya, tapi kita masak nya dirumah kakek Slamet" ucap Anggun
" Setuju Nggun" ucap Sinta dan Sisil
" Ok, sekarang kita berangkat menuju pasar" kata Anggun.
" Tunggu, kita perginya jalan kaki atau sama mobil?" tanya Vandy
" Sama mobil aja" kata Sisil
" Let's go"
Sekarang Vandy yang bertugas menjadi sopirnya. Vandy melajukan mobilnya menuju pasar yang ada disana. Pasar disana tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 10 menit kalau ditempuh pakai mobil.
Mereka pun sampai dipasar tradisional didaerah sana. Para istri sangat antusias melihat sayur dan buah yang segar-segar yang jarang mereka liat dikota.
Mereka berpencar untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasak. Setelah selesai membeli bahan-bahannya mereka berkumpul lagi diparkiran.
Vandy dan Anggun berjalan ketempat orang menjual ikan. Dikios itu hanya ada dua macam ikan yang dijual, ikan nila sama ikan mas. Anggun memilih ikan nila.
" Pak beli ikan nila nya 3 kilo" ucap Anggun
Bapak penjual ikan pun menimbang ikan nila nya sebanyak yang dipesan Anggun.
" Ini Neng ikannya"
" Berapa Pak totalnya"
" 60 ribu aja Neng"
Vandy memberikan uang 100 ribu pada Bapak penjual ikan.
" Kembaliannya ambil aja Pak"
" Terimakasih Neng"
" Sama-sama Pak"
Selesai membeli ikan Vandy dan Anggun pergi ketempat orang menjual tahu, tempe.
" Buk beli tempe sama tahunya" ucap Anggun
" Mau beli berapa Neng?" tanya Ibuk penjual.
" Berapa ya Mas?" tanya Anggun pada suaminya.
" 20 ribu aja sayang" jawab Vandy
" 20 ribu Buk. Tahu 10 ribu, tempe 10 ribu" ucap Anggun
Ibuk itu pun mengambilkan tahu sama tempe yang dipesan Anggun. Ibuk itu memberikan tahu dan tempe kepada Anggun.
Vandy memberikan uang 50 ribu kepada Ibuk penjual.
" Kembalian nya ambil aja Buk" kata Anggun
" Terimakasih Neng"
" Sama-sama Buk"
Selesai membeli tahu dan tempe Vandy kembali kepakiran. Menunggu teman-temannya disana.
Aldi dan sinta membeli cabe, bawang dan bumbu dapur lain yang diperlukan.
" Buk beli cabe merah kriting 1 kilo, bawang 1 kilo" ucap Sinta.
Ibuk itu pun menimbang cabe sama bawang yang diminta Sinta tadi. Selesai menimbang Ibuk itu pun memberikan kepada Sinta.
" Berapa Buk"
Ibuk itu pun memberi isyarat dengan jari-jari nya pada Sinta. Sinta melihat Ibuk itu tidak bicara dan hanya memberikan isyarat lewat jari jemarinya mengerti. Ya Ibuk pedangan cabe itu Tunawicara.
" Mahal amat Buk harga cabe sama bawang nya 350 ribu?"
Ibuk itu menggelengkan kepalanya.
" Ibuk sakit kepala?" tanya Sinta.
Ibuk itu pun mengibas-ngibaskan tangannya. Sinta dibuat pusing sama Ibuk-ibuk penjual Cabe itu.
__ADS_1
" Bee, kamu yang ngomong deh, aku pusing"
" Berapa totalnya Buk?" tanya Aldi
Ibuk itu memberikan isyarat dengan jarinya. Aldi pun tersenyum dan memberikan uang 50 ribu.
" Waah hebat banget kamu menawar harga nya Bee" ucap Sinta
Ibuk itu pun mau memberikan kembaliannya.
" Nggak usah Buk, kembaliannya buat Ibuk aja" ucap Aldi.
Sinta makin kagum dengan suaminya itu.
Emang nggak salah pilih suami gue, sudah ganteng, baik, dan pintar menawar lagi.
" Yuk Honey, kita keparkiran"
" Bee, kok kamu bisa nawar harga cabe dan bawangnya? malah murah banget lagi nawarnya"
" Mahal gimana? justru disini lebih murah harganya"
" Murah!!"
" Hhhhmmm"
" Murah gimana, masa 350 ribu kamu bilang murah Bee"
Aldi pun tersenyum kepada istrinya.
" Honey, Ibuk itu bilang 35 ribu, bukan 350 ribu"
" Hah! bearti aku yang salah dong Bee"
Aldi hanya mengangguk kan kepalanya.
Mereka pun berjalan keparkiran. Sampai diparkiran Aldi bergabung sama Vandy dan Anggun. Sekarang mereka menunggu Sisil dan Gio.
Sisil dan Gio bertugas membeli sayuran. Sisil yang belum pernah kepasar tradisional pun bigung. Gio menggandeng tangan sang istri menuju kios sayuran. Sisil beruntung memiliki suami seperti Gio.
Sampai dikios sayuran Sisil dan Gio memilih sayur yang akan mereka beli, dan pilihan mereka jatuh pada kembang kol dan wortel.
" Pak beli kembang kol nya 1 kilo, terus wortelnya 1 kilo" ucap Sisil
" Berapa Pak"
" 25 ribu aja Neng"
" Eh" Sisil kaget mendengar harga sayur yang dibilang Bapak tadi.
" Kenapa Sweety?" tanya Gio
" Apa Bapak nya nggak salah hitung Oppa"
Gio tersenyum pada istrinya itu.
" Nggak Sweety, harga dipasar tradisional memang lebih murah dari harga disupermarket"
Gio menyerahkan uang 50 ribu kepada Bapak penjual sayur.
" Kembaliannya buat Bapak aja"
" Terimakasih Den"
" Sama-sama Pak"
Sisil dan Gio pun pergi dari kios sayur dan kembali keparkiran. Sampai disana para sahabat mereka sudah menunggu.
Karena semuanya sudah datang, mereka pun masuk kedalam mobil dan berangkat menuju rumah kakek Slamet.
Mobil yang dikendarai Vandy pun sampai dirumah kakek Slamet. Vandy memakirkan mobilnya dibawah pohon jambu. Setelah mobil terparkir mereka pun turun dari mobil.
Sama saat mereka datang pertama kali kerumah kakek Slamet. Para tetangga kakek Slamet terpesona dengan ketampanan dan kecantikan mereka.
" Bukan kah mereka yang datang kemarin Sore?" tanya Ibuk A
" Iya, apa mereka nggak jijik kerumah reot itu" kata Ibuk B
" Sayang sekali ya cantik dan tampan, tapi suka main ketempat kumuh" ucap Ibuk C
Anggun dan para sahabatnya emosi mendengar ucapan ibuk-ibuk kontrakan itu. Anggun dan kedua sahabatnya menghampiri ibuk-ibuk itu.
" Maaf ya ibuk-ibuk yang terhormat, justru saya melihat disini mulut ibuk-ibuk lah yang menjijikkan" tutur Anggun
" Nggak sopan sekali kamu" ucap Ibuk B.
__ADS_1
" Orang-orang kota kan emang nggak punya sopan santun dan tata krama" ucap Ibuk C
"Menurut saya ibuk-ibuk lah yang harus belajar lagi tentang tata krama. Kalau menurut ibuk-ibuk kami yang dari kota ini nggak punya sopan santun dan tata krama, terus ibuk-ibuk yang mulut nya lemes dan juga menjijikkan kek tadi lebih nggak punya sopan satun dan tata krama dong ya." ucap Anggun
" Kau! tidak sopan sekali sama orangtua" ucap Ibuk A.
" Saya akan sopan sama orang yang mulutnya juga sopan pada saya, dan orang lain" ucap Anggun
" Yuk Nggun kita pergi, nanti kelamaan disini kita bisa kenak penyakit" kata Sinta
" Yuk, gue juga males lama-lama di tempat sampah seperti ini" ucap Anggun.
Anggun dan yang lain pun pergi dari tempat ibuk-ibuk tadi.
" Mudah-mudahan kau dan anak dalam kandungan mu itu tidak selamat" ucap Ibuk A
Sontak Anggun menghentikan langkahnya dan menoleh kepada ibuk-ibuk itu.
" Doa yang jelek tidak akan pernah dikabulkan Allah. Apalagi doa itu dari wanita berhati iblis seperti kalian?!" ucap Anggun.
" Jika kalian berani mengutuk istri dan calon anak saya lagi. Saya pastikan kalianlah yang lebih dulu menerima apa yang kalian ucapkan tadi?!" tutur Vandy sambil menatap ibuk-ibuk itu dengan tatapan membunuh.
Ibuk-ibuk itu bergidik ngeri melihat tatapan membunuh Vandy. Mereka pergi meninggalkan ibuk-ibuk yang ketakutan itu.
Sampai dirumah kakek Slamet, mereka disambut dengan baik oleh sepasang suami-istri itu.
" Kalian datang lagi" ucap Slamet.
" Iya Kek" ucap Anggun.
Mereka bersalaman dan mencium punggung tangan kakek Slamet bergantian.
" Kakek sama Nenek udah makan siang?" tanya Anggun
" Belum Nak" jawab Pak Slamet
" Kebetulan, kita mau masakin kakek sama nenek. Yuk Nek kasih tau dimana dapurnya?" ucap Anggun
Nenek pun menunjukkan dimana dapurnya, Anggun dan kedua sahabatnya mengikuti sang Nenek.
Sampai didapur Anggun menyuruh Nenek untuk duduk dan melihat saja. Anggun dan para sahabatnya menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka masak.
Setelah semua nya selesai, sekarang waktu nya memasak. Anggun dan kedua sahabatnya bingung, soalnya didapur Nenek tidak ada kompor gas atau pun kompor minyak tanah, yang ada hanya kayu bakar.
" Mas" panggil Anggun.
" Iya sayang"
" Tolong nyalain apinya dong"
Vandy kaget melihat tumpukan kayu bakar.
" Sayang, Mas mana bisa"
" Coba dulu"
Vandy pun mencoba menyalakan api nya. Vandy mengambil beberapa potong kayu bakar dan menaruh nya ditungku. Setelah potongan kayu itu tersusun rapi Vandy mulai menyalahkan korek api.
Api tidak mau menyala, dan otaknya juga tidak bisa bekerja disaat seperti itu.
" Payah lo Van, masa nyalain api gitu aja nggak bisa" ucap Aldi
" Emang lo bisa?" tanya Vandy.
" Nggak" jawab Aldi.
Pletak..
Vandy memukul kepala Aldi.
" Gaya lo sok bisa" ucap Vandy.
Nenek tersenyum melihat tingkah konyol Vandy dan Aldi. Nenek pun memberi tau cara menyalakan api nya. Vandy pun mencoba saran sang Nenek.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya api pun menyala.
" Yeeyy berhasil" ucap Vandy sambil berjoged-joged
Semua orang yang ada disana pun tertawa melihat tingkah konyol Vandy. Seketika wajah Vandy pun memerah karena malu.
Ya Allah hilang sudah harga diri hamba.
To be continue
Happy Reading Guys.. 😉😉
__ADS_1