
Sepasang suami-istri sudah duduk dikursi penumpang. Anggun tak henti-hentinya tersenyum. Vandy yang melihat istrinya tersenyum pun ikut bahagia.
" Semoga senyum itu selalu menghiasi bibir kamu sayang."
" Mas aku mau ketoilet dulu."
" Iya, apa mau Mas temenin?."
" Nggak usah Mas, lagian aku bukan anak kecil."
Anggun berlalu pergi ketoilet. Sepanjang jalan menuju toilet, mata para penumpang tidak henti-hentinya memandang Anggun terutama penumpang cowok. Anggun tidak mempedulikan tatapan mereka. Apalagi tatapan para cowok yang seolah-olah akan memangsa nya itu.
Saat Anggun ditoilet, ada seorang wanita datang menghampiri Vandy. Wanita itu memang dari tadi terpesona sama ketampanan Vandy.
" Boleh saya duduk disamping anda Tuan" tanya wanita itu.
Vandy menoleh kearah sumber suara. Vandy melihat penampilan wanita itu, mulai dari atas sampai kebawah.
" Ck lalat pengganggu lagi, emang dia fikir gue tertarik dengan penampilannya yang serba terbuka itu."
" Gimana Tuan, apa boleh saya duduk disamping anda."
" Maaf nona kursi ini sudah ada yang menempati."
" Tapi saya melihat tidak ada yang duduk disana Tuan" dengan nada menggoda.
" Nona kalau saya bilang ada yang menempati bearti emang ada" mulai kesal.
Wanita itu tidak mau mendengarkan omongan Vandy. Dia tetap duduk dikursi disamping Vandy.
" Kok disini panas sekali ya" sambil membuka kancing bajunya.
Vandy yang melihat wanita disampingnya itu membuka kancing bajunya merasa jijik.
" Dia pikir gue bakal tergoda, gue hanya bisa tergoda kalau istri gue yang ngelakuin kek gitu."
Wanita itu mencoba menyandarkan kepalanya kebahu Vandy, dan memegang tangan Vandy. Sontak perbuatan wanita itu membuat Vandy murka.
" Apa yang kau lakukan!!!" teriak Vandy.
Semua penumpang melihat kearah Vandy dan wanita itu.
" Bukannya Tuan senang."
" Senang kepalamu!!, gue justru jijik disentuh sama wanita kayak kamu!!." masih emosi.
Dari kejauhan Anggun melihat suaminya membetak seorang wanita pun tersenyum. Anggun memang tau gimana suaminya itu. Suaminya itu seperti mempunyai penyakit OCD kalau disetuh wanita lain. Anggun berjalan menghampiri suaminya.
"Ada apa ini Mas?."
" Ini sayang, wanita itu mencoba menggoda Mas, bahkan dia berani menyentuh tangan Mas." bicara dengan nada manja.
Wanita itu dan penumpang lain kaget melihat perubahan sikap Vandy.
"Sama gue cowok ini sangat galak, tetapi sama wanita itu dia bisa bersikap lembut bahkan terdengar manja" batin sang wanita itu.
__ADS_1
" Maaf mbak, kursi yang anda tempatin itu adalah kursi saya."
" Jangan ngaku-ngaku kamu, apa kamu mau menggoda dia juga."
Anggun tersenyum mendengar ucapan wanita yang ada didepannya itu.
" Tanpa saya goda pun dia udah tergoda duluan mbak liat body saya."
Vandy tersenyum mendengar ucapan singa betinanya itu. " Kamu gemesin banget si sayang."
" Emang kamu fikir body kamu itu Ok."
" Saya nggak bilang body saya Ok, tapi para lelakilah yang selalu bilang kalau body saya Ok."
" Mendingan sekarang lo pergi dan duduk ditempat duduk lo sendiri, ganggu kenyamanan gue aja" usir Vandy.
" Apa Tuan lebih memilih duduk dengan wanita jelek ini?."
" Yang jelek itu elo, bukan istri gue."
" I-istri."
" Iya, wanita yang kau bilang jelek itu adalah istri gue." sambil merangkul pinggang Anggun.
Wanita itu pun tertunduk malu mendengar ucapan Vandy tadi.
" Kau itu hanya lalat pengganggu, mending sekarang kau pergi!!" usir Vandy.
" Sebelum pergi pasang lagi kancing bajunya mbak" ucap Anggun.
" Akhirnya lalat itu pergi juga" kata Vandy.
" Padahal Mas sukakan digoda wanita itu."
" Ya nggak lah, malahan Mas jijik melihat wanita itu, Mas hanya bisa tergoda kalau kamu yang menggoda Mas, sayang."
Seketika wajah Anggun merona mendengar ucapan Vandy tadi. Vandy tersenyum melihat wajah Anggun yang bersemu merah. Anggun merebahkan kepalanya dibahu suaminya.
" Mas."
" Hmmm."
" Jika suatu saat aku pergi jauh ninggalin Mas gimana."
" Mas nggak akan pernah biarkan kamu pergi jauh dari Mas, sayang."
Vandy membelai kepala istrinya, dan sesekali mencium puncak kepala istrinya. Anggun merasa senang dan bahagia karena mendapatkan suami yang sangat menyayangi nya. Tak lama Anggun pun terlelap. Vandy melihat istrinya yang sudah terlelap pun tersenyum. Mengingat perjalanan mereka masih lama Vandy pun mencoba memejamkan matanya.
Setelah menempuh perjalanan selama 17 jam Pesawat yang ditumpangi Anggun dan Vandy mendarat di bandara internasional paris. Vandy dan Anggun pun turun dari Pesawat yang mereka tumpangi.
Dibandara sudah ada yang menunggu kedatangan sepasang suami-istri itu. Para pelayan itu membawa barang-barang Vandy dan Anggun. Mereka pun berangkat menuju hotel. Sesampainya dihotel sepasang suami-istri itu diantarkan kekamar yang akan mereka tempati.
Anggun dibuat takjub dengan kamar hotel yang dipesan sama mertuanya itu. Anggun melihat kejendela, dari sana Anggun bisa melihat menara Eiffel. Vandy berjalan menghampiri istrinya. Vandy memeluk istrinya dari belakang.
" Kamu suka sama kamar ini sayang."
__ADS_1
" Suka banget Mas."
" Sayang, sekarang kita mencicil buat Vandy junior yuk."
Belum sempat Anggun menjawab bibir Anggun sudah dilum*t Vandy duluan. Anggun tidak dapat menolak keinginan suaminya itu. Vandy melihat tidak ada penolakan dari sang istri, Vandy menggendong tubuh Anggun keatas kasur tanpa melepaskan ciuman mereka.
Setelah membaringkan istrinya. Vandy membuka pakaian yang dia pakai, begitu juga dengan pakaian istrinya. Sekarang tubuh mereka sama-sama polos. Vandy mulai mencium setiap inci tubuh istrinya, tidak ada satupun yang terlewatkan oleh Vandy. Anggun yang mendapatkan sentuhan-sentuhan lembut dari suaminya pun mendes*h. Vandy yang mendengar desah*n istrinya semakin bergairah.
" Keluarin aja suaranya jangan ditahan sayang" bisik Vandy ditelinga Anggun.
Vandy pun memulai penyatuan mereka, walaupun sudah pernah melakukannya, tetapi Vandy tetap kesusahan memasuki bagian inti milik istrinya itu. Setelah berhasil memasuki bagian inti itu Vandy mulai meainkan ritmenya. Entah sudah berapa kali Anggun mencapai pelepas*nya, namun Vandy belum juga. Vandy pun mempercepat ritmenya dan seketika tubuh mereka menegang dan mencapai pelepas*n bersama. Seketika Vandy pun ambruk merebahkan dirinya disamping istrinya.
Vandy melihat istrinya sudah terlelap karena kecapekan. Vandy mengelus rambut istrinya.
" Maafin aku ya sayang karena nggak bisa menahannya, sehingga membuat kamu kecapekan. I Love You sayang."
Vandy mencium bibir istrinya sekilas kemudian ikut terlelap sambil memeluk istrinya.
Ditempat lain.
Vanya yang sejak dua hari kemarin tidak bisa tidurnya nyenyak karena selalu memikirkan Marko. " Kenapa si aku selalu bayangin wajah tu cowok."
Vanya yang tak juga bisa tidur mencari kontak kakak iparnya. Vanya mencoba menghubungi kakak iparnya tapi diurungkan karena takut mengganggu waktu kakak iparnya. " Aku harus tanya sama siapa lagi."
Vanya keingat sama Sinta, dengan cepat Vanya mencari kontak Sinta diHP nya. Setelah Vanya menemukan kontak Sinta, Vanya pun menelpon Sinta.
" Hallo" terdengar suara Sinta dari seberang sana.
" Hallo Kak, ini Vanya."
" Tumben Vanya telpon Kak Sinta?."
" Hehe, Vanya mau minta tolong sama kakak. "
" Minta tolong apa Dek."
" Kakak punya nomor cowok yang tampan kemarin nggak?."
" Cowok tampan, maksud kamu nomor pacarnya kakak?."
" Kok nomor pacar kakak."
" Ya, kamu bilang tadi cowok tampan, yang tampan itu kan pacar kakak."
" Aduh kakak, bukan nomor kak Aldi tapi nomor ketiga cowok yang datang keacara resepsi kemarin."
" Bilang dong, ini mah kamu bilangnya cowok tampan makanya kakak fikir nomor pacar kakak."
Sinta memberikan nomor ketiga cowok itu kepada Vanya. Sinta nggak menanyakan untuk apa Vanya meminta nomor ketiga cowok itu.
To be continue...
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian buat Author... 🙏🙏🙏
Happy Reading Guys... 😉😉😉
__ADS_1