
Vanya dan Marko sedang bersantai di gazebo yang ada ditaman. Marko berbaring dengan menjadikan paha sang istri sebagai bantalnya.
" Kak"
" Hhhmm"
" Kalau seandainya kita nggak bisa punya keturunan, apa kakak akan mencari istri lagi?" tanya Vanya.
" Nggak, lagian aku menikah sama kamu karena aku mencintai kamu tulus. Aku menerima semua kekurangan dan kelebihan kamu. Jadi aku tidak akan menikah lagi, hanya karena kita nggak memiliki anak" kata Marko.
" Aku takut, rumah tangga aku akan sama seperti sinetron yang aku tonton sama mama tadi" kata Vanya.
" Sayang itu cuma di sinetron, dan itu tidak akan terjadi sama kita. Percaya sama aku" kata Marko.
" Aku percaya sama cinta kakak" kata Vanya.
" Kalaupun kita belum punya anak, bearti Allah ingin kita menghabiskan waktu berdua dulu. Nanti kalau Allah sudah percaya kita bisa menjadi orangtua yang baik, maka bayi itu akan segera hadir disini" kata Marko sambil mengelus perut sang istri.
" Makasih untuk cinta yang kakak berikan untuk aku" kata Vanya.
" Seharusnya aku yang minta makasih sama kamu. Karena kamu sudah mau menerima lelaki jahat ini" kata Marko.
" Kakak ngomong apa sih. Kakak itu lelaki yang sangat baik dan bertanggung jawab, jadi jangan bicara seperti itu lagi" pinta Vanya.
" Apa kamu bahagia menikah sama kakak?" tanya Marko.
" Tentu saja aku bahagia. Kakak kan tau gimana aku mengejar kakak dulu. Sampai-sampai kakak bosan ketemu sama aku" kata Vanya.
" Bukan bosan, tapi hidup aku yang biasanya kelam menjadi terang dan lebih berwarna setelah kamu hadir" kata Marko.
" Gombal, dulu kakak bilang aku pengganggu. Terus kakak juga selalu menganggap aku itu anak kecil" kata Vanya.
" Kan emang benar kamu kecil dari kakak" kata Marko.
" Bagus dong, bearti kakak dapat berondong"
" Iya, apalagi berondongnya hot kek semalam" bisik Marko di telinga sang istri.
Seketika wajah Vanya memerah karena malu. " Dasar kakak mesum!"
" Mesum teriak mesum" kata Marko.
" Kakak!" teriak Vanya sambil memukul-mukul pelan dada suaminya.
" Terima kasih " ucap Marko.
" Untuk apa?" tanya Vanya.
__ADS_1
" Untuk semua cinta dan kasih yang sudah kamu berikan" kata Marko.
" Aku harap kita akan selalu bersama-sama" kata Vanya sambil tersenyum kepada suaminya.
Cup.
Satu kecupan mendarat dibibir Vanya. Marko memeluk istrinya itu. Marko sangat bahagia bisa bertemu dan menikah sama Vanya. Karena Vanya lah hidupnya bisa berubah, dari yang kelam hingga menjadi lebih bewarna.
Marko berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia akan selalu membahagiakan Vanya, dan akan selalu berada disisi istrinya dalam suka maupun duka.
Sore hari.
Setelah mertuanya pulang, Vandy mengantarkan Kenzo dan Gian ketempat latihan taekwondo. Sesampainya disana, mereka sudah ditunggu sama Tristan dan juga Gio.
Kenzo dan Gian turun dari mobil diikuti sama Vandy. Tristan berlari kearah Kenzo dan juga Gian.
" Kalian lama sekali " kata Tristan.
" Sorry, tadi Jalanan agak macet" kata Kenzo.
" Abang, daddy balik dulu ya" pamit Vandy pada Kenzo.
" Papi juga balik ya Tian" pamit Gio pada Tristan.
" Hati-hati dijalan" kata mereka bertiga serentak.
Vandy pun sampai dirumah sakit. Vandy tidak bisa lama-lama meninggalkan putri kecilnya itu. Vandy masuk kedalam lift menuju ruang rawat istrinya.
Ting
Pintu lift terbuka. Vandy keluar dari lift menuju ruang rawat istrinya. Sesampainya didepan pintu ruang rawat sang istri, Vandy langsung membuka pintu.
" Assalamualaikum " ucap Vandy.
" Wa'alaikum salam" jawab Anggun, Sinta dan Aldi.
Vandy langsung menghampiri box baby Kiran.
" Princes daddy kok tidur mulu sih" kata Vandy.
" Jangan di ganggu Mas, Kiran baru aja tidur" kata Anggun.
Karena ratu sudah bilang jangan ganggu, maka Vandy harus melaksanakan titah itu. Vandy duduk disofa disamping istrinya.
" Van gimana dengan usul gue kemarin?" tanya Aldi.
" Usul apa?" tanya balik Vandy.
__ADS_1
" Perjodohan Kiran dan Daffin" kata Aldi lagi.
" Uhuk.. uhuk.." Anggun tersedak sama buah yang dia makan.
" Hati-hati dong sayang" kata Vandy sambil memberikan air minum pada sang istri.
Anggun langsung meneguk air minum itu sampai habis. Anggun memberikan gelas kosong itu pada suaminya. Vandy meletakkan kembali gelas itu diatas meja.
" Loe sehatkan Al?" tanya Anggun.
" Emang aku terlihat seperti orang sakit ya Nggun?" tanya balik Aldi.
" Nggak juga, cuma ucapan loe tadi nggak salah" kata Anggun.
" Gue serius Nggun. Gue pengen jodohin Daffin sama putri loe" kata Aldi.
" Huuuff" Anggun menghela napasnya.
" Al, gue bukannya nolak. Tapi anak gue masih bayi Al" kata Vandy.
" Justru itu lebih baik. Mereka akan tumbuh bersama nantinya" kata Aldi.
" Iya Nggun, nggak ada salahnya kan kita coba" kata Sinta meyakinkan sahabatnya itu.
" Gimana kalau mereka tidak saling mencintai?" tanya Anggun.
" Benar itu kata istri gue. Lagian gue tidak mau anak gue menikah karena perjodohan" kata Vandy lagi.
" Kalau emang diantara mereka tidak saling mencintai, maka perjodohannya kita batalkan" kata Aldi.
" Kita lihat gimana nanti nya aja. Lagian mereka juga masih bayi" kata Anggun.
" Loe nggak menolak putra gue kan Nggun?" tanya Sinta.
" Nggak Sin, lagian siapa yang bisa menolak anak loe yang tampan itu" kata Anggun.
" Jadi mau ya, Kiran dijodohkan sama Daffin?" tanya Sinta.
" Baiklah" Pasrah.
" Nah gitu dong"
Apa keputusan aku sudah benar ya. Aku tidak ingin putriku tersakiti suatu saat nanti.
To be continue..
Happy Reading Guys.. 😉😉
__ADS_1