Pelabuhan Cinta CEO Arrogant

Pelabuhan Cinta CEO Arrogant
Istri Yang Ganas


__ADS_3

Jam kantor telah usai, satu persatu karyawan meninggalkan Perusahaan Dwipangga Group. Mereka pulang menuju rumah mereka masing-masing. Begitu juga dengan Cindy, dia pulang dengan perasaan yang kalut.


" Lo kenapa sih Cind? kok gelisah gitu?" tanya Lira.


" Gue Nggak apa-apa Lir" jawab Cindy.


" O iya kira-kira siapa ya yang bikin Anggun masuk rumah sakit?" tanya Lira.


" Mana gue tau Lir" jawab Cindy.


" Yang jelas orang itu akan dapat bayaran yang setimpal, karena sudah menyakiti istri kesayangan CEO" kata Sinta yang datang entah dari mana.


" Apa dia akan dimasukan kepenjara Sin?" tanya Sisil.


" Tentu saja, tapi sebelum dimasukan kepenjara orang itu harus merasakan apa yang dialami Anggun bahkan lebih parah dari itu" jawab Sinta.


Cindy yang mendengar ucapan Sinta pun susah payah menahan ludahnya. Cindy tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia harus tidur dipenjara yang dingin dan pengap. Sinta dan Sisil menahan tawa mereka melihat ekspresi Cindy.


" Apa CEO kita udah dapat bukti untuk memasukkan orang itu kepenjara?" tanya Sisil.


" Belum Sil, gue harap CEO kita cepat mendapatkan buktinya" jawab Sinta bohong.


Seketika wajah Cindy berubah ceria kembali karena mendengar ucapan Sinta tadi. Cindy berpikir dia aman karena tidak ada bukti untuk memasukannya kepenjara.


" Nikmatilah sisa-sisa waktu lo yang tinggal sedikit ini" batin Sinta.


Sinta dan Sisil pun berlalu pergi meninggalkan Cindy dan Lira. Mereka berjalan menuju parkiran.


" Lo liat nggak gimana ekspresi Cindy saat kita bilang buktinya belum ketemu?" tanya Sisil.


" Liat, wajahnya langsung berubah seperti sinar mentari dipagi hari, tapi itu tidak akan bertahan lama" jawab Sinta.


" Gue nggak sabar melihat dia masuk penjara" kata Sisil.


" Waktu itu akan segera tiba" kata Sinta.


Sinta melajukan mobilnya meninggalkan Perusahaan Dwipangga Group, dan menuju rumah mereka.


Dirumah sakit.


Wiguna dan istrinya sudah sampai dirumah sakit. Setelah dia mendapatkan telpon dari menantunya itu. Begitu juga dengan Dwipangga dan istrinya. Mereka langsung menuju ruangan tempat Anggun dirawat. Sampai didepan pintu ruangan Anggun, mereka mengetuk pintu ruangan itu.


Tok


Tok


Tok


Karena tidak ada jawaban Kiara pun membuka pintu. Saat pintu terbuka tampaklah suami-istri itu sedang tertidur pulas. Mereka pun masuk kedalam ruangan Anggun.


" Gimana ini mereka masih tidur?" kata Wiguna.


" Biarkan saja Pa" kata Kiara.


" Nggak bisa gitu dong Ma, masa keluarganya datang dia masih molor" kata Wiguna.


Kiara menatap tajam suaminya. Wiguna yang mendapatkan tatapan tajam dari sang istri langsung diam dan tidak berani berbicara lagi.

__ADS_1


Vandy yang mendengar suara ribut-ribut pun terbangun dari tidurnya. Saat matanya sudah terbuka, Vandy melihat keluarganya sudah berkumpul disana.


" Kalian sudah datang?" kata Vandy dengan suara khas bangun tidur.


Vandy turun dari bednya dan menyalami orangtua dan mertuanya itu.


" Kamu mandi dulu deh Van, nih Mama udah bawa baju ganti buat kamu" kata Diana.


Vandy melangkahkan kakinya kekamar mandi yang ada diruangan itu. Setelah Vandy masuk kekamar mandi, Kiara dan Diana menghampiri Anggun.


Kiara sedih melihat putri kesayangannya terbaring diatas bed dengan selang infus masih setia menancap ditangannya. Wiguna mencoba menenangkan istrinya itu.


" Putri dan calon cucu kita baik-baik aja" kata Wiguna sambil menenangkan istrinya.


" Betul besan, menantu dan cucu kita itu sangat kuat" kata Diana.


Vandy keluar dari kamar mandi dan ikut bergabung bersama Papa dan Papa mertuanya. Saat mau duduk tiba-tiba


Plak


Sebuah tamparan cukup kuat mendarat dipipi Vandy. Semua orang yang ada diruangan itu kaget.


" Papa?!" teriak Diana.


" Kenapa kamu menampar menantuku" kata Wiguna.


" Kenapa bisa terjadi seperti ini, huh?!" tanya Dwipangga.


" Maafin aku Pa?" jawab Vandy tertunduk.


Anggun siuman dan mulai membuka matanya. Anggun melihat ruangan yang serba putih itu. Anggun mencoba mengingat kejadian kenapa dia bisa berada dirumah sakit. Setelah mengingat Anggun pun menangis.


Sontak semua orang melihat kesumber suara. Vandy berjalan menghampiri istrinya. Vandy memeluk istrinya.


" Mas bayi kita? maafkan aku karena tidak bisa melindungi serta menjaganya."


" Tenang sayang, bayi kita baik-baik aja" ucap Vandy sambil menenangkan istrinya.


Vandy membelai rambut istrinya dan mencium pucuk kepala istrinya. Anggun merasa nyaman berada dalam pelukan suaminya. Perlahan tangis Anggun pun mulai reda. Setelah istrinya mulai tenang Vandy melepaskan pelukannya.


" Ya kek nya harus ganti baju lagi nih? karena baju yang ini udah basah karena ingus."


Anggun mencubit tangan sang suami.


" Awww, sakit sayang" ucap Vandy pura-pura sakit.


" Makanya jangan nakal."


Semua orang yang ada diruangan itu ikut bahagia melihat Anggun sudah mulai tersenyum lagi. Mereka bersyukur Anggun dan calon bayinya baik-baik aja.


" Eheem, sampai kapan kalian akan pamer kemesraan" kata Wiguna.


" Papa, sejak kapan Papa disini?" tanya Anggun.


" Sejak kalian mulai memamerkan kemesraan kalian" jawab Wiguna.


Anggun pun malu mendengar ucapan Papanya dan memilih menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya.

__ADS_1


" Kamu jangan menggoda menantu ku terus, liatkan dia jadi malu gitu" kata Dwipangga.


Vandy menghubungi Dokter untuk memeriksa keadaan Anggun. Tak berselang lama Dokter pun datang berbarengan dengan Aldi.


" Lo udah dateng" kata Vandy.


" Hhmmm."


Aldi mencium punggung tangan orangtua Anggun dan orangtua Vandy bergantian.


" Gimana lo udah tau siapa orang yang nyelakain istri gue?" tanya Vandy.


" Sudah" jawab Aldi.


" Kita bahas disana aja" kata Wiguna.


Para lelaki pun menjauh sedikit dari para wanita, karena mereka akan melihat rekaman CCTV. Aldi mengambil laptopnya dan mulai memutar rekaman video CCTV. Vandy dan yang lain fokus melihat rekaman video itu.


Vandy emosi melihat rekaman video CCTV itu. Gimana tidak emosi wanita itu melihat istrinya sedang kesakitan, tapi wanita itu tertawa dan pergi meninggalkan istrinya sendiri. Vandy mematikan laptopnya, dia tidak sanggup melihat istrinya menangis sambil meminta tolong.


" Apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu?" tanya Wiguna pada menantunya itu.


" Tentu saja memberikan dia sesuatu hal yang menyenangkan Pa" jawab Vandy sambil tersenyum licik.


" Apa kamu perlu bantuan Papa?" tanya Wiguna lagi.


" Makasih Pa, tapi untuk saat ini aku masih bisa melakukannya sendiri" jawab Vandy.


Aldi bergidik ngeri karena berada ditengah-tengah singa yang kelaparan itu. Tatapan mata mereka benar-benar memancarkan aura membunuh.


Ya Allah tolong selamatkan hamba dari sini.


" Al, besok kita akan bersenang-senang dengan wanita itu" kata Vandy.


" Kalian mau bersenang-senang sama wanita mana?" tanya Anggun.


" Ng-ngak ada kok sayang, kamu salah denger" jawab Vandy gugup.


" Awas ya Mas kalau kamu berani macem-macem, aku kuliti kamu" kata Anggun.


Astaga singa gue walaupun lagi sakit begitu, tetap aja ganas.


" Kamu dengarin aku ngomong nggak sih."


" Denger sayang, lagian mana berani Mas macem-macem kalau Mas punya istri ganas kek kamu."


" Apa kamu bilang tadi, aku ganas?!."


" Iya."


Aduh mulut sialan pake ngomong jujur lagi.


" Apa!!" teriak Anggun.


Vandy cepat-cepat menghampiri istrinya itu dan mencoba menenangkannya. Kalau tidak bisa bahaya nanti.


To be continue

__ADS_1


Happy Reading Guys... 😉😉


__ADS_2