
Sinta memandang gadis cantik yang ada di hadapannya itu. Dia agak ragu kalau putranya berpacaran dengan gadis cantik itu.
" Ian" panggil sang mama.
" Hhmm"
" Kamu nggak pelet gadis cantik ini kan?"
Gian kaget mendengar pertanyaan sang mama. Bisa-bisanya sang mama meragukan ketampanannya.
" Aku nggak perlu pake begituan, cukup dengan melihat wajah tampan aku, dia sudah langsung kepincut"
" Syukurlah kalau kamu nggak pake begituan"
" Mungkin dulu mama deh yang pake pelet "
" Maksud kamu?" tanya Sinta.
" Masa papa tampan begitu, mau sama mama yang cerewet dan wajahnya juga pas-pasan"
" Dasar anak durhaka kamu!, asal kamu tau ya, dulu papa kamu itu yang ngejar-ngejar mama"
Semua orang yang ada di sana tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka. Mendengar perdebatan ini dan anak itu.
" Oh iya, ngomong-ngomong calon mantu mama ini siapa namanya Ian?" tanya Sinta pada sang putra.
" Key kenalan dulu sama camer" kata Gian.
" Kenalkan Om, Tante. Saya Keyra" kata Keyra sambil mencium tangan kedua orang tua Gian secara bergantian.
" Nama yang cantik seperti orangnya" puji Sinta.
" Makasih, Tante juga sangat cantik" puji balik Keyra.
" Kamu dengarkan Ian, apa yang di bilang calon mantu mama. ' Dia bilang mama cantik"
" Paling papa cuma mau nyenanggin mama doang. 'Ya kan Pa?"
" Kenapa papa juga di bawa-bawa" protes Aldi.
" Maksud aku, Keyra" kata Gian.
" Sudah-sudah!, kita kesini mau jogging, bukan mau mendengarkan perdebatan ibu dan anak" kata Vandy.
Sinta dan Gian langsung diam, karena kalau di lanjutkan, bisa-bisa raja singa mengamuk.
" Jadi yang mana ni calonnya Kenzo?" tanya Sisil.
" Yang di tengah Tante" jawab Gian.
" Masya Allah cantiknya" puji Sinta dan Sisil.
" Terima kasih, Tante berdua juga sangat cantik" puji balik Melodi.
" Siapa namanya ni si cantik ini?" tanya Sisil.
" Saya Melodi, Tante" kata Melodi sambil mencium tangan Sinta dan Sisil secara bergantian.
Sisil melirik gadis cantik di sebelah kiri Melodi.
" Kalau ini siapa?" tanya Sisil pada gadis cantik ini.
" Perkenalkan saya Dira, calon mantu Tante" kata Dira.
Gio dan Sisil kaget mendengar jawaban Dira. Kemudian dia melirik sang putra. Tristan yang di tatap sama kedua orang tuanya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Benarkah yang di bilang Dira, Tian?" tanya sang mami.
" I-iya Mi"
" Alhamdulillah, ternyata putra hamba masih normal ya Allah"
Tristan kaget mendengar ucapan sang mami. Dia nggak menyangka maminya akan berpikiran seperti itu.
" Maksud mami selama ini aku nggak normal gitu?" tanya Tristan.
" Iya, habisnya kamu nggak pernah ngajak cewek ke rumah" kata sang mami.
Semua orang tidak bisa menahan tawanya lagi. Ingin rasanya Tristan menghilang saat ini juga. Tristan sangat malu sama semua orang yang ada di sana.
" Walaupun aku nggak pernah bawa cewek ke rumah, bukan berarti aku nggak normal mami" protes Tristan.
" Iya..iya, mami percaya sekarang. Dira kapan-kapan main ke rumah Tante ya sayang"
Yes, sudah dapat lampu hijau dari calon mertua, gumam Dira dalam hati.
" Insya Allah, kalau ada waktu Dira main ke rumah Tante"
" Baiklah, nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya. Sekarang kita mulai jogging nya" kata Vandy.
Mereka pun memulai acara jogging masalnya. Para orang tua memimpin di depan, sedangkan anak-anak mereka setia mengekor di belakang.
Saat berlari Kiran terus menggandeng tangan Tristan. Tristan sangat senang karena Kiran selalu dekat dengannya.
" Kiran sini gandengan sama Affin" kata Daffin.
" Affin gandeng sama Abang Ian aja dulu ya" kata Kiran.
" Nggak!. Affin maunya gandeng sama Kiran"
" Eh bocah, kalau princess nggak mau jangan di paksa" kata Tristan.
" Ck.. ngomong apaan ni bocah. Daffin, kamu sekolah yang benar dulu"
" Sekolah aku udah bener kok, buktinya aku dapat juara 2"
" Seharusnya kamu dapat juara 1, masa nilai kamu kalah sama princess"
" Aku cuma ngalah sama princess, jadi aku biarkan dia mendapatkan juara 1"
" Mana ada, itu karena aku pintar daripada kamu" kata Kiran.
" Princess Abang Tian memang pintar" kata Tristan sambil mencium pipi Kiran.
" Abang Tian!, nggak boleh cium-cium princess" kata Daffin.
Tristan tidak mendengarkan omongan Daffin, dia malah mempercepat larinya bersama Kiran. Daffin tak terima langsung mengejar Tristan. Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Tristan dan Daffin.
Kenzo dan yang lain hanya bisa menghela nafas melihat tingkah absurd Tristan. Dira tidak menyangka kalau Tristan bisa bersikap kekanak-kanakan juga.
" Dir, mending lo tarik si Tristan kesini deh" kata Gian.
" Biarkan saja" kata Kenzo.
" Nggak, nanti adek gue bisa nangis karena dia" kata Gian.
" Emang mereka selalu berantem kek gitu ya?" tanya Melodi.
" Iya kalau menyangkut Kiran" jawab Kenzo.
" Wah.. beruntung banget Kiran ya, direbutin sama dua cowok tampan"
__ADS_1
" Bukan hanya Tristan, Gian juga kadang gitu. Tapi Kiran memang lebih pro ke Tristan" kata Kenzo.
" Iya, entah apa yang di kasih sama bocah itu. Sampe-sampe Kiran lengket banget sama dia" kata Gian.
" Emang sama kamu, Kiran nggak dekat?" tanya Melodi pada Kenzo.
" Deket, banget malah" jawab Kenzo sambil tersenyum melirik adeknya yang sedang jadi rebutan Tristan dan Daffin.
" Sampe kapan mereka akan seperti itu?" tanya Keyra.
" Siapa?" tanya Gian.
" Itu si Tristan sama adek kamu" kata Keyra.
" Nggak tau, mungkin sampai nyampe rumah" kata Gian.
" Duduk di sana yuk guys, capek ni" kata Dira.
" Yuk" kata Melodi.
Mereka semua berjalan menuju kursi panjang yang ada di pinggir lapangan taman itu.
" Haus banget " kata Melodi.
Kenzo memanggil ibuk-ibuk yang kebetulan menjual air mineral. Kenzo mengambil enam botol air mineral dan memberikan pada teman-temannya.
" Berapa Buk?" tanya Kenzo.
" 24 ribu Den"
Kenzo mengambil dompet yang ada di saku celana pendeknya. Dia mengambil uang kertas 50 ribu, kemudian memberikan pada ibuk itu.
" Kembaliannya buat ibuk aja" kata Kenzo.
" Terima kasih Den"
" Sama-sama Buk"
Melodi tambah kagum pada kekasihnya itu, sudah tampan, kaya dan rendah hati lagi.
Ibuk itu pun pamit untuk menjajakan jualannya kembali.
Tristan dan Kiran ikut bergabung bersama Kenzo dan yang lainnya. Daffin dengan setia mengekor di belakang.
" Adek mau minum nggak?" tawar Kenzo.
" Mau"
Kenzo memberikan air mineral miliknya pada sang adik. Kiran langsung meneguk air yang mineral yang di berikan Kenzo tadi.
" Abang, bagi minumnya dong" kata Daffin pada Gian.
" Enak aja bagi, beli sendiri dong" kata Gian.
Pletak.
" Aww, kok kamu mukul aku sih" kata Gian pada Keyra.
" Habis sama adek sendiri pelit" kata Keyra.
" Dia juga sering kek gitu sama aku, tadi aja dia minta uang 500 ribu sama aku, karena aku sudah tidur di atas kasur dia" cicit Gian.
" Tapi dia kan masih kecil, masa kamu nggak mau ngalah"
Akhirnya Gian pun memberikan minumannya pada Daffin, daripada ntar kekasihnya marah. Mending dia baik-baik in dulu si Daffin.
__ADS_1
To be continue..
Happy Reading 😚😚