
Bryan dan Reno masih setia menunggu didepan ruangan IGD. Padahal sudah lama Kia dibawa kedalam sana tapi belum ada juga tanda-tanda dokter mau keluar. Bik Jum yang melihat penampilan tuan mudanya yang berantakan pun ikut sedih.
Setelah 30 menit pintu ruangan pun terbuka.Sontak Bryan dan Reno menoleh kearah pintu.Dokter keluar dari ruangan IGD, Bryan menghampiri sang Dokter.
" Gimana keadaan istri dan anak saya Dok?, mereka baik-baik saja kan Dok?."
" Keadaan istri dan anak Tuan baik-baik saja, untung Tuan cepat membawanya kerumah sakit."
" Syukur Alhamdulillah, boleh saya masuk Dok."
" Boleh, setelah pasien kami pindahkan keruang rawat, keadaan istri anda sangat lemah, tolong jangan membuat dia stres dan tertekan."
" Baik Dok, terimakasih atas bantuannya."
" Sama-sama Tuan, itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai Dokter, kalau begitu saya permisi dulu."
Kia sudah dipindahkan keruang rawat. Bryan menemui Kia diruang rawat. Sebelum menarik handle pintu Bryan menoleh kearah Reno.
" Untuk saat ini kamu jangan menemui Kia dulu, kamu dengarkan apa yang dibilang Dokter tadi."
Reno menganggukan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dibilang Bryan. Walaupun dia ingin sekali menemui Kia, tapi dia juga tidak boleh egois yang nanti bisa membahayakan Kia dan bayinya.
Bryan masuk kedalam ruang rawat Kia. Saat pintu terbuka nampaklah tubuh Kia terbaring lemah diHospital Bed dengan selang infus ditangannya. Bryan menghampiri Kia dan duduk dikursi sebelah tempat tidur Kia. Reno memegang tangan Kia.
" Sayang kapan kamu akan bangun?, maafkan aku karena belum bisa menjaga kamu dan Dedek bayi dengan baik."
Tak berapa lama Kia pun siuman. Kia melihat ruangan yang serba putih itu. Kia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
" Ternyata ini dirumah sakit. Rumah sakit, bayiku bagaimana dengan bayiku."
Bryan yang yang melihat Kia meraba perutnya pun mengerti akan kekhawatiran Kia.
" Dedek bayinya nggak apa-apa, kata Dokter kamu harus banyak istirahat biar Dedek bayinya sehat dan juga kuat."
Kia merasa lega mendengar ucapan Bryan, kalau bayinya baik-baik saja.
" Apa laki-laki itu masih disini?" tanya Kia.
" Tadi memang disini, tapi sekarang udah pulang kok."
" Syukurlah, aku nggak mau lagi ketemu sama orang itu, gara-gara dia aku hampir kehilangan bayi aku" menangis.
" Sayang jangan sedih, kasian Dedek bayinya."
Reno sedih dan kecewa mendengar ucapan Kia tadi, tapi mau bagaimana lagi semua itu memang salahannya yang datang tiba-tiba dan mengaku sebagai Ayah dari anak yang dikandung oleh Kia. Reno pun pergi meninggalkan ruangan rawat Kia.
Ya setelah Bryan masuk tadi, Reno berdiri didepan pintu masuk ruang rawat Kia, jadi dia bisa mendengar semua pembicaraan Bryan dan Kia.
Reno pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan hati yang sakit dan kecewa. Reno melajukan mobilnya menuju kediamannya. Reno berharap besok Kia mau menemuinya.
Kediaman Dwipangga.
Mobil-mobil mewah itu pun sampai dikediaman Dwipangga. Para pelayan pun menyabut kedatangan tuan dan nyonya mereka. Semua orang berkumpul diruang tamu.
" Kalian para anak muda lanjutkan saja dulu ngobrolnya, kami para orangtua mau istirahat dulu" ucap Dwipangga.
Para orangtua pun meninggalkan para anak muda untuk mengobrol. Karena Dwipangga yakin anak-anak muda itu pasti akan merasa canggung berbicara dekat mereka.
" Gimana hubungan kalian ni, ada kemajuan nggak?" tanya Vandy.
" Kalau gue sih ada sedikit kemajuan" jawab Aldi.
" Terus kapan lo mau nikah?" tanya Vandy lagi.
" Rencananya 2 bulan lagi Van" jawab Aldi.
" Waah bagus dong" kata Anggun.
__ADS_1
" Kalau lo Yo?" tanya Vandy.
" Rencananya gue mau barengan sama Aldi tapi semuanya terserah Sisil sih" jawab Gio.
" Kayaknya kalau kalian nikah bareng seru juga tu, gimana Si?" tanya Anggun.
" G-gue mau-mau aja sih" jawab Sisil gugup.
" O iya kayaknya Adek lo lagi naksir seseorang deh Van" kata Sinta.
" Uhuk uhuk" Vanya terbatuk.
Dengan cepat Anggun memberikan minum pada Vanya.
" Hati-hati dong De" ucap Anggun.
" Makasih Kak."
" Vanya bilang sama Kakak, apa yang dibilang sama Sinta itu nggak benarkan?."
" Mmm i-itu apa namanya" ucap Vanya gugup.
" Jawab yang bener Vanya?!!."
Semua orang yang ada disana kaget mendengar suara Vandy.
" Mas, kamu kenapa sih bentak-bentak Vanya kek gitu."
" Diam!!."
Tanpa sadar Vandy membentak istrinya.
Deg
Anggun kaget mendengar Vandy yang membentaknya. Anggun pun berlari keluar rumah. Sinta yang melihat Anggun pergi pun mengejar Anggun. Sebelum Sinta sampai dipintu Sinta menoleh kearah Vandy.
Sisil dan yang lain pun mengikuti Sinta mengejar Anggun. Setelah teman-temannya pergi Vandy baru tersadar kalau dia baru saja membentak istrinya.
" Aarrrrrrgggg sial, kenapa gue bentak dia tadi.". Vandy pun ikut mengerjar istrinya.
Anggun terus berlari dan tidak mempedulikan kakinya yang sakit karena berlari tanpa alas kaki. Sampai kedepan pintu gerbang, Anggun menyuruh Mang Diman membukakan gerbang.
" Mang, tolong bukain pintu gerbangnya?."
" Nona mau kemana tanpa alas kaki begitu."
" Aku cuma mau jalan-jalan aja Mang."
" Tapi kaki nona?."
" Aku nggak apa-apa Mang, percaya deh."
Akhirnya Mang Diman membukakan pintu gerbang buat Anggun.
" Makasih ya Mang."
Anggun pun berjalan keluar dengan hatinya yang sakit. Jika orang lain yang membentaknya mungkin nggak sesakit ini, tapi ini yang membentak suaminya sendiri.
Anggun tak tau harus kemana, dia terus berjalan. Karena sangat merasa lelah ditambah kakinya terasa semakin sakit Anggun pun duduk dikursi yang ada ditaman itu.
Sinta dan yang lain baru sampai dipintu gerbang, tapi mereka tidak melihat Anggun disana.
" Mang ada liat nona muda nggak?" tanya Aldi.
" Baru aja keluar Den, katanya mau jalan-jalan" jawab Mang Diman.
Belum sempat Aldi bicara lagi, Vandy sudah datang.
__ADS_1
" Anggun mana Al?."
" Anggun sudah pergi, kalau sampai terjadi sesuatu sama Anggun, gue nggak akan maafin lo Van" kata Sinta.
" Honey tenanglah, sekarang kita cari Anggun sebelum dia pergi jauh."
Mereka pun mulai berpencar mencari Anggun. Vandy terus saja berjalan menyusuri jalan didekat taman yang ada dikompleks itu, berharap bisa menemukan istrinya disana. Dari kejauhan Vandy melihat istrinya duduk dikursi taman. Vandy setengah berlari menghampiri istrinya.
" Sayang."
Anggun yang mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya. Anggun menoleh kearah suara itu. Anggun melihat Vandy berdiri tak jauh dari tempat dia duduk sekarang. Anggun memalingkan wajahnya.
Vandy yang melihat istrinya memalingkan wajahnya merasa sakit. Vandy duduk disamping istrinya. Vandy membawa Anggun kedalam pelukannya.
" Sayang maafkan aku, bukan maksud aku buat bentak kamu tadi."
Anggun hanya diam dan membiarkan Vandy memeluk dan berbicara.
" Sayang ngomong dong, kamu boleh marahin aku atau bahkan mukul aku, tapi aku mohon jangan diaminin aku kek gini?" mulai nangis.
Anggun yang mendengar suaminya menangis pun tak tega melihatnya. Anggun baru pertama kali melihat suaminya menangis. Anggun membalas pelukan suaminya.
Vandy yang melihat istrinya membalas pelukannya pun merasa senang dan semakin mempererat pelukannya.
" Mas."
" Iya sayang."
" Aku nggak bisa nafas."
" Oh maafkan Mas sayang."
Vandy melepaskan pelukannya. Vandy melihat kaki istrinya yang luka karena nggak memakai alas kaki.
" Sayang kaki kamu luka."
" Nggak apa-apa kok Mas, cuma luka sedikit kok."
" Sedikit gimana, lagian kenapa kamu larinya nggak pakai sepatu atau sandal."
" Emang Mas fikir aku lari tadi direncanain gitu?!, lagian aku kayak ginikan gara-gara Mas."
" Ya seharusnya kan kamu berhenti sebentar buat makai sepatu ataupun sandalnya. Habis itu baru kamu lari lagi."
" Kalau larinya direncanakan baru bisa kek gitu, benar-benar bikin kesal gue aja ni laki."
" Sayang pulang yuk udah malam, lagian kaki kamu juga harus diobati."
Vandy berjongkok dan memasangkan sepatunya kekaki istrinya.
" Mas, apa yang kamu lakuin."
" Yuk cepat naik biar Mas gendong."
" Iya, tapi pakai lagi sepatu Mas."
" Nggak sayang, Mas juga harus ngersain berjalan tanpa alas kaki."
" Aku nggak mau, cepat pakai lagi sepatunya, kalau tidak aku nggak mau pulang."
" Huuuh" membuang nafas kasar.
Vandy pun memakai sepatunya kembali. Anggun naik punggung suaminya. Gedong ala-ala mbak jamu gitu. Diperjalanan pulang mereka habiskan dengan ngobrol dan sesekali bercanda.
To be continue...
Happy Reading Guys.. 😉😉
__ADS_1