
Setelah mendengar ancaman dari istrinya Wiguna pun diam tak bersuara.Tak berapa lama dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Anggun.
Saat dokter Ridwan mau memeriksa nadi Anggun, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Vandy.
" Jangan coba-coba menyentuh wanitaku..!!."
Wiguna dan Istrinya kaget mendengar ucapan calon mantunya itu. Sedangkan Anggun hanya tersenyum geli melihat keposesifan kekasihnya.
" Kamu melarang dokter untuk memeriksa anak saya?, tanya Wiguna.
" Aku nggak ngelarang pah," jawab Vandy.
" Kalau tidak, terus kenapa kamu pegang tangannya..!?."
" Karena aku nggak suka ada laki-laki lain menyentuh wanitaku."
" Ridwan itu bukan orang lain, dia anak teman papa."
" Aku nggak peduli siapa dia, selagi dia masih laki-laki dia dilarang menyentuh Wanitaku..!?."
" Huuufff, belum sah saja kau sudah seposesif ini sama putriku, gimana kalau sudah sah."
Anggun yang sudah mulai jenuh melihat perdebatan papa dan kekasihnya, mulai berbicara.
" Bunny, biarkan kak Ridwan memeriksa aku, kasian dia menunggu dari tadi."
" Tapi sayang."
" Nggak ada tapi-tapian, kalau Bunny masih menolak aku tidak mau bicara sama Bunny lagi," ancam Anggun.
" Huuuuh.. baiklah," ucap Vandy pasrah.
" Silahkan dok," ucap Anggun.
Ridwan pun mulai melakukan tugasnya dengan Vandy yang masih setia berdiri disamping Ridwan.
Diperusahaan Dwipangga Group.
Aldi yang lagi sibuk mengerjakan berkas-berkas yang ditinggalkan Vandy tadi, serta mengatur ulang pertemuan dengan klien. Seharusnya yang mengatur ulang jadwal Vandy adalah sekretaris nya, berhubung sekretaris Vandy lagi sakit jadi Aldi lah yang mendapatkan tugas tersebut.
" Enak banget jadi bos bisa pergi seenaknya, bisa libur seenak nya, ngasih kerjaan seenaknya. Banyak enak di elo van sedangkan gue banyak apesnya."
Setelah semua kerjaannya selesai Aldi mengirim pesan buat kekasihnya untuk memberitahu kalau Anggun masuk rumah sakit. Aldi pun menghubungi pujaan hatinya.
Diruang Desain.
Sinta yang baru saja selesai mengerjakan tugasnya dan bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba dikagetkan sama getaran HP nya. Sinta pun melihat HP dan dia tersenyum melihat nama yang tertera di layar HPnya, Bee is calling, dengan semangat Sinta menggeser tombol hijau di layar HP nya.
" Hallo, Assalamualaikum honey," terdengar suara Aldi dari seberang telpon.
" Wa'alaikum salam Bee."
" Apa kerjaannya sudah selesai?."
" Sudah Bee, kalau Bee gimana?."
" Sudah juga Honey, nanti ikut sama aku ya."
" Kemana?."
" Kerumah sakit, sekalian bilang sama Sisil."
" Emang siapa yang sakit Bee?."
" Anggun, Vandy sudah ada disana, nanti aku dan Gio tunggu kalian diparkiran. Bye Honey."
__ADS_1
Belum sempat Sinta menjawab Aldi sudah mematikan telponnya. Sinta pun teringat sama ucapan Aldi tadi. " Anggun sakit apa, mudah-mudahan Anggun baik-baik aja."
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Sinta dan Sisil sudah siap untuk pulang. Mereka pun berjalan keparkiran.
" Loh sin ini kan menuju arah parkiran CEO?."
" Iya kita akan ikut Aldi kerumah sakit."
" Emang nya siapa yang sakit?."
" Anggun, tadi siang Anggun masuk rumah sakit."
" Terus gimana keadaan Anggun, dia baik-baik aja kan?."
" Aku juga nggak tau sil, kita bedoa aja semoga Anggun baik-baik aja."
Aldi dan Gio sedang menunggu kekasih mereka, tak lama Sinta dan Sisil sampai. Mereka pun masuk kedala mobil. Setelah itu mobil pun melaju meninggalkan gedung Dwipangga Group.
Didalam mobil hanya ada keheningan, tidak ada satu pun diantara mereka yang berbicara. Mereka larut dalam fikiran mereka masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit akhirnya mereka pun sampai dirumah sakit milik keluarga Wiguna. Gio memarkirkan mobilnya, setelah mobil terparkir dengan baik, mereka pun masuk kedalam rumah sakit.
Diruang rawat Anggun.
Ridwan yang baru selesai memeriksa keadaan Anggun, dengan Vandy yang masih setia menjaga Anggun.
" Bagaimana hasil nya rid," tanya Wiguna.
" Kondisi Anggun sudah baik-baik aja kok om, besok sudah boleh pulang, tapi usahain jahitan yang ada dikening Anggun jangan kenak air dulu ya om."
" Kira-kira kapan jahitannya akan kering rid," tanya Kiara.
Belum sempat Ridwan menjawab tiba-tiba ada yang membuka pintu, sontak mereka yang ada didalam ruangan itu menoleh kearah pintu.
Ceklek.
" Kalian datang," ucap Anggun.
Sinta dan Sisil pun berlari memeluk Anggun.
" Lo bikin kita khawatir tau nggak," ucap Sinta.
" Sudah meluk-meluk nya, Anggun masih sakit," ucap Vandy.
Sinta dan Sisil pun melepaskan pelukan mereka.
Kiara dan Wiguna hanya mengelengkan kepala mereka melihat tingkah calon mantunya.
" Sayang mama, papa sama adek keluar dulu ya, kalian lanjut ngobrol aja," kata Kiara.
" Iya mah,"
Kiara, suami serta putra nya keluar dari ruangan, meninggalkan pasangan muda mudi itu.
" Kalian datang kesini nggak bawa buah?" tanya Vandy.
" Ya lupa van, soalnya kita buru-buru tadi datang kesini," jawab Aldi.
" Alasan aja kamu, lagian siapa yang suruh datang buru-buru."
" Ya nggak ada sih," kata Aldi sambil mengaruk kepalanya yang nggak gatal.
" O iya nggun kok lo bisa masuk rumah sakit sih, bukannya tadi siang itu lo kekantor bokap lo, tanya Sinta."
" Iya sayang, dan kenapa kening kamu bisa terluka," tanya Vandy.
__ADS_1
" Tadi siang gue emang kekantor bokap gue, luka dikening ini juga gue dapat disana," jawab Anggun.
" Kok bisa kamu terluka dikantor papa kamu sendiri?," tanya Vandy lagi.
Anggun pun menceritakan semua kejadian yang dialami nya tadi siang dikantor papa nya. Vandy yang mendengar cerita dari kekasihnya itu menjadi emosi.
" Brengsek, berani sekali dia ngerendahin dan mencelakakan kamu," ucap Vandy mulai emosi.
" Tenang aja papa udah kasih cewek itu pelajaran kok," ucap Anggun sambil menenangkan Vandy.
Setelah emosi Vandy mulai redah, mereka pun melanjutkan obrolan mereka.
" O iya van, besok pagi jadwal lo, ketemu sama klien dari perusahaan Cahaya Group." Kata Aldi.
" Bukan kah itu perusahaan terbesar no tiga di Asia," ucap Sinta.
" Iya, kamu benar Honey," kata Aldi.
" Janji temu nya jam berepa?," tanya Vandy.
" Jam 2 siang," jawab Aldi.
" Ok besok lo jemput gue disini sekalian bawa baju ganti buat gue."
" Ok bos."
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka dan sesekali diselingi sama candaan. Karena keasyikan ngobrol mereka pun lupa waktu.
" Nggun kita pamit pulang dulu ya, besok kita kesini lagi, ucap Sinta.
" Lagian lo kan butuh banyak istirahat ," kata Sisil.
" Janji ya besok kalian datang kesini, ucap Anggun.
" Iya kita janji," kata Sinta.
" Ya udah, kita pamit dulu yang nggun semoga cepat sembuh dan cepat masuk kerja lagi," ucap Gio.
" Makasih Gio doa nya," ucap Anggun.
" Kita duluan ya bro, hati-hati nggun ntar lo dimakan sama Vandy," ucap Aldi.
" Sialan lo, benar-benar teman nggak ada akhlak lo," ucap Vandy.
" Emang Bunny suka makan orang ya,"
" Suka dong sayang apalagi itu kamu," ucap Vandy.
" Kalau gitu aku nggak mau dekat-dekat sama Bunny lagi," ucap Anggun.
" Lah kok gitu," ucap Vandy.
" Iya, nanti Bunny makan aku, lagian aku masih mau hidup," ucap Anggun dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Sayang maksud Aldi bukan makan yang seperti itu," kata Vandy.
" Terus yang kayak gimana," kata Anggun yang sudah mulai menangis.
" Sayang jangan nangis dong," ucap Vandy sambil memeluk Anggun.
" Aduh punya calon istri kok polos banget sih, maksud nya kan bukan makan dia benaran. Dasar Aldi sialan bikin gue dalam masalah aja."
To be continue...
Hy Readers ku tersayang mohon dukungannya buat Author ya, kasih Vote kalian buat novel ini... 🙏🙏🙏
__ADS_1
HAPPY READING GUYS... 😉😉😉