
Vanya sangat senang karena bisa mendapatkan nomor kontak ketiga cowok tampan itu. Dari ketiga nomor itu Vanya hanya tertarik sama satu nomor. Vanya menyimpan nomor Marko diHPnya. Vanya mulai mengirim sms pada Marko.
Pesan Vanya.
Vanya: " Assalamualaikum Kak."
Marko yang kebetulan tidak bekerja dan sedang menikmati masa liburnya dengan tidur diatas kasur empuk miliknya.
Ting
Suara pesan masuk membangunkan Marko dari tidurnya. Marko melihat layar HP nya dan terlihat pesan masuk dari nomor baru, Marko membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal dan membalasnya.
Marko: " Wa'alaikum salam."
Pesan terkirim, tidak lama balasan pesan tadi sudah datang lagi.
Vanya: " Masih ingat sama aku nggak."
Marko: " Nggak, emang ini siapa?."
Vanya: " Jahat banget sih nggak ngingat aku, padahal aku keingat kamu terus 😔😔."
Marko: " Maaf, tapi aku beneran nggak ingat sama kamu 😊😊."
Vanya: " Kita ketemu diwaktu acara resepsinya Kak Anggun."
Marko: " Oh, tapi kamu tamu yang mana?, soalnya aku banyak ketemu sama orang disana."
Vanya: " Ituloh yang salaman diatas pelaminan 😉😉."
Marko: " Kamu anak kecil yang megang tangan aku lama itu ya."
Vanya: " Iya, tapi aku bukan anak kecil 😒😒."
Marko: " Kalau bukan anak kecil terus apa?."
Vanya: " Aku udah gede, bahkan udah bisa jadi istri buat kamu 😌😌."
Marko: " Bagi aku kamu itu anak kecil, jadi mana mungkin bisa jadi istri aku 😇😇."
Vanya: " Kita liat aja nanti, aku akan bikin kamu bertekuk lutut sama aku."
Vanya akan membuktikan kata-katanya kepada Marko. Dia juga yakin kalau Marko bisa menjadi miliknya.
" Semangat Vanya kamu pasti bisa" ucap Vanya menyemangati dirinya sendiri.
Paris.
Anggun yang baru terbangun dari tidurnya. Saat Anggun mau bangun, Anggun merasa sakit diseluruh tubuhnya, akibat ulah suaminya yang tidak pernah memberikan jedah buat dia beristirahat. Anggun melihat suaminya yang masih terlelap. Anggun memandangi wajah tampan suaminya, Anggun mulai menyentuh wajah suami nya, tidak ada yang terlewatkan oleh Anggun.
Saat Anggun mau menyentuh bibir suaminya, tiba-tiba Vandy membuka matanya.
Anggun kaget karena ketahuan memandangi dan menyentuh wajah tampan suaminya itu. Vandy tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah karena malu.
" Aku tau kalau aku ini sangat tampan sayang."
" Ck pede banget kamu."
Anggun bangun dari tidurnya, belum sempat Anggun bangun Vandy sudah menarik Anggun kedalam pelukannya.
" Mau kemana, hhmm?."
" Mandi, kita kan mau pergi jalan-jalan."
" Siapa bilang kita akan pergi jalan-jalan?."
" Aku yang bilang Mas."
" Hari ini kita nggak akan pergi kemana-mana."
" Kok gitu, aku nggak mau kalau cuma dikamar aja."
Anggun mencoba melepaskan pelukan suaminya. Susah payah Anggun melepaskan pelukan suaminya tapi tetap saja nggak bisa. Pelukan suaminya itu sangat kuat.
" Sayang diamlah, kalau kamu bergerak terus nanti junior bisa bangun."
__ADS_1
Anggun yang sudah mengerti dengan junior yang dimaksud suaminya itu, langsung diam dan tidak bergerak lagi.
" Nah gitu dong, diam dan jangan bergerak."
" Mas, aku mau mandi."
" Boleh, mandi bareng ya."
" Kalau mandi bareng Mas lama."
" Bentar kok."
Belum sempat Anggun menjawab Vandy sudah menggendong Anggun kekamar mandi. Akhirnya mereka pun mandi bareng dan yang dibilang sebentar sama Vandy itu ternyata 1 jam. Alhasil membuat tubuh Anggun kelelahan.
" Kenapa sih dia itu nggak ada capek-capeknya, gue suntik kebiri baru tau rasa."
" Kamu ngumpat aku sayang."
" Nggak, mana berani aku ngumpat kamu Mas."
" Ya udah, sekarang ganti baju kita jalan-jalan."
Anggun yang mendengar kata jalan-jalan langsung bersemangat dan melupakan kekesalannya tadi. Vandy yang melihat istrinya bersemangat lagi pun tersenyum.
" Jangan lupa pakai jaketnya sayang, soal diluar dingin."
Vandy memakai baju kaos warna hitam serta jaket warna hitam. Vandy terlihat sangat tampan. Sambil menunggu istrinya bersiap Vandy mendengarkan musik diHP nya.
Tak berselang lama Anggun pun keluar dari kamarnya. Vandy mendengar suara pintu kamarnya terbuka pun menoleh. Vandy begitu terpesona melihat istrinya. Bagi Vandy memakai baju apapun istrinya selalu kelihatan cantik apalagi kalau pakai lingerie.
" Yuk Mas berangkat."
" Kalau kamu cantik kayak gini, aku jadi malas ngajak kamu keluar sayang."
" Ck.. sejak kapan suami Arrogant ku ini pintar ngegombal."
" Aku nggak lagi ngegombal sayang."
" Udah ah, yuk jalan."
Sepanjang jalan banyak yang mengagumi kecantikan Anggun, dan itu membuat Vandy sangat kesal. Anggun yang melihat suaminya kesal pun tersenyum. Vandy memotret Anggun yang lagi tersenyum dan memperlihatkan giginya yang putih.
Vandy tersenyum melihat hasil potretannya. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka melihat tempat yang bersejarah diparis. Vandy melihat istrinya sudah kelelahan.
" Sayang, kita istirahat disini dulu ya."
Anggun hanya menganggukan kepala nya tanda setuju. Mereka duduk dikursi yang sudah disediakan ditaman itu.
" Kamu tunggu disini dulu ya sayang, Mas mau beli minum dulu."
" Aku mau itu Mas" tunjuk Anggun kesalah satu penjual yang ada disana.
" Iya, nanti Mas belikan."
Vandy pun pergi membeli minuman dan makanan pesanan istrinya. Anggun dengan setia menunggu suaminya.
" Pak pesan satu porsi" kata Vandy
" Mau pedas atau manis?" tanya Bapak penjual.
" Pedas, tapi pedasnya yang sedang aja ya Pak."
Bapak itu pun membuatkan pesanan untuk Vandy. Tak berselang lama pesanan Vandy pun sudah siap. Vandy membayar pesanan yang dibelinya. Setelah membayar Vandy kembali ketempat istrinya.
" Ni sayang pesanan kamu."
" Makasih sayang."
Anggun pun memakan makanan yang dia pesan tadi. Vandy yang melihat istrinya begitu lahap memakan makanan yang pedas itu pun menahan salivanya.
" Enak ya?" tanya Vandy.
" Enak, Mas mau."
__ADS_1
" Mau."
" Aaa, buka mulutnya Mas."
Vandy membuka mulutnya, dan Anggun pun menyuapi makanan itu kemulut Vandy.
" Gimana, enak nggak?."
" Lumayan, habis ini kita kembali kehotel ya?."
" Hmmm."
Anggun dan Vandy menikmati makanan yang dibeli tadi. Mereka main suap-suapan hingga makanan itu habis tak tersisa.
Kediaman Dwipangga.
Vanya yang sudah siap memakai pakaiannya dan siap untuk menemui Marko diapartemennya. Ya Vanya memang sudah tau dimana apartemen Marko, dan dia tau dari sahabat Marko. Karena kalau tanya sama Kakak iparnya pasti akan ditanya panjang lebar. Vanya sudah bertekat akan membuat Marko bertekuk lutut padanya. Vanya keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga.
" Anak Mama udah cantik, mau pergi kemana?" tanya Diana.
" Pergi kerumah teman Ma."
" Tumben anak Mama mau pergi keluar."
" Iya Ma, Vanya lagi pengen aja, Vanya pamit dulu ya Ma. Assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam, hati-hati dijalan jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya."
Vanya melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya dan pergi menuju apartemen Marko. Hanya butuh waktu 15 menit untuk Vanya sampai diapartemen Marko. Vanya memakirkan mobilnya. Setelah itu Vanya berjalan menuju lift.
Ting
Pintu lift terbuka, Vanya masuk kedalam lift dan memencet angka 10. Ya apartemen Marko berada dilantai 10. Vanya pun sampai dilantai 10, dengan semangat Vanya melangkahkan kakinya apartemen Marko.
Ting nong.
Marko yang baru selesai mandi dan mendengar suara bel berbunyi. Dengan malas Marko melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.
Ceklek
Saat pintu terbuka alangkah kagetnya Marko melihat siapa yang datang.
Vanya tersenyum melihat ekspresi Marko yang kaget melihatnya. Vanya pun masuk kedalam apartemen Marko. Marko yang masih diam didepan pintu tidak menyadari kalau Vanya sudah masuk kedalam. Seperkian menit Marko baru sadar.
" Siapa yang bolehin kamu masuk."
" Nggak ada, tadi kamu begong makanya aku masuk aja."
" Kamu nggak sopan banget ya."
" Ini kan apartemen pacar aku jadi suka-suka aku dong."
" Ck.. siapa yang kamu bilang pacar kamu anak kecil."
Vanya kesal mendengar ucapan Marko yang selalu menyebutnya anak kecil.
" Berhenti memanggil ku dengan sebutan anak kecil."
" Kenapa?, emang kamu itu anak kecilkan."
Vanya pun maju mendekati Marko. Sontak Marko mundur kebelakang, Vanya tetap melangkah maju. Marko mundur kembali saat Vanya sudah tambah dekat Marko tidak bisa mundur lagi karena badannya sudah mentok kedinding.
" Siapa yang kamu sebut anak kecil" kata Vanya.
" K-kamu."
" Kenapa kamu gugup gitu jawabnya, apa kamu takut" ucap Vanya.
" Siapa yang takut."
Vanya mendekatkan kembali tubuhnya kepada Marko sehingga tidak ada jarak diantara mereka.
To be continue..
Jangan lupa Like, Komen dan Vote nya... 🙏🙏🙏
__ADS_1
Happy Reading Guys.. 😉😉😉