
Dwipangga dan sang istri baru masuk kedalam rumah sakit. Mereka bingung melihat orang banyak berkumpul di lobi rumah sakit.
" Ada apa ini!" kata Dwipangga.
Semua orang pun menoleh kearah suara. Alangkah kaget dan juga senang bisa bertemu langsung dengan orang kaya nomor dua di asia, bahkan pemilik rumah sakit terbesar itu juga.
Mereka memberikan jalan untuk Dwipangga dan istrinya. Salah satu dokter yang menolak Marko tadi melihat Dwipangga, dia langsung menghampiri pemilik rumah sakit itu.
" Maaf tuan ada sedikit masalah" kata dokter itu.
" Masalah?" tanya Dwipangga.
" Iya tuan, pemuda itu membawa istrinya yang akan melahirkan"
" Terus?"
" Saya tidak mengizinkan mereka keruang persalinan"
" Alasan kau tidak mengizinkan mereka pergi keruang persalinan apa?" tanya Dwipangga.
Dwipangga belum melihat kalau Marko dan Vanya lah orang yang dokter itu maksud. Karena orang-orang berkerumun didekat Dwipangga dan Diana.
Mereka ingin melihat dari dekat salah satu macan asia, sekaligus pemilik rumah sakit terbesar di kota itu.
" Maaf tuan, mereka hanya orang miskin" jawab dokter itu.
" Jadi kalau mereka miskin, mereka tidak bisa berobat kerumah sakit ini?"
" Tentu saja tuan, karena mereka tidak akan mampu membayar biaya perawatan di rumah sakit ini" kata dokter itu dengan sombongnya.
" Sejak kapan rumah sakit ini membedakan status sosial untuk bisa berobat?, sejak kapan!" teriak Dwipangga yang mulai emosi.
Semua orang yang ada disana kaget mendengarkan teriakan Dwipangga. Marko yang mendengar suara mertuanya pun berusaha menerobos kerumunan itu.
" Papa?!" panggil Marko
Sontak semua orang menoleh ke arah Marko. Alangkah kagetnya semua orang melihat dan mendengar Marko memanggil Dwipangga dengan sebutan papa. Terutama dokter dan para petugas keamanan.
Siapa sebenarnya pemuda ini?, kenapa dia memanggil tuan Dwipangga dengan sebutan papa?, sang dokter bermonolog.
" Kamu kok masih disini?, kenapa Vanya belum dibawa keruang persalinan?" tanya Dwipangga pada menantunya itu.
" Dokter dan para petugas disini tidak mengizinkan kami Pa"
" Apa!, berani sekali mereka tidak mengizinkan anak dan mantu saya masuk keruang persalinan!" kata Dwipangga emosi.
Duaaarrr...
Nggak ada angin dan hujan, dokter dan para petugas itu seperti tersambar petir disiang bolong. Wajah mereka seketika pucat, bukan cuma itu tubuh mereka pun seperti tidak bernyawa, mendengar ucapan Dwipangga tadi.
" Nanti aku ceritakan Pah, tapi aku harus segera bawa istri aku keruang persalinan Pa. Karena Vanya sudah pingsan. Aku takut istri dan calon bayi aku kenapa-napa Pa" kata Marko.
" Kalian tunggu apalagi, cepat bawa anak saya keruang persalinan!" kata Dwipangga.
Dokter dan perawat pun segera membawa Vanya keruang persalinan.
" Tunggu!" kata Marko.
Dokter dan suster yang menolak Marko tadi menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Saya tidak ingin kalian berdua yang membawa istri saya" kata Marko.
Dokter dan suster itupun mundur, mereka memberikan jalan untuk dokter dan suster yang lain. Mereka segera membawa Vanya keruang persalinan.
Sebelum menyusul sang istri Marko menoleh pada dokter dan juga suster tadi. " Urusan kita belum selesai!, saya akan bikin perhitungan dengan kalian semua?!" kata Marko sambil berlalu pergi.
Semua karyawan yang bertugas pun takut, mereka memikirkan nasib mereka kedepannya. Terutama dokter dan suster yang menolak Marko tadi.
" Saya tidak tau ada kejadian apa tadi disini?, tapi melihat amarah menantu saya tadi, sudah pasti ada kejadian besar. Kalau itu benar maka kalian yang bertugas hari ini akan tanggung akibatnya" kata Dwipangga.
Dwipangga dan istrinya pergi meninggalkan kerumunan orang-orang itu. Mereka berdua pergi menyusul anak dan menantu mereka.
Vanya dibawa keruang operasi, karena air ketuban Vanya sudah pecah dari tadi. Di tambah kondisi Vanya juga tidak sadarkan diri jadi tidak mungkin untuk melahirkan normal.
Marko dengan setia menunggu didepan ruang operasi. Dia tak henti-henti nya berdoa untuk keselamatan istri dan juga calon anaknya.
Dwipangga dan istrinya sampai diruang operasi. Diana yang melihat menantunya mondar-mandir kek setrikaan pun menghampiri menantunya.
" Tenanglah, istri dan calon anak mu pasti akan baik-baik aja. Karena mereka berdua sangat kuat " kata Diana berusaha menghibur menantunya.
" Makasih Ma"
" Sekarang kita duduk disana?" ajak Diana.
Marko pun mengikuti mertuanya itu. Apa yang dibilang mertuanya itu benar, istri dan anaknya itu kuat, jadi mereka berdua akan baik-baik saja.
" Bisakah kamu ceritakan pada papa, apa yang terjadi?" tanya Dwipangga.
Marko mulai menceritakan kejadian yang dia alami tadi. Marko menceritakan semuanya, pada papa mertuanya, tanpa ada yang terlewatkan.
Dwipangga dan Diana marah setelah mendengarkan cerita menantunya tadi.
" Aku ingin papa memberikan izin untuk memberi pelajaran pada kedua orang itu" kata Marko.
" Kamu boleh melakukan apapun pada mereka. Beri pelajaran yang menyenangkan " kata Dwipangga.
" Tentu saja Pa, aku akan memberi pelajaran yang sangat menarik untuk mereka berdua" kata Marko sambil tersenyum devil.
" Tapi kita jangan memberi tau Vandy kejadian ini" kata Dwipangga.
" Kenapa Pa?" tanya Marko.
" Karena Vandy akan membunuh mereka dan juga keluarga mereka, dan papa tidak ingin keluar mereka yang tidak tau apa-apa menjadi korban"
" Bukankah itu lebih bagus Pa"
" Tidak Nak, kita tidak boleh mengorbankan keluarganya. Papa tidak ingin kalian jadi jahat juga, kita cukup memberi hukuman kepada mereka berdua" nasihat Dwipangga.
" Baiklah Pa"
Marko sangat bangga mempunyai mertua sebaik Dwipangga dan Diana. Walaupun mereka punya segalanya dan juga kekuasaan, tapi mereka tidak pernah menyalagunakan kekuasaan mereka.
Hening...
Oek.. oek.. oek..
Terdengar suara tangisan bayi dari ruang operasi. Marko dan mertuanya senang dan juga bahagia.
" Selamat ya Nak, kamu sudah menjadi seorang Ayah" ucap Diana.
__ADS_1
" Terima kasih Ma" ucap Marko.
Dokter pun keluar dengan membawa bayi. Marko beranjak dari duduknya dan menghampiri sang dokter.
Mata Marko berkaca-kaca melihat bayi tampan yang ada didepan matanya.
" Selamat tuan, istri anda berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan" ucap sang dokter.
" Terima kasih dokter"
Dokter itu pun memberikan bayi laki-laki tampan itu pada ayahnya. Marko menggendong bayi nya, buah cintanya dengan sang istri.
Seketika air mata Marko jatuh, dia sangat terharu dan juga bahagia melihat putra tampannya itu.
" Ma coba lihat, dia tampan bukan" kata Marko.
" Tentu saja, dia sangat mirip denganmu" kata Diana.
" Cepat kamu adzani putra kamu" kata Dwipangga.
Marko pun mengadzani putranya itu. Setelah itu Marko memberikan kembali pada dokter, karena bayi nya akan segera dibersihkan.
" Dokter, bagaimana dengan istri saya?"
" Istri anda baik-baik saja tuan"
" Alhamdulillah " ucap Marko dan mertuanya.
" Saya sudah bisa masuk Dok?"
" Nanti setelah kami pindahkan ke ruang rawat ya tuan"
" Baik Dok"
Setelah itu dokter itu pun pergi dengan membawa bayi Marko untuk segera dibersihkan.
Vanya dan bayinya sekarang sudah dipindahkan keruang rawat VVIP. Marko dan kedua mertuanya pun masuk kedalam ruang rawat Vanya.
Marko melihat istrinya yang tertidur dengan selang infus berada ditanganya. Marko menghampiri bed sang istri. Marko mengecup kening istrinya.
" Terima kasih sudah melahirkan anak kita, dan dia sangat tampan" ucap Marko.
Dwipangga menghampiri box bayi, mereka sangat bahagia melihat putra Vanya dan juga Marko.
" Coba lihat cucu kita Pa, dia sangat tampan"
" Iya Ma, papa nggak sabar melihat reaksi Kenzo dan Kiran nanti" kata Dwipangga.
" Betul Pa. Apa Kenzo akan merasa tersaingi ya" kata Diana.
" Kita lihat saja nanti Ma"
Karena istrinya masih tidur, Marko meminta izin keluar sebentar sama kedua mertua nya. Dia akan memberi pelajaran kepada dokter dan suster yang sudah berani menolaknya.
It's time to the game..
To be continue..
Jangan pelit kasih like nya ya guys.. 😉😉
__ADS_1
Happy Reading.. 😚😚