Pelabuhan Cinta CEO Arrogant

Pelabuhan Cinta CEO Arrogant
Season 2


__ADS_3

Asitek dan juga para tukang sudah datang kerumah Vandy. Mereka semua langsung dibawa kelantai dua oleh kang Tito. Karena Vandy sudah menunggu mereka semua disana.


" Pagi tuan " sapa sang Arsitek.


" Pagi" balas Vandy.


" Boleh saya lihat kamarnya tuan"


" Boleh, mari saya antar "


Vandy membawa sang Arsitek itu kekamar Kiran. Ya kamarnya lumayan luas, tapi Vandy ingin memperluasnya lagi. Karena dia tau kalau anak perempuan itu pasti banyak perabotannya.


Setelah selesai menggambar bentuk yang diinginkan Vandy. Sang Arsitek itu memberikan gambar tadi pada kepala tukang.


Para tukang pun mulai mengerjakan tugas mereka. Mereka hanya perlu merombak sedikit, jadi pekerjaan ini bisa mereka selesaikan sore ini.


Vandy meninggalkan Arsitek dan para tukang itu. Dia pergi kebawah untuk menemui keluarganya. Tapi sebelum itu, Vandy minta tolong sama Bik Mirna untuk mengantarkan minuman dan juga camilan untuk mereka.


Ditempat lain.


Marko dibuat pusing sama tingkah istrinya. Gimana tidak, tadi istrinya itu minta dibeliin soto super pedas. Setelah dibelikan dia minta Marko yang menghabiskannya.


" Kakak nggak mau makan sotonya?" tanya Vanya.


" Sayang bukan kakak nggak mau, tapi kan kamu tau sendiri kakak nggak suka soto" kata Marko.


" Itu tandanya kakak nggak sayang sama aku"


" Loh kok gitu ngomong nya"


" Iya, buktinya kakak nggak mau makan soto itu"


" Iya deh Demi kamu, kakak akan makan sotonya"


Dengan senang hati Vanya memberikan sotonya pada Marko. Nyali Marko tambah ciut karena melihat kuah sotonya yang sudah memerah.


" Sayang, kamu yakin suruh aku makan soto ini"


" Iya, buruan makan"


Marko mulai menyendok kuah soto yang bewarna merah menyala itu. Ragu-ragu Marko memasukkan kedalam mulutnya, tapi karena melihat mata istrinya yang berbinar, Marko pun mulai memasukkan suapan pertamanya.


Saat kuah sup itu masuk dalam mulutnya. Marko merasakan pedas dan juga panas secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak karena kepedasan, tapi di urungkannya.


" Gimana?, enakkan sotonya"


Marko hanya menganggukkan kepalanya.


" Cepat habiskan, kalau emang sotonya enak"


Sial, kenapa aku bilang ia tadi. Mungkin ini hari terakhir aku hidup didunia ini.


Marko memasukkan lagi suapan kedua dan ketiganya. Vanya sangat antusias melihat suaminya memakan soto itu.


Coba lihat wajah bahagianya. Apa dia tidak bisa melihat aku sedang menderita.


" Sayang, aku sudah nggak kuat lagi" kata Marko sambil berlari kekamar mandi.


Sampai dikamar mandi, Marko memuntahkan soto yang dia makan tadi. Vanya yang mendengar suaminya muntah pun bergegas menghampiri suaminya itu.


" Kakak kenapa?"


" Nggak apa-apa"


" Nggak apa-apa gimana?, kakak berkeringat gitu" kata Vanya denga nada khawatir.


Vanya membawa suaminya keatas tempat tidur. " Kakak tunggu disini, aku mau buatkan teh hangat dulu"

__ADS_1


Marko menarik tangan istrinya, hingga tubuh Vanya jatuh menimpa Marko.


" Disini aja, temenin aku" kata Marko sambil memeluk istrinya.


" Tapi.."


Belum sempat Vanya melanjutkan ucapannya, Marko sudah membungkam mulut Vanya dengan bibirnya.


Vanya memukul pelan dada suaminya, karena dia sudah kehabisan oksigen.


" Kakak mau bunuh aku" kata Vanya setelah berhasil lebas dari ciuman Marko.


" Mana mungkin Mas bunuh istrinya sendiri "


" Dasar tukang sosor. Jangan-jangan tadi itu kakak juga pura-pura sakit"


" Enak aja, yang tadi itu beneran tau!"


" Kalau beneran, kok masih bisa nyosor-nyosor"


" Karena yang sakit itu perut aku, bukan bibir aku"


" Ck.. pintar kali ngelesnya"


" Benaran sayang, perut Mas sakit banget tadi. Kamu kan juga melihat Mas berkeringat tadi" kata Marko.


" Iya sih. Apa sekarang perutnya masih sakit?"


" Masih, makanya kamu temanin aku disini"


" Baiklah aku temenin"


Vanya berbaring disamping suaminya. Marko membawa Vanya kedalam pelukannya. menghirup aroma tubuh istrinya, dan itu membuat Marko sangat tenang.


Merasa tidak ada pergerakan dari suaminya, Vanya melepaskan pelukannya dengan perlahan. Baru melepaskan satu tangan, tiba-tiba Marko mempererat kembali pelukannya.


" Aku nggak akan lepasin kamu" kata Marko.


" Kakak belum tidur?"


" Tadi udah, tapi karena kamu bergerak-gerak, jadi kebangun lagi"


" Siapa yang bergerak-gerak coba"


" Nih tangan nakalnya ini" kata Marko sambil mencium punggung tangan istrinya.


" Tangan aku nggak nakal kali, yang nakal itu pusakanya kakak" kata Vanya.


" Harus dong, kalau nggak nakal gimana mau cepat jadi" kata Marko sambil mengecup bibir Vanya sekilas.


" O iya, kita kerumahnya baby Kiran yuk" ajak Vanya.


" Yuk, tapi kamu ganti baju dulu gih" kata Marko.


" Siap suamiku"


Vanya pun bergegas menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya. Selesai mengganti pakaiannya, mereka berdua pun berangkat kerumah Vandy.


" Kalian berdua mau kemana?" tanya Diana mertua Marko.


" Mau kerumah kakak ipar Ma" jawab Vanya.


" Mama ikut dong"


" Mama temenin papa aja dirumah" kata Vanya.


" Nggak, lagian mama juga kangen sama cucu cantik mama" kata Diana.

__ADS_1


" Ya udah mama boleh ikut" kata Vanya.


" Asik, kerumah Kiran" kata Diana.


Marko melajukan mobilnya menuju kediaman Vandy. Diperjalanan Diana mebeli kue kesukaan Kenzo dan juga menantunya. Selesai membeli kue, Marko pun melanjutkan perjalanannya.


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit mereka pun sampai dirumah utama Vandy. Diana dan Vanya turun dari mobil dengan menenteng paper bag berisi kue yang mereka beli dijalan tadi.


" Sepertinya dirumah kakak lagi rame" kata Vanya sambil berjalan menuju pintu utama.


" Sepertinya begitu" kata Diana.


Ting nong..


Mirna yang mendengar bunyi bel pun segera membukakan pintu.


Ceklek..


" Assalamualaikum " ucap mereka bertiga.


" Wa'alaikum salam, mari silakan masuk nyonya" kata Mirna.


" Kakak ipar ada Bik?" tanya Vanya setelah mereka masuk kedalam rumah.


" Ada, mereka sedang berkumpul diruang keluarga" kata Mirna.


Vanya segera menuju ruang keluarga, disusul sama Diana dan Marko.


" Kakak ipar " panggil Vanya sambil memeluk Anggun.


" Lepasin istri kakak Vanya" kata Vandy.


" Ck.. sama aku pun kakak cemburu " kata Vanya.


" Adek sama siapa kesini?" tanya Anggun.


" Sama suami dan mama Kak" jawab Vanya.


Tak berapa lama Diana dan Marko pun sampai. Anggun menyalami dan mencium punggung tangan mama mertuanya.


" Kok nggak bilang dulu Ma, kalau mau kesini?" tanya Anggun.


" Kejutan sayang. Besan sudah lama disini?" kata Diana pada Kiara.


" Dari semalam besan" kata Kiara.


" O iya, ini mama belikan kue kesukaan kamu sama Kenzo" kata Diana sambil menyerahkan paper bag yang dia bawa tadi.


" Makasih Ma" ucap Anggun.


" Untuk aku nggak ada Ma?" tanya Vandy.


" Nggak, kalau kamu mau beli sendiri aja" kata Diana.


" Kejam banget sih Ma, sama anak sendiri" kata Vandy pura-pura sedih.


" Nggak usah lebay gitu Kak, udah tua dan punya anak 2 juga" kata Vanya.


" Dasar adek nggak ada akhlak kamu" kata Vandy.


Semua orang yang ada disana hanya menggelengkan kepala mendengarkan perdebatan kakak beradik itu.


To be continue..


Kamar Kiran


__ADS_1


Happy Reading Guys..


__ADS_2