
Mobil yang dikendarai Vandy sampai disekolah Kenzo. Kenzo turun dari mobil setelah berpamitan pada daddy nya. Vandy melajukan mobil nya meninggalkan sekolah Kenzo.
Kedua sahabat Kenzo belum datang. Kenzo menunggu mereka di taman sekolah. Tak berapa lama kedua sahabatnya pun datang. Gian dan Tristan duduk disamping Kenzo.
" Gimana Ken?" tanya Gian setelah duduk di saping Kenzo.
" Apanya yang gimana?" tanya balik Kenzo.
" Aiiss, aku nanya dia malah balik nanya. Gimana soal penawaran Om itu" kata Gian.
" Aku belum menghubungi dia"
" Bagaimana kalau kita hubungi sekarang" usul Tristan.
" Ide bagus" kata Gian.
" Tapi gimana cara menghubungi om itu, kita kan tidak punya HP" kata Tristan
" O iya, orangtua kita kan tidak membolehkan kita pakai HP" kata Gian
" Kan ada telpon umum" kata Kenzo
" Benar juga" kata Tristan
" Tunggu apalagi, cepat kita hubungi nomor om itu" kata Gian
Mereka bertiga pun berjalan keluar sekolah. Sampai diluar gerbang, Kenzo dan kedua sahabatnya mencari telepon umum. Lumayan susah mencari telepon umumnya.
Setelah berjalan cukup jauh, Kenzo dan kedua sahabatnya akhirnya menemukan telepon umum yang mereka cari. Mereka bertiga pun masuk kedalam telepon umum itu.
" Kalian punya uang koin nggak?" tanya Kenzo kepada kedua sama sahabatnya.
" Nggak" jawab Gian dan Tristan
" Aku juga nggak punya" kata Kenzo.
" Terus gimana dong" kata Gian.
" Kita tukar dulu uangnya diwarung itu" tunjuk Kenzo kesebuah warung diseberang jalan.
" Ok, yuk jalan" kata Gian
Mereka bertiga pun menyeberang jalan. Mereka bertiga berjalan bergandengan tangan. Sebelum menyeberang jalan mereka melihat kekiri dan kekanan dulu.
Setelah mereka memastikan tidak ada kendaraan yang lewat, barulah mereka menyeberang jalan. Mereka bertiga pun sampai diseberang jalan.
Kenzo mengambil uang kertas 50 ribu dari dalam saku celananya. Begitu juga dengan Gian dan Tristan. Kenzo bingung melihat kedua sahabatnya juga mengeluarkan uang mereka.
" Kalian mau ngapain?" tanya Kenzo
" Tukar uang koin" jawab Gian dan Tristan
" Pake uang aku aja, kalian simpan kembali uang kalian" kata Kenzo.
Gian dan Tristan memasukkan uang mereka kembali kedalam saku celana. Kenzo mengambil beberapa kue dan minuman. Setelah itu Kenzo pun membayar belanjaannya.
Setelah membayar dan uang koin sudah didapat, mereka bertiga pun pergi meninggalkan warung itu. Mereka menyeberang jalan kembali.
Kenzo mengambil kartu nama yang diberikan oleh pria kemarin. Kenzo memasukkan uang koin ketempat telepon umum itu, kemudian Kenzo mulai menekan tombol anggka yang ada disana.
Tak berapa lama telpon pun tersambung.
__ADS_1
" Hallo" terdengar suara diseberang telpon.
" Hallo Om"
" Akhirnya kalian menelpon juga, bagaimana tawaran Om kemarin"
" Kita akan terima tawaran Om"
" Bagus, besok om akan menemui kalian disekolah"
" Ok Om"
" Ngomong-ngomong kalian menelepon dari mana?"
" Telepon umum Om"
" Eh!, apa kalian tidak mempunyai HP?"
" Tidak, orangtua kami tidak mampu membelikan kami HP. Aku tutup dulu telpon nya Om"
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Kenzo sudah mematikan telponnya.
" Om itu bilang apa?" tanya Gian.
" Besok dia akan menemui kita" jawab Kenzo
" Kenapa kamu nggak suruh om itu belikan HP untuk kita" kata Gian
" Nggak perlu. Yuk kita pergi" ajak Kenzo kepada kedua sahabat nya.
Mereka bertiga pun pergi dari sana. Mereka kembali kesekolah, karena kalau nanti mereka ketahuan bermain diluar, orangtua mereka pasti akan marah.
Sampai disekolah Kenzo dan kedua sahabatnya, langsung masuk kedalam kelas. Karena pas mereka sampai bertepatan dengan bunyi bel masuk.
Anggun sedang berkumpul dengan kedua sahabatnya. Mereka ngerujak bareng dirumah Anggun. Diantara mereka bertiga hanya Anggun dan Sinta yang menikmati rujaknya, sedangkan Sisil tidak begitu menikmati.
" Lo kenapa Sil?" tanya Anggun.
" Iya lesu amat" kata Sinta
" Hanya kalian berdua yang menikmati rujaknya, sedangkan gue sudah mau pingsan karena menahan asamnya rasa buah ini" kata Sisil
" Ya elah gitu aja ambekan" kata Anggun
" Iya lebay banget lo ah" kata Sinta
" Lo benaran nggak mau nambah momongan lagi Sil?" tanya Anggun.
" Gue sih mau Nggun, tapi suami agak trauma karena melihat gue kesakitan saat melahirkan Tristan dulu" kata Sisil.
" Suami lo beda banget sama suami gue Sil. Kalau suami gue dia yang ngebet pengen punya anak lagi " kata Sinta
" Suami lo kan emang nggak mau kalah dari suami gue Sin" kata Anggun.
" Benar Nggun, bahkan kehamilan kita cuma beda 1 minggu" kata Sinta
" Gue iri banget sama kalian, bisa hamil barengan seperti ini" kata Sisil sedih.
" Lo jangan sedih gitu. Lo coba bujuk suami lo" kata Anggun
" Apa dia akan mau" kata Sisil
__ADS_1
" Lo coba aja nanti malam. Bicarakan baik-baik sama dia" kata Anggun
" Iya Sil, waktu yang tepat membicarakan itu saat kalian sedang olahraga malam" kata Sinta
" Benar itu Sil" kata Anggun
" Ntar malam gue coba deh saran dari kalian berdua " kata Sisil
" O iya, suami gue bilang anak-anak kita mau loncat kelas" kata Sinta
" Iya, mereka sendiri yang bilang ke gue" kata Anggun
" Benarkah" kata Sisil
" Hhhmm. Mereka bilang bosan belajar mewarnai, dan mereka juga bilang kalau belajar mewarnai itu hanya untuk anak perempuan" kata Anggun.
" Wah belajar darimana mereka bisa bicara sepintar itu" kata Sisil.
" Apa kita harus mengizinkan mereka loncat kelas?" tanya Sinta.
" Kalau gue sih ngizinin, asal mereka mampu menunjukkan prestasi mereka nanti" kata Anggun.
" Setuju, selagi itu hal yang positif" kata Sinta.
" O iya, kalian berdua pernah menanyakan cita-cita anak kalian nggak?" tanya Anggun kepada kedua sahabatnya.
" Pernah Nggun" jawab Sinta dan Sisil
" Terus mereka jawab apa?" tanya Anggun lagi.
" Kalau anak gue cita-cita nya mau jadi pengusaha" kata Sinta.
" Sama dong sama anak gue" kata Sisil
" Kalau Kenzo cita-cita nya mau jadi apa?" tanya Sinta.
" Model" jawab Anggun
" Model! " kaget Sinta dan Sisil.
" Hhhmm"
" Wah unik juga cita-cita anak lo" kata Sinta.
" Apapun cita-cita mereka kita sebagai orangtua harus selalu mendukung mereka" kata Sisil.
" Tumben lo pinter" ledek Sinta
" Gue emang pinter dari lahir" kata Sisil
" Tapi kok gue baru tau sekarang kalau lo pinter" kata Sinta
" Asem lo Sin" kata Sisil.
" Manis gue" kata Sinta.
" Asin" kata Anggun.
" Ah nano-nano dong" kata Sinta.
Mereka bertiga pun tertawa bersama. Anggun berharap mereka akan selalu bersama-sama dalam suka maupun duka. Karena Anggun sudah menganggap kedua sahabatnya itu sebagai keluarga nya sendiri.
__ADS_1
To be continue..
Happy Reading Guys.. 😉😉