Pelabuhan Cinta CEO Arrogant

Pelabuhan Cinta CEO Arrogant
Season 2


__ADS_3

Malam ini sangat melelahkan dan juga memalukan untuk Kenzo dan kedua sahabatnya. Bagaimana tidak, kencan yang seharusnya romantis, berubah menjadi horor.


Kenzo membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Kenzo mematikan lampu kamarnya, tapi saat lampu di matikan Kenzo merasa takut. Dia pun menghidupkan kembali lampu kamarnya.


Susah payah Kenzo memejamkan matanya, namun matanya masih betah terjaga. Kenzo terbayang-bayang hantu yang ada di dalam film tadi.


Kenzo bergegas keluar kamarnya, tak lupa dia membawa bantal dan juga selimut miliknya. Malam ini Kenzo mengungsi di tempat mommy dan daddy-nya dulu.


Tok...


Tok..


Tok..


" Mommy"


Vandy yang mendengar suara putranya, segera bangkit dari tidurnya. Vandy berjalan menuju pintu kamarnya.


Ceklek..


Setelah pintu terbuka, Kenzo langsung masuk tanpa permisi pada sang daddy.


" Abang mau ngapain?" tanya sang daddy melihat putranya berjalan menuju sofa.


" Abang nginap di sini dulu ya, malam ini" kata Kenzo.


" Tidak bisa!"


" Kenapa?"


" Karena kamu akan menggangu kenyamanan Daddy"


" Come on daddy, hanya satu malam ini. ya..ya" kata Kenzo dengan nada memelas.


Anggun yang mendengar suara ribut-ribut pun terbangun dari tidurnya. Dia melihat putranya sedang duduk di sofa.


" Abang" panggil sang mommy.


" Tu kan, gara-gara kamu istri Daddy jadi bangun"


" Mommy, Abang nginap disini malam ini ya" kata Kenzo.


" Nggak bisa!, lagi pula kamu ada kamar sendiri" kata Vandy.


" Kamar abang lagi kebanjiran Dad" kata Kenzo asal.


" Banjir gundul mu!. Jangan alasan, cepat pergi dari kamar daddy"


" Mommy, hanya malam ini bantulah putra mu yang tampan ini" kata Kenzo dengan nada memohon.


" Emang kamar Abang kenapa?" tanya Anggun.


" Kamar abang bocor Mom" jawab Kenzo.


" Ck..cari alasan itu yang bener. Tadi banjir, sekarang bocor" kata Vandy yang mulai kesal.


" Bocor, dan menyebabkan kamar Abang banjir" kata Kenzo.


" Eh bocah. Sekarang itu nggak musim hujan, jadi cari alasan yang benar" kata Vandy.


" Mom, bolehkan Abang nginap disini?" tanya Kenzo lagi pada sang mommy.


" Kamu sudah besar, jadi tidur di kamar sendiri" kata Vandy.


" Abang nanya sama mommy, bukan sama daddy" kata Kenzo.


" Sama saja. Cepat keluar dari kamar daddy" kata Vandy sambil menarik tangan sang putra.

__ADS_1


" Mommy" rengek Kenzo.


" Mas, biarkan saja Abang tidur di sini malam ini" kata Anggun.


" Tapi sayang"


" Tidak ada tapi-tapian"


Kenzo tersenyum penuh kemenangan. Dia tau kalau mommy nya sudah bertindak, maka sang daddy tidak bisa berbuat apa-apa.


" Selamat tidur mommy, daddy" kata Kenzo sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa empuk itu.


Anggun kembali tidur, sedangkan Vandy tidak tenang. Karena rencana mau enak-enaknya sama sang istri terganggu gara-gara bocah tengik itu.


" Sayang, pindah ke kamar bawah yuk" ajak Vandy.


" Kenapa harus pindah, Mas?"


" Mas juga mau kencan berdua sama kamu sayang" kata Vandy.


Anggun tersenyum mendengar ucapan sang suami. " Ingat Mas, umur kamu itu udah kepala empat"


" Kencan itu tidak mengenal umur. Lagi pula kencan kita kan beda dengan anak muda di luar sana, karena kencan kita itu bisa mengeluarkan suara erotis kamu" bisik Vandy.


Anggun tersipu malu mendengar ucapan suaminya itu. Vandy tersenyum melihat istrinya yang masih malu-malu itu. Padahal anak mereka sudah dua. Tapi istrinya masih saja malu-malu menyangkut hal yang berbau ranjang.


Vandy menggendong tubuh istrinya ala bridal style. Anggun pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia mengalungkan tangannya di leher sang suami. Vandy membawa istrinya ke kamar bawah, dan meninggalkan sang pengganggu di kamar mereka.


Di tempat lain.


Gian juga tidak bisa tidur. Dia terbayang hantu yang ada di film horor yang mereka tonton tadi. Gian mengambil bantal dan juga selimutnya. Malam ini dia akan tidur di kamar mamanya.


Tok..


Tok.


Tok..


Tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda mamanya akan membukakan pintu.


" Mama sama papa, tidurnya kek kebo banget sih"


Gian tidak tau aja, kalau sang papa sudah memasang mode kedap suara. Jadi sekuat apapun dia memanggil, tidak akan pernah terdengar oleh sang mama.


Usaha membangunkan sang mama gagal. Akhirnya dia pergi dari kamar sang mama, dan pergi ke kamar sang adik.


Sampai di depan kamar adiknya, Gian memutar handle pintu kamar itu. Gian membuka pintu kamar adiknya. Untung kamar sang adik tidak di kunci, jadi Gian bisa masuk.


Gian membaringkan tubuhnya di sebelah sang adik. Dia tau pasti besok adiknya itu akan ngamuk kalau tau Gian tidur di atas kasurnya. Tapi mau gimana lagi, dia tidak punya pilihan.


Ini semua gara-gara film horor terkutuk itu.


Gian mulai memejamkan matanya, tak berselang lama Gian pun sudah berada di dunia mimpinya.


Kediaman Sisil.


Tidak jauh beda sama Kenzo dan juga Gian. Tristan juga tidak bisa tidur di kamarnya sendiri. Dia masih terbayang-bayang sama wajah hancur hantu itu.


Tristan mengambil bantal dan juga selimutnya. Malam ini Tristan akan tidur di kamar mami dan papinya. Sampai di depan pintu kamar sang mami, Tristan langsung mengetuk pintu besar itu.


Tok..


Tok..


Tok..


" Mami, papi"

__ADS_1


Tidak lama pintu kamar pun terbuka, dan menampakkan wajah sang papi. Tristan langsung menerobos masuk kedalam kamar sang papi.


" Eh..eh, kamu mau ngapain masuk ke kamar papi?" tanya Gio sambil menahan tangan sang putra.


" Aku ngungsi ke sini dulu ya Pih"


" Emang kamar kamu kena banjir"


" Kagak"


" Terus, ngapain kamu ke kamar papi"


" Aku kangen tidur sama papi sama mami"


" Jangan ngaco kamu Tian"


" Beneran pih" kata Tristan sambil melepaskan tangannya dari sang papi.


Tristan membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar itu. Gio bingung harus bagaimana mengusir putranya itu.


" Tian cepat kembali ke kamar kamu"


" Papi berisik banget sih, aku ngantuk nih?"


" Ck.. kau ini, sudah numpang di kamar papi, tapi berani bilang papi berisik"


Tristan tidak mau mendengarkan omongan sang papi lagi. Dia memejamkan matanya, hari ini sangat melelahkan dan juga menakutkan baginya.


Besok gue tutup aja tu bioskop yang menayangkan film horor.


Gio pun mengalah, dan membiarkan putranya tidur di sofa yang ada di kamarnya. Gio melanjutkan tidurnya kembali.


Pagi hari.


Kenzo masih bergelung di dalam selimut tebalnya. Mungkin karena hari Minggu jadi Kenzo malas untuk cepat bangun.


Vandy baru masuk kedalam kamarnya. Mata Vandy langsung tertuju pada sosok yang masih berada di dalam selimut tebal itu. Dia berjalan menghampiri sosok yang masih tertidur pulas itu.


" Bang, wake up " kata sang Daddy.


" Bentar lagi Dad"


" Sekarang, kita pergi joging"


" Malas"


" Sayang sekali kalau gitu, padahal ada Melodi juga loh?"


Mendengar nama kekasihnya di sebut, Kenzo langsung bangun dari tidurnya. " Abang ikut Dad"


" Ck.. mendengar nama Melodi langsung berdiri telinga kamu itu"


" Biarin, sekarang daddy keluar dulu dari kamar Abang. Karena Abang mau bersiap dulu"


" Eh bocah, yang harus keluar dari sini itu abang bukan daddy"


Kenzo melihat sekelilingnya, benar saja warna kamar dan luas kamarnya beda. Beberapa detik kemudian barulah Kenzo ingat.


" Hehe, Abang keluar dulu ya Dad"


" Buruan"


Kenzo bergegas keluar dari kamar sang Daddy. Dia akan bersiap pergi joging bersama keluarga dan juga kekasihnya.


To be continue..


Happy Reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2