KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
99 - Keberanian


__ADS_3

Mo Huai bersama dengan Liu Wei Lin dan Tetua Meng Hao Niang datang ke sebuah kamar, tempat Xiao Shuxiang dirawat.


Di dalam ruangan itu ada Ling Qing Zhu, Dao Fang An, Zhao Lu Si dan beberapa murid Sekte Lautan Awan. Mereka cemas karena Xiao Shuxiang sampai sekarang belum juga sadarkan diri.


Dalam ruangan lain di Balai Pengobatan, murid Sekte Lautan Awan yang lain juga ikut dirawat. Para Tetua Gunung Puncak Suci dan murid-murid mereka memeriksa kondisi orang di setiap ruangan.


"Tuan Muda Xiao..?!" Mo Huai terlihat cemas, dia bahkan menangis.


Meng Hao Niang menatap Dao Fang An yang duduk di sisi tempat tidur, dia pun berkata. "Aku mendengar semuanya dan apa yang dilakukan oleh anak ini. Kenapa tidak ada di antara kalian .... Ah, bukan. Tapi kau. Kenapa kau tidak menolongnya sebagai Kepala Pelayan di sekte ini?"


Dao Fang An mendengarnya dan menatap Meng Hao Niang, "Kau sudah tahu semua ceritanya. Kau juga pasti sudah mendengar betapa berbakatnya Bocah Berandalan ini. Semuanya baik-baik saja sampai kalian datang. Bocah Berandalan ini tidak akan terluka parah jika kalian tidak berdiri di hadapannya."


Dao Fang An melanjutkan, "Dia menarik kembali serangan yang harusnya dia lesatkan karena tidak ingin jika serangan itu justru melukai kalian. Karena tindakan tersebut, energi spirtual yang ditarik kuat justru meledak dan membuatnya jadi seperti ini. Untunglah .... Tidak sampai merenggut nyawanya."


"Kami juga tidak tahu apa-apa," Meng Hao Niang membela diri, "Kami tahu bahwa ada yang tidak beres saat melihat segel yang memerangkap sekte. Tapi saat berhasil menghancurkannya dan berniat memeriksa kondisi kalian, kami tidak tahu bahwa di saat yang sama-----Anak ini ingin melakukan serangan terakhir."


Dao Fang An mengembuskan napas, "Aku tahu. Kau dan para tetua yang lain tidak bisa disalahkan. Sekarang bagaimana..? Apa kau hanya akan berdiri di sana atau membantuku mengobati anak ini?"


Meng Hao Niang mengembuskan napas dan berjalan mendekat. Dia baru saja akan meraih tangan Xiao Shuxiang saat tiba-tiba seseorang memegang pergelangan tangannya terlebih dahulu.


Meng Hao Niang tersentak dan langsung menoleh, yang memegang pergelangan tangannya tidak lain adalah Mo Huai. Dao Fang An dan mereka yang berada di ruangan itu terkejut.


Dao Fang An, "Mo Huai..?"


"Apa yang kau lakukan?" Meng Hao Niang menatap pemuda yang telah berani memegang pergelangan tangannya.


Raut wajah Mo Huai tidak terlihat jelas karena dia menundukkan kepala. Namun suaranya tetap terdengar, dia berujar. "Jangan .... Jangan sentuh dia,"


Dao Fang An mengerutkan kening, "Mo Huai? Tetua Meng hanya memeriksa Bocah Berandalan ini. Kenapa kau malah menghentikannya?"


"Maafkan aku ...." Mo Huai mulai menatap Dao Fang An, raut wajahnya nampak serius. "Tolong biarkan aku saja yang memeriksa Tuan Muda Xiao,"


Mo Huai menyatukan kedua tangannya dan membungkuk meminta maaf pada Meng Hao Niang. "Maafkan aku Tetua Meng, aku hanya terlalu mencemaskan Tuan Muda Xiao. Ini pertama kalinya dia terluka separah ini, aku .... Tidak bisa menahan diriku. Tolong biarkan aku saja yang mengobatinya,"


Mo Huai membungkuk lebih dalam. Meng Hao Niang memperhatikannya tanpa ekspresi. Dia pun berkata, "Ini juga yang pertama kalinya aku melihatmu bicara begitu berani."


Meng Hao Niang mengibaskan tangannya dan berbalik, "Terserahlah. Jika kau bisa mengobati temanmu, maka lakukan. Aku akan melihat murid yang lainnya,"


"Te-Terima kasih, Tetua." Mo Huai kembali memberi hormat. Dia pun dengan gugup menatap Dao Fang An, Ling Qing Zhu dan Zhao Lu Si secara bergantian.


Mo Huai kembali meminta maaf. Dia meminta izin agar Dao Fang An, Ling Qing Zhu, Zhao Lu Si dan murid lainnya yang berada dalam ruangan tersebut untuk memberinya kesempatan mengobati Xiao Shuxiang secara pribadi.


Mo Huai meminta agar mereka semua menunggu di luar ruangan. Zhao Lu Si dan rekan-rekannya tersentak. Mereka mencoba menolak, namun Dao Fang An menghentikan gadis-gadis itu.


Sekali dilihat saja, orang-orang dapat melihat bahwa Mo Huai begitu sangat mencemaskan Xiao Shuxiang. Pemuda ini bahkan sampai mampu melupakan rasa gugup dan takutknya.


Ling Qing Zhu juga merasa demikian. Dia menepuk pelan bahu Mo Huai sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan. Dia percaya pada pemuda itu, Mo Huai tidak pernah meminta hal seberani ini sebelumnya. Jelas sekali bahwa Mo Huai sangat menjaga Wali Pelindungnya.

__ADS_1


*


*


Mo Huai kini ditinggal hanya berdua dengan Xiao Shuxiang. Dia mencoba menangkan diri meski jantungnya sudah berdebar tidak karuan sejak dia meraih pergelangan tangan Meng Hao Niang.


Mo Huai duduk di sisi tempat tidur dan memegang tangan Xiao Shuxiang. Dia bisa merasakan betapa dinginnya tangan pemuda yang belum sadarkan diri ini.


Mo Huai menarik napas dan bersuara pelan, "Maafkan aku... Aku yakin Tuan Muda Xiao akan mendukungku. Ini semua kulakukan untuk kebaikanmu. Jika tetua Meng melakukan pemeriksaan dan menemukan anomali, dia akan tahu bahwa kau sebenarnya adalah alkemis."


Mo Huai merasakan sakit di tenggorokannya, dia kembali meminta maaf. "Tuan Muda Xiao .... Aku juga tidak ingin tetua Meng tahu siapa kau yang sebenarnya. Aku tidak ingin kau terlibat masalah. Aku sungguh meminta maaf,"


"Tidak perlu,"


!!


Mo Huai tersentak kaget. Matanya terbelalak saat mendengar suara Xiao Shuxiang, padahal mata pemuda ini masih tertutup.


"Tu-Tuan Muda Xiao?" Mo Huai entah mengapa merasa agak takut.


"Mn," Xiao Shuxiang mengguman sebagai jawaban. Dia memang masih menutup mata, tapi saat ini dirinya sudah bangun.


"Tuan Muda, Anda... Baik-baik saja? Tolong buka matamu,"


"Aku sudah bisa mendengar suaramu, tapi tubuhku masih sangat lemah. Jangan ajak bicara aku dulu," Xiao Shuxiang terbatuk darah dan keningnya nampak mengerut.


Pil Napas Naga memang obat yang paling berharga dan luar biasa. Saat menyentuh lidah, pil itu langsung lebur hingga siapa pun yang memakainya tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk menelan.


Mo Huai menyiapkan air dan membantu membersihkan tubuh Xiao Shuxiang. Dia kaget saat melihat punggung pemuda itu yang masih mengeluarkan darah, bahkan dia bisa melihat sedikit tulang punggung Xiao Shuxiang.


Mo Huai merinding ngeri, "Tu-Tuan Xiao? Apa kau tidak merasakan sakit?"


"Siapa bilang tidak sakit?"


"Aku ... Aku melihat darah di punggungmu sudah berhenti mengalir keluar. Tapi luka yang kulihat masih belum tertutup,"


"Bantu aku memperbannya----Ah, tidak. Kau panggilkan Kucing Putih,"


Mo Huai yang sedang membersihkan luka di punggung Xiao Shuxiang nampak kaget saat mendengar ucapan pemuda ini barusan. Dia pun berkedip dan lalu mengembuskan napas.


Mo Huai berkata, "Tuan Muda Xiao? Apa kau ingin Nona Ling melihat lukamu yang sangat parah ini? Tanganku saja sangat gemetaran, apalagi Nona Ling. Tidak bisa kujelaskan betapa parahnya luka di punggungmu. Ini benar-benar keajaiban kau masih hidup dan mampu duduk dengan tenang,"


"Mo Huai, aku ini sedang menahan sakit menyebalkan! Aduh--" Xiao Shuxiang merintih, rasa sakitnya bertambah saat dia meninggikan suara. Dirinya pun berujar pelan, "Kau panggilkan saja Kucing Putih. Aku ini tidak ingin selalu dibantu oleh laki-laki. Rasanya akan sangat menyebalkan,"


"Hmph, bilang saja Tuan Muda Xiao ingin berduaan dengan Nona Ling." Mo Huai menggeleng pelan, "Tuan Muda harusnya lebih fokus pada pemulihanmu, bukan malah memikirkan orang lain,"


"Kucing Putih bukan sembarangan orang, tahu. Dia istriku," Xiao Shuxiang sedikit mengangkat lengannya saat Mo Huai mulai membalut luka di punggungnya dengan perban.

__ADS_1


"Tuan Muda Xiao, bukannya aku ingin menjauhkanmu dari nona Ling. Tapi apa kau ingat insiden saat lenganku terluka dan diperban oleh nona Ling? Nona Ling tidak tahu caranya membersihkan luka, cara memperbannya pun sembarangan dan dia mengikat perbannya begitu kencang. Kupikir saat itu lenganku benar-benar sudah hilang karenanya, "


"Ah ...." Xiao Shuxiang mulai ingat. Itu terjadi kurang lebih sekitar tiga bulan yang lalu.


"Percaya atau tidak..." Mo Huai lanjut berkata, "Nona Ling bisa membuatmu merasakan arti 'sekarat' yang sebenarnya."


"Mo Huai? Di antara Kucing Putih dan aku, menurutmu siapa yang lebih menakutkan?"


Mo Huai telah selesai memperban luka di tubuh Xiao Shuxiang dan membantu pemuda tampan itu berbaring.


Dia mendengar pertanyaan barusan dan berkata, "Tuan Muda Xiao sudah terkenal sebelumnya. Tapi aku tidak tahu apa pun tentang nona Ling. Sikapnya memang penuh wibawa, anggun dan bijaksana. Namun seperti kata orang, 'Danau yang tenang bukan berarti tidak mengandung bahaya,'"


Mo Huai menyelimuti Xiao Shuxiang dan memintanya beristirahat. "Tuan Muda sebaiknya tidur. Aku akan meminta nona Ling untuk membawakanmu makanan. Dia yang akan merawatmu mulai dari sekarang, tapi untuk mengganti perban----biar tetap aku yang lakukan."


"Bukan masalah. Tapi kau tahu harus berkata apa, kan?" Xiao Shuxiang tersenyum tipis.


Mo Huai mengembuskan napas, "Iya. Iya. Aku tahu. Akan kukatakan bahwa Tuan Muda Xiao terluka sangat parah hingga tidak boleh ditinggal sendirian. Dia juga tidak bisa makan sendirian dan harus dibantu. Nona Ling perlu menjaga Tuan Xiao seharian penuh. Begitu, kan?"


Mo Huai menggeleng pelan dan mulai mengembuskan napas, "Kau benar-benar memanfaatkan keadaanmu, Tuan Muda Xiao."


Mo Huai sebenarnya menyindir, tapi Xiao Shuxiang sepertinya tidak menyadari hal itu. Dia dengan polos berkata, "Aku kan memang sedang sakit. Aku tidak bohong,"


"Benar, Tuan Muda tidak berbohong. Tapi kau meminta orang lain untuk berbohong menggantikanmu."


"Kapan aku memintamu berbohong?"


"Tuan Muda!" Mo Huai cemberut, "Benar-benar menyebalkan. Kenapa sangat sulit mendebatmu?!"


"Apa yang kukatakan salah? Memangnya kapan aku memintamu berbohong? Aku kan hanya ingin dibantu,"


"Tidurlah," Mo Huai menggelembungkan pipinya. Dia memang tidak bisa menang melawan Xiao Shuxiang. Pemuda ini sangat pintar berdalih dan itu sangat menyebalkan.


Mo Huai mulai membereskan kain dan air yang dia pakai untuk membasuh tubuh Xiao Shuxiang. Dia pun berjalan keluar dan benar-benar meminta Ling Qing Zhu untuk membawakan makanan serta merawat Xiao Shuxiang dengan penuh perhatian.


Tidak hanya itu. Mo Huai bahkan berkata bahwa ada baiknya jika Xiao Shuxiang dirawat oleh sedikit orang. Dao Fang An yang sadar dengan maksud Mo Huai pun meminta Zhao Lu Si dan rekan gadis itu untuk pergi memeriksa kondisi murid yang lain.


Meski beberapa gadis menolak dan ingin ikut merawat Xiao Shuxiang, namun Dao Fang An tetap tidak membiarkan mereka. Dao Fang An berkata bahwa Ling Qing Zhu seorang sudah cukup, apalagi gadis berambut putih ini lebih mempunyai hak merawat Xiao Shuxiang daripada orang lain.


Untuk Ling Qing Zhu, dia sebenarnya tidak keberatan jika Zhao Lu Si dan para gadis itu ingin membantunya merawat Wali Pelindungnya. Tetapi belum sempat mengatakan hal tersebut, Mo Huai sudah lebih dahulu menariknya untuk pergi ke dapur sekte.


Rasa-rasanya seakan Mo Huai tidak membiarkan dia bicara. Ling Qing Zhu pun hanya bisa berkedip dan dengan tenang mengikuti Mo Huai yang menarik tangannya.


Di sisi lain, Chu Gu Xiang yang telah sampai di Sekte Lembah Iblis nampak sangat marah. Dia berteriak dan menghancurkan salah satu pilar yang berada di pinggir arena pelatihan sekte itu. Matanya memerah saking marahnya.


"Sekte Lautan Awan dan pelayan rendahan itu .... Aku pasti akan membalasnya! Akan kubunuh mereka semua... AKAN KUBUNUH MEREKA SEMUA..!!"


Selama hidup. Ini adalah yang pertama kalinya Chu Gu Xiang merasa dipermalukan. Dia tidak akan pernah melupakan wajah orang yang telah berani menghina dan merendahkannya.

__ADS_1


******


__ADS_2