KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
292 - Bentrokan


__ADS_3

Pertarungan Tetua Jing Yufeng melawan Yan Qi Lou masih belum memperlihatkan tanda-tanda kemenangan. Kedua orang itu sama-sama hebat, kekuatan mereka seimbang dan yang tersisa dari perang di antara keduanya adalah sebuah bekas pertempuran yang luar biasa.


Cambuk Yan Qi Lou menyambar untuk kesekian kalinya dan serangan dari pedang Tetua Jing Yufeng menahan sambaran tersebut. Alhasil, ledakan demi ledakan di langit tercipta dan percikan api dari benturan serangan mereka mengenai bangunan dan apa pun yang ada di bawahnya.


"Aku ingin lihat sampai berapa lama kau bisa bertahan!" Yan Qi Lou mengangkat tangannya dan cambuk yang berkilauan datang lagi. Lebih kuat dan ganas.


Bila orang lain terkena cambuk ini, maka tidak hanya menderita kerusakan organ dalam tetapi juga langsung kehilangan nyawa.


Tetua Jing Yufeng dengan cepat menghindari serangan itu, namun raut wajahnya tidak terlihat baik. Dia memang tidak terluka, tetapi tidak demikian dengan dampak dari serangan Yan Qi Lou.


Tetua Jing Yufeng memegang kuat pedangnya dan kemudian berkata, "Apa kau tidak pernah memikirkan dampak dari seranganmu? Kau juga melukai pasukanmu sendiri,"


Yan Qi Lou mendengus sebelum tertawa kecil, "Itu tidak masalah. Karena bagiku, nyawaku sendirilah yang lebih penting."


Pandangan Tetua Jing Yufeng menggelap, dia menatap tajam lawan di hadapannya. "Kau memang wanita iblis, pantas tidak ada pria yang melamarmu."


"Kau..!" Yan Qi Lou tersentak dan lagi-lagi melesatkan cambukannya. Dia kesal dan memberi serangan yang tidak main-main kepada Tetua Jing Yufeng.


Di saat sedang bertarung sengit, Yan Qi Lou melihat ke bawah dan menyaksikan Mao Lin Lin serta Wu Tong Fu yang tengah menghadapi tetua lain dari Istana Seribu Pedang. Dia sudah memastikan bahwa para patriarch itu sudah ada di sini dan diam-diam tersenyum.


Cambuk Yan Qi Lou menyambar lagi, tapi kali ini dia menggunakannya untuk bisa menjaga jarak dari Tetua Jing Yufeng. Dia pun melesat dan menapak lembut di salah satu atap bangunan tertinggi.


Yan Qi Lou mendengus, "Hmph, kau pikir bisa memancingku? Sayangnya ini tidak akan mudah."


Dia mengangkat tangan kirinya dan energi spiritual terlihat mulai berkumpul. Tidak butuh waktu lama sampai energi spiritual itu membentuk bunga teratai emas dan tanpa ragu dijatuhkan oleh Yan Qi Lou. Tetua Jing Yufeng yang hendak melakukan serangan tiba-tiba membeku.


"Kau pikir aku datang kemari tanpa persiapan, huh?" Yan Qi Lou mencibir, "Aku tidak datang untuk hanya sekadar bermain-main denganmu,"


!!


Teratai emas yang dijatuhkan oleh Yan Qi Lou mengenai atap bangunan hingga teratai itu hancur dan menjadi asap kehitaman. Semuanya menyebar dan tiba-tiba saja udara menjadi terasa berat.


Yan Qi Lou mengibas pelan rambutnya dan berkata, "Pusaka Teratai Suci itu bisa mengunci energi spiritual kalian. Kau kini tidak punya pilihan dan bahkan tidak akan bisa melawan."


"Pusaka suci yang bisa mengunci energi spiritual?" Tetua Jing Yufeng tersentak kaget, dia terlambat menyadarinya dan sekarang kakinya sudah menapak di atap. Di saat itu juga, pedang di tangan kanannya menghilang.


Pedang milik Tetua Jing Yufeng adalah pedang spiritual. Jadi jika energi spiritualnya terkunci, maka pedangnya pun akan menghilang. Tentu saja ini bukanlah kabar yang baik.


"Akan kukatakan sesuatu padamu," Yan Qi Lou berujar, "Hanya anggota dari Sekte Lembah Iblis yang tidak akan terpengaruh senjata suci ini. Kau dan seluruh muridmu ... Haruskah kuberitahu apa yang akan terjadi pada kalian?"


Yan Qi Lou tertawa, apalagi melihat ekspresi buruk di wajah Tetua Jing Yufeng. "Aku jadi tiga tega mengambil nyawamu sekarang. Mm ... Bagaimana jika begini saja, kau cobalah selamatkan murid-muridmu yang lain dari anggotaku. Bila kau menghalangi jalanku, maka aku tidak akan segan-segan melecehkanmu di depan semua orang."


Tetua Jing Yufeng melihat Yan Qi Lou melesat pergi meninggalkannya begitu saja. Dia menahan amarahnya hingga terlihat pinggiran matanya memerah.


Kedua tangan Tetua Jing Yufeng terkepal kuat, dia pun memandang ke bawah di mana para murid Istana Seribu Pedang terlihat terkejut dan nampak berekspresi sangat pucat.


Tanpa bisa merasakan energi spiritual, maka mereka tidak lebih dari pendekar biasa. Keadaan ini jelas sangat buruk, bahkan meski mereka mempunyai teknik berpedang yang hebat sekali pun.


"A-Apa yang terjadi?!"


"Pedang spiritualku..! Bagaimana bisa menghilang?!"


"Aku tidak bisa merasakan energi spiritual. I-ini ... Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Sialan! Teknik setan apa yang sudah mereka lakukan?!"


"Tetua Murong, bagaimana ini?!"


"Aku juga tidak tahu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"


Tetua Jing Yufeng mendengar para murid Istana Seribu Pedang yang begitu panik. Hal ini tentu saja akan terjadi. Siapa pun pasti akan cemas dan bertanya-tanya ketika kekuatan yang begitu diandalkan tiba-tiba saja tidak bisa digunakan.


"Aku harus mencari cara mengatasi ini. Mereka semua akan dalam bahaya bila tidak ada yang bertindak, tapi ..." Tetua Jing Yufeng memandang sekitarnya dan berkedip, "Bagaimana caraku turun di ketinggian ini sekarang?"

__ADS_1


*


*


Tetua Jing Yufeng dan para murid Istana Seribu Pedang mempunyai masalah saat ini dan begitu pun dengan Wang Zhao. Dia terus mencoba menahan agar Hei Lian tidak menggunakan teknik terkuat yang dimilikinya.


Energi spiritual Wang Zhao tidak ikut menghilang karena dia berasal dari Sekte Lembah Iblis. Namun bukan berarti ini mudah untuk menghadapi sosok seperti Hei Lian. Anak perempuan ini bahkan hampir melenyapkannya andai dia tidak gesit menghindar.


"Wang Zhao Gege, bisakah kau berhenti?" Hei Lian menggeram marah. "Kau terus saja menghindar. Bagaimana aku bisa menebas kepalamu jika kau terus bergerak seperti itu?!"


"Apa kau tidak waras?" Wang Zhao menggunakan pepohonan sebagai perisai meski ini pun tidak terlalu aman.


Wang Zhao terengah-engah, tetapi tetap buka suara. "Siapa juga yang mau menunggu kematian datang?! Aku tidak dilahirkan untuk mati di tanganmu..!"


"Tsk, kau terlahir untuk mati. Ini hanya masalah waktu," Hei Lian tiba-tiba saja bersuara lirih dan mulai terisak, "Wang Zhao Gege ... Tidakkah kau merasa kasihan padaku?"


"Aku ..." Hei Lian berujar pelan, "Aku hanya ingin sesuatu untuk diriku sendiri. Aku ingin bisa dilihat oleh orang lain bahwa aku juga bisa. Bahwa ... Dengan usahaku sendiri ... Orang lain akan menghargaiku."


"Berhentilah bicara omong kosong!" Wang Zhao membentak di balik tempat persembunyiannya. "Siapa yang ingin kau tipu dengan air matamu?"


Wang Zhao memegang kuat pedangnya dan berkata, "Perubahan ekspresimu yang tidak wajar sudah membuktikan bahwa kau orang yang tidak bisa dipercaya."


"Wang Zhao Gege, kenapa kau berkata seperti itu?" Hei Lian mengusap air matanya dan terlihat ekspresi wajahnya yang nampak sangat buruk. "Kita sudah lama hidup bersama. Kau mengenalku dengan baik bahkan menyayangiku, tapi kenapa saat aku menginginkan nyawamu dan kau justru menolaknya?"


"Hanya orang gila yang akan melakukan itu..!"


"Hmph, ternyata kau pembohong." Hei Lian mengalirkan energi spiritual yang sangat kuat di tangan kanannya sebelum mulai berjalan. Ekspresinya menakutkan.


Wang Zhao yang saat ini berada di balik pohon nampak menelan ludah. Jika saja Hei Lian terkena masalah atau berada dalam bahaya, dia pasti tanpa ragu akan menyelamatkan anak itu---bahkan jika hidupnya sendiri yang menjadi taruhan.


Tetapi masalahnya sekarang sangat jauh berbeda. Wang Zhao menggeleng pelan. Hei Lian pernah mengatakan bahwa anak itu tidak akan mengambil nyawa siapa pun di Istana Seribu Pedang jika dia menyerahkan diri dan mati. Namun janji apa yang harus dipegang ini? Hei Lian sama sekali tidak bisa dipercaya.


Wang Zhao juga bukan orang bodoh hingga harus mengambil nyawa sendiri. Dia lebih memilih menyelamatkan semua orang dengan bertarung sampai mati daripada menuruti kata-kata Hei Lian.


Wang Zhao menarik napas dalam-dalam, ekspresinya serius. "Akulah yang sudah memberimu kesempatan, tapi sayang sekali kau tidak menggunakannya untuk berubah. Kesabaranku sendiri ... Bahkan sudah habis denganmu,"


Wang Zhao berbalik dan menyerang pohon tempatnya bersembunyi hingga meledak. Dia pun melesat dengan cepat dan di saat bersamaan, Hei Lian juga melesatkan serangan angin bercampur asam miliknya.


!!


Mata Hei Lian terbelalak ketika Wang Zhao menerjang serangan asamnya. Dia terkejut bukan main sebab pemuda itu bahkan tidak mengalami luka sedikit pun, apalagi asamnya juga tidak menggores pakaian Wang Zhao.


"Itu ..." Hei Lian tanpa sadar menahan napas dan kemudian menjadi marah. Dia pun melesat sambil menggeram.


Tiba di pertengahan, tubuh Hei Lian langsung berubah menjadi asap merah yang dipenuhi petir. Di sisi lain, tubuh Wang Zhao ikut berubah menjadi asap hitam kelam.


Pertarungan itu sangat sengit, di mana pepohonan di sekitar mereka sampai tumbang, meledak dan terbakar. Itu adalah jenis pertarungan yang dahsyat dan bahkan sulit diikuti mata.


Wang Zhao masih bisa melawan karena memang dia tidak terpengaruh teratai suci milik Yan Qi Lou. Posisinya yang bisa melawan Hei Lian berbeda jauh dengan para murid Istana Seribu Pedang saat ini.


Para murid Istana Seribu Pedang itu sedang kewalahan dan sudah banyak yang terluka parah. Mereka sebelumnya telah kesulitan menghadapi anggota Sekte Lembah Iblis dan sekarang makin menjadi sebab tiba-tiba saja mereka tidak bisa merasakan energi spiritual.


"Awas..!" salah seorang murid Istana Seribu Pedang menarik temannya dan mereka terjatuh bersama. Dia tegang karena kondisi yang mengkhawatirkan ini.


Ada tiga orang anggota Sekte Lembah Iblis dengan penampilan mengerikan. Mereka tertawa dan meledek para murid Istana Seribu Pedang yang sangat lemah ini. Rasanya menyenangkan menindas kultivator dari sekte yang terkemuka.


"Bukankah ini menjadi penurunan yang besar bagi sekte kalian, hah?"


"Lihat. Bahkan tidak ada yang bisa menolong kalian, ha ha ha."


"Saudaraku. Ayo bersenang-senang dahulu sebelum membunuh mereka," salah satu anggota Sekte Lembah Iblis nampak mempunyai niat pada anggota Istana Seribu Pedang yang di depannya.


"Oh," anggota Sekte Lembah Iblis yang lain baru menyadarinya. Dia pun lantas memperhatikan dengan baik dua orang murid perempuan Istana Seribu Pedang yang cukup cantik di hadapannya.

__ADS_1


"Ha ha ha, ide yang bagus. Aku juga sudah lama tidak melakukannya,"


!!


Seorang murid laki-laki dari Istana Seribu Pedang yang telah mengalami luka dalam nampak merentangkan tangan dan berusaha melindungi saudara seperguruannya.


Murid berwajah pucat yang terbatuk darah itu berusaha untuk bicara. Dia menggeram, "Iblis seperti kalian ... Jangan harap bisa melukai saudaraku..!"


"Hmph, kau menghalangi..!" salah satu anggota Sekte Lembah Iblis melesat dan nyaris mencengkeram leher murid Istana Seribu Pedang itu andai sebuah angin kejut tidak mendorongnya.


Kekuatan tersebut besar, bahkan dua anggota Sekte Lembah Iblis yang ada juga terdorong beberapa langkah. Sosok berpakaian serba merah berdiri, tepat di depan ketiga murid Istana Seribu Pedang dan kehadirannya mengejutkan.


"Angin berhembus di laut,


Hujan dingin yang berada di timur,


Dan langkah kaki yang mengarahkanku kemari,


Ternyata memang ada sesuatu,"


Suara dengan nada itu terdengar jernih dan penuh rasa percaya diri. Sosok yang tanpa tahu malu mengatakan puisi yang aneh tersebut tidak lain adalah Liu Wei Lin.


Pemuda tampan dari Sekte Lautan Awan itu melambaikan kipas miliknya dan berkata, "Aku baru saja pulang dari mencari inspirasi. Tapi tidak tahunya gejolak terjadi di tempat ini,"


Liu Wei Lin melirik sejenak ke arah tiga orang murid Istana Seribu Pedang dan lantas memberi isyarat agar mereka pergi. Ketiga murid itu tersentak, namun segera mengangguk dan memberi hormat.


"Jangan harap kalian bisa lari dari tempat ini..!" salah seorang anggota Sekte Lembah Iblis melesatkan serangan, tapi hanya dengan sekali lambaian kipas dari Liu Wei Lin---serangan tersebut langsung bisa dipatahkan.


"Kurang ajar..!" anggota Sekte Lembah Iblis itu menggeram marah.


Liu Wei Lin menggeleng pelan dan begitu tenang saat berkata, "Kalian ini sangat tidak sopan. Jelas-jelas aku berdiri di depan kalian, tapi tidak menyapa? Haah, Sekte Lembah Iblis memang punya etika yang buruk."


"Bunuh dia..!" seorang anggota Sekte Lembah Iblis berseru. Dia dan kedua rekannya melesat untuk menyerang pemuda di hadapan mereka.


Liu Wei Lin menghadapi ketiganya secara sekaligus dengan gerakan yang mengagumkan. Dia memutar kipas miliknya dan berhasil memberi pukulan keras di wajah salah satu lawan yang dia hadapi.


Liu Wei Lin melambaikan kipasnya dan serangan angin kejut yang begitu kuat berhasil membuat ketiga lawannya terdorong mundur. Ekspresi Liu Wei Lin nampak serius saat dia bertarung.


Salah satu anggota Sekte Lembah Iblis menekan dadanya dan meludahkan darah. Dia menatap nyalang ke arah pemuda di hadapannya, "Bagaimana dia masih memiliki energi spiritual?"


"Ohok, sialan. Aku juga tidak tahu," salah satu anggota lainnya berkata, "Bukankah nona Yan Qi Lou sudah menggunakan Teratai Suci itu? Lantas bagaimana dia ..."


Di saat dua orang rekannya merasa keheranan dengan lawan mereka, anggota Sekte Lembah Iblis yang lain nampak bertarung satu lawan satu dengan Liu Wei Lin.


Anggota Sekte Lembah Iblis itu awalnya juga ikut terdorong oleh angin kejut, tapi dia masih bisa mengatasinya dengan melompat dan kemudian memberikan serangan balasan hingga berakhir dengan cara bertarung seperti ini.


Liu Wei Lin melentingkan tubuhnya, dia menggunakan kakinya untuk menghindar dari tebasan lawan dan lantas memberi tendangan sebagai balasan. Pertarungan itu cukup sengit, namun bisa terlihat bahwa Liu Wei Lin tidak kesulitan sama sekali.


Anggota Sekte Lembah Iblis yang lain mulai bergerak dan membantu teman mereka. Salah satu di antara keduanya berhasil menebas kain di lengan kanan Liu Wei Lin hingga melukai pemuda itu.


?!


Liu Wei Lin mengerutkan kening dan tatapan matanya tiba-tiba berubah dingin. Rasanya seakan dia sama sekali tidak menyukai jika ada lawan yang berani menggoresnya.


Salah satu anggota Sekte Lembah Iblis melihat luka di lengan Liu Wei Lin dan dibalik koyakan pakaian pemuda itu---dia memperhatikan tanda api di atas luka yang berhasil diberikan rekannya.


Mata anggota Sekte Lembah Iblis itu membulat, dia menatap tidak percaya ke arah Liu Wei Lin dan berseru. "Dia adalah Pemimpin Sekte Lembah Hantu-"


Ucapan anggota Sekte Lembah Iblis itu belum selesai ketika mulutnya dibekap oleh sebuah tangan dan dirinya pun menghantam tanah. Suara yang begitu keras bahkan tanah tersebut retak karenanya.


Kedua orang rekannya terkejut bahkan terlambat merespon. Kejadian ini berlangsung sangat cepat dan bahkan lebih cepat dari kedipan mata.


"Ssh... Karena sudah tahu, maka harusnya kau diam." Liu Wei Lin menatap tajam ke arah anggota Sekte Lembah Iblis itu dan menguatkan cengkeraman tangannya hingga terdengar suara retakan.

__ADS_1


******


__ADS_2