KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
40 - Mo Huai (1)


__ADS_3

Mo Huai terlihat berlari dan sesekali berdesakan dengan beberapa orang, "Maaf. Permisi..." dia terus berlari mengejar pria yang sebelumnya terkena serangan Xiao Shuxiang hingga harus kehilangan satu lengannya.


"Tenanglah, aku akan mengirim pesan kepada guru untuk mencarikan keadilan bagimu. Xiao Shuxiang harus menerima akibat dari perbuatannya,"


Seorang kultivator yang merupakan rekan pria itu berujar. Dia terlihat tidak terima lengan saudara seperguruannya ditebas, apalagi karena kejadian ini membuat saudaranya tidak bisa mengayunkan pedang lagi.


"......"


Pria yang lengannya tertebas itu tidak mengatakan apa-apa. Dia seperti menahan rasa nyeri di lengannya sampai tidak memikirkan masa depannya yang mungkin akan suram. Dia tahu bahwa sehebat-hebatnya kultivator Alam Atas, mustahil menumbuhkan kembali bagian tubuh seseorang. Dia tidak berharap banyak.


"Tuan...! Tuan Muda, Tunggu...!"


!!


Sebuah seruan asing terdengar dan menganggu beberapa orang, termasuk pria yang lengannya tertebas itu. Seruan yang tidak lain berasal dari Mo Huai itu membuat beberapa kultivator berhenti melangkah dan spontan berbalik.


"Tuan Muda, tunggu sebentar..." Mo Huai akhirnya bisa menyusul pria berpakaian putih itu meski nampak terengah-engah.


Kening kultivator itu mengerut, dia tidak mengenal pemuda yang nampak lemah di hadapannya ini. "Kau memanggilku?"


"Be-benar," Mo Huai mengangguk. Dia berusaha mengatur napasnya.


"Ada apa kau memanggilku? Kau siapa?"


"Tunggu," rekan pria itu baru tersadar. "Kau bukannya orang Xiao Shuxiang, kan? Ada apa kau kemari, hah?"


Mo Huai tersentak karena tiba-tiba mendengar suara yang dingin dan ketus. Apalagi saat napasnya mulai teratur, dia bisa melihat beberapa orang memberikan pandangan yang tidak suka kepadanya. 


Segera, dia pun menggelengkan kepala. "A-aku bukan orang tuan muda Xiao. Aku merasa tidak pantas jika dihubungkan dengannya. Dia begitu hebat, sedangkan aku---"


"Apa kau datang kemari hanya untuk membahas itu?" pria yang memiliki wajah cukup tampan tersebut menyela. Dia saat ini tidak ingin membuang-buang waktu karena nyeri yang dirasakannya harus segera diatasi. "Jika kau hanya datang untuk membahas hal tidak penting, maka sebaiknya kau pergi sebelum lehermu kupelintir."


"Ah, to-tolong jangan marah dulu." Mo Huai segera merogoh sesuatu di lengan pakaiannya dan mengambil satu botol keramik kecil di dalam sana. Dia pun mengeluarkan sebutir pil dan menyimpan kembali botol keramik miliknya.


"Ambil ini," Mo Huai meraih tangan kiri pria di hadapannya dan menyerahkan pil tersebut kepadanya. Wajahnya terlihat sangat serius, "Anda harus meminumnya. Pil ini akan mengembalikan lengan Anda. Tolong percaya padaku,"


!!


Pria itu serta rekannya dan beberapa kultivator yang turut hadir menyaksikan nampak tersentak kaget mendengar ucapan Mo Huai. Mereka menatap pemuda yang jelas-jelas memiliki praktik sangat rendah di usianya yang tidak lagi berada di belasan tahun.


"Hmph, kau ini apa-apaan? Kau sedang bermain-main denganku, hah?"


"Tolong... Aku bersungguh-sungguh. Tolong percaya padaku," Mo Huai sangat serius dan tidak ada kebohongan yang terlihat di wajahnya. Justru, dia begitu penuh harap.


"......"


Pria berpakaian putih itu memperhatikan sebutir pil di tangannya. Pil yang dia lihat memiliki warna seputih susu, mempunyai corak yang unik dan menguarkan aroma semerbak.


Pil tersebut nampak sangat indah dan sebenarnya ini pertama kali dia melihat jenis pil seperti itu.


Awalnya kultivator berpakaian putih itu sedikit ragu akan memakan pil yang Mo Huai berikan kepadanya. Apalagi, jelas bahwa mereka tidak saling mengenal. Namun, melihat ketulusan Mo Huai dan keseriusan pada matanya serta perasaan bahwa sosok asing tersebut tidak akan berniat buruk----kultivator itu pun mulai menelan pil itu.


!!

__ADS_1


Saat pil seputih susu yang diberikan Mo Huai menyentuh lidah kultivator itu, pil tersebut langsung melebur dengan rasa manis yang pas dan jujur saja sangat enak. Mata kultivator itu bahkan melebar dan segera memandang Mo Huai dengan perasaan terkejut.


Untuk pertama kalinya dia memakan pil yang sama sekali tidak pahit. Selama ini diketahui bahwa semakin tinggi kualitas sebuah pil, maka rasa pahitnya akan semakin bertambah. Kultivator itu baru saja akan marah pada Mo Huai karena merasa ditipu saat tubuhnya mendadak aneh.


Efek pil yang ditelan kultivator itu mulai terasa saat lima tarikan napas. Semua orang di sekitarnya kaget ketika tangan pria itu perlahan membentuk tulang dan kulitnya kembali. Dalam waktu singkat tangan kanan yang sebelumnya telah ditebas Xiao Shuxiang seakan tumbuh lagi. Orang-orang sungguh sangat kaget sekaligus terpukau.


"He-hebat...!"


"Bagaimana ini mungkin...!!"


"Mustahil...!!"


Kejadian itu sangat sulit dipercaya, tetapi semua orang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Beberapa dari mereka bahkan mengusap-usap mata sambil mengerjap beberapa kali.


"Kau..." kultivator berpakaian putih itu kesulitan berkata-kata, dia menatap pemuda di hadapannya yang nampak mengembuskan napas lega.


"... Siapa namamu?"


"Ehm... Mo Huai,"


"Tuan Muda Mo!" kultivator itu langsung meraih kedua tangan Mo Huai hingga membuatnya tersentak. Dia pun berujar, "Dari mana Anda mendapatkan pil semacam ini?!"


"Tuan Muda Mo, Saya juga ingin tahu!"


"Tuan Muda Mo,"


!!


"Tuan Muda Mo, maaf atas perlakuan kasarku barusan. Kau adalah orang asing dan aku tidak mengenalmu. Mendapat pertolongan dari orang asing, apalagi yang kutahu kau merupakan kenalan Xiao Shuxiang tentu semakin membuatku waspada. Kuharap kau tidak mengambil hati tindakanku. Namaku sendiri adalah Mu Fang dari Sekte Langit Petir."


Mo Huai berusaha tersenyum, namun sebenarnya rasa gugup nampak jelas ketika dia bersuara. "Tuan Muda Mu terlalu ramah, aku... Aku tahu pantas dicurigai. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak ada niatan seperti itu."


Mu Fang merasa bahwa Mo Huai benar-benar orang yang baik. Dia tahu praktik pemuda di hadapannya sangatlah lemah, nyaris dianggap tidak berguna. Namun karena pil hebat pemberian Mo Huai membuat matanya terbuka lebar.


Rekan Mu Fang nampak kagum, "Sangat tidak terduga bahwa seseorang yang begitu rendah hati dan sederhana seperti Tuan Muda Mo ini... Adalah orang yang begitu hebat. Pandanganku terhadap dunia benar-benar sangat sempit. Aku meminta maaf atas perlakuan kasarku,"


Mo Huai menggeleng pelan, "Aku bukan orang yang seperti itu. Ini..."


Keraguan datang di dalam hati Mo Huai. Apa yang harus dirinya lakukan? Orang-orang di sekitarnya dalam sekejap menganggap bahwa dialah yang membuat pil tersebut. Mereka mengira bahwa dia adalah Alkemis. Padahal sebenarnya pil itu merupakan buatan Xiao Shuxiang, sosok yang tidak disukai oleh orang-orang ini.


Mo Huai berpikir. Jika dia mengatakan kebenarannya, maka mungkin saja mereka akan semakin menganggap Xiao Shuxiang orang yang buruk. 


Mereka akan berpikir bahwa Xiao Shuxiang memanfaatkan bakat alkemisnya untuk menindas mereka. Nama suami Ling Qing Zhu itu... Bukannya menjadi bersih, tetapi justru akan makin dicap buruk.


Mo Huai, "Apa yang harus kulakukan...?"


Mu Fang dan rekannya tidak tahu tentang kegelisahan Mo Huai saat ini. Dia hanya berulang kali mengucapkan permintaan maaf dan berharap agar Mo Huai tidak dendam padanya. 


Di sisi lain, Nie Shang yang berada di dalam tendanya nampak memain-mainkan kipasnya. Dia sesekali menoleh ke arah pintu masuk dengan harapan Mo Huai akan segera kembali.


Raut wajah Nie Shang terlihat khawatir, "Kenapa Mo Huai belum juga datang? Sudah lama kita menunggu. Sebenarnya ke mana perginya anak itu? Aku jadi takut dia dalam keadaan yang buruk."


Xiao Shuxiang yang kini telah berbaring di tempat tidur Nie Shang mengembuskan napas, Dia berkata, "Tenanglah. Selain gigi taringnya yang manis, tidak ada lagi hal berharga yang dia miliki. Siapa yang mau menindasnya? Apa para kultivator tadi? Hmph, mereka juga akan pilih-pilih korban."

__ADS_1


Nie Shang menutup kipasnya, "Saudara Xiao. Apa kau tidak khawatir dengan Mo Huai? Dia hanya manusia biasa, benar-benar rapuh. Tidakkah kau memiliki paling tidak sedikit empati padanya?"


"Nie Shang..." Xiao Shuxiang menoleh dan menatap pemuda dengan kipas di tangan itu. Dia pun berkata, "Tidak ada alasan untukku menaruh empati pada siapa pun. Jujur saja, aku malah iri pada Mo Huai karena dia mendapat undangan dari Alam Kultivasi Atas sementara aku tidak. Jika Mo Huai dihajar hingga mati, maka satu undangan akan kosong kan? Aku mungkin saja dapat menggantikannya,"


"Saudara Xiao, kau..!" Nie Shang benar-benar terkejut mendemgar ucapan bernada sarkatis milik Xiao Shuxiang. Dia tidak tahu harus mengumpat seperti apa saudaranya ini.


Hu Li sendiri juga tidak menyangka. Dia menggeleng pelan, "Tuan Muda. Anda jangan bicara begitu. Biar bagaimanapun tuan muda Mo juga adalah teman Anda."


Nie Shang kembali melihat ke arah pintu masuk. Siu Yixin sudah pergi sejak tadi dengan izin akan mencari keberadaan Mo Huai. Pria yang selalu memakai nada saat bicara itu bahkan ditemani oleh beberapa pengawal Nie Shang.


Cukup lama menunggu, akhirnya Siu Yixin datang dengan Mo Huai yang berjalan di belakangnya. Nie Shang akhirnya dapat bernapas lega, dia pun sontak berjalan menghampiri Mo Huai dan menegurnya.


Nie Shang, "Kau dari mana saja? Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya kami?! Kau pergi tanpa mengatakan apa-apa dan itu tidak baik. Harusnya kau katakan alasanmu ketika akan pergi, jadi kami tidak harus seperti orang gila yang mencemaskanmu."


Mo Huai dengan gugup berkata, "Tuan Muda Nie. Tolong jangan marah, aku... Aku pergi untuk suatu hal. Aku tidak akan melakukannya lagi,"


Xiao Shuxiang mendengarnya, "Hal apa yang begitu penting sampai kau pergi tanpa mengatakan apa pun pada Nie Shang? Karena ulahmu, aku jadi dianggap tidak punya empati."


Mo Huai, "Maafkan aku Tuan Muda Xiao. Aku tidak akan melakukannya lagi,"


Xiao Shuxiang menghela napas, "Sudahlah. Aku mau tidur. Kalian sebaiknya juga istirahat,"


Hu Li melihat Tuan Muda Xiao-nya menutup mata. Dia baru akan bicara, namun hanya dalam waktu tiga tarikan napas----Xiao Shuxiang sudah tertidur pulas bahkan suara dengkuran kecilnya mulai terdengar.


Siu Yixin berkedip, dia jadi merasa bahwa Xiao Shuxiang sebenarnya sejak tadi sangat kelelahan. Hanya saja tiba-tiba muncul beberapa orang yang ingin mencari masalah dengannya.


Hu Li, "Tuan Muda Nie. Anda dan Tuan Muda Mo sebaiknya juga beristirahat. Biar saya yang berjaga di luar,"


Mo Huai mengangguk pelan dan tidak lupa berterima kasih. Dia dalam hati berusaha menenangkan diri karena akhirnya bisa lolos dari para kultivator tadi.


Karena pil yang dia berikan pada Mu Fang dan cara bicaranya yang ramah----Mo Huai kini mendapat teman baru serta memiliki penghormatan yang jujur saja baginya itu tidak pantas.


Dia telah menyembunyikan kebenaran tentang nama pembuat Pil Napas Naga dari Mu Fang serta kultivator yang lain. Mo Huai memang tidak mengakui pil itu sebagai buatannya sendiri, tetapi yang dia katakan adalah pil itu buatan kenalan yang namanya sangat dirahasiakan.


Masalahnya, jawaban dari Mo Huai justru membuat Mu Fang dan rekannya merasa bahwa Mo Huai terlalu merendahkan diri. Para kultivator yang lain bahkan mengira dia menyembunyikan identitasnya sebagai seorang alkemis. Mo Huai yang hanya manusia biasa tidak tahu harus bertindak bagaimana agar mereka semua percaya. Intinya, dia tidak bisa mengungkap Xiao Shuxiang.


Berbeda dengan Mo Huai yang tidak bisa tidur karena terlalu banyak pikiran----Xiao Shuxiang justru sangat lelap dalam tidurnya.


Sesekali napasnya memberat dan tangan kanannya tanpa sadar terkepal. Raut wajahnya menunjukkan bahwa Xiao Shuxiang tengah bermimpi sekarang ini.


Dia bermimpi berada dalam malam yang penuh tinta. Sangat gelap, namun di satu sisi tangan kanannya seakan sedang mencengkeram leher seseorang. Tidak butuh waktu lama sampai suara tulang diremukkan terdengar, Xiao Shuxiang terlihat mengembuskan napas.


Wajahnya tidak nampak jelas saat itu. Hanya saja warna merah dan hijau pada matanya mengandung nuansa dingin membekukan, kejam dan tidak manusiawi.


Penglihatan lantas tertuju di bawah kaki Xiao Shuxiang. Terdapat genangan air di sana dengan siluet merah tua. Bau yang samar-samar tercium adalah bau anyir dan sesuatu seperti bau kematian.


Baru setelah malam penuh tinta itu perlahan menampakkan gambaran suasana yang mengerikan----Xiao Shuxiang seketika bangun dari tidurnya.


Napasnya memburu dengan dada yang nampak kembang-kempis. Terdapat titik keringat di dahinya dan wajahnya sendiri agak pucat. Xiao Shuxiang menenangkan dirinya sekarang ini.


"Tuan Muda Xiao?"


******

__ADS_1


__ADS_2