![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang terlihat begitu bekerja keras. Dia bukan hanya mempelajari bagian Kitab Pembunuh Matahari yang ada padanya, tetapi juga menuliskan kecocokan tubuhnya jika dia ngotot mempelajari kitab tersebut.
"..............."
Selama ini, Xiao Shuxiang terlihat tidak pernah nampak serius belajar. Dia adalah orang yang menjadikan kuas, tinta, dan buku sebagai 'Musuh Alami'. Karenanya, merupakan sebuah kejadian langka bila pemuda itu duduk dengan tenang sambil menggerakkan kuasnya.
"..............."
Tidak perlu melihat tulisan tangan Xiao Shuxiang. Orang-orang terdekatnya telah lama menyerah membaca tulisan tangan itu dan sudah jera memberikan nasehat. Tulisan tangan Xiao Shuxiang, baik dulu maupun sekarang----tidak mengalami perkembangan ke arah 'bagus' sedikit pun. Buruknya, Wali Pelindung dari Ling Qing Zhu itu bahkan mengelu-elukan tulisan tangannya sendiri sebagai yang terindah yang pernah ada.
Satu orang yang mungkin masih sanggup untuk melihat setiap goresan kuas milik Xiao Shuxiang sampai saat ini adalah Lan Guan Zhi. Hanya dia satu-satunya yang mau menghabiskan waktu untuk duduk dan melihat tulisan yang dikatakan 'terindah' oleh teman baiknya itu.
Ini bukan berarti Lan Guan Zhi tidak waras sampai ingin menyiksa mata. Dia memilih pilihan yang tepat. Tentu saja, daripada mendengarkan suara seruling Xiao Shuxiang yang bernada sumbang dan mirip keledai terjepit itu----Lan Guan Zhi lebih memilih bergelut dengan hasil tulisan tangan temannya. Jelasnya, dia hanya akan menilai dari tebal goresan kuas Xiao Shuxiang, tidak perlu sampai membacanya. Jenius.
"..............."
Memang, jika dilihat dengan saksama. Tulisan Xiao Shuxiang mirip seperti beruang yang mengajari belalang sembah menulis, tapi lain halnya dengan lukisan. Gambar tubuh manusia yang dilukis oleh Xiao Shuxiang sungguh luar biasa sampai membuat orang merinding melihatnya.
Xiao Shuxiang bukannya tidak suka belajar, dia hanya orang yang pemilih. Buku yang dia sukai adalah buku tentang tumbuhan beracun dan herba meski buku sejenis ini jarang ditemui.
"......... Roh dan Kebangkitan," Xiao Shuxiang bergumam. "Mm... Rasa-rasanya ini agak mirip dengan Mantra Penjinak Roh dari slip giok yang dahulu pernah kudapatkan dari lelang waktu itu. Jika kugabungkan .... Apa kira-kira tubuh dengan praktikku yang sekarang bisa menerimanya,"
"Terlalu berisiko, Tuan."
"Mm... Memang terlalu berisiko," Xiao Shuxiang terdiam sejenak dan fokus pada tulisan tangannya. Dia sedang berpikir dan kemudian mulai berujar pelan, "Mungkin .... Aku bisa memperbaiki ini sedikit dan membuatnya cocok untuk kupelajari--!"
Xiao Shuxiang tersentak saat mendengar suara ketukan pintu. Dia bahkan spontan menutup bukunya sambil menoleh ke asal suara tersebut.
"........... Shuxiang,"
Xiao Shuxiang berkedip, suara halus itu milik Ling Qing Zhu. Dia pun kemudian berjalan mendekat ke arah pintu yang tertutup. Teman Kecilnya terbang dan mengikutinya dari belakang.
'Kucing Putih ....' Xiao Shuxiang bernapas pelan. Dia tidak tahu sudah berapa kali Ling Qing Zhu datang dan mengetuk pintu kamarnya. Masalahnya untuk sekarang, dia benar-benar tidak bisa membukakan pintu untuk gadis cantik itu, meskipun sangat ingin.
"......... Shuxiang?"
"..............."
Xiao Shuxiang tidak menjawab dan hanya berdiri diam di balik pintu kamarnya. Kebungkaman pemuda itu jelas saja membuat siapa pun merasa cemas dan tidak nyaman. Apalagi, Xiao Shuxiang selama ini terkenal sebagai pemuda yang aktif dan 'Sangat Cerewet'.
"Kau tidak apa-apa?" Ling Qing Zhu bertanya kembali. Suaranya tenang dan ekspresi wajahnya tidak berubah. Namun tatapan matanya tidak seperti yang biasa. Tentu saja, dia bukan gadis yang tidak memiliki hati. Dia khawatir pada Wali Pelindungnya.
".......... Mm,"
Ling Qing Zhu yang berada di luar kamar bisa mendengar gumaman pelan Xiao Shuxiang. Dia merasa tidak nyaman karena Wali Pelindungnya masih tetap memberi jawaban yang sama.
"Kubawakan makanan," Ling Qing Zhu berujar. Dia sebelumnya pernah kemari bersama Lan Guan Zhi dengan Mo Huai, namun dia kembali lagi.
"..............."
"Shuxiang?"
"......... Tidak perlu repot, Kucing Putih. Bawa kembali saja,"
Ling Qing Zhu tersentak, suara yang dia dengar teramat pelan dan agak mirip lirihan. Dia pun berkata, "Aku membuat pangsit untukmu..."
"..............."
"Kau tidak mau makan?"
"......... Taruh saja di situ,"
Ling Qing Zhu menarik napas dan lalu berkata, "Kapan kau mau keluar...? Tidak baik bila terus mengurung diri seperti ini,"
"..............."
Xiao Shuxiang yang berada di dalam kamarnya tidak membalas ucapan Ling Qing Zhu. Pemuda itu berdiri sambil berusaha menahan untuk tidak tertawa. Dia bahkan beberapa kali menutup mulutnya dan berusaha berekspresi sesedih mungkin.
"Shuxiang...."
'Aku tidak bisa menahannya,' Xiao Shuxiang menutup hidungnya dan kemudian bergumam, "........ Mm."
"Kau sungguh tidak mau keluar?"
'Tidak. Aku akan memberimu pelajaran sedikit. Siapa suruh kau bersikap sangat dingin padaku selama ini,' Xiao Shuxiang menjawab di dalam hati dan tentu saja tidak diketahui oleh Ling Qing Zhu.
"Shuxiang?"
__ADS_1
"......... Mm,"
"Kau masih tidak mau keluar..?" Ling Qing Zhu tidak tahu harus bicara apa lagi. Dia sudah berulang kali membujuk Wali Pelindungnya, namun pemuda itu tidak pernah mau keluar dari kamar.
"......... Tinggalkan aku sendiri,"
Ling Qing Zhu berkedip, tatapan matanya sedikit sendu. Dia menarik napas dan lalu berujar pelan, "Aku tahu kau sedih karena pedangmu. Tapi jangan menyiksa diri seperti ini. Setidaknya ayo keluar. Kita bisa bicara,"
Xiao Shuxiang yang berada di dalam kamar nampak terkejut. Dia berkedip beberapa kali dan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
'Kucing Putih ..... Berapa kata yang dia ucapakan barusan?! Luar biasa,' Xiao Shuxiang malah terlihat kagum. Dia serius mendengarkan Ling Qing Zhu bicara.
"Tuan Muda Lan merindukanmu..."
!
Xiao Shuxiang hampir tersandung kakinya sendiri. Dia tersentak mendengar ucapan Ling Qing Zhu barusan. Dia sampai merutuk sekarang ini.
'Ya ampun, Kucing Putih. Kenapa kau malah bicara tentang Lan Zhi?! Harusnya kau berkata, 'aku merindukanmu...' bukan malah--'
"Aku ....."
Xiao Shuxiang kembali tersentak dan menunggu. Dia tidak menyangka masih ada lanjutan dari ucapan gadis cantik di balik pintu kamarnya. Perasaannya agak berdebar-debar sekarang.
Xiao Shuxiang menunggu dan jika apa yang ingin dia dengar benar-benar dikatakan oleh Ling Qing Zhu-----dirinya sungguh akan membuka pintu dan langsung memeluk gadis itu.
"Aku ....."
'Kau apa? Apa? Jangan menggantungku seperti ini. Katakan saja, aku sudah siap-'
"Aku menaruh makananmu di sini,"
!!!
Suara benturan terdengar keras dan membuat Ling Qing Zhu kaget. Dia berusaha membuka pintu kamar Wali Pelindungnya tetapi tidak bisa, pintu ini telah disegel.
"Shuxiang, kau kenapa?"
"....... Pergilah. Aku tidak mau diganggu saat ini. Aku ingin sendiri,"
"..............." Ling Qing Zhu berkedip. Suara Wali Pelindungnya terdengar lirih dan ada kemungkinan pemuda itu menangis. Dia tidak pernah merasa se-terguncang ini sebelumnya. Dia pun bernapas pelan dan meletakkan makanan di depan pintu Xiao Shuxiang.
"..............."
Di dalam kamar itu, Xiao Shuxiang terlihat mengusap-usap dahinya yang memerah karena terbentur pintu. Dia juga terlihat terguncang, tetapi untuk masalah yang lain.
"Ya Tuhan. Istri apa yang kau berikan untukku? Kenapa Kucing Putih sangat tidak peka..? Memang apa susahnya mengatakan, 'Aku Merindukanmu'? Haaah ya ampun. Dia itu tidak ada sisi manisnya sama sekali,"
"Tuan...?"
"Aku patah hati. Aku baru saja patah hati, Teman Kecil .... Gadis itu..." Xiao Shuxiang kesal sampai ingin menangis. "Gadis itu sebenarnya punya hati atau tidak? Dia... Haaah .... Aku bahkan tidak sanggup mengatakannya,"
Xiao Shuxiang menggeleng pelan. Dia mulai membuka pintu ketika yakin tidak ada lagi orang di luar kamarnya. Dirinya makanan yang diletakkan Ling Qing Zhu dan kembali menyegel pintu kamarnya.
"..............."
Xiao Shuxiang tidak tahu bahwa Ling Qing Zhu sebenarnya ingin mengatakan bahwa dia merasa agak 'kesepian'. Tapi baru saja kata itu akan diucapkan----Ling Qing Zhu tiba-tiba menjadi malu sendiri dan memutuskan untuk menggantinya dengan kata yang membuat dahi Xiao Shuxiang terbentur.
*
*
Di hutan wilayah Sekte Lautan Awan terlihat Bocah Pengemis Gila yang menapakkan kakinya pada sebuah batang pohon sebelum kembali melesat. Yi Wen menyusul di belakangnya.
"Bocah Pengemis Gila, menurutmu apa Saudara Xiao-ku ada di Sekte Lautan Awan?" Yi Wen bertanya sambi berusaha mengatur napasnya. Dia agak kelelahan karena sudah melakukan perjalanan sejauh ini dan jarang sekali beristirahat.
"Bocah Pengemis Gila..! Jawab saat aku bertanya padamu," Yi Wen berseru.
"Xiao Shuxiang pasti ada di Sekte Lautan Awan, firasatku tidak pernah salah. Kau jangan tanya-tanya lagi dan percepat saja langkahmu."
Yi Wen mengerucutkan bibirnya, tetapi tetap mengikuti Bocah Pengemis Gila. Mereka memang harus bertemu Xiao Shuxiang sebelum tetua besar dari Sekte Lembah Cahaya Surgawi dan tetua besar Istana Seribu Pedang datang kemari.
Yi Wen mengerutkan keningnya saat mulai melihat gerbang depan Sekte Lautan Awan. Dia pun berujar, "Apa memang tidak ada segel pelindung yang menutupi sekte itu? Bukankah segel itu penting agar tidak sembarangan orang bisa memasukinya?"
"..............." Bocah Pengemis Gila juga menyadari hal itu dan mulai menapak turun. Dia bisa mencium bauh darah yang berbeda-beda, tetapi sangat samar.
Bocah Pengemis Gila tersentak ketika mulai menyadari sesuatu. "Sekte Lautan Awan juga ikut andil menjadi bagian dari Konferensi Aliansi Abadi, jadi mungkin saja--"
__ADS_1
"Penyusup pun memasuki sekte ini?" Yi Wen menyela dan membuat Bocah Pengemis Gila menoleh ke arahnya.
"Aku mencium banyak bau darah ...." Bocah Pengemis Gila berujar pelan dan membuat gadis di sampingnya tersentak, "Meski samar .... Tapi aku yakin darah ini adalah milik para murid Sekte Lautan Awan. Kemungkinan besar sekte ini pernah diserang,"
"Kau ingin bilang bahwa penyerangan itu adalah ulah Sekte Lembah Iblis lagi?" Yi Wen menyilangkan tangan.
"Bukankah sudah jelas?"
Yi Wen tersentak saat Bocah Pengemis Gila tiba-tiba berjalan ke arah gerbang Sekte Lautan Awan. Dia pun menyusul pemuda itu dan setengah berbisik, "Apa tidak sebaiknya kita lewat jalan yang lain? Bagaimana jika kita dianggap sebagai penyusup?"
"Justru kita akan dianggap penyusup jika lewat jalan lain. Sudah, kau percaya saja padaku."
Yi Wen menggelembungkan pipinya, "Ba-bagaimana aku bisa percaya dengan pria yang wajahnya dilumuri tepung. Kau tidak meyakinkan tahu,"
"..............."
Bocah Pengemis Gila tidak menjawab dan justru menghampiri murid Sekte Lautan Awan yang berjaga di pintu gerbang. Kedua murid itu langsung menghunuskan pedang mereka.
"Siapa kalian?!" salah seorang berseru dan memberi tatapan yang penuh rasa waspada.
Bocah Pengemis Gila memberi hormat dan dengan sopan menjawab, "Aku Shang Shén Lóng dari Lembah Cahaya Surgawi. Kedatanganku kemari ingin memenuhi undangan dari Tetua Besar Dao Fang An,"
?!
Yi Wen terkejut, begitu pula dengan dua murid Sekte Lautan Awan. Untuk Yi Wen, tentu saja dia terkejut karena Bocah Pengemis Gila tidak menyebutkan nama saudara Xiao-nya. Sementara kedua murid Sekte Lautan Awan kaget karena pria dengan riasan aneh di wajahnya itu justru mencari Dao Fang An.
Salah seorang murid memperhatikan pria di depannya dari bawah sampai atas. Dia pun berujar, "Kau tadi menyebutkan nama margamu. Kau ini .... Ada hubungan apa dengan tetua besar Sekte Lembah Cahaya Surgawi?"
"Ah .... Dia 'Ayahku'." Bocah Pengemis Gila menjawab dengan tenang dan membuat kedua murid di hadapannya terperangah.
Salah seorang murid itu mengerutkan kening, dia berkata. "Aku tidak tahu bahwa tetua besar Shang mempunyai anak, apalagi putra sepertimu."
"Aku selama ini tinggal di Alam Kultivasi Bawah, sangat jarang kemari. Kalian mungkin tidak tahu, tapi tetua besar Dao mengetahuinya."
"Kami butuh tanda pengenal yang bisa membuktikan identitasmu," salah satu murid berujar ketus dan membuat Yi Wen kesal.
Gadis bertubuh bagus itu baru akan melancarkan aksinya saat Bocah Pengemis Gila memberinya isyarat untuk tidak bertindak gegabah.
Bocah Pengemis Gila mengeluarkan sebuah gulungan dan diserahkan kepada salah seorang murid yang menjaga gerbang sekte ini.
Yi Wen sampai terperangah melihatnya. Dia berkedip beberapa kali dan menatap ke arah pemuda di sampingnya. Dalam hati, dia terpukau. "Bocah Pengemis Gila, kau rupanya sudah mempersiapkan ini semua. Hebat sekali..."
Yi Wen sungguh tidak menyangka bahwa Bocah Pengemis Gila bahkan mempunyai undangan dari Tetua Besar Sekte Lautan Awan. Buktinya, kedua murid penjaga itu kaget melihat gulungan yang diserahkan oleh Bocah Pengemis Gila.
Salah satu murid mengalirkan Qi pada gulungan tersebut yang membuat nama 'Dao Fang An' terlihat. Simbol dari nama Tetua Besar Sekte Lautan Awan ini sulit untuk dipalsukan dan karena itulah murid tersebut yakin bahwa gulungan di tangan kanannya benar milik Dao Fang An.
"Gulungan ini asli, tapi aku tetap harus melaporkannya langsung pada tetua besar. Kalian tunggu di sini,"
"Baiklah, tapi jangan lama. Aku sedang sangat terburu-buru," Bocah Pengemis Gila memeluk tongkat bambunyan dan melihat salah satu murid mulai melesat pergi.
Yi Wen menyenggol lengan Bocah Pengemis Gila dan bertanya dengan suara yang setengah berbisik, "Apa kau butuh bantuanku untuk menggodanya?"
"Jangan membuat masalah,"
"Tapi kita sedang terburu-buru. Ini terkait dengan keselamatan saudara Xiao-ku,"
"Tunggu saja..." Bocah Pengemis Gila berujar, "Ini tidak akan lama. Orang tua itu pasti akan langsung kemari,"
Yi Wen mengerutkan kening, dia serius bertanya. "Kau ini punya banyak kenalan di Alam Kultivasi Atas ya... Aku sampai tidak bisa percaya,"
"Hmph. Kau pikir hidupku hanya terlunta-lunta di jalan sambil menjual bokongku, huh? Jangan salah. Aku ini juga punya kisah hidup yang bisa dibanggakan,"
Yi Wen bergidik saat mendengar ucapan Bocah Pengemis Gila barusan. Dia begitu memperhatikan pria di sampingnya ini dan merasa sangat penasaran dengan beberapa hal. Utamanya pada perilaku Bocah Pengemis Gila yang terkenal 'menyimpang'.
Yi Wen mendesah pelan, "Sepertinya .... Butuh kerja keras untuk bisa mengubah orang sepertimu menjadi 'pria normal'."
"Oh .... Kalau begitu berjuanglah. Jika kau bisa. Aku akan langsung menemui ayah dan ibumu untuk meminta restu dari mereka,"
"Tapi .... Usia kita terpaut jauh sekali..." Yi Wen menggelembungkan pipinya sambil menatap Bocah Pengemis Gila. Ekspresi wajahnya terlihat menggemaskan.
Bocah Pengemis Gila sendiri nampak berkedip dan dengan tenang berkata, "Kau tenang saja. Aku masih sangat 'kuat'. Bahkan jika kau mau, sepuluh 'ronde' sehari pun bisa kulakukan."
"Bocah Pengemis Gila, kau ini sedang membicarakan apa? Menyebalkan!" Yi Wen berwajah pucat dan lalu memukul lengan pria di sampingnya. Dia membuat Bocah Pengemis Gila tersentak.
"Yi Wen! Tentu saja 'itu'. Kau khawatir tentang 'itu' karena perbedaan usiamu denganku, kan. Aku hanya memastikan padamu. Aku masih sangat kuat untuk melakukannya, bahkan jika kau mau setiap hari--"
"Bocah Pengemis Gila..!"
__ADS_1
******