![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Warna langit yang berubah bukan hanya berasal dari Hei Lian, tetapi juga karena para makhluk Sekte Lembah Iblis yang datang ke Istana Seribu Pedang untuk mengacau. Bahkan tanpa basa-basi, pertempuran sengit langsung pecah dan membuat panik semua orang.
Istana Seribu Pedang sebenarnya tidak bisa dimasuki sembarangan orang, itu karena tempat ini mempunyai segel pelindung yang terbuat dari energi spiritual. Namun tetap saja, ini bukan berarti segel tersebut tidak bisa dipecahkan.
Makhluk dari Sekte Lembah Iblis yang datang ke Istana Seribu Pedang ada sekitar 30 orang dan tiga di antara mereka merupakan bagian dari Tiga Keserakahan Dunia. Sosok-sosok yang kuat dan bahkan merupakan musuh paling berat.
Yan Qi Lou, wanita berpakaian serba ungu dan sebuah senjata cambuknya telah dengan sangat cepat memecahkan segel pelindung Istana Seribu Pedang. Dia bahkan hanya menggunakan sekali ayunan dan cambuk tersebut langsung menyambar dengan kekuatan yang dahsyat.
Dua murid yang menjaga gerbang Istana Seribu Pedang bahkan belum sempat bereaksi. Mereka terkena serangan yang secara tiba-tiba datang dan sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melawan apalagi menangkisnya.
Kedua murid itu tewas dalam kondisi yang mengenaskan. Buruknya lagi, ayunan cambukan berikutnya melempar mayat kedua murid itu ke udara dan lantas memotongnya menjadi beberapa bagian.
Potongan tubuh yang tidak pernah disangka menyebar dan bahkan sampai mengenai sekelompok murid yang baru saja tiba untuk memeriksa segel sekte. Sayangnya, makhluk dari Sekte Lembah Iblis langsung melesat dan kemudian menyerang mereka.
"A-apa yang sedang terjadi?"
"Kau tidak lihat..! Cepat panggil Patriarch dan bawa para junior ke tempat yang aman!"
"Ah, ya ampun. Padahal aku baru saja akan pergi berkencan-"
"Tidak ada waktu untuk melakukan itu. Jika kau mati, kau akan kencan di alam baka!"
Tentu saja tidak ada yang menyangka bahwa Istana Seribu Pedang akan diserang secara tiba-tiba, apalagi musuh ini bukanlah sosok yang mudah diatasi.
Mao Lin Lin yang merupakan anggota Sekte Lembah Iblis nampak terkikik, dia adalah remaja berusia 15 Tahun yang menggunakan jarum beracun sebagai senjata.
__ADS_1
Dua orang murid Istana Seribu Pedang yang terkena senjata kecil Mao Lin Lin terlihat mengerang kesakitan sampai berguling-guling di tanah. Tubuh dan kulit wajah mereka gatal dan panas, bahkan keduanya terus menggaruk wajah hingga terlihat luka sampai berdarah.
Mao Lin Lin tidak membunuh secara langsung seperti yang dilakukan oleh Yan Qi Lou. Dia menggunakan racunnya untuk membuat lawan menderita sampai mati sendiri. Rasanya menyenangkan.
Wu Tong Fu yang juga merupakan bagian dari Sekte Lembah Iblis terlihat begitu bersemangat menerjang para murid Istana Seribu Pedang dengan memakai celurit miliknya. Dia memerintahkan para anggota Sekte Lembah Iblis untuk tidak perlu merasa takut.
Wu Tong Fu berseru, "Bunuh siapa pun yang kalian lihat! Hancurkan tempat ini..!"
"Serang mereka..!"
"Sekte Lembah Iblis, sialan! Beraninya datang dan membuat keributan di sekte ini. Kalian akan--!!" seorang murid Istana Seribu Pedang yang baru saja bersikap sok pahlawan mendadak berteriak dan menyuruh teman-temannya melarikan diri. Nyalinya ciut saat melihat betapa brutalnya cara musuh bertarung.
Mao Lin Lin tertawa mendengar teriakan beberapa murid Istana Seribu Pedang. Dia pun menggeleng dan berkata, "Ini sangat mudah~ harusnya kita melakukan ini sejak lama, bukankah begitu? JieJie?"
Yan Qi Lou mendengus dan tanpa nada berkata, "Tidak ada waktu bermain-main. Setelah dapatkan apa yang kita inginkan, segera pergi dari tempat ini."
"Akan kucari lembaran kitab kuno itu. Kau pergi ke tempat Hei Lian dan bawa dia kemari," Yan Qi Lou menghentakkan kakinya dan kemudian melesat. Dia kembali mengayunkan senjatanya yang langsung menyambar salah satu bangunan murid.
Lesatan cahaya putih keperakan tiba-tiba melintas dan menerjang ketika Yan Qi Lou mengayunkan kembali cambuknya. Ekspresi wajahnya tidak berubah, tetapi tatapan matanya menjadi lebih tajam.
Ujung cambuk Yan Qi Lou terlilit di bilah pedang seorang pria berpakaian putih yang tak lain adalah Tetua Jing Yufeng.
Pria yang merupakan patriarch dari Istana Seribu Pedang itu nampak berekspresi dingin dan seakan menahan amarahnya, walau itu terlihat pada tatapan matanya yang menajam.
"Sungguh tamu yang tidak diharapkan untuk hadir," Tetua Jing Yufeng menarik pedang pusakanya dan bermaksud untuk menghancurkan senjata Yan Qi Lou. Tapi yang terjadi justru cambuk itu melunak hingga sulit ditebas.
__ADS_1
Yan Qi Lou berhasil menarik kembali senjatanya, dia menapak lembut di salah satu atap bangunan dan mulai melihat sosok yang berani menahan serangan miliknya.
Yan Qi Lou mendengus," Ternyata Tetua Jing Yufeng. Sudah lama tidak bertemu dan aku terkesan karena kau masih tetap tampan. Apa sekarang kau sudah menikah?"
"Daripada membahas tentang hal itu, bukankah pertanyaanku lebih penting?" Tetua Jing Yufeng menghunuskan pedang pusaka miliknya dan bersuara ketus, "Apa yang kau inginkan di tempat ini?!"
Yan Qi Lou menjawab, "Tentu saja Kitab Pembunuh Matahari. Aku mendengar bahwa Istana Seribu Pedang memiliki apa yang kucari,"
Yan Qi Lou, "Jadi sebelum aku benar-benar menghancurkan tempatmu, maka sebaiknya kau serahkan baik-baik kitab itu."
"Angin dari mana yang memberimu kabar seperti itu? Tidak ada Kitab Pembunuh Matahari di tempat ini."
"Ayolah, atau apa aku harus menyelipkan tanganku ke dalam celanamu dan mencarinya sendiri?"
Tetua Jing Yufeng tersentak. Jika saja orang lain yang mendengarkan hal ini, maka mereka pasti akan berpikir bahwa Yan Qi Lou adalah wanita yang sangat tidak tahu malu. Orang lain kemungkinan besar akan marah dan melakukan serangan yang terburu-buru.
Yan Qi Lou memang seperti itu. Cara untuk menangani pria bermartabat dan mempunyai harga diri tinggi tentu saja adalah menyerang mentalnya. Lawan akan marah dan serangan yang sudah bercampur kemarahan penggunanya akan memperlihatkan celah. Dia wanita yang cerdas.
Hanya saja, Yan Qi Lou harus berpikir lagi bila berhadapan dengan sosok seperti Tetua Jing Yufeng. Salah satu patriarch dari Istana Seribu Pedang itu memang tersentak, tetapi sikapnya tidak berubah.
Tetua Jing Yufeng dengan tenang buka suara, "Di masa lalu ... Mungkin aku akan terpancing. Tetapi sekarang ini, waktu sudah membuatku lebih bijaksana, jadi jika kau memang serius dengan ucapanmu---bagaimana jika kita pergi ke tempat yang lebih baik? Kamarku cukup luas,"
Yan Qi Lou berkedip, "Kau ini sudah tidak waras. Apa menjadi perjaka selama bertahun-tahun telah membuat otakmu bergeser?"
"Haaah ... Kebanyakan wanita cantik adalah penjahat, apa yang bisa kulakukan? Atau ..." Tetua Jing Yufeng menggantung ucapannya dan terlihat tersenyum, "Nona Yan Qi Lou ini masih perawan-"
__ADS_1
"Tidak tahu malu!" Yan Qi Lou berang dan kilatan berbahaya berkedip di matanya. Senjatanya menyambar ke arah Tetua Jing Yufeng dan pertarungan pecah di antara mereka.
******