KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
57 - Liu Wei Lin (2)


__ADS_3

"Kau...!!" Yan Tianhen tidak menduga akan mendapat serangan seperti ini. Dia menggeram dan mengumpulkan Qi untuk memberi serangan pada pemuda yang duduk di atasnya.


Namun hal yang aneh terjadi. Yan Tianhen merasa tubuhnya sangat lemah, padahal praktiknya berada di Grand Master Tingkat Langit.


"Tidak mungkin..." Yan Tianhen merasakannya, "Tidak mungkin tubuhku gemetar hanya karena ditatap olehnya."


"Sialan! Lepaskan Tuan Muda Yan!!" rekan Yan Tianhen yang lain berusaha menyerang Xiao Shuxiang, tetapi pemuda itu memutar tubuhnya dan memberinya tendangan yang tepat mengenai dada.


Dao Fang An terkejut. "Ternyata dia bisa bertarung. Kupikir dia hanya Tuan Muda manja yang tidak dapat melakukan apa-apa,"


"Aaakh! Lepaskan aku...!" Yan Tianhen merasakan cengkeraman pada lehernya semakin erat.


Saat pemuda di atasnya menyerang rekannya tadi----pemuda ini tidak pernah melepaskan cengkeramannya sama sekali, bahkan ketika dia memutar tubuh.


Xiao Shuxiang, "Melepaskanmu? Kenapa aku harus melakukannya?"


"Ka-Kau tidak tahu... Si-siapa aku--"


"Kau yang tidak tahu siapa aku," Xiao Shuxiang menyela. "Berani sekali kau bertingkah di depan Yang Mulia ini. Benar-benar pantas mati,"


Kuku jari tangan Xiao Shuxiang mulai menusuk leher Yan Tianhen bahkan darah segar sudah terlihat. Hanya saja, sebelum luka itu parah-----sebuah tangan terulur dan mencengkeram pergelangan tangan Xiao Shuxiang.


!!


Kehadiran sosok itu tidak terdeteksi, hawa keberadaannya benar-benar baru terasa ketika dia telah berada di samping Xiao Shuxiang. Sosok tersebut memakai pakaian merah dengan tangan kanan yang memegang sebuah kipas berwarna senada.


Bibir sosok tersebut tertarik membentuk senyuman lembut, suaranya halus saat berkata. "Saudara Xiao, tidak seharusnya kau menodai tangan indahmu dengan warna darah. Ayo lepaskan dia..."


Sosok yang mencengkeram pergelangan tangan Xiao Shuxiang tidak lain adalah Liu Wei Lin. Belum sempat dia bicara, dua orang rekan Yan Tianhen kembali dan melesatkan serangan yang besar.


!!


Hanya saja dengan sekali ayunan kipas, serangan tersebut langsung ditangkis oleh Liu Wei Lin. Pria tampan yang suka berpuisi tersebut menatap dingin ke arah kedua saudara seperguruannya.


Liu Wei Lin, "Pergi sebelum aku membunuh kalian."


!!


Kalimat itu langsung membuat kedua rekan Yan Tianhen terkejut dan bahkan sulit mengambil napas. Mereka memang memiliki praktik yang tinggi, namun jika dibandingkan Liu Wei Lin----mereka sama sekali tidak ada apa-apanya.


Xiao Shuxiang masih memberi muka pada teman barunya sehingga dia dengan sukarela melepaskan cengkeramannya dari leher Yan Tianhen. Dia pun berdiri dan kemudian mengembuskan napas pelan.

__ADS_1


Liu Wei Lin tersenyum dan merasa kagum dengan pilihan Xiao Shuxiang. Andai orang ini melanjutkan tindakannya barusan, maka dia tidak akan sungkan mendisiplinkan Xiao Shuxiang dengan cara yang sangat kasar.


"Saudara Xiao, kau harus bisa sedikit bersabar..." Liu Wei Lin mengeluarkan sebuah sapu tangan dari lengan bajunya, dia menyerahkannya pada pemuda itu.


Xiao Shuxiang mengambilnya dan mengelap tangannya yang ternoda oleh darah. 


Liu Wei Lin memperhatikan jari-jari pemuda itu dan mendesah pelan, "Sayang sekali jari yang begitu indah harus kotor karena tanah dan darah. Hati ini sangat terluka melihat sesuatu yang indah dinodai..."


"Apa itu salah satu dari sajakmu lagi...?" Xiao Shuxiang telah memperoleh kembali ketenangannya. Namun sepertinya tidak demikian dengan pemuda yang lehernya dia cengkeram tadi.


Yan Tianhen memegang lehernya dan mengeluarkan beberapa kata di sela-sela giginya yang terkatup. "... Pelayan tidak berguna. Akan kubuat kau membayar setiap tetes darah yang kutumpahkan,"


"Siapa yang pelayanmu, huh?" Xiao Shuxiang baru saja akan menendang Yan Tianhen saat suara kakek tua terdengar.


"Xiao Shuxiang...! Apa yang sudah kau lakukan?!"


Xiao Shuxiang menoleh, dia melihat Dao Fang An berjalan ke arahnya. Kakek Tua itu lantas membungkuk hormat pada Liu Wei Lin dan Yan Tianhen. Tidak lupa dia meminta maaf kepada Yan Tianhen yang sungguh membuat Xiao Shuxiang kaget.


Dao Fang An membungkuk semakin dalam. "Tuan Muda Yan, tolong maafkan pemuda ini. Akulah yang membawanya kemari, dia adalah tanggung jawabku. Tolong untuk jangan mengambil hati tindakannya. Aku sungguh meminta maaf atas dirinya,"


Xiao Shuxiang, "Tuan Bangka?! Apa-apaan kau ini. Kenapa kau meminta maaf sambil memohon seperti itu?!"


"Tapi aku tidak melakukan kesalahan. Kenapa harus meminta maaf atas hal yang sama sekali tidak kuperbuat?"


"Xiao Shuxiang...!"


Liu Wei Lin membuka kipasnya, "Tenang Tuan Dao... Anda jangan marah,"


Sambil tersenyum, Liu Wei Lin berkata. "Ucapan Saudara Xiao memang benar. Dia tidak melakukan kesalahan, jadi tidak pantas baginya untuk meminta maaf. Selain itu... Saudara Yan merupakan sosok yang murah hati. Dia pasti tidak akan marah. Benar, kan? Saudara Yan..?"


Yan Tianhen menatap geram ke arah Liu Wei Lin. Luka pada lehernya karena ulah Xiao Shuxiang sudah sembuh sebab dia menggunakan Qi. Meskipun begitu, dia masih tidak terima diperlakukan seperti tadi oleh seseorang yang menurutnya hanyalah pelayan.


"Untuk kali ini saja..." Yan Tianhen menatap Liu Wei Lin, "Karena melihatmu. Aku akan melepaskannya, tapi jika bila dia berani muncul dihadapanku lagi. Jangan harap nyawanya selamat,"


Liu Wei Lin masih tetap tersenyum saat Yan Tianhen melangkah pergi. Dia yakin pria itu pasti tidak akan pernah melepas Xiao Shuxiang.


"Saudara Xiao, kau sekarang harus mulai berhati-hati." Liu Wei Lin menoleh ke arah Xiao Shuxiang, "Jika Tianhen menaruh kebencian pada seseorang. Dia mustahil berhenti sebelum orang itu menderita di tangannya. Dia pria yang berbahaya,"


Xiao Shuxiang sedikit merasa terganggu, tetapi bukan karena dia takut pada Yan Tianhen atau pun takut dengan ucapan Liu Wei Lin. Dia terganggu sebab Yan Tianhen justru pergi begitu saja tanpa niat untuk melawannya.


Haah... Sangat disayangkan. Padahal dipancing sedikit saja, dia pasti akan langsung menerjang pria itu dan mengeluarkan urat lehernya.

__ADS_1


"Sepertinya belum saatnya..." Xiao Shuxiang mengembuskan napas. Dia pun berterima kasih pada Liu Wei Lin karena datang tepat waktu dan membantunya.


Liu Wei Lin mengingatkan, "Hari ini aku menolongmu. Tapi tidak bisa menolong dirimu setiap saat. Jadi Saudara Xiao, sebisa mungkin kau harus menghindari orang-orang seperti Tianhen. Bekerjalah yang baik di sini,"


"Mn, akan kuusahakan."


Liu Wei Lin tersenyum dan kemudian berpamitan. Dia memiliki pertemuan penting hari ini dan tidak bisa bersama Xiao Shuxiang terlalu lama.


Liu Wei Lin, "Aku sepertinya sudah sangat terlambat untuk pertemuan dengan teman-temanku."


Xiao Shuxiang, "Aku minta maaf karena sudah membuat waktumu terbuang."


"Tidak masalah. Kita akan bertemu lagi nanti," Liu Wei Lin tersenyum dan mulai berjalan pergi.


Xiao Shuxiang memperhatikan punggung pemuda itu yang semakin menjauh. Dia belum bisa memastikan pribadi Liu Wei Lin itu. Meski murah senyum dan ramah kepadanya, nyatanya Liu Wei Lin tidak pernah memberi wajah pada Dao Fang An. Bisa dibilang, pria itu tidak menyukai Tua Bangka di sampingnya ini.


Ekspresi Xiao Shuxiang jelas tidak bisa diartikan. Apalagi saat meminta maaf tadi----sama sekali tidak terlihat rasa penyesalan di wajahnya. 


Dao Fang An memperhatikan Xiao Shuxiang dari atas ke bawah. "Tidak memiliki rasa takut dan justru bersikap menantang, apalagi memberi pandangan memprovokasi pada Yan Tianhen. Anak muda ini... Apa dia tidak pernah diajari cara merendah di depan orang yang lebih kuat?!"


Dao Fang An pun melangkah dan lantas melakukan tindakan yang mengejutkan.


!!


Xiao Shuxiang tersentak ketika telinga kanannya dicubit dan ditarik oleh Tua Bangka di sampingnya ini. Dia menatap Dao Fang An tanpa merintih sedikit pun. Jelas sekali dibanding rasa sakit, dia lebih ke arah terkejut.


"Apa yang kau lakukan, Kakek Tua?! Beraninya kau menarik telinga Xiao Shuxiang---Aduh!" 


Xiao Shuxiang akhirnya merintih saat Dao Fang An berjalan sambil menarik telinga kanannya. Dia terpaksa mengikuti pria tua tersebut yang membawanya ke sebuah tempat penangkaran.


"Adu duh! Kakek, lepaskan! Tolong lepaskan!"


"Apa kau tidak bisa mendengarkanku sedikit saja? Aku membawamu kemari dengan syarat kau harus mendengarkan apa pun yang kukatakan. Bahkan meski aku tidak melarangmu ini dan itu, kau harusnya tidak membuat masalah."


"Iya, iya! Ayo bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini,"


Dao Fang An melepaskan telinga Xiao Shuxiang. Dia memperhatikan pemuda itu yang meringis sambil mengusap-usap telinganya.


Xiao Shuxiang baru memperhatikan sekelilingnya. Tempat ini adalah sebuah penangkaran kuda. Saat mengetahuinya, angin secara bersamaan berhembus kencang dan melambaikan pakaiannya.


******

__ADS_1


__ADS_2