KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
134 - Sesuatu Yang Tidak Terduga (4)


__ADS_3

Mo Huai benar-benar diantar oleh Lan Guan Zhi ke kamarnya. Dia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih. Dirinya pun baru masuk ke dalam ketika Lan Guan Zhi yang berjalan tidak lagi terlihat.


Mo Huai mengembuskan napas dan menutup pintu kamarnya. Hanya saja ketika membalikkan badan, dia terkejut dengan kehadiran orang lain di dalam ruangan ini. Apalagi sosok yang duduk di pinggir salah satu tempat tidur itu adalah seorang wanita yang tak lain merupakan tetua dari Gunung Puncak Jin Cheng.


Mo Huai sulit menelan ludah, dia pun dengan gugup menghampiri wanita yang rambut serta pakaiannya berantakan itu. Dia memberi hormat dan dengan suara yang gugup mulai menyapa tetua Gunung Puncak Jin Cheng.


"Tetua Meng..." Mo Huai membungkuk dengan pandangan ke bawah.


Wanita yang disapa Mo Huai ini tidak lain adalah Tetua Meng Hao Niang. Alkemis yang tidak hanya terkenal di Sekte Lautan Awan, tetapi juga di Alam Kultivasi Atas. Sayangnya, butuh keberuntungan untuk bisa mendapat pengobatan dari wanita yang selalu membawa botol labu berisi arak itu.


"Kau .... Siapa?" Tetua Meng Hao Niang menyipitkan matanya. Dia membuat pemuda di depannya tersentak.


"Ehm... Tetua, saya Mo Huai. Anda pernah bertemu denganku sebelumnya," Mo Huai sebenarnya merasa heran karena wanita ini seakan tidak mengenalinya. Padahal bisa dibilang, dia sering kali bertemu Tetua Meng Hao Niang----apalagi ketika berada di ruangan belajar.


Tetua Meng Hao Niang sendiri nampak memasang wajah yang biasa, tapi jujur itu sebenarnya wajah seorang pemabuk yang berat. Dia pun berujar, "Oh.... Kau anak yang penurut itu. Aku tahu, aku tahu."


Mo Huai bernapas pelan saat melihat wanita di hadapannya kembali meminum arak yang ada dalam botol labu. Dia pun dengan gugup bertanya, "Apa .... Tetua Meng ingin kuambilkan makan malam?"


Mo Huai tahu benar bahwa Tetua Meng Hao Niang masih belum menganggapnya sebagai murid. Tapi dia tetap berusaha untuk bersikap baik. Biar bagaimanapun, dia menghadiri Konferensi Aliansi Abadi sebagai murid dari tetua Gunung Puncak Jin Cheng ini.


Tetua Meng Hao Niang melambaikan tangannya, "Tidak perlu lakukan itu. Pergi dan istirahat saja, aku sudah merasa cukup dengan benda ini."


"Tetua Meng, bukankah tidak baik jika Anda terus meminum arak itu? Dampak minum arak setiap hari sangat berbahaya bagi tubuh Anda. Biar kuambilkan sesuatu untuk Anda makan---"


"Bocah," Tetua Meng Hao Niang menyela. "Sudah kubilang tidak perlu. Jika aku lapar, akan kucari makanan sendiri. Kau pikir aku setua bangka apa hingga harus dirawat olehmu, huh?"


Tetua Meng Hao Niang berdiri dan nampak berjalan dengan langkah yang oleng. Mo Huai terkejut ketika kaki wanita itu tersandung dan nyaris jatuh. Tingkah tetua dari Gunung Puncak Jin Cheng ini sangat bisa membuat jantung latihan.


"Te-Tetua, hati-hati...!" Mo Huai ngeri dan begitu cemas melihat cara berjalan Tetua Meng Hao Niang. Dia terkejut saat wanita itu membanting meja kayu karena sudah menghalangi jalannya.


"Dia benar-benar pemabuk yang berat," ekspresi wajah Mo Huai berubah pucat. Dia berseru ketika Tetua Meng Hao Niang membuka jendela dan melompat keluar. Hanya saja detik itu juga dia mendengar suara gedebuk yang cukup keras.


"Tetua Meng...!?" Mo Huai bergegas memeriksa kondisi alkemis pemabuk itu dan menemukan Tetua Meng Hao Niang duduk di tanah sambil menggaruk pelan kepalanya.


"Tetua..."


Meng Hao Niang kembali meminum arak pada botol labu miliknya dan tersentak saat araknya ternyata sudah habis. Dia pun berdiri dan menoleh ke arah pemuda yang sejak tadi terus mencemaskannya.


Meng Hao Niang beserdawa, "Siapa namamu tadi...?"


Mo Huai mencium bau arak yang sangat tajam. Dia pun menahan napas dan menjawab pertanyaan dari Tetua Meng Hao Niang.


"Sa-saya Mo Huai, Tetua."


"Bocah Penurut, aku akan pergi dan kau tidak perlu menungguku. Tidur saja dan tutup jendela ini, kau mengerti?" Meng Hao Niang berbalik dan tanpa menunggu respon Mo Huai----dia langsung melesat pergi.


"Tetua Meng...?!" Mo Huai tercengang dengan sifat salah satu tetua Sekte Lautan Awan itu. Dia pun berkedip beberapa kali saking tidak percayanya.

__ADS_1


*


*


Di tempat lain, Wang Zhao terlihat serius memandang Xiao Shuxiang yang sedang bertopang dagu sambil memandang keluar jendela. Sudah sangat lama dia memperhatikan pemuda yang tangan kanannya dibalut kain putih itu.


"Wang Zhao," Xiao Shuxiang bicara tanpa menoleh. "Kau dapat jatuh hati jika terus memandangiku seperti itu,"


Wang Zhao tersentak, dia menjadi salah tingkah. "A-aku bukan orang seperti itu. Astaga .... Tuan Xiao, tolong jangan katakan hal yang membuat merinding,"


Xiao Shuxiang berbalik dan melihat Wang Zhao yang mengusap-usap dadanya. Dia pun menggeleng, "Makanya kau jangan menatapku terus. Belakang leherku ini dingin karena merasa diintai olehmu,"


"A-aku hanya penasaran." Wang Zhao berusaha menenangkan dirinya, "Tuan Xiao terus memandang keluar jendela sejak tadi. Rasanya seakan Tuan Xiao sedang menunggu seseorang,"


"Benar. Aku memang sedang menunggu Kucing Putihku, dia bilang akan datang berkunjung." Xiao Shuxiang kembali menopang dagunya dan memandang keluar jendela, dia bergumam. "Tapi kenapa dia belum juga datang...? Apa mungkin Kucing Putih tersesat?"


Wang Zhao mengembuskan napas, "Nona Ling memang mengatakan akan berkunjung. Tapi jika kuingat-ingat lagi, Nona Ling tidak mengatakan akan menemuimu malam ini. Benar, kan?"


Xiao Shuxiang tersentak dan langsung menoleh. Dia baru saja akan merutuki Wang Zhao ketika mendengar suara tawa seorang gadis yang sangat dirinya kenali. Entah kenapa, telinganya sekarang agak memanas.


"Saudara Wang, ucapanmu bagus sekali. Itu sangat menusuk sampai aku bisa mendengar suara harga diri yang patah."


Xiao Shuxiang berdecak kesal dan lalu berujar, "Zhi Shu..! Turun dari sana sebelum aku menarikmu ke bawah."


Wang Zhao mendengar suara gemerisik dan menengadah. Dia melihat beberapa genting diangkat dan pelakunya tidak lain adalah Zhi Shu. Gadis cantik itu memang sudah sejak tadi berada di atap.


Xiao Shuxiang menggeleng, "Kau ini tidak ada pekerjaan lain? Bukankah sudah kukatakan untuk pergi ke kamarmu dan tidur?"


"Hmph, bujukanmu tidak mempan." Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan lalu menengadah. Dia berujar serius, "Apa kau tidak pernah mendengar sebuah pepatah yang mengatakan, 'Semakin sedikit kau mencampuri urusan orang lain. Maka semakin panjang usiamu,'?"


Zhi Shu berkedip dan dengan polos menjawab, "Ehm... Tidak. Aku hanya pernah mendengar pepatah yang mengatakan, 'Malu bertanya. Sesat dijalan.'"


"Waah," Xiao Shuxiang terkesan. "Kau belajar dari siapa?"


"Hmph, Saudara Xiao. Apa kau pikir di Sekte Kupu-Kupu para muridnya hanya berguling-gulingan di tanah sambil memegang perut dan merintih meminta makanan? Kami juga belajar tahu,"


Xiao Shuxiang berkedip, "Benarkah? Tapi aku tidak pernah melihat kalian duduk sambil memegang buku. Bahkan aku ingat jelas, bangunan yang harusnya dijadikan perpustakaan justru diubah menjadi gudang sepatu butut kalian."


Wang Zhao tercengang mendengar ucapan Xiao Shuxiang. Dia berkedip dan bertanya dengan gugup, "Sebenarnya... Seperti apa perguruanmu itu, Tuan Xiao?"


Xiao Shuxiang menoleh dan kemudian menjawab dengan helaan napas yang berat. "Itu sebenarnya sekte yang indah andai tidak dilihat dari segi kebiasaan para muridnya."


"Saudara Xiao, kau pikir karena meniru siapa mereka jadi seperti itu?" Zhi Shu protes, nada suaranya jelas sedang menyalahkan Xiao Shuxiang.


Zhi Shu berkata, "Banyak anak-anak yang awalnya seperti kertas putih menjadi liar layaknya hewan buas setelah belajar di sana. Aku saja sampai merinding melihat tingkah para saudara juniorku,"


"Yang bertanggung-jawab adalah kalian. Aku sendiri justru sangat jarang pulang, jadi jangan menyalahkanku." Xiao Shuxiang membela diri.

__ADS_1


Wang Zhao berkedip menyaksikan perdebatan antara pemuda mempesona di depannya dengan gadis cantik yang ada di atap kamarnya. Dirinya jadi merasa bahwa Sekte Kupu-Kupu tidak seperti perguruan dalam bayangannya.


Zhi Shu. "Saudara Xiao, kau adalah 'Senior Besar' bagi mereka. Tentu saja kau dijadikan sebagai panutan. Mereka banyak belajar darimu,"


Xiao Shuxiang berdecak beberapa kali, dia pun meminta Wang Zhao menunggu sementara dirinya keluar lewat jendela dan naik untuk bicara dengan Zhi Shu.


Xiao Shuxiang menapak lembut di atap dan kemudian mengembuskan napas saat melihat gadis cantik berpakaian putih itu. Dia pun menghampiri Zhi Shu dan berkata, "Aku tahu Xiao Shuxiang ini sangat luar biasa. Tapi merupakan hal yang buruk jika aku dijadikan 'Panutan'. Apa kalian tidak bisa memilih orang lain? Pilih orang seperti Lan Guan Zhi."


Zhi Shu kembali meletakkan genting dan menutup lubang di atap. Kehadiran Xiao Shuxiang di dekatnya sudah tidak lagi membuatnya harus mengeraskan suara.


Zhi Shu berkata, "Tuan Muda Lan bagai 'hukuman besar' bagi kami. Aiih... Sangat sulit meneladani satu kebiasaannya. Aku saja tidak berani menjadikan Tuan Muda Lan sebagai panutan,"


Xiao Shuxiang duduk di samping Zhi Shu dan tersenyum meledek, "Itu karena kau serta para saudaramu tidak pernah bisa diam."


"Mereka juga saudaramu, kau ini---"


"Zhi Shu," Xiao Shuxiang menyela ketika gadis di sampingnya hendak merutuk. Suaranya pelan dan ini membuat Zhi Shu tersentak.


"Ada apa?" entah kenapa suasana di sekitar Zhi Shu mendadak berubah.


"Saat mengungkit tentang 'buku' tadi .... Aku jadi ingat sesuatu." Xiao Shuxiang menggeser posisi duduknya dan lalu menatap serius gadis di sampingnya. Dia membuat Zhi Shu gugup.


"Sa-Saudara Xiao...?"


"Kudengar dari Lan'Er .... Sekte Kupu-Kupu kita memiliki lembaran dari 'Kitab Pembunuh Matahari'. Lan'Er juga berkata kau membawanya naik ke Alam Kultivasi Atas. Apa .... Sekarang kau membawa benda itu?"


Zhi Shu terkejut bukan main ketika mendengar nama 'Kitab Pembunuh Matahari' disebutkan. Ekspresi wajahnya berubah dan dia menatap Xiao Shuxiang dengan sangat serius. Zhi Shu sampai menahan napas.


"Shu'Er...?"


"Ayo bahas itu di tempat lain," nada suara Zhi Shu begitu berbeda.


"Tidak perlu, di sini saja. Tempat ini jauh lebih aman,"


Zhi Shu menatap dalam Xiao Shuxiang. Pemuda di sampingnya juga terlihat sangat serius. Dia pun bernapas pelan dan mulai buka suara.


"Saudara Xiao, apa yang dikatakan Tuan Muda Lan memang benar. Sekte kita juga memiliki lembaran dari kitab kuno itu,"


"Bagaimana kalian bisa mendapatkannya?" Xiao Shuxiang tahu ini pembahasan yang sensitif, apalagi itu dibuktikan dari raut wajah Zhi Shu dan ekspresi wajahnya sendiri.


"Saudara Xiao, kau akan sangat terkejut dan kesal sama sepertiku saat mendengarnya." Zhi Shu bernapas pelan dan berkata, "Kitab yang selama ini diajarkan kakek, kitab yang hanya berisi tiga lembar di dalamnya itu tidak lain adalah bagian dari Kitab Pembunuh Matahari."


Xiao Shuxiang membeku, dia berkedip saat melihat Zhi Shu manggut-manggut seperti memberi kepastian bahwa dirinya tidak salah dengar. "Z-Zhi Shu, maksudmu kitab...."


"Kitab yang kakek dapatkan dari penjual kacang dan dijadikan sebagai kitab jurus milik Sekte Kupu-Kupu. 'Kitab bekas penjual kacang.'" Zhi Shu menekan sekali lagi kata-katanya dan membuat Xiao Shuxiang tanpa sadar membuka mulut lebar.


!!!

__ADS_1


"Ya Tuhan ...."


******


__ADS_2