![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Di wilayah perbatasan, para kultivator yang sedang bertarung dengan penjaga istana mulai merasakan sesuatu pada tubuh mereka. Ada yang raut wajahnya mulai pucat dan tidak sedikit yang merasakan sesak pada dada mereka.
"Ada apa ini?"
"Hok ohok, apa yang terjadi?"
Dua orang kultivator dari Bukit Bunga Persik nampak tersengal-sengal. Mereka sebelumnya baik-baik saja, tetapi entah bagaimana napas keduanya mulai tidak beraturan. Padahal jelas bahwa mereka menghindari serangan lawan dengan sangat baik.
Salah seorang penjaga istana yang melihat perubahan pada lawannya itu mulai mendengus. Dia tersenyum dan berkata, "Sepertinya mulai bekerja ... Apa kalian bahkan belum menyadarinya?"
!!
"Apa maksud kalian?!" seorang kultivator membentak. Dia menghunuskan pedang miliknya ke arah lawan.
Penjaga istana itu tertawa dan kemudian berkata, "Wilayah ini dipenuhi tumbuhan beracun dan berpengaruh pada udara di sekitar kalian. Apa kalian sama sekali tidak menyadarinya?"
Para kultivator itu terkejut. Mereka tahu wilayah Sekte Lembah Iblis mempunyai banyak tumbuhan beracun dan karena itulah mereka selalu berhati-hati. Tetapi tidak disangka bahwa tumbuhan ini akan mempengaruhi udara di sekitarnya.
Kesalahan sefatal ini jelas membuat para kultivator itu kesal. Sekarang akhirnya mereka tahu bahwa udara beracun inilah yang sudah membuat tubuh mereka makin lama makin melemas.
Di sisi lain, para penjaga istana nampak menertawakan kecerobohan lawan mereka. Salah seorang di antara para penjaga istana itu berkata, "Kalian pikir bisa menyudutkan kami ... Di wilayah kami sendiri? Hmph, khayalan kalian terlalu tinggi."
"Aku jadi kasihan ... Rasanya seperti menindas anak kucing."
"Bunuh saja mereka dahulu, setelah itu baru kita kasihani mereka. Ha ha ha,"
Seorang kultivator memegang kuat pedang miliknya. Dia menyelimuti pedang tersebut dengan energi spiritual sebelum mulai menggeram marah, "Coba saja kalau kalian bisa membunuh kami..!"
"Hah, masih tidak sadar diri. Bunuh mereka!"
!!
Pertarungan sengit kembali berlangsung, bahkan kini semakin menjadi. Hanya saja memang yang disulitkan dalam hal ini adalah para kultivator yang menjadi lawan anggota dari Sekte Lembah Iblis.
Banyak tumbuhan beracun di tempat ini dan udara yang ada di sekitar pun menjadi musuh alami para pendekar. Jujur saja, mereka tidak terbiasa dengan udara yang mengandung racun dan ini akan menghambat pergerakan mereka.
Tetua Chen Duan Shan yang saat ini sedang bertarung dengan seorang kultivator Sekte Lembah Iblis mungkin tidak terlalu terpengaruh dengan udara yang mengandung racun, itu karena dia mempunyai praktik yang cukup tinggi.
__ADS_1
Apalagi, Tetua Meng Hao Niang tanpa ragu memberi Tetua Chen Duan Shang salah satu pil buatannya. Pil tersebut bisa mengurangi pengaruh dari udara beracun yang masuk ke dalam tubuh.
Shen Gu, seorang penjaga istana nampak memuntahkan darah. Ekspresi wajahnya pucat. Dia terlalu meninggikan diri dan berani melawan Tetua Meng Hao Niang yang jelas-jelas terlalu kuat untuknya.
Shen Gu tersentak saat sebuah tali tiba-tiba melilit tubuhnya. Dia ditarik ke salah satu pohon dan digantung tanpa bisa melakukan perlawanan. Tali yang mengikatnya pun bukan sembarangan, ini adalah Tali Pengikat Abadi.
"Kurang ajar! Lepaskan aku..! Lepaskan aku, sialan! Ukh," Shen Gu berusaha untuk memberontak, tetapi usahanya sia-sia belaka.
Rekan-rekan Shen Gu yang lain juga mengalami luka karena bertarung melawan Tetua Meng Hao Niang. Tali Pengikat Abadi juga melilit tubuh mereka dan tidak butuh waktu lama sampai posisi mereka semua sama seperti yang dialami oleh Shen Gu.
Tetua Meng Hao Niang menatap para penjaga istana itu dan menyaksikan bagaimana mereka memberontak sambil mengumpat tidak jelas. Dia pun dengan suara yang datar berkata, "Harusnya kalian bersyukur karena aku tidak sampai hati membunuh kalian semua. Tetaplah di sini dan tidak perlu banyak bergerak,"
"Tetua Meng! Anda tidak bisa melakukan ini pada kami..!! Lepaskan kami sekarang juga! Lepaskan!"
"Tetua Meng! Kau harusnya menghadapi kami, tidak dengan cara seperti ini..!!"
"Kalian sudah terluka parah, apalagi yang bisa kulakukan?" Tetua Meng Hao Niang tanpa nada berkata, "Tunggu saja di sini dan jangan banyak protes. Aku tidak mau merasa bersalah karena tidak menebas kepala kalian,"
Shen Gu memuntahkan darah. Dia pun tersentak saat melihat Tetua Meng Hao Niang mulai berjalan pergi. Segera, dia pun berseru. "Tidak bisa seperti ini..! Kau sudah meremehkan kami..!! Kembali kemari dan ayo bertarung!"
Tetua Meng Hao Niang menangkao kembali botol labu miliknya dan lalu berujar tanpa ekspresi, "Jika saja aku tidak punya pekerjaan lain, maka kalian tidak akan mungkin hanya berakhir tergantung di situ."
Para penjaga istana kembali menyerukan nama Tetua Meng Hao Niang, alhasil mereka semua ditimpuk oleh botol labu dari wanita itu hingga tidak sadarkan diri. Tetua Meng Hao Niang pun melesat menuju Istana Teratai Hitam dengan kecepatan yang tinggi.
*
*
Di tempat yang jauh, Xiao Shuxiang baru saja menyerang sebuah pintu besar dengan memakai pedang pusakanya. Dia langsung disambut oleh pemandangan luar biasa.
Tanpa sadar, Xiao Shuxiang menahan napas. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyaksikan ada banyak sekali gunungan koin emas dan juga benda-benda berharga lainnya.
"Luar biasa ..." Xiao Shuxiang berdecak kagum sambil menggeleng pelan. "Sungguh luar biasa. Bagaimana mereka bisa mengumpulkan harta sebanyak ini? Hebat sekali ..."
Xiao Shuxiang berjalan ke salah satu tumpukan emas dan mulai mengulurkan tangannya. Dia mengambil sebuah guci dan mengangkatnya. Dia yakin bahwa benda di tangannya pun mempunyai harga jual yang tinggi.
Xiao Shuxiang menggeleng dan lantas meletakkan kembali guci yang dipegangnya, "Aku benar-benar ingin mengosongkan tempat ini. Tapi ..."
__ADS_1
"Aiih, sayang sekali sekte ini milik Wang Zhao. Jika ini punya orang lain, maka aku pasti tidak akan ragu. Hmm ... Apa kuambil beberapa? Satu gunungan emas menghilang tidak akan disadari siapa pun, kan?"
Xiao Shuxiang dengan cepat menepis pikiran tidak baiknya, "Jangan lakukan itu, Shuxiang. Kau sudah menjadi sultan sekarang, tidak butuh benda berkilau yang menggiurkan ini. Pikirkan saja tentang tujuanmu kemari-!!"
Xiao Shuxiang tersadar ketika sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia pun bergegas mencari benda incarannya di dalam ruangan ini dan bahkan sampai mengerahkan beberapa kupu-kupu bersayap putih miliknya.
"Kenapa berisik sekali di luar? Apa yang mereka lakukan?" Xiao Shuxiang sedikit terganggu, apalagi ketika lantai tempat kakinya berpijak mulai bergetar.
"Kitab Pembunuh Matahari ... Aku harus mendapatkan benda itu, tapi ada di mana..?" Xiao Shuxiang mengedarkan pandangan ke sekeliling, "Apa tempat ini memiliki ruang rahasia lainnnya?"
Xiao Shuxiang terus mencari. Tidak mudah sebenarnya untuk bisa sampai ke tempat ini, bahkan di luar ruangan yakni lorong tempat dia berjalan tadi---terlihat banyak sekali bekas pertarungan dan para penjaga istana yang menjadi tulang-belulang serta gumpalan daging.
Xiao Shuxiang tidak ragu membunuh mereka yang sengaja menghalangi jalannya, namun ada juga penjaga yang berpura-pura tidak melihatnya dan justru melarikan diri.
Xiao Shuxiang tidak masalah dengan itu, justru harusnya para penjaga di istana ini bisa melakukan tindakan yang sama agar nyawa mereka selamat. Sangat disayangkan ada orang yang lebih suka mati di ujung pedangnya.
"Tuan,"
Xiao Shuxiang menoleh saat mendengar suara bagaikan anak kecil dari salah satu kupu-kupu miliknya. Dia pun tanpa nada berkata, "Ada apa? Kau menemukan sesuatu?"
Kupu-kupu cantik itu melayang perlahan di depan Xiao Shuxiang dan buka suara, "Kitab yang Tuan cari tidak ada di sini."
Xiao Shuxiang tersentak, tetapi tidak menyerah. Dia pun berkata, "Bagaimana dengan ruangan rahasia di tempat ini?".
"Tidak ada ruangan semacam itu. Kami sudah memeriksanya dengan baik,"
"........... Jika memang tidak ada di sini, maka kemungkinan benda itu berada di tempat lain. Kurasa ..."
Xiao Shuxiang berbalik, melihat ke arah luar tempat ini. Keningnya mengerut karena merasa sudah mendengar suara ledakan yang lebih besar dan tidak butuh waktu lama sampai dirinya pun mulai mendongak.
Langit-langit di atas Xiao Shuxiang adalah batu yang berbentuk runcing. Karena suara keras yang bukan hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam membuat batu runcing itu bergoyang dan kemudian terjatuh.
!!
Xiao Shuxiang terkejut, tetapi masih bisa merespon dengan gerak badan yang sempurna. Dia mengayunkan pedangnya dan menyerang batu runcing yang jatuh hampir mengenainya.
******
__ADS_1