![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Mata Jian Yang membulat saat tersadar ada yang salah. Dia merasakan tangan Lan Guan Zhi menyentuh punggungnya dan seakan menulis sesuatu dengan memakai jari tangan. Detik itu juga terdengar gemuruh di dalam dadanya.
Li Huanshuo yang juga ikut menyerang mengalami hal yang sama. Dia sampai membeku di tempat sebelum akhirnya menoleh ke arah Lan Guan Zhi yang berdiri penuh wibawa.
"Apa yang sudah kau lakukan?!" keterkejutan yang tidak bisa dijelaskan terlihat di wajah Li Huanshou.
"Kau!" Jian Yang juga ikut meradang. Raut wajahnya berubah pucat, "Teknik Iblis Apa Yang Kau Lakukan Padaku?!"
".........."
?!
Para murid yang menonton kejadian itu dan mendengar jelas teriakan Jian Yang menjadi sangat penasaran. Mereka tidak Lan Guan Zhi memotong lengan kedua lawannya apalagi memberi mereka luka yang serius, namun entah mengapa raut wajah Jian Yang dan Li Huanshou seperti baru saja melihat dewa kematian.
Bukan tanpa alasan Jian Yang dan Li Huanshou yang begitu terkejut sekaligus panik itu. Entah bagaimana menjelaskan ini, tetapi sejak Lan Guan Zhi menyentuh punggung mereka----sejak saat itu Jian Yang dan Li Huanshou tidak lagi bisa merasakan Qi.
Benar. Mereka tidak bisa merasakan Qi sama sekali. Seluruh meridian mereka seperti ditutup. Jangankan aliran Qi di dalam tubuh, keduanya bahkan tidak bisa merasakan kehadiran inti spiritual mereka.
"Apa-apaan ini..?! Teknik macam apa ini?!" Jian Yang begitu pucat, untuk pertama kalinya dia merasakan pedang yang dia genggam sangatlah berat.
Lan Guan Zhi tidak mengucapkan sepatah kata pun dan langsung memberi tendangan yang mengenai pelipis kanan Jian Yang hingga pemuda itu terpental sejauh lima meter. Dia juga memberi serangan yang sama pada Li Huanshou.
Aaakh..!!
Gerakan Lan Guan Zhi benar-benar hanya kekuatan fisiknya, namun rasa sakit dari serangan tersebut membuat Jian Yang dan Li Huanshou mengerang di samping keterkejutan yang masih setia terlihat di wajah mereka.
"Ukh..! Kekuatanku..." Jian Yang berusaha bangun, tetapi punggung dan pelipisnya berkedut sakit. Dia melihat Lan Guan Zhi berjalan mendekat ke arahnya. Tetesan darah terlihat pada sela-sela jari pemuda itu.
Dengan meridian yang tertutup, Jian Yang dan Li Huanshou tidak lebih dari manusia biasa. Kenyataan itu sangat menakutkan, benar-benar sebuah mimpi yang amat buruk.
"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADAKU?!" teriakan histeris dari Jian Yang sangatlah mengejutkan, dia jelas tidak akan terima jika kekuatannya bisa sampai menghilang tanpa jejak seperti ini.
Lan Guan Zhi berekspresi tenang, namun tatapan mata jernihnya begitu dingin. Dia pun bersuara, "Kalian kalah."
"LAN GUAN ZHI..!" Li Huanshou berteriak, "Jelaskan apa yang kau lakukan pada kami. Teknik apa yang kau gunakan!"
"Segel."
Ucapan bernada dingin itu bagaikan sambaran petir di telinga Jian Yang dan Li Huan Shou. Wajah mereka semakin memucat.
Jian Yang merasakan tenggorokannya sakit, dia jelas sangat terguncang. "Segel... Segel macam apa yang bisa semengerikan ini?"
Li Huanshou juga merasakannya, "Tidak mungkin..." tubuhnya sampai gemetar saking tak percayanya.
Melihat kedua lawannya yang begitu terguncang membuat Lan Guan Zhi teringat akan wajah anak kecil berusia 7 Tahun yang dahulu pernah membuat masalah di sektenya.
Segel miliknya memang sangatlah menakutkan. Kultivator hebat yang terkena segel ini dan meridiannya tertutup akan kembali menjadi manusia biasa, bahkan lebih lemah lagi. Jika segel ini tidak bisa dihilangkan, maka julukan 'lebih buruk dari sampah' dapat melekat pada nama kultivator itu.
__ADS_1
"Tidak... Tidak!" Jian Yang menggeleng, dia mendongak saat menatap Lan Guan Zhi yang berdiri di hadapannya. Dia panik, "Kau tidak bisa melakukan ini. Kau tidak bisa membuatku seperti ini..! Lepaskan segelnya! Cepat lepaskan!"
"Lima puluh cambukan," Lan Guan Zhi tidak merespon ucapan Jian Yang.
"Apa maksudmu?!" Jian Yang jelas syok mendengarnya. Dia kembali terkejut saat Lan Guan Zhi bersuara lagi."
"Enam puluh cambukan,"
"Kau!" Li Huanshou berniat meninju Lan Guan Zhi, tetapi tangannya tiba-tiba ditahan dan dipelintir hingga dia menjerit.
"Tujuh puluh cambukan,"
Li Huanshou terkejut, "Lan Guan Zhi..! Apa yang kau katakan ini, hah?!"
"Yang kalah menuruti ucapan yang menang. Delapan puluh cambukan."
Jian Yang kaget, "Kau gila! Kau mau membunuh kami, hah?!"
"Sembilan..." Lan Guan Zhi menggantung ucapannya dan menatap dalam ke arah Jian Yang, "Protes lagi. Hukuman kembali ditambah. Sembilan Puluh Cambukan."
!!
Zhang Shan dan para murid Istana Seribu Pedang bahkan tidak sanggup berkata-kata melihat pemandangan itu. Tidak sedikit di antara mereka yang tanpa sadar membuka mulut lebar saking terkejutnya.
"Aduh, tu-tunggu! Kau lepaskan segel ini dulu," Jian Yang berusaha memberontak saat kerah belakang lehernya ditarik oleh Lan Guan Zhi.
"Ah! Ka-kami bisa jalan sendiri, aduh!" Li Huanshou merintih. Bokongnya terasa panas akibat diseret oleh pemuda tampan berpita dahi ini.
"Melawan, hukuman ditambah. Sembilan puluh lima cambukan."
!!
Jian Yang dan Li Huanshou tidak lagi mencoba memberontak. Sembilan puluh lima cambukan----jika dengan kekuatan mereka yang biasa, itu sama sekali bukan apa-apa.
Namun masalahnya sekarang adalah meridian mereka ditutup. Sembilan puluh lima cambukan----jika mereka tidak mati, maka mereka pasti akan setengah mati.
"Lan Guan Zhi..." Jian Yang membujuk, "Kau tidak bisa melakukan hal semacam ini pada kami. Lepaskan segelmu, ayo bicarakan baik-baik."
Li Huanshou, "Biarkan kami jalan sendiri. Apa kau harus menyeret kami seperti bocah berandalan? Celanaku hampir lepas, menyebalkan!"
"Shuxiang..."
?!
Li Huanshou dan Jian Yang mengerutkan kening saat mendengar gumaman sosok yang sedang menyeret mereka. Rasanya Lan Guan Zhi sama sekali tidak dengar apa yang barusan mereka katakan.
*
__ADS_1
*
"Haachiiu..!" Xiao Shuxiang mengusap-usap hidungnya dan bersyukur. Dia serius memperhatikan peta yang diberikan Wang Zhao padanya sambil duduk di atas sebuah batu besar.
"Semoga panjang umur,"
Xiao Shuxiang spontan menengadah saat mendengar suara pria. Dia melihat Liu Wei Lin duduk bersandar pada salah satu dahan pohon sambil tersenyum ke arahnya.
Liu Wei Lin menutup kipas merahnya dan kemudian melayang turun. Dia ikut duduk di samping Xiao Shuxiang dan menyapa pemuda itu.
"Saudara Xiao, apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang melihat peta---" Xiao Shuxiang kembali bersin lagi dan ini membuat Liu Wei Lin berkedip. "Aiya, tidak biasanya aku seperti ini."
"Saudara Xiao, kau sedang masuk angin yah?" Liu Wei Lin spontan bertanya dan secara spontan juga memeriksa suhu tubuh teman barunya dengan punggung tangan kanan yang disentuhkan pada dahi Xiao Shuxiang.
"Saudara Liu, angin mana yang berani mencari gara-gara denganku? Ini pasti karena Lan'Er sedang ingat padaku. Saat aku bersin, tiba-tiba aku ingat padanya. Entah apa yang dia lakukan sekarang..."
Liu Wei Lin mengerutkan kening saat mendengar ucapan aneh dari teman barunya itu. Dia pun bertanya, "Lan'Er...? Kekasihmu?"
Xiao Shuxiang tersentak dan spontan menoleh, "Kau bercanda? Dia teman baikku. Tolong jangan cepat mengambil kesimpulan seaneh itu. Aku merinding mendengarnya,"
Liu Wei Lin membuka kipasnya dan kembali bersuara, "Mm... Tapi aneh saja kau langsung teringat padanya saat bersin. Apalagi kau berkata dengan pasti bahwa bersinmu itu karena perempuan bernama Lan'Er sedang ingat padamu."
"Saudara Liu, Lan'Er itu laki-laki. Aku saja yang suka merusak namanya dengan memakai imbuhan 'Er' pada marganya. Tolong jangan salah paham,"
Liu Wei Lin berkedip dan kemudian mendengus pelan, "Serius. Saudara Xiao? Kau punya ikatan batin dengannya?"
Xiao Shuxiang mengangkat bahu, "Entahlah. Tiba-tiba saja aku jadi ingat padanya. Dia sebenarnya adalah jenis teman baik yang paling sulit ditemukan. Aku sangat bersyukur bisa mengenalnya. Lain kali akan kukenalkan padamu, dia anak yang berbakat."
Liu Wei Lin, "Kau terlihat senang. Apa dia saudara angkatmu?"
"Tidak, aku bertemu dengannya saat dia berusia 9 Tahun. Pertemuan yang tidak disengaja. Awalnya kami sama sekali tidak akrab, dia anak yang menyebalkan tapi juga rival yang hebat."
"Tidak ada pertemuan yang kebetulan, semua itu sudah ditakdirkan..." Liu Wei Lin memainkan kipasnya dan menatap ke arah langit, "Sama seperti helaian daun yang berguguran. Satu persatu... Mereka jatuh karena telah ditakdirkan. Sama seperti pertemuan kau dan aku... Kita juga sudah ditakdirkan."
Liu Wei Lin bersyair dan jujur saja terdengar agak menggelikan. Xiao Shuxiang sedikit tidak fokus memperhatikan peta di tangannya.
Aiya, sekarang mendengarnya bicara begitu membuatku mengingat paman Tian Feng."
Xiao Shuxiang akhirnya buka suara, "Saudara Liu. Kau datang kemari apa hanya sekadar berkunjung atau membutuhkan sesuatu?"
"Aku hanya datang berkunjung sekaligus memang ingin sesuatu,"
Xiao Shuxiang memang sangat bisa membuat Liu Wei Lin kembali normal, setidaknya tidak lagi bersyair seperti tadi. Dia pun tersenyum ramah dan bertanya, "Memang apa yang kau inginkan?"
"Kau kenal Nona Ling, kan? Aku butuh bantuanmu,"
__ADS_1
?!
******