![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Mo Huai begitu tegang dan ketakutan. Dia sebelumnya tidak pernah berada di situasi di mana dirinya bisa sampai diculik. Dia bahkan banyak banyak berpikir tentang bagian mana dari sikapnya yang menyinggung orang-orang.
!!
Ekspresi pucat terlihat di wajah Mo Huai. Dia berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya meski sangat sakit.
"Tidak bisa lepas. Ba-bagaimana ini?!" Mo Huai panik, dia bahkan sampai berkeringat dingin. Apalagi saat matanya mulai melihat ada dua orang berpakaian hitam mendekat. Mereka mempunyai aura yang tidak biasa dan jujur membuatnya luar biasa takut.
"Si-siapa kalian?! A-apa yang kalian mau da-dariku?!" suara Mo Huai gemetar. Dia sama sekali tidak punya keberanian menghadapi pria yang terlihat kuat di hadapannya ini.
Dua orang yang berdiri di hadapan Mo Huai adalah kultivator bernama Fei Chi dan Gu Jiaqi. Keduanya menutupi wajah dengan kain hitam untuk berjaga-jaga agar tidak dikenali.
Mo Huai diculik dan dikurung di dalam sebuah gua yang mereka temukan sebelum datang ke kota ini. Lokasi ini sendiri merupakan gua yang kosong dan bahkan jarang ditinggali oleh binatang buas atau Demonic Beast. Tempat yang sesuai untuk menyembunyikan seseorang dan membiarkannya mati mengenaskan.
"Tuan Muda Mo, aku akan langsung saja." Fei Chi buka suara, "Katakan semua yang kau tahu tentang Xiao Shuxiang."
?!
Mo Huai terkejut. Ada apa ini sebenarnya?! Dia diculik hanya agar dia membicarakan Xiao Shuxiang?!
"A-aku..." Mo Huai menelan ludah dan berkata, "Aku tidak mengerti maksudmu-!!"
Sebuah bilah pedang mendekat dan berada begitu dekat dengan leher Mo Huai. Pemuda yang sejak awal mempunyai sifat penakut dan pesimis itu merasa jantungnya sudah berhenti berdetak.
"Apa ucapanku kurang jelas? Katakan semua informasi yang kau ketahui tentang Xiao Shuxiang atau akan kuseret setiap orang yang kau kenali dan menghabisinya, tepat di depanmu."
!!!
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku akan mati. Aku benar-benar akan mati di sini," tubuh Mo Huai gemetar. Dia tidak pernah menyangka akan berada dalam situasi yang mengancam nyawa.
"Kau masih tidak mau bicara?" suara Fei Chi dingin dan membuat pemuda di depannya tersentak kaget.
"A-aku..." Mo Huai berusaha memikirkan cara agar bisa lolos dari situasi ini, tetapi dia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa. "Orang-orang ini jelas mengincar tuan muda Xiao, ta-tapi bagaimana aku bisa menuruti apa yang mereka katakan. A-aku tidak mungkin mengatakan apa pun tentang tuan muda Xiao. Mereka akan menyakitinya."
"Ti-tidak..." suara Mo Huai gemetar, "A-aku tidak bisa. A-aku tidak bisa.."
"Hmph, kau tidak punya pilihan untuk menolak."
!!
Saat ucapan Fei Chi tersebut, Gu Jiaqi berjalan dan menarik sesuatu dari sebuah lorong. Mo Huai terkejut bukan main saat melihat bahwa pria dengan penutup wajah itu membawa seorang anak laki-laki berusia 7 Tahun yang merupakan putra pamannya.
__ADS_1
"Sheng'Er..!" Mo Huai berseru. Situasi ini sangat berbahaya untuknya. Dia menatap kedua orang jahat ini dan berkata, "Ka-kalian seharusnya malu. Ba-bagaimana kalian bisa mengancam o-orang dengan me-menggunakan anak kecil?"
!!!
Mo Huai terkejut saat Gu Jiaqi menarik pedang miliknya dan mulai mendekatkan senjata itu di leher anak laki-laki yang dia bawa. Suara tangis bocah tersebut membuat seluruh tubuh Mo Huai tegang dan dirinya pun spontan berteriak.
"Tolong hentikan! Dia tidak bersalah! Jangan lukai Sheng'Er..!" Mo Huai sangat takut. Air mengalir membasahi pipinya. Suaranya gemetar saat berkata, "Tolong lepaskan dia. Ka-kalian bisa membunuhku. Ta-tapi jangan lukai dia,"
"Paman Mo..!" anak laki-laki itu sebelumnya mengejar Mo Huai dan hendak bermain lebih lama dengannya saat dia melihat pamannya dipukul dari belakang. Pada saat bersamaan, penglihatannya pun menghilang dan ketika sadar---dia sudah ada di tempat ini.
Fei Chi menatap Mo Huai dan berujar, "Kami tidak akan melukaimu, Tuan Muda Mo. Kau tahu benar apa yang kami inginkan. Tentu saja jika kau menolak, bukan hanya anak ini yang akan kehilangan nyawanya. Sekarang, pilihan ada di tanganmu."
Fei Chi berkata, "Kuperingatkan. Kami bukan orang yang penyabar. Berikan saja apa yang kuinginkan atau kau benar-benar akan melihat kepala bocah itu terlepas dari tubuhnya,"
"Ja-jangan. Jangan menyakitinya..!" Mo Huai mencengkeram kuat tangannya dan dalam hati mengatakan maaf berkali-kali pada Xiao Shuxiang.
Dia tidak punya keberuntungan untuk bisa lolos dalam situasi ini seperti yang terakhir kali dan tidak mungkin juga jika ada pahlawan tidak dikenali yang datang menyelamatkan dirinya. Dia lemah dan tidak bisa apa-apa. Dia sangat menyesal karena menjadi satu-satunya beban bagi sosok sehebat Xiao Shuxiang.
"Akan kukatakan..." Mo Huai tertunduk. Dia menggigit bibir bawahnya dan kemudian mulai buka suara.
*
*
Di sisi lain, Jing Mi justru memiliki pemikiran yang berbeda. Dia membuat Yi Jun Cheng mengerang kesakitan dan Rana Qisheng yang sampai dibawa keluar oleh Patriarch Yu Chang Hai karena tidak kuat melihat.
Aaaakh..!!
Ini adalah jari kelima dari Yi Jun Cheng yang dipatahkan oleh Jing Mi. Pria bertubuh besar itu mulai bicara, nada suaranya dingin. "Kau masih tidak mau bicara? Baiklah. Kali ini akan kutingkatkan rasa sakitnya."
Jing Mi bersuara berat saat berkata, "Sebelum ini... Aku sudah berjanji pada Patriarch untuk tidak terlalu kejam. Karena itulah aku hanya akan merobek sedikit kulit punggungmu dan menggali dagingmu dengan satu jariku. Akan kutarik keluar tulang rusukmu dari sini-"
"Aku akan bicara. Aku akan bicara," Yi Jun Cheng gemetar hingga ke seluruh tubuhnya. Dia tidak bisa terus menerima rasa sakit seperti ini. Dia bisa menjadi gila.
"Ka-kami berasal dari Sekte Kalajengking Merah. Tetuaku... Mengirim kami untuk membawa Rana Qisheng dengan hidup-hidup," Yi Jun Cheng terbatuk.
Napas pemuda itu tidak beraturan saat dia kembali bicara, "A-aku sebenarnya tidak tahu secara pasti apa yang diinginkan oleh Tetua dari gadis itu. Kami hanya diminta untuk membawanya bahkan meski harus membuat kedua kakinya patah. Asalkan Rana Qisheng masih hidup, maka cara apa pun bisa dilakukan."
"Sialan," Jing Mi berkata. "Apa kau pikir aku berdiri untuk mendengar ketidak-tahuanmu ini? Berikan aku jawaban yang pasti,"
"Aaakh! Baik. Baik. Akan kukatakan." Yi Jun Cheng berusaha menahan rasa sakit yang dialaminya. "Rana Qisheng adalah putri tunggal dan saat mencari informasi tentangnya, kami menemukan tidak ada yang istimewa--tapi. Ta-tapi... Kakek buyutnya merupakan orang yang sangat kuat dan terkenal."
__ADS_1
Yi Jun Cheng berkata, "Pendekar Pedang Darah. Sosok yang legendaris itu merupakan kakek dari Rana Qisheng. Ka-kau pasti tahu beliau,"
Jing Mi memang terkejut. Dia tahu tentang Pendekar Pedang Darah karena pernah membaca buku tentang sosok ini dan juga mendengarkan penjelasan dari para guru Istana Kekaisaran Matahari Tengah yang dibawa Dai Chen ke Sekte Kupu-Kupu.
Yi Jun Cheng kembali berkata, "Peninggalan Pendekar Pedang Darah tidak hanya dari kitab teknik dan jurusnya, tetapi juga pedang yang menorehkan namanya. Jika Sang Bintang Penghancur merupakan Kultivator Terkuat Aliran Hitam, maka Pendekar Pedang Darah adalah Kultivator Terkuat Aliran Putih."
Jing Mi menatap pemuda di sampingnya dan Yi Jun Cheng kembali bicara, "Entah alasan apa yang membuat Tetuaku sangat menginginkan Rana Qisheng, tetapi ini jelas berhubungan dengan peninggalan Pendekar Pedang Darah."
"Dia bisa saja menyerang kerajaan nona Rana, kenapa Tetuamu harus menangkap gadis itu?" Jing Mi buka suara, "Nona Rana adalah gadis yang polos dan jelas tidak tahu apa-apa."
"Ma-mana aku tahu! Ke-Ketua kelompokku yang tahu sesuatu mengenai Rana Qisheng dan tujuan tetua sekte, ta-tapi kalian sudah menghabisinya."
Jing Mi berkedip, dia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat menoleh ke arah tubuh Jade Liong yang sudah tewas karena serangan Saudara Xiao-nya.
"Dengar," Yi Jun Cheng berkata, "Kami hanya diberi waktu satu bulan untuk menangkap Rana Qisheng dan membawanya pulang ke sekte. Ini hampir tenggak waktunya. Jika kami tidak kembali, maka itu hanya ada satu. Kami akan dianggap tewas dalam misi dan Tetuaku akan membawa pasukannya untuk menyerang Kekaisaran Matahari Tengah. Kalian semua... Ha ha ha, akan menjadi abu sebentar lagi."
!!
Jing Mi tersentak. Meski dalam kondisi seperti ini, Yi Jun Cheng masih begitu percaya diri. Itu artinya Sekte Kalajengking Merah memang memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap enteng.
"Jika aku membiarkannya dan menunggu, maka bukan hanya Sekte Pedang Langit dan Kota Bintang Biduk yang akan kacau, tapi juga Sekte Kupu-Kupu dan bahkan kekaisaran pun akan ikut terlibat. Jika kuberitahukan pada Saudara Xiao... Tidak."
Jing Mi menarik napas, "Saudara Xiao baru saja pulang dari Alam Kultivasi Atas. Meskipun dia tidak mengatakannya, tetapi aku tahu dia terlihat punya masalah. Aku tidak bisa menambah bebannya, lagipula..."
Jing Mi menggaruk kepalanya dan lantas menyilangkan tangan, "Saudara Xiao sudah memberikan nona Rana Qisheng padaku. Itu juga berarti bahwa segala apa pun yang menyangkut gadis ini---akulah yang diberikan misi untuk menyelesaikannya. Maka akan kubuat itu terjadi,"
Yi Jun Cheng tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria berotot ini, tetapi entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak. Apalagi sosok di hadapannya mulai memperlihatkan seringai yang menakutkan.
"Tidak bisa dibiarkan," Jing Mi tersenyum. "Tetuamu pasti sedang mencarimu. Aku akan dengan senang hati membantu. Akan kuantar kau dan kedua mayat itu pulang. Dan tentu saja, akan kubawa nona Rana Qisheng."
!!!
Yi Jun Cheng terkejut, dia berkedip dan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pria ini... Apa serius akan membawa Rana Qisheng ke sektenya?!
"Ah. Untuk membawa kau dan rekannmu, serta nona Rana... Aku harus menyiapkan semuanya. Kereta kuda dan makanan. Kau juga butuh diobati, kan. Akan segera kusiapkan, tunggu sebentar. Aku akan kembali lagi,"
"Dia jelas memiliki rencana..!" Yi Jun Cheng syok, apalagi saat melihat begitu antusiasnya sosok ini. Dia pun menatap punggung Jing Mi yang kini berjalan pergi meninggalkannya.
Jing Mi tentu saja sudah memikirkan sebuah rencana. Dia berjalan keluar ruangan dengan tatapan mata yang tajam. Bahkan senyuman yang dia perlihatkan sebelumnya kini telah memudar dan berubah menjadi ekspresi wajah yang serius.
"Sebelum mereka datang kemari dan membuat kekacauan, maka aku sendirilah yang akan langsung menyerang mereka. Sekte Kalajengking Merah atau apa pun itu, tidak akan kusisakan satu orang pun." Jing Mi menjilat bibirnya. Tatapan matanya jelas memberi isyarat bahwa dia sudah tidak sabar untuk mengobrak-abrik banyak kepala.
__ADS_1
******