KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
136 - Kota Yixuan


__ADS_3

"Zhi Shu, kau mau mengajakku kencan? Kau mau ajak aku ke mana? Ini sudah malam, aku ingin menunggu Kucing Putih."


Xiao Shuxiang sebenarnya tidak yakin Ling Qing Zhu akan datang, tetapi tidak masalah untuk menunggu. Lagipula dia juga harus menyalin setiap kata pada lembaran Kitab Pembunuh Matahari yang dirinya lihat tadi.


"Saudara Xiao, aku masih ingin terus bersamamu. Kita bahkan belum banyak menghabiskan waktu." Zhi Shu meraih lengan Xiao Shuxiang dan tersenyum, "Ayo pergi ke kota terdekat di tempat ini. Kau harus mengenal lebih jauh tentang lingkungan Istana Seribu Pedang, ayo~"


"Zhi Shu, tapi jangan ditarik-tarik." Xiao Shuxiang memperingati, namun sama sekali tidak menolak ajakan saudaranya.


Xiao Shuxiang berkata, "Ada baiknya kita ajak yang lain juga. Tidak seru jika hanya berdua,"


"Kalau beramai-ramai namanya bukan kencan, Saudara Xiao." Zhi Shu tanpa ragu merangkul lengan Xiao Shuxiang dan sangat bersemangat mengajak saudara seperguruannya itu untuk berkeliling.


Pasar yang mereka kunjungi tidak jauh dari Istana Seribu Pedang. Zhi Shu dan Xiao Shuxiang hanya butuh berjalan selama kurang lebih 30 menit, itu pun dapat dipersingkat jika mereka terbang.


Kota bernama Yixuan itu tidak hanya terkenal dengan dua sungai besarnya, tetapi juga pasarnya yang merupakan pasar paling meriah dan megah. Ada banyak perdagangan yang terjadi di sana dan kota itu cukup makmur.


Xiao Shuxiang benar-benar disambut dengan banyak kemeriahan yang mirip kemeriahan langka dan hanya bisa dilihat ketika festival besar saja. Namun pasar di Kota Yixuan ini sangat berbeda sekali dengan bayangannya dan jujur ini begitu mengagumkan.


"Kawan, aku yakin daging b*bi yang kujual ini masih sangat segar. Ayo lihatlah..!"


"Nyonya cantik..! Anda memiliki kulit wajah yang sangat menawan, cocok sekali dengan perona pipi ini. Bagaimana jika Nyonya coba dulu?"


"Bocah ini pandai sekali bicara~"


Xiao Shuxiang tersenyum ketika melihat bagaimana para pedagang di pasar ini begitu semangat menarik perhatian para calon pembelinya. Mereka memasang wajah yang ramah dan tanpa pernah menurunkan senyuman.


"Bocah! Aku melihat bagian tengah dari dahimu menghitam. Cepat ke sini untuk kusembuhkan,"


"Be-benarkah?!"


Xiao Shuxiang mendengus dan berdecak pelan. Dia menggeleng melihat seorang tua bangka yang entah menjual barang apa, tetapi berhasil menarik satu pemuda polos menjadi pelanggannya.


"Nona..! Kemari dan lihatlah berbagai sisir rambut dan perhiasan ini..! Kau akan terlihat sangat cantik dan bersinar jika memakainya. Ayo, ayo coba dulu..!"


"Apa boleh kupegang yang warna merah muda ini?"


Xiao Shuxiang mengerutkan kening saat mendengar suara Zhi Shu. Dia baru saja tersadar sudah dibawa ke depan salah satu penjual perhiasan. Bahkan Zhi Shu sama sekali tidak melepaskan rangkulan pada lengannya.


"Nona, yang ini sesuai dengan kilauan matamu. Aku punya harga khusus untuk pasangan muda~"


"Benarkah?" Zhi Shu terlihat senang sekali. Dia memperlihatkan sebuah tusuk rambut merah muda pada Saudara Xiao-nya dan meminta pendapat, "Bagaimana menurutmu?"


"Cukup bagus. Kau bisa memakainya sebagai senjata tersembunyi. Rangkanya kuat dan karena terbuat dari besi, itu jadi bisa membunuh dengan cara menusuk tepat di jantung lawan."


Zhi Shu dan pedagang perhiasan itu kaget dengan tanggapan Xiao Shuxiang. Mereka menatap dalam wajah pemuda yang mempesona dan terlihat baik ini.


"Tuan Muda ini pasti sedang bercanda," pedagang itu tertawa canggung. Dia jadi tidak tahu harus membalas apa ucapan pemuda di hadapannya.


"Maaf, Paman. Dia memang orang yang punya selera humor yang menarik," Zhi Shu tertawa garing dan segera membayar tusuk rambut yang dipegangnya lalu menarik Saudara Xiao-nya ke tempat lain.


Xiao Shuxiang tersentak karena dibawa pergi begitu saja, "Kenapa kau tidak menawar harganya? Paman itu bahkan belum menyebut harga benda yang kau pegang?"


"Aku malu karenamu, Saudaraku. Kau ini sangat menyebalkan diajak kencan," Zhi Shu nampak cemberut. Dia baru saja akan kehilangan selera berjalan-jalan saat dirinya kembali menarik Xiao Shuxiang ke salah satu pedagang kain.


"Paman, apa aku bisa melihat kain yang itu?" Zhi Shu tersenyum dan menunjuk sebuah kain berwarna merah muda dengan motif bunga.


Pedagang itu tersenyum ramah dan lalu menanggapi, "Nona yang cantik punya penglihatan yang bagus~"

__ADS_1


Pedang tersebut mengambil selembar kain yang terpajang dan meletakkannya di depan Zhi Shu. Dia pun menjelaskan, "Tidak hanya halus dan sejuk ketika dipakai, kain ini juga kuat dan membawa aura positif pada penggunanya. Jika Nona menjadikannya pakaian, ini akan sangat bagus untukmu~"


"Bagaimana dengan yang itu, Paman?" Zhi Shu menunjuk kain lainnya. "Saudara Xiao? Kau tidak mau mencarikan satu untuk nona Ling?"


"Bukankah saat ini kita kencan? Kenapa kau justru mengingatkanku pada Kucing Putih?"


Zhi Shu tersentak. Dia pun berkedip dan menatap pemuda di sampingnya. "Benar juga. Kenapa aku melakukannya?"


Xiao Shuxiang menghela napas dan lalu menggeleng, "Kau masih perlu banyak belajar. Kucing Putih tidak akan merasa tersaingi jika kau sepolos ini. Ayo ke tempat lain,"


"Aku ingin membeli ini dulu," Zhi Shu lalu bertanya harga dan kemudian mulai membayarnya. Dia pun mengucapkan terima kasih dan kembali berjalan dengan Xiao Shuxiang.


"Kau tidak memintaku membayarnya untukmu?"


"Tidak perlu. Lagipula uang yang ada padaku juga uangmu, Saudara Xiao. Apa kau lupa bahwa aku dan Hai Feng yang menangani bisnismu dengan Asosiasi Bangau Merak?"


"Aaah... Benar. Tsk, tsk, tsk. Kau bahkan kini lebih sultan dariku," Xiao Shuxiang berkata jujur. Dia memang tidak banyak membawa uang naik ke Alam Kultivasi Atas.


"Ular ungu..! Ular ungu..! Ayo Tuan-Tuan..! Makan ular ungu bakar ini memberikan banyak manfaat..! Sangat cocok bagi Tuan dan Nona yang meridiannya tersumbat!"


"Ayo Nona dan Tuan..! Kemari dan nikmati Baozi yang hangat dan lezat ini..!"


"Saudara Xiao, ayo ke sana--aduh..!" Zhi Shu kaget saat tiba-tiba ditarik oleh Xiao Shuxiang. Dia ternyata dibawa ke salah satu pedagang Baozi dan Tanghulu yang rupanya adalah seorang pria tua.


"Zhi Shu, kau yang traktir." Xiao Shuxiang tanpa tahu malu meminta tiga Baozi untuk dirinya sendiri dan kemudian duduk di kursi pedagang itu tanpa rasa bersalah pada saudaranya.


Zhi Shu terperangah dan membeku untuk beberapa saat sebelum menggeleng pelan, "Biasanya laki-laki yang membayar untuk perempuan. Bukan sebaliknya,"


Zhi Shu mengembuskan napas, "Paman. Aku minta satu,"


"Saudara Xiao, kita belum berjalan lama." Zhi Shu berdiri di depan Xiao Shuxiang dan mengajak saudaranya, "Ayo pergi ke tempat lain. Kau bisa makan itu sambil jalan,"


Xiao Shuxiang yang menikmati Baozi di tangannya nampak mengerutkan kening. "Shu'Er, kau sudah mengenalku selama bertahun-tahun. Apa kau pernah melihat Saudara Xiao-mu ini bisa makan sambil berjalan, huh?"


Ekspresi Zhi Shu berubah, dia ingat bahwa Xiao Shuxiang punya kebiasaan yang tidak mampu menyatukan antara makan dengan berjalan. Jika Saudara Xiao-nya berjalan, maka dia tidak bisa makan. Namun jika ingin makan, maka dia harus berhenti berjalan. Anak kecil saja bahkan bisa melakukan kedua hal itu di waktu bersamaan, tetapi pemuda menawan ini berbeda dan hal itu jugalah yang membuat saudaranya istimewa.


"Saudara Xiao, kalau begitu kau makan dan tunggu aku di sini. Aku ke sana sebentar, tidak akan lama."


"Mn, pergilah." Xiao Shuxiang sangat menikmati Baozi yang dimakannya dan memperhatikan punggung Zhi Shu yang semakin menjauh.


"Paman, aku minta Baozi-nya lagi." Xiao Shuxiang memesan kembali.


Pedagang tua itu menyiapkan beberapa dan memasukkannya ke dalam sebuah anyaman bambu. Dia pun lalu duduk di samping Xiao Shuxiang dan dengan ramah bertanya, "Apa kau menyukainya, Nak?"


"Mn, ini sangat enak. Kau sangat pandai membuatnya," Xiao Shuxiang tersenyum ramah. Dia baru akan mengobrol dengan pedagang Baozi ini ketika seorang gadis cantik menghampirinya.


"Permisi..."


Xiao Shuxiang menoleh dan mengerutkan kening.


"Apa Tuan Muda menjual Baozi? Aku ingin mendapatkan beberapa," gadis itu nampak tersenyum malu-malu.


Xiao Shuxiang berkedip, "Bukan aku yang menjualnya. Tapi Paman ini,"


"Mari Nona, biar saya siapkan." Pria tua itu dengan ramah melayani pelanggan. Beberapa kali dia mendapat pelanggan wanita, namun mereka lebih dahulu menghampiri pemuda yang duduk di kursinya.


Xiao Shuxiang sendiri agak kebingungan dengan situasi ini. Dia sudah ditanyai pertanyaan yang sama oleh beberapa gadis yang berbeda. Bahkan tidak butuh waktu lama sampai kerumunan di tempat ini kian banyak.

__ADS_1


"Tuan Muda~ apa aku boleh tahu siapa namamu?" salah seorang gadis dengan berani meminta berkenalan. Beberapa temannya pun juga nampak penasaran.


Xiao Shuxiang baru akan menjawab saat tangannya tiba-tiba saja dipegang oleh seseorang yang tak lain adalah Zhi Shu. Dia tersentak dengan tindakan saudara seperguruannya ini.


"Maafkan aku, Nona-Nona. Tapi pemuda ini sudah menikah," Zhi Shu tersenyum dan merangkul erat lengan saudaranya. Dia pun menarik Xiao Shuxiang pergi.


"Zhi-Zhi Shu..? Pelan-pelan,"


"Saudara Xiao, kau benar-benar tidak bisa ditinggal sendirian barang sejenak saja." Zhi Shu memegang erat tangan Xiao Shuxiang, dia berwajah serius. "Mereka bukan gadis-gadis biasa. Mereka jelas adalah kultivator. Beberapa di antara mereka bahkan membuat perasaanku tidak nyaman, aku takut kau dalam bahaya."


"Kau pikir aku tidak tahu?" Xiao Shuxiang tidak memberontak sama sekali, dia pun mengingatkan Zhi Shu. "Justru yang kau lakukan ini bisa membuat beberapa di antara gadis-gadis itu tersinggung."


"Tapi aku tidak suka kau dikerumuni," Zhi Shu dengan tegas berkata. "Selama kau bersamaku, maka aku akan menjagamu."


"Tapi aku bukan anak kecil. Ya ampun..." Xiao Shuxiang menggeleng. Dia baru saja akan memanfaatkan para gadis itu untuk menggali informasi terkait Sekte Lembah Iblis dan Kitab Pembunuh Matahari, tapi Zhi Shu justru mengacaukannya.


Di sisi lain, pedagang Baozi itu benar-benar untung besar karena dagangan miliknya terjual habis. Bahkan Tanghulu yang dia jual pun laku karena para gadis ini menggunakan barang dagangannya untuk bisa mendekati Xiao Shuxiang.


Di saat pedagang tua itu akan berbenah, dia mengerutkan kening ketika melihat benda aneh di bawah kursinya. Pedagang tersebut mengerutkan kening dan terkejut saat mengambil benda yang ternyata adalah token emas.


"Ini... Mn! Jangan-jangan anak yang tadi---"


"TETUA...!!"


Sebuah seruan keras terdengar dan dua orang pemuda berpakaian putih nampak berlari dengan napas yang tersengal-sengal. Kedua pemuda itu terlihat berusia 29 Tahun.


"Tetua..! Kami sudah mencari Anda ke mana-mana, hah... Hah... Astaga. Aku lelah..."


"Tetua.. Anda kenapa masih berjualan di tempat ini?! Hah.. Hah..."


Pedagang tua itu nampak menggeleng melihat kedua pemuda di hadapannya yang berusaha mengontrol napas. Dia pun mengusap-usap dagunya dan lalu meletakkan tangan di belakang pinggang, auranya tiba-tiba saja berbeda.


"Kalian terlambat. Daganganku benar-benar laku terjual, bahkan tidak ada yang tersisa." pria tua itu tersenyum bangga. Dia membuat salah satu pemuda tersentak dan seakan tidak percaya.


"Tidak mungkin. Bagaimana bisa---" Pemuda itu terperangah saat mulai memperhatikan dan benar bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari dagangan Tetua-nya.


"Mustahil.. Baozi buatan Tetua kan tidak enak--"


"Sembarang!" pria tua itu menyentil dahi salah satu pemuda, dia pun berkata. "Aku membuatnya dengan setulus hati, tentu saja enak. Bahkan ada pemuda yang memakannya lebih dari tiga Baozi, pemuda baik hati itu bahkan memujiku."


Pria tua tersebut memperhatikan token emas di tangannya dan lalu berujar, "Sayangnya anak itu nampak sedikit ceroboh. Dia meninggalkan benda sepenting----Mn? Dao Fang An?"


Pria tua itu baru membaca tulisan pada salah satu sisi token dan terkejut. Kedua pemuda di depannya yang penasaran ikut melihat token tersebut dan kaget.


"Tetua?! Ini token emas Tetua Besar--"


"Shhh.. Diam," pemuda lainnya langsung membekap mulut temannya karena suka sekali berseru dengan nada suara yang keras. "Kau jangan terlalu ribut,"


"Kalian berdua, ayo pergi." Pria tua itu tersenyum, "Aku sedang untung besar malam ini, jadi akan kubelikan kalian makanan."


"Tapi kita harus segera kembali---"


"Tidak apa-apa. Sangat jarang Tetua ingin mentraktir kita makan. Keberuntungan ini tidak boleh ditolak,"


"Ta-Tapi,"


******

__ADS_1


__ADS_2