![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
"Saat ini aku tidak punya rencana,"
Yi Wen tersentak mendengar ucapan Xiao Shuxiang. Dia menatap pemuda di depannya dan kemudian berkata, "Kau tidak boleh seperti itu. Qian Kun sangat licik, dia orang yang jahat. Sebelum dia melakukan tindakan apa pun, kita harus bersiap. Saudara Xiao-"
"Tidak apa-apa," Xiao Shuxiang mengusap pelan kepala Yi Wen dan tersenyum. Dia berkata, "Sekarang aku tahu bahwa dia sudah kembali. Apa pun yang dia lakukan, targetnya tetap adalah aku. Qian Kun itu... Dia tidak akan menyakiti orang-orang di sekitarku. Dia hanya menyakitiku,"
"Saudara Xiao..."
"Yi Wen, dengar. Aku tahu Qian Kun sangatlah kuat. Dia bisa saja mengambil nyawa siapa pun dan bahkan membuat dunia kacau dengan tangannya sendiri. Tetapi dia tidak pernah mau melakukan itu. Apa kau tahu kenapa?"
Xiao Shuxiang berkata, "Karena Qian Kun hanya mengincarku. Yang dia inginkan adalah aku sendiri yang menghabisi nyawa orang-orang terdekat yang kumiliki. Dia ingin membuat kekacauan melalui tanganku ini. Caranya tentu saja seperti yang kau pikirkan, dia mungkin akan menggunakan identitasku yang tidak diketahui orang lain sebagai senjata. Orang itu.. Dia memanfaatkan keserakahan manusia dan emosi mereka untuk melawanku."
"Ji-jika kau tahu itu... Lalu apakah lebih baik jika kita mengatakan semuanya? Katakan saja identitasmu yang merupakan reinkarnasi Sang Bintang Penghancur. Aku yakin setelah semua yang terjadi... Orang-orang pasti tetap akan menerimamu,"
Xiao Shuxiang mendengus pelan. Dia lantas menggeleng dan tersenyum tipis, "Nak. Dunia sangatlah luas dan tidak semua orang bisa menerima perbedaan. Jika pun ada kebaikan yang kuberikan, tetap saja luka yang kubuat di masa lalu tertanam di dalam hati mereka. 'Xiao Shuxiang' adalah noda hitam yang tidak akan bisa mereka lupakan,"
Yi Wen merasakan sakit pada tenggorokannya, dia menggigit bibirnya sebelum memeluk pemuda di hadapannya. Dia menangis dan terisak, pelukannya begitu erat.
"Saudara Xiao, aku tahu kau bukan orang jahat. Tapi kenapa tidak ada yang mengerti? Aku tidak suka ini. Apa mereka sungguh tidak akan menerimamu, bahkan setelah semua hal baik yang kau lakukan?"
"Manusia tidak peduli apakah sesuatu itu benar atau salah, Yi Wen. Mereka mempercayai apa yang mereka yakini. Kau mengatakan hal yang dapat diterima akal sekali pun, namun jika mereka tidak ingin mempercayainya---kau akan tetap dianggap salah."
Yi Wen mengusap punggung Xiao Shuxiang dan terisak saat berkata, "Aku tidak tahu Saudara Xiao. Aku sangat sedih jika mengingat betapa banyak masalah yang kau alami. Aku tidak tahu kenapa langit sangat tidak adil pada orang sepertimu. Kenapa kau tidak pernah menuntut. Apa kau tidak merasa... Ini sangat tidak adil?"
"Saudara Xiao, aku menyalahkan hidupku dan aku kasihan pada hidupmu. Masalah dan beban yang harus ditanggung... Kenapa harus kau? Dan kenapa harus aku? Apa tidak ada orang lain selain kita?"
Xiao Shuxiang memegang lengan Yi Wen dan mengusap pipi gadis cantik di hadapannya. Dia berkata, "Ada hal-hal yang terasa berat sekali untuk dilalui, tetapi tetap harus dilalui. Terasa sulit sekali diterima, tapi tetap harus diterima. Yaah... Hidup terkadang suka memberi terlalu banyak. Tetapi kau harus tahu, karena kau kuat... Langit mengujimu."
Yi Wen mengusap kedua matanya. Dia pun mengusap air yang turun membasahi pipinya, namun tetap saja seberapa banyak pun dia mengusap-air mata terus saja jatuh. Dia pun terisak saat berkata, "Ha-harusnya aku yang menenangkanmu, tapi kenapa justru malah sebaliknya? Ini..."
"Sudahlah," Xiao Shuxiang memeluk Yi Wen dan mengusap-usap pelan kepala saudara seperguruannya ini. Dia mengembuskan napas saat berkata, "Aku justru akan sangat malu jika ditenangkan olehmu..."
Xiao Shuxiang dalam hati menghela napas. Pandangannya turun dan ke ekspresi wajahnya terlihat sedikit berbeda. Sejujurnya, dia sangat iri pada gadis ini yang bisa meluapkan semua hal dan menangis. Untuknya... Itu tentu saja tidak mungkin dilakukan.
Xiao Shuxiang menarik napas dan kemudian menepuk pelan bahu Yi Wen. Dia berkata, "Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Ayo pulang,"
"Saudara Xiao-"
"Coba lihat, pipi dan matamu benar-benar bengkak seperti beruang. Kecantikanmu jadi luntur karena kau menangis,"
"Saudara Xiao menyebalkan," Yi Wen memeluk Xiao Shuxiang, bahkan meski berjalan. Dia seakan menyembunyikan wajahnya karena ucapan pemuda ini.
*
*
Di Sekte Kupu-Kupu, Jing Mi terlihat sedang berjalan mondar-mandir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sekarang bersama Hou Yong, Bao Yu, Hai Feng, dan Ro Wei. Mereka berada di taman belakang sekte.
Zhi Shu datang dengan sebuah nampan berisi cawan keramik dan beberapa kue kering. Dia meletakkan nampan tersebut di atas sebuah meja batu dan menuangkan teh untuk gadis cantik yang duduk sambil memperhatikan Jing Mi. Zhi Shu pun duduk di kursi yang lain dan menatap gadis bernama Rana Qisheng ini.
"Yi Wen sebenarnya membawa Saudaraku ke mana?" Jing Mi benar-benar sedang kalut. Dia menoleh ke arah Rana Qisheng dan mendapat senyuman dari gadis cantik tersebut.
Hou Yong tanpa tahu malu mengambil satu kue kering dan kemudian bertanya, "Nona Rana? Kau memiliki berapa saudara?"
Rana Qisheng menoleh dan dengan tenang menjawab, "Hanya aku. Aku adalah putri tunggal,"
"Waaah, apa kerajaanmu sangat besar?"
__ADS_1
"Di antara lima kerajaan, kerajaanku di tempat ketiga. Sebenarnya... Wilayah lautan kerajaanku lebih banyak daripada daratan, karena itulah mata pencaharian penduduk lebih banyak bersumber dari hasil laut."
"Waah, berarti di sana banyak pohon kelapa?" mata Hou Yong berbinar cerah.
"Kelapa?" Rana Qisheng berkedip. Entah kenapa pemuda ini justru lebih tertarik pada tanaman seperti itu. Namun dia tidak bertanya lebih jauh dan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Hou Yong, pohon apa yang kau maksud?" Bao Yu bertanya dan membuat Jing Mi menoleh.
"Itu adalah pohon dengan buah yang enak. Tidak ada pohon seperti itu di sini, hanya ada di tepi pantai dan aku yakin kalian tidak pernah melihatnya,
Jing Mi memperhatikan Hou Yong dan teman-temannya yang mulai membahas makanan. Dia baru akan menegur mereka saat melihat Hu Li dan Mo Huai berjalan sambil membawa semangka yang besar.
"Nona Zhi Shu, ini." Hu Li tersenyum dan dengan senyuman yang sama... Zhi Shu pun bangun dari tempat duduknya.
"Terima kasih, Hu Li. Kau pasti lelah,"
"Tidak sama sekali,"
"................." Mo Huai meletakkan semangka yang dibawanya di tanah, di samping Hu Li. Dia melihat pemuda berambut putih ini membantu Zhi Shu membelah semangka yang baru saja mereka petik.
Bao Yu dan Hai Feng juga ikut merapat, mereka mendapat potongan semangka yang diberikan oleh Zhi Shu. Hou Yong yang sekarang sedang membantu Mo Huai nampak menyenggol pemuda itu.
Hou Yong berujar pelan, "Apa hanya aku atau memang Zhi Shu dan Hu Li punya hubungan yang dekat, tidak seperti biasanya?"
Mo Huai menjawab, "Seperti itulah..."
"Jadi benar?" Hou Yong tersentak dan langsung menoleh ke arah Zhi Shu. Dia bertanya, "Shu'Er. Apa kau dan Hu Li menjadi pasangan kekasih?"
Pertanyaan Hou Yong yang tiba-tiba membuat Ro Wei kaget. Zhi Shu sendiri tersenyum malu dan kemudian berkata, "Apa terlihat jelas?"
"Ya ampun," Hou Yong terperangah. Bao Yu dan Hai Feng terlihat tercengang. Mereka sangat tidak menyangka jika Zhi Shu dan Hu Li bisa mempunyai hubungan yang serius.
"Itu benar," Zhi Shu menyela. "Aku bahkan berencana untuk mengenalkan Hu Li pada ayah dan ibuku."
"Apa?" Ro Wei tersentak, "Ini tidak bisa dibiarkan. Apa kau juga harus mencari calon suami mulai sekarang?"
"Bagaimana kau bisa melakukan itu?" Bao Yu protes, "Aku dan Hai Feng bahkan belum memikirkan untuk menikah. Dan Hu Li, apa yang sudah kau lakukan pada Zhi Shu?"
"Saya tidak melakukan apa pun," Hu Li menjawab dengan nada yang polos dan membuat Bao Yu serta Hai Feng menjadi kesal sendiri.
Mo Huai memperhatikannya dan yakin bahwa para murid Sekte Kupu-Kupu yang seangkatan dengan Xiao Shuxiang adalah tipe orang yang tidak mau kalah. Lihat saja, segera setelah mendengar bahwa Zhi Shu akan menikah dengan Hu Li---Hou Yong dan yang lainnya jadi membahas untuk mencari pasangan masing-masing.
"Ini tidak adil," Ro Wei menggeleng pelan, "Pertama adalah Kakak Lu Yang Cantik, lalu Saudara Xiao, kemudian Saudara Jing dan sekarang Zhi Shu? Waah... Ini tidak bisa dibiarkan,"
Hou Yong memakan semangka miliknya dan berkata, "Mulai sekarang aku akan pergi ke tempat bordil dan mengambil seorang gadis untuk menikah denganku,"
"Saudara Hou, aku juga akan ikut." Bao Yu mengajukan diri dan membuat Mo Huai menatap mereka.
Hai Feng sendiri berkata, "Kalau aku akan pergi ke Sekte Tengkorak Darah. Tipe gadis yang kusuka seperti putri Tetua Lai Kuan Ye,"
"Apa kau berani?" Hou Yong berkata, "Kau bisa mati bahkan sebelum melihat murid gadis di tempat itu. Biar kuberitahu, bordil adalah tempat di mana kau bisa menemukan gadis impianmu."
Bao Yu berujar, "Pergi bersama kami. Kita ke tempat nona Shuai Niao,"
Mo Huai menelan ludah, anak-anak ini sudah tidak waras. Anehnya, Rana Qisheng bahkan ikut bicara dan seakan memberitahu tipe pria yang disukai oleh para gadis. Dalam sekejap, suasana di tempat ini menjadi penuh dari membahas hubungan laki-laki dan perempuan.
Mo Huai sekarang merasa bahwa tempat ini adalah dunia para orang dewasa di mana dia seharusnya tidak di sini. Masalahnya, dia sama sekali tidak punya alasan yang Bagus untuk pergi.
__ADS_1
Tidak berlangsung lama, dua orang dengan jubah hitam datang dan membuat Jing Mi serta yang lainnya nampak mengerutkan kening. Mo Huai juga melihat sosok yang tak lain adalah Xiao Shuxiang dan Yi Wen.
Tentu saja, meski memakai jubah hitam... Tapi kedua orang itu tidak menyembunyikan wajah mereka dibalik tudung. Xiao Shuxiang bahkan terlihat mulai melepas jubah yang dipakainya dan melemparnya ke salah satu kursi sebelum mulai duduk di rerumputan, mengambil satu potong semangka dan memakannya.
"Saudaraku, kau dan Yi Wen pergi ke mana saja?" Jing Mi mendekat dan duduk di samping Xiao Shuxiang. Dia baru akan protes saat melihat mata Yi Wen yang nampak sembab, seperti sudah menangis.
"Ada apa ini?" Jing Mi bertanya. Nada suara dan ekspresi wajahnya terlihat serius. "Yi Wen, apa Saudara Xiao menyakitimu?"
Xiao Shuxiang hampir tersedak semangka yang dimakannya. Dia menatap tidak percaya ke arah Jing Mi dan berkata, "Apa aku terlihat seperti orang yang suka membuat gadis menangis?"
"Yi Wen pergi bersamamu, tentu saja kau yang bertanggung jawab. Tidak mungkin Mo Huai, kan?"
"Saudara Jing," Xiao Shuxiang melempar tatapan kesal pada pria besar ini dan kembali memakan semangka miliknya.
"Yi Wen," Jing Mi kembali bertanya, "Katakan saja. Apa yang dilakukan Saudara Xiao padamu?"
Yi Wen menggeleng, suaranya pelan saat berkata. "Aku tidak apa-apa, ini bukan salah Saudara Xiao. Aku hanya merasa sangat bersalah atas apa yang kulakukan pada Saudara Xiao dan bahkan setelah Saudara Xiao mengetahui semuanya... Dia tetap baik padaku,"
Jing Mi mengembuskan napas, dia pun mengulurkan tangan dan mengusap pelan kepala Yi Wen. Hou Yong, Bao Yu, dan Hai Feng pun nampak menenangkan gadis cantik tersebut.
Hou Yong menepuk pelan punggung Yi Wen dan berkata, "Semua orang pernah melakukan kesalahan. Tetapi kau benar-benar keren karena sudah mengakuinya,"
"Tidak apa-apa," Bao Yu tersenyum, "Kali ini jika kau mengambil jalan yang salah lagi.. Kami akan berusaha keras menyadarkanmu."
"Biar bagaimanapun kita tumbuh besar bersama," Hai Feng berkata, "Jika ada hal yang mengganggumu. Kau jangan pernah sungkan untuk menceritakannya padaku,"
Zhi Shu mengangguk membenarkan, "Masalah tidak akan selesai jika hanya menyimpannya sendiri. Kita bersama dan akan menghadapi semuanya,"
Ro Wei berdiri, dia mendekat pada Yi Wen dan memeluk temannya tersebut. Rana Qisheng yang melihat betapa kentalnya pertemanan orang-orang ini membuatnya menatap Xiao Shuxiang. Pemuda ini benar, dia memang akan menyukai tempat ini.
"Nona Wen, kau juga makanlah." Hu Li memberi sepotong semangka pada Yi Wen dan terlihat tersenyum. Gadis bertubuh bagus itu lantas mengucapkan terima kasih.
Rana Qisheng berada di samping Xiao Shuxiang dan setengah berbisik. Dia berkata, "Teman-temanmu sangat baik. Mereka begitu saling menjaga satu sama lain. Aku... Tidak pernah menyangka bahwa ada orang-orang seperti mereka berada dalam satu tempat. Kalau boleh jujur... Sulit menemukan teman seperti ini,"
Xiao Shuxiang bergumam, "Mn. Mereka adalah teman sejak kecil dan sudah melewati banyak hal bersama, bahkan keadaan yang nyaris menginjak gerbang kematian. Tapi kau harus berhati-hati,"
Xiao Shuxiang menoleh dan menatap Rana Qisheng. Melihat gadis ini mengerutkan kening membuatnya kembali melanjutkan, "Apa yang kau lihat... Merupakan sisi baik dari mereka."
Rana Qisheng berkedip, dia tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
".................." Xiao Shuxiang mendengus pelan. Dia tersenyum tipis dan kembali memandang ke depan. Dia mengambil potongan semangka yang lain dan memakannya.
Suasana terlihat sangat tenang, namun angin yang berhembus sama sekali terasa tidak nyaman baginya. Meski seperti orang yang tidak memikirkan banyak hal, nyatanya saat ini Xiao Shuxiang saat ini sedang mengatur rencana tentang hal yang akan dia lakukan.
Kitab Pembunuh Matahari ada di tangannya dan identitasnya sendiri sebagai reinkarnasi Sang Bintang Penghancur belum semua orang tahu. Di sisi lain, musuh lamanya sudah kembali dan kali ini... Hubungannya dengan para murid Sekte Kupu-Kupu semakin dekat.
Tidak hanya itu, banyak hubungan lain yang sekarang ingin dia lindungi. Di masa lalu, dia tidak membiarkan musuh melihatnya dengan jelas, karena itulah mereka tidak tahu tentang kelemahannya. Tetapi sekarang... Hubungan ini tidak bisa disembunyikan.
Sekte Kupu-Kupu, Kota Awan Dingin, Sekte Pedang Langit, Alkemis Zhou Yan, Kekaisaran Matahari Tengah, Benua Timur. Semua ini tidak bisa lepas dari nama 'Xiao Shuxiang'. Mereka adalah kekuatan, tetapi juga sasaran empuk bagi para musuh yang tidak peduli arti dari sebuah hubungan.
Informasi tentang semua hal yang membahas Xiao Shuxiang bisa dengan mudah diketahui, bahkan oleh orang asing. Rana Qisheng pun juga tahu tentang nama 'Xiao Shuxiang' dan dia tidak menyangka bahwa pemuda inilah yang disebut sebagai 'Pelindung Benua Timur'. Sejujurnya Rana Qisheng mengira itu adalah Xiao Shuxiang yang lain, dia bahkan masih bertanya-tanya dalam hatinya sekarang. Berpikir bahwa mungkin dia sudah salah mengira.
Di sisi lain, orang asing yang mencari tahu tentang Xiao Shuxiang adalah para kultivator dari Alam Kultivasi Atas yang baru saja tiba di tempat ini. Mereka menggunakan cara yang sama dengan yang dilakukan Xiao Shuxiang dan teman-temannya untuk dapat pulang kemari.
Para kultivator itu ada di Kota Bintang Biduk sekarang dan mengumpulkan informasi tentang Xiao Shuxiang beserta segala hal yang berkaitan dengannya. Di perhatikan baik-baik dan dari gerak-gerik mereka yang seakan menyembunyikan identitas--jelas sekali bahwa mereka mengincar sesuatu.
Langit di hari itu cerah, tetapi hembusan angin justru membawa suasana yang menegangkan. Seolah-olah waktu yang terus berputar kian menunjukkan tanda-tanda terbukanya tabir yang menyembunyikan badai besar.
__ADS_1
******