KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
243 - Tetua Chen Duan Shan


__ADS_3

Penyimpangan Qi merupakan sesuatu yang buruk bagi seorang kultivator. Ini akan merusak organ tubuh, mental hingga mampu menghilangkan nyawa.


Banyak faktor yang mampu membuat seseorang mengalami penyimpangan Qi dan salah satu yang lebih sering terjadi adalah ketika seorang kultivator sedang berusaha meningkatkan kekuatannya.


"..............."


Keadaan inilah yang paling rentan dan karena itulah Tetua Chen Duan Shan terus memantau kondisi Xiao Shuxiang.


Dia tidak tinggal diam saat melihat ada tanda-tanda penyimpangan Qi pada pemuda mempesona itu. Tetua Chen Duan Shan bahkan mulai membentuk sebuah segel tangan dan melesatkan energi spiritual ketika merasa Xiao Shuxiang kesulitan.


Energi spiritual Tetua Chen Duan Shan mengelilingi tubuh Xiao Shuxiang. Dia mengendalikannya hingga tidak langsung menghantam energi spiritual pemuda itu.


Ini karena memberi bantuan secara tiba-tiba justru mampu memberikan luka dalam yang parah pada Xiao Shuxiang meski tujuan Tetua Chen Duan Shan adalah untuk menyelamatkan.


"..............." Tetua Chen Duan Shan begitu fokus dalam mengendalikan laju energi spiritualnya. Dia membuat energinya itu mengikuti alur energi spiritual Xiao Shuxiang dan perlahan membuatnya menyatu.


Xiao Shuxiang merasakan tekanan pada dua titik. Yang pertama adalah tekanan karena air terjun yang terus menyirami tubuhnya dan kedua merupakan rasa dingin dari air itu.


Jujur sebenarnya, ini merupakan latihan yang sulit. Xiao Shuxiang tentu tidak pernah melakukan ini sebelumnya, bahkan di masa lalu. Yang dia lakukan hanya menantang Demonic Beast terkuat di dalam hutan untuk meningkatkan seni berpedangnya.


"..............." Xiao Shuxiang mengerutkan kening. Dia merasakan Qi beredar melalui anggota tubuh dan tulangnya.


Dingin pada air terjun meresap hingga ke dalam diri Xiao Shuxiang, seakan-akan menyelimuti setiap sel dalam tubuhnya. Dingin itu pun terasa bagai mengalir dalam darahnya hingga tidak ada tempat yang tak terjamah.


Ini adalah dingin yang menusuk, tetapi entah bagaimana membuat perasaan bisa menjadi tenang. Padahal Xiao Shuxiang selalu merasakan darahnya mendidih, sesak dan begitu ingin melakukan pemberontakan.


Xiao Shuxiang selalu memikirkan tentang perkelahian dan darah hampir setiap hari, jadi dia selalu melakukan berbagai hal sebagai pengalih perhatian. Bisa dibilang, dia tidak menetap di satu tempat.


Orang-orang di sekelilingnya tahu, bahkan Tetua Chen Duan Shan pun sadar. Musuh terbesar Xiao Shuxiang adalah dirinya sendiri.


Setiap kali pemuda itu bertambah kuat, nafsu membunuhnya pun akan semakin besar. Langkah awal yang digunakan untuk mengendalikan nafsu tersebut tidak lain adalah menekan nafsu itu dengan Sutra Pengendalian Jiwa.


"..............."


Masalah besarnya adalah Xiao Shuxiang bukan bagian dari wilayah Aliran Putih, tentu pemuda itu tidak mengetahui apa-apa tentang Sutra Pengendalian Jiwa dan ini merupakan hal yang buruk.


"............. Apa aku terlalu terburu-buru?" Tetua Chen Duan Shan menahan napas ketika melihat kulit Xiao Shuxiang tiba-tiba saja menjadi lebam dan bahkan ada yang sampai mengeluarkan darah.


Sutra Pengendalian Jiwa bila dihafalkan dengan cara yang biasa, tentu tidak akan melukai. Namun efeknya membutuhkan proses yang panjang. Belum lagi, ini pun bergantung pada diri setiap orang.


Wang Zhao awalnya pun ikut mengalami rasa sakit di tubuhnya ketika diminta mempelajari sutra ini untuk pertama kalinya oleh Tetua Dao Fang An. Jelas, dia kesulitan karena memang dirinya tidak mendapat cara didikan dari aliran yang sama dengannya.


Satu hal yang lebih penting lagi adalah Wang Zhao belum pernah mengambil nyawa banyak orang. Dia sangat jauh berbeda dari orang lain dan karena hal ini jugalah yang membuatnya tidak terlalu merasakan sakitnya mempelajari Sutra Pengendalian Jiwa.


"............ Kurasa ini mulai berlebihan,"


Tetua Chen Duan Shan merasakan situasi semakin tidak baik bagi Xiao Shuxiang. Dia awalnya berpikir bahwa efek dari Sutra Pengendalian Jiwa tidak akan separah ini, mengingat pemuda itu masih berusia muda.


"............ Kualitas tulangnya berusia 21 Tahun. Mustahil dia sudah mengambil nyawa ribuan orang dengan usia yang begitu muda. Bahkan meski dia yang sudah membantai warga kota itu, efek separah ini tidak akan terjadi. Rasanya..."


Tetua Chen Duan Shan tidak sanggup berkata-kata, dia sudah terlalu terkejut dengan apa yang disaksikannya ini.


Sutra Pengendalian Jiwa akan lebih buruk efeknya bila dipelajari oleh kultivator Aliran Hitam yang pernah membunuh hingga lebih dari lima ratus orang.


Masalahnya, ada berapa banyak nyawa yang pernah diambil Xiao Shuxiang?! Yang terlihat itu bukanlah efek dari lima ratus nyawa, bahkan bukan puluhan ribu.


Sebenarnya, berapa ratus ribu orang yang pernah dia bunuh?! Padahal usianya itu bahkan belum mencapai usia di mana dia mampu menantang dunia.


!!!

__ADS_1


Tetua Chen Duan Shan terkejut dan bahkan terdorong mundur oleh gelombang energi yang dahsyat. Dia memuntahkan darah dan baru tersadar bahwa batu tempat Xiao Shuxiang duduk sebelumnya kini meledak.


Mata Tetua Chen Duan Shan melotot. Dia melihat energi spiritual berunsur api dan melesat ke langit. Energi itu membentuk hewan yang tidak lain adalah seekor Phoenix.


"............ Phoenix Api?" Tetua Chen Duan Shan terbatuk, dadanya terasa sakit tapi masih mencoba untuk menyaksikan burung Phoenix Api yang terbang itu.


Di Alam Kultivasi Atas. Phoenix Api sebenarnya ada, namun jarang ditemui. Tempat tinggal Demonic Beast langka itu berada sangat jauh dari wilayah tempat tinggal manusia. Bahkan itu merupakan pegunungan yang curam dan dipenuhi bebatuan berapi.


"............. Bagaimana--" Tetua Chen Duan Shan kembali terkejut saat mendengar ledakan di langit. Phoenix Api yang dia lihat membentangkan sayapnya sambil mengeluarkan suara keras dan sangat memekikkan telinga.


Ledakan yang tercipta dari bentangan sayap burung tersebut bahkan mampu menghilangkan kumpulan awan di kedua sisinya. Untuk sesaat, langit terlihat berwarna merah-keemasaan dan itu merupakan sesuatu yang menakutkan daripada menakjubkan.


Phoenix Api yang disaksikan oleh Tetua Chen Duan Shan mempunyai bulu sayap yang berwarna merah menyala dengan bulu perut berwarna kuning-keemasan. Bulu ekornya panjang dan terlihat indah serta perkasa.


Demonic Beast tersebut mempunyai tatapan mata yang tajam dan merupakan wujud dari sebuah kekuasaan. Phoenix itu seakan memandang rendah siapa pun yang berada di bawahnya.


Tetua Chen Duan Shan bersiap untuk kemungkinan harus bertarung dengan Demonic Beast yang entah bagaimana bisa muncul. Bahkan karena terlalu tegang, dia tidak mengetahui di mana Xiao Shuxiang sekarang.


Phoenix itu menukik turun dan seakan hendak menerkam Tetua Chen Duan Shan. Hanya saja di saat yang sama, Tetua Chen melesatkan serangan yang besar dan bahkan tidak kalah cepat dari anak panah.


Ledakan karena benturan kekuatan itu membuat tanah yang dipijak oleh Tetua Chen Duan Shan bergetar hebat. Phoenix Api tersebut turun dan membuat danau air terjun kembali meledak. Seseorang terlihat berdiri dengan dipenuhi energi spiritual api.


"Nak..!" Tetua Chen Duan Shan tersentak. Dia melesat dan kemudian mendarat di samping sosok yang tak lain adalah Xiao Shuxiang.


"Nak, kau baik-baik saja?" raut wajah Tetua Chen Duan Shan nampak begitu khawatir. Dia menyentuh bahu pemuda di sampingnya.


Xiao Shuxiang menggeleng pelan, lebam pada tubuhnya sudah tidak lagi terlihat. Rasanya luka yang disaksikan Tetua Chen Duan Shan sebelumnya hanyalah ilusi saja. Padahal Tetua Chen Duan Shan yakin pemuda ini terluka parah.


"Yang tadi itu .... Kupikir aku sudah mati," Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan mengusap wajahnya yang basah karena air. Dia berdecak sambil menaruh tangannya di pinggang.


Tetua Chen Duan Shan berkedip melihat kondisi Xiao Shuxiang yang jauh dari apa yang dirinya bayangkan. Dia tanpa sadar bertanya, "Apa kau sungguh baik-baik saja?"


"Huuuft .... Ini ternyata lebih sulit dari yang kukira," Xiao Shuxiang berujar tanpa menoleh ke arah Tetua Chen Duan Shan. Rasanya seakan-akan dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.


"Nak--"


"Tidak hanya segel di dalam tubuh ini, bahkan Yīng xióng pun kadang menjadi penyegel untuk menahanku. Padahal yang kulakukan hanya----dan semua itu bahkan tidak merugikan banyak orang."


"Nak--"


"Apa sungguh aku semengerikan itu hingga semua orang takut-"


"Nak! Apa kau mendengarku?!" Tetua Chen Duan Shan membentak dan membuat Xiao Shuxiang tersentak kaget.


Tetua Chen Duan Shan pun menggeleng pelan, "Kau ini keterlaluan sekali. Aku sudah memanggilmu sejak tadi, apa kau pikun hah?"


"Te-Tetua Chen," Xiao Shuxiang terlihat tersenyum getir. Dia pun berujar pelan, "Anda tenanglah. Tenang ...."


Xiao Shuxiang berkata, "Aku tidak apa-apa. Tubuhku awalnya sakit, tapi kini sudah tidak lagi."


"Kau menyebalkan sekali," Tetua Chen Duan Shan berujar, "Orang tua ini sudah sejak tadi mengkhawatirkanmu. Takut bila sesuatu yang buruk terjadi padamu, tapi kau justru .... Haaah... Tsk, tsk, tsk."


Tetua Chen Duan Shan ingin sekali menjitak kepala Xiao Shuxiang, namun niat itu dia urungkan. Tetua Chen Duan Shan pun memijat keningnya dan lalu mengajak pemuda di sampingnya kembali ke kediamannya.


Xiao Shuxiang tidak mendebat. Dia pun sebenarnya sudah lelah dan memang ingin istirahat. Dibanding dengan lelah tenaga, dirinya jauh lebih lelah mental saat ini.


"Punggungmu ...." Tetua Chen Duan Shan berujar saat Xiao Shuxiang mengambil pakaiannya kembali. Dia melihat lukisan phoenix di punggung pemuda ini dan bahkan phoenix itu pun nampak bergerak.


"Apa ayahmu adalah Demonic Beast?" Tetua Chen Duan Shan bertanya karena penasaran.

__ADS_1


Xiao Shuxiang memakai kembali pakaian miliknya dan menjawab, "Ayahku hanya manusia biasa. Bagaimana bisa Tetua berpikiran semacam itu?"


"Jika bukan ayahmu, apa mungkin itu ibumu?"


"Tidak, Tetua Chen. Orang tuaku sama sekali bukan Demonic Beast. Mereka hanya manusia biasa. Satu-satunya yang mengalir di dalam darah ayahku hanya darah bangsawan,"


"Lalu bagaimana kau menjelaskan tentang lukisan phoenix yang kulihat di punggungmu itu?" Tetua Chen Duan Shan tidak tertarik dengan bangsawan di Alam Kultivasi Bawah. Dia punya sesuatu yang lebih penting untuk dibahas.


Xiao Shuxiang sambil berjalan, dia pun menjawab pertanyaan dari pria tua yang ada di sampingnya ini. Dia berkata, "Bisa dibilang aku pernah memakan daging phoenix. Tapi sebenarnya aku sendiri pun kurang tahu bagaimana punggung-"


"Tunggu. Kau memakan apa barusan?" Tetua Chen Duan Shan menyela. Raut wajahnya tidak biasa.


Xiao Shuxiang berkedip dan dengan polos menjawab, "Aku pernah makan phoenix..."


"Kau tahu phoenix adalah Demonic Beast paling langka, kan? Bagaimana kau bisa memakannya?!" Tetua Chen Duan Shang merasakan sakit pada lehernya karena Xiao Shuxiang tidak menghargai makhluk surgawi itu.


Xiao Shuxiang terperangah sejenak sebelum kemudian berkata, "Yang kumakan hanyalah phoenix yang sudah sekarat, bahkan usianya pun masih sangat muda. Bukannya tidak ingin dihargai, tapi kondisinya memang tidak mungkin diselamatkan lagi."


Xiao Shuxiang berkata, "Aku bahkan merasakan perih di hatiku saat memakan Demonic Beast itu. Rasanya .... Bahkan masih sesak di sini,"


Xiao Shuxiang menarik napas saat ingat berapa uangnya yang keluar hanya untuk seekor phoenix yang sekarat. Uang yang sudah dia kumpulkan lenyap begitu saja. Itu adalah masa lalu yang paling terasa sakit selama hidupnya.


Tetua Chen Duan Shan menjelaskan, "Phoenix, apalagi yang berjenis api memiliki Demonic Core yang paling murni di antara Demonic Beast yang lain. Saat dewasa, dia bahkan bisa memangsa seekor naga. Yang paling berbahaya dari phoenix adalah dia merupakan binatang yang mampu hidup kembali. Phoenix merupakan simbol dari Keabadian, tapi kau justru...."


"..............." Xiao Shuxiang mengangguk pelan, dia mengetahui hal ini. Abu dari seekor Phoenix Api yang mati akan mampu melahirkan phoenix baru yang daya hidupnya bahkan lebih besar lagi.


"Ini akan rumit ...." Tetua Chen Duan Shan mengusap-usap dagunya, "Kau memiliki Roh Phoenix Api dalam dirimu dan ini hal yang cukup berisiko. Pelatihan yang kuberikan padamu bertentangan dengan Roh Phoenix ini,"


"Jadi latihannya gagal?" Xiao Shuxiang kaget dan bahkan sampai menghentikan langkah kakinya.


"Apa kau merasakan ada yang berubah?"


Xiao Shuxiang mengerutkan kening dan menatap kedua telapak tangannya. Dia pun berujar pelan, "Aku ... Sebelumnya merasa darahku seperti ditenangkan. Itu membuat pikiranku menjadi jernih dan punggungku terasa ringan,"


"Lalu bagaimana dengan sekarang?" Tetua Chen Duan Shan bertanya, namun itu justru membuat Xiao Shuxiang terdiam.


Melihat kebungkaman pemuda ini membuat Tetua Chen Duan Shan mengembuskan napas. Dia sudah tahu hanya dengan jawaban 'diam' dari Xiao Shuxiang.


Tetua Chen Duan Shan berkata, "Darah Phoenix Api seperti deras air terjun dan jika disatukan dengan kekuatanmu yang juga mempunyai kondisi yang sama----itu akan menjadi ombak yang bergejolak. Ini mempengaruhi nafsu membunuhmu dan memang sangat pantas kau diberikan Segel 12 Bintang,"


"Tapi Tetua Chen, aku merasa dalam keadaan yang baik. Aku bisa--"


"Tidak jika kau berada dalam sebuah pertarungan," Tetua Chen Duan Shan menyela. "Bukankah sudah kukatakan, kekuatanmu seperti gelombang besar di dalam danau yang tenang. Jika kau terlalu bersemangat, kau akan kesulitan mengendalikan diri. Apalagi teknikmu dalam mengayunkan pedang lebih fokus pada bagaimana membunuh lawan tanpa peduli risikonya,"


"Bagaimana Tetua Chen bisa tahu?" Xiao Shuxiang berujar, "Aku terkesan. Padahal pertemuanku denganmu masih bisa dihitung dengan satu tangan,"


Tetua Chen Duan Shan terbatuk pelan dan kemudian berkata, "Kau adalah anak yang masih muda. Di usiamu ... Kau memiliki emosi yang berapi-api. Dan mereka yang seusiamu mempunyai kondisi yang nyaris sama,"


Xiao Shuxiang menyilangkan tangan dan menyentuh pelan rambut poninya. Dia memikirkan sesuatu dan sebenarnya setuju dengan ucapan Tetua Chen Duan Shan andai dia tidak ingat usianya yang sebenarnya.


Xiao Shuxiang bernapas pelan, "Nafsu membunuhku yang mempunyai peran besar dalam hal ini. Dahulu aku menekan nafsu itu dengan hibernasi dan lumayan efektif, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama dalam kondisi seperti ini."


Sekarang, tidur merupakan salah satu ancaman terbesar bagi Xiao Shuxiang. Dia perlu cara lain agar bisa menekan nafsu membunuhnya.


"Apa mungkin .... Aku harus melakukan Pembersihan Iblis Hati?" Xiao Shuxiang membatin saat mengingat bahwa dia memang selalu menghindari melakukan hal ini.


"Ada apa?" Tetua Chen Duan Shan bertanya, "Kau memikirkan ucapanku?"


"Aku butuh cara lain, Tetua. Sesuatu yang tidak hanya mampu menekan nafsu membunuhku, tetapi juga membuatku bisa mengendalikannya. Aku butuh teknik yang seperti itu,"

__ADS_1


"..............." Tetua Chen Duan Shan pun memikirkannya, dia mengusap-usap dagunya dan kemudian berkata. "Sebaiknya jangan terburu-buru, lagi pula ini masih hari pertamamu. Kita akan mencarinya, tidak ada hal yang tak bisa dilakukan selama berusaha. Ayo ikuti aku,"


******


__ADS_2