![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
"Sangat mengejutkan mendapat kunjungan dari orang-orang seperti kalian," Xiao Shuxiang mendengus pelan dan lantas bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan dan mengajak Yan Tianhen serta tamunya yang lain untuk duduk di kursi kayu yang ada di ruangan itu.
Ling Qing Zhu dan Zhi Shu sepertinya mengerti bahwa Xiao Shuxiang tidak menolak kehadiran Yan Tianhen, Li Huanshou, termasuk Jian Yang. Mereka berdua pun berjalan keluar untuk pergi menyiapkan minuman dan makanan ringan meski tanpa diminta.
"Aku rasa kedatangan kalian kemari tidak hanya mengucapkan terima kasih, benar kan?" Xiao Shuxiang berujar saat Zhi Shu dan Kucing Putihnya berjalan keluar.
Liu Wei Lin yang duduk di salah satu kursi nampak melambaikan pelan kipasnya dan berkata, "Saudara Xiao. Ucapanmu ada benarnya, mereka memang tidak hanya datang untuk berterima kasih. Tianhen, ayo katakan padanya."
"Kau-" Yan Tianhen menatap tidak suka pada Liu Wei Lin. Dia sebenarnya ingin merutuki saudara seperguruannya ini, tetapi Wen Gao Chong memegang tangannya dan nampak menggeleng pelan sebagai isyarat agar dia tidak sampai tersulut emosi.
Yan Tianhen pun menarik napas dan mencoba menenangkan diri. Dia pun beralih dan menatap Xiao Shuxiang. Suaranya pelan, "Aku ... Juga ingin meminta maaf atas .... Semua perlakuan tidak baikku selama ini. Aku hanya ...."
Yan Tianhen menyenggol Wen Gao Chong dan seakan meminta bantuan pada rekannya itu. Ucapan semacam ini tidak dapat dilakukan jika hanya dia sendiri yang bicara.
Wen Gao Chong lantas bersuara, "Aku juga ingin meminta maaf atas sikapku yang mungkin sudah kelewatan padamu. Ini sebenarnya bukan karena kami menaruh dendam padamu. Hanya saja, kau dekat dengan Wang Zhao dan itu masalahnya."
Xiao Shuxiang tersentak, begitu pula dengan Mo Huai dan Lan Guan Zhi. Ketiganya langsung mengarahkan pandangan pada Wang Zhao. Teman mereka itu terlihat memasang wajah yang biasa-biasa saja.
Mo Huai dengan gugup bertanya, "Ke-kenapa kalian begitu ti-tidak sukanya pada Tuan Muda Wang? Memang pe-perbuatan apa yang sudah dia lakukan pada kalian?"
Yan Tianhen, Wen Gao Chong dan Liu Wei Lin saling bertatapan mata dengan Wang Zhao. Lan Guan Zhi bisa melihat bahwa ada masalah pribadi antara keempat orang ini yang kemungkinan tidak bisa dijelaskan pada orang lain.
Xiao Shuxiang hanya memandang ke depan dan berkata, "Aku tidak peduli jika memang kalian tidak ingin memberikan penjelasan apa pun.."
Xiao Shuxiang melanjutkan, "Aku juga mengerti bahwa kalian memiliki masalah pribadi. Tetapi tidak seharusnya kalian memperlakukan orang-orang yang dekat dengan Wang Zhao sebagai musuh, bahkan jika kalian sangat membencinya."
"Itu adalah kesalahan kami," Wen Gao Chong berujar pelan. Suaranya yang penuh wibawa tersebut membuat apa yang dia ucapkan terdengar begitu tulus.
Xiao Shuxiangmengembuskan napas pelan dan mengangguk, "Baiklah. Aku kagum pada kalian yang mau mengesampingkan segalanya dan datang kemari untuk meminta maaf,"
Xiao Shuxiang menatap Yan Tianhen dan berkata, "Aku juga ingin mengucapkan hal yang sama. Maaf karena aku pernah menyakitimu,"
Yan Tianhen mengangguk pelan. Dia pun mendengar Jian Yang bicara. Pemuda itu juga datang untuk meminta maaf pada Xiao Shuxiang.
Jian Yang, "Aku dan para saudara seperguruanku mungkin tidak akan selamat jika kau tidak membantu kami. Aku mengucapkan terima kasih dan maaf atas segala sikap kami yang agak kurang ajar,"
"Kalian memang anak-anak yang liar," Xiao Shuxiang menyilangkan tangan dan merutuki Jian Yang, "Kau dan juga teman-temanmu sangat terkenal sebagai biang rusuh di Istana Seribu Pedang. Kalian sudah merusak citra dari perguruan yang begitu suci ini. Apakah sangat bagus jika terkenal sebagai berandalan, huh?"
Jian Yang dan Li Huanshou tertunduk. Keduanya ingin membela diri, tetapi ucapan pemuda di hadapan mereka tidak salah. Mereka memang seterkenal itu.
Melihat bahwa kedua pemuda ini hanya diam membuat Xiao Shuxiang kembali bicara, "Aku tahu kalian masih muda. Jadi sifat pembangkangan itu wajar-wajar saja. Aku sendiri juga tidak akan mau menurut pada sesuatu yang tidak kuinginkan, tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya merugikan orang lain."
"Kau sering merugikan orang lain," Lan Guan Zhi ikut bicara dan membuat Xiao Shuxiang tersentak.
__ADS_1
"Lan Zhi, aku tidak membahas tentang diriku. Aku sedang menasehati mereka, jangan menyelaku dulu."
"Mn,"
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan menatap Jian Yang, "Aku mengerti kau dan teman-temanmu tidak suka pada Lan Guan Zhi-ku. Aku juga kadang kesal padanya. Dia tidak hanya orang yang hemat bicara, tetapi juga wajah papan datarnya itu sangat menganggu. Ketampanannya begitu memuakkan,"
"Kau juga tampan,"
"Lan Zhi, jangan menyela saat aku sedang mengeluhkan tentangmu."
"Mn, baiklah."
"Intinya, Lan Guan Zhi memang tipe orang seperti ini. Kalian perlu mengenalnya lebih dalam, dia sama sekali bukan orang yang angkuh. Dia ini anak yang baik, jadi kalian harus berteman akrab dengannya."
Jian Yang tertegun selama beberapa saat kala memperhatikan Xiao Shuxiang bicara. Sementara Li Huanshou sendiri nampak berkedip dan memandangi Xiao Shuxiang serta Lan Guan Zhi secara bergantian.
Secara spontan, Li Huanshou bertanya. "Apa hubungan di antara kalian?"
Xiao Shuxiang menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, "Dia temanku. Kenapa menanyakan itu?"
"Saudara Xiao, apa kau lupa sesuatu?" Liu Wei Lin membuka suara, "Bukankah kau dan Tuan Muda Lan sudah menjalin hubungan yang lebih dekat dari sekadar 'teman' saja?"
Xiao Shuxiang tersentak dan langsung menatap ke arah Liu Wei Lin. Dia melihat senyum aneh dari teman barunya itu, "Saudara Liu. Jangan katakan hal yang bukan-bukan, tolonglah."
Mo Huai tersentak saat namanya tiba-tiba disebut, dia menatap Liu Wei Lin dan berkata. "Apa itu tentang pernikahan antara Tuan Muda Xiao dengan Tuan Muda Lan?"
"Mo Huai..!" Xiao Shuxiang terlambat berseru. Ucapan pemuda itu didengar jelas oleh Jian Yang, Li Huanshou termasuk Yan Tianhen dan Wen Gao Chong. Keempat orang itu seperti mendengar petir di telinga mereka.
Jian Yang membuka mulut, tetapi tidak mengutarakan sepatah kata pun. Dia cukup lama bereaksi dan sampai menggeleng pelan karena merasa pendengarannya agak terganggu.
"Ka-kalian..." Li Huanshou tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Dirinya teramat kaget. Apalagi jika diperhatikan dengan lebih saksama, memang Lan Guan Zhi dan pemuda di hadapannya ini seakan mempunyai hubungan yang sangat akrab.
"Jangan langsung percaya pada apa pun yang kalian dengar," Xiao Shuxiang berujar dan berusaha untuk membela dirinya. "Aku dan Lan Zhi adalah teman yang baik. Hubungan kami akrab seperti saudara dan juga sering mengalami pertengkaran layaknya saudara. Aku dan Lan Zhi saling mengenal sejak kecil, jadi kalian bisa simpulkan sendiri sedekat apa hubungan di antara kami."
"..............."
Meski sudah diterangkan langsung oleh Xiao Shuxiang, tapi tidak ada pembelaan apa pun dari pihak Lan Guan Zhi. Apalagi, Li Huanshou memperhatikan bahwa Lan Guan Zhi hanya diam dan menatap Xiao Shuxiang cukup lama.
Yan Tianhen dan Jian Yang pun merasa agak aneh. Jika diperhatikan baik-baik, Lan Guan Zhi terlihat seperti pemuda dengan tatapan mata yang dingin. Hanya saja ketika sosok di hadapan mereka menatap Xiao Shuxiang, sorot mata yang membekukan itu nampak teduh dan menenangkan.
Ini mungkin hanya perasaan mereka dan mungkin juga karena pikirkan keduanya yang terpengaruh dengan ucapan Mo Huai tadi. Jadi, sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja malah menjadi ambigu.
Pembicaraan antara Xiao Shuxiang dengan keempat tamunya dan Liu Wei Lin sendiri berlangsung cukup lama. Zhi Shu yang datang sambil membawa makanan ringan dan teh bahkan ikut serta dalam pembicaraan itu. Satu-satunya orang yang hanya menggumam pelan dan mengangguk saat diajak bicara tidak lain adalah Ling Qing Zhu.
__ADS_1
Untuk Lan Guan Zhi, dia kadang berujar paling banyak enam kata dan sejujurnya lebih sering menjadi penerjemah dari Ling Qing Zhu. Dia mungkin adalah satu-satunya orang di dalam ruangan itu yang bisa memahami arti dari tatapan mata gadis berambut putih ini.
Awalnya, Yan Tianhen dan yang lainnya masih sangat canggung serta sama-sama waspada satu sama lain. Apalagi dalam kondisi di mana mereka juga harus berhadapan dengan Wang Zhao yang notabenenya mempunyai hubungan tidak baik dengan mereka.
Hanya saja, di hadapan Xiao Shuxiang----kecanggungan itu hanya berlangsung lama sampai digantikan dengan suasana yang hangat dan menyenangkan. Tidak hanya Xiao Shuxiang yang membuat suasana menjadi hidup, tetapi juga Zhi Shu. Apalagi, spontanitas dari Mo Huai membuat ruangan itu menjadi lebih meriah.
Mereka sebenarnya membicarakan hal yang serius, namun karena gaya bicara Xiao Shuxiang dan Zhi Shu----suasana sama sekali tidak dipenuhi ketegangan. Xiao Shuxiang sendiri tidak menyangka bahwa Jian Yang dan Li Huansho adalah tipe pemuda yang menyenangkan diajak bicara, bahkan kedua orang ini bisa ikut masuk dalam candaan mereka.
Di sisi lain, Mo Huai tertegun dan sampai berkedip beberapa kali. Sifat asli Jian Yang dan Li Huansho mulai terlihat ketika kedua orang ini mulai semakin dekat dengan Xiao Shuxiang. Baginya, kedua murid Istana Seribu Pedang itu hampir sama dengan karakteristik murid dari Sekte Kupu-Kupu. Itu berarti, mereka tipe orang yang bebas, tidak taat aturan dan merupakan jenis teman yang bisa diajak melakukan hal-hal gila dan tidak mungkin dilakukan oleh kultivator yang peduli pada wibawa mereka.
Untuk Yan Tianhen, dia sosok yang cukup peduli pada tingkah lakunya. Dia orang yang masih bisa menjaga citranya dan bersikap selayaknya murid dari salah satu Tetua Gunung Puncak Suci. Meski pada beberapa kesempatan, dia dengan semangat membalas candaan dari Xiao Shuxiang yang memang memancing seseorang untuk menantangnya.
Ling Qing Zhu sendiri meski tidak tahu caranya bergabung dengan pembicaraan para pemuda ini----namun dia senang jika melihat Wali Pelindungnya bisa tertawa lepas. Xiao Shuxiang memang memiliki senyuman yang menawan dan tawanya membuat orang lain ikut bahagia.
Lan Guan Zhi ikut tersenyum samar. Dia teringat pada ucapan Wali Kota Bulan Darah di Alam Kultivasi Bawah saat melihat teman baiknya seperti ini.
Xiao Shuxiang memang mempunyai potensi untuk menciptakan kedamaian. Dahulu, teman baiknya mampu membuat kultivator dari dua aliran yang jelas saling bersitegang menjadi seakrab saudara.
Kini, temannya ini kembali membuat hal yang hampir sama. Xiao Shuxiang dapat mengakrabkan Yan Tianhen dan yang lainnya dengan Wang Zhao. Potensi besar semacam ini sulit untuk dimiliki oleh orang lain.
"..............." Lan Guan Zhi semakin yakin bahwa Xiao Shuxiang memang sosok yang paling sulit dicari. Hanya saja memang, temannya ini memerlukan bimbingan yang lebih baik lagi. Apalagi, pada kebiasaan buruk Xiao Shuxiang jika berkaitan dengan pertarungan yang bisa merusak pandangan orang lain padanya.
"Nah, karena sekarang kita sudah sangat akrab .... Ehm... Bukankah aku harus dapat sesuatu?"
!!
Lan Guan Zhi tersentak mendengar ucapan teman baiknya. Dia langsung menatap Xiao Shuxiang dan melihat garis senyuman pada wajah teman baiknya itu. Yan Tianhen, Wen Gao Chong, Li Huanshou dan yang lainnya nampak mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?" Jian Yang bertanya sambil menatap Xiao Shuxiang.
"Tsk, kawan. Tidak mungkin kalian datang hanya dengan 'terima kasih' dan 'maaf' saja, kan? Serius. Apa tidak ada bingkisan atau apa pun sebagai pelengkap dari ucapan itu?"
"Saudara Xiao...!" Zhi Shu berseru, "Kau ini sangat memalukan. Bagaimana bisa kau... kau...! Haaah... Ya ampun,"
"..............." Ling Qing Zhu menggeleng pelan. Dia sudah memikirkan akan jadi seperti ini dan ternyata memang benar. Bahkan Mo Huai pin nampak sudah mengetahuinya.
Lan Guan Zhi mengembuskan napas. Teman baiknya memang orang yang paling tidak tahu malu. Dia harusnya sudah menduga hal ini. Tidak mungkin Xiao Shuxiang begitu ramah, apalagi baik pada orang yang sebelumnya mempunyai masalah dengannya.
Pasti jika Xiao Shuxiang melakukannya, selalu ada maksud dan tujuan tersendiri. Sulit sekali menemukan ketulusan murni pada setiap tindakan yang dilakukan teman baiknya ini. Xiao Shuxiang terlalu tidak terduga.
"Tuan Muda Xiao, kau selalu bisa membuatku terkejut." Mo Huai berdecak pelan, "Aku baru saja ingin membangga-banggakan dan memujimu. Tapi sekarang tidak jadi. Kau memalukan,"
******
__ADS_1