![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Wang Zhao membawa keranjang berisi pil buatan Mo Huai ke tempat Tetua Meng Hao Niang dan para murid Sekte Lautan Awan dirawat.
Sepanjang jalan itu, Wang Zhao nampak sedang memikirkan Sekte Lembah Iblis. Dia pun merasa kesal dan tidak menyukai apa yang dilakukan oleh kelompok itu. Dan hal paling menyebalkannya adalah dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku harus menjadi kuat secepatnya...." Wang Zhao bergumam dan tiba-tiba saja tersentak dengan suara keributan yang kemungkinan berasal dari tempat para murid Sekte Lautan Awan.
Dia pun mempercepat langkah dan kini bisa melihat sekumpulan murid yang nampak mengerumuni sesuatu. Samar-samar, Wang Zhao mendengar beberapa suara.
"Kau minumlah dulu,"
"Jadi mereka menghabisi nyawa sendiri?!"
"Tuan Xiao, ini airnya. Ayo basuh wajahmu,"
"Keterlaluan sekali..."
"Apa Tetua Wang baik-baik saja?"
"Aku membawa air lagi..!"
"Tuan Muda Lan, istirahatlah di sini."
"Apa nona Ling tidak apa-apa?"
Wang Zhao mengerutkan kening. Terlalu banyak suara yang tumpang-tindih. Dia tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tetapi dari yang bisa pendengarannya tangkap-----kemungkinan besar Xiao Shuxiang dan yang lainnya sudah kembali.
Itu memang benar. Xiao Shuxiang saat ini baru saja selesai membasuh tangan dan wajahnya. Tubuhnya masih lengket karena darah dan keringat, luka-lukanya pun belum diobati----tetapi dia terlihat tidak peduli dengan itu.
Xiao Shuxiang menoleh dan menatap pedang pusakanya yang kini hanya memiliki setengah dari panjang bilah sesungguhnya. Dia menahan napas dan sedikit teringat dengan masa lalu di mana pedang terbaiknya pun pernah patah walau lebih parah daripada ini.
Di sisi lain, Lan Guan Zhi duduk bersila dan sedang dirawat oleh Tetua Chu Sheng Nan. Dia tidak berada jauh dari tempat Xiao Shuxiang berada sehingga dia bisa melihat teman baiknya itu yang dalam suasana hati berkabut.
"..............."
Jika Xiao Shuxiang begitu pendiam seperti sekarang, maka bisa dipastikan dia sedang tidak baik-baik saja. Pemuda itu kemungkinan besar masih syok atas apa yang menimpa pedang pusakanya.
Ling Qing Zhu pun bisa merasakan ada perubahan pada Wali Pelindungnya. Dia hanya tidak mau mengungkit tentang hal ini dan memilih untuk membiarkan Wali Pelindungnya tenang terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaan Tetua Wang Jing Li?" Tetua Jiao Feng bertanya pada Tetua Meng Hao Niang. Dia khawatir karena sejak tadi Tetua Wang Jing Li mengerang kesakitan.
"Serangannya dibalikkan, tetapi untung saja dia tidak mati." Tetua Meng Hao Niang berujar tanpa nada, "Sepertinya lawan yang dia hadapi tidak dalam kondisi ingin bertarung. Jika tidak.... Aku bisa pastikan kematian Tetua Wang Jing Li."
!!
Wen Gao Chong yang saat ini berada di dekat Tetua Meng Hao Niang terkejut dengan apa yang dia dengar barusan. Beberapa murid Sekte Lautan Awan yang ada di tempat itu pun sama terkejutnya.
"Te-Tetua Meng?!" salah satu murid Sekte Lautan Awan dengan gugup berkata, "Apa ma-maksud Anda--"
"Siapa orang yang kalian lawan?" Tetua Meng Hao Niang bertanya pada Tetua Jiao Feng. Suara tegasnya membuat para murid tersentak.
"..............." Tetua Jiao Feng menggeleng pelan, "Aku tidak tahu .... Dia memiliki wajah yang tampan, berpakaian serba hitam dan mempunyai rambut sehitam tinta. Jenis rambut yang berbeda dari biasanya."
Tetua Meng Hao Niang memikirkan sebuah bayangan dan kembali bertanya, "Apa lagi yang menonjol dari orang itu?"
"Tatapan matanya menusuk, suaranya sangat dingin dan ..... Aku melihat ada kertas manusia--"
"Berhenti." Tetua Meng Hao Niang segera menyela dan membuat Tetua Jiao Feng tersentak. Dia kembali berkata, "Tidak perlu melanjutkannya."
Tetua Jiao Feng, "Apa Anda tahu siapa dia?"
"............ Tidak, tapi aku tahu dia orang yang sangat berbahaya."
Beberapa murid nampak mengembuskan napas kecewa. Mereka pikir Tetua Meng tahu tentang orang yang disebutkan oleh Tetua Jiao Feng, tetapi ternyata tidak.
Di sisi lain, Tetua Jiao Feng justru merasa bahwa Tetua Meng Hao Niang sedang menyembunyikan sesuatu. Ini karena dari cara wanita ini bersikap dan tindakan yang menyela ucapannya tadi----telah membuktikan bahwa Tetua Meng Hao Niang mengetahui identitas pria itu, tetapi tidak mau mengatakannya.
"..............." Tetua Jiao Feng menghela napas dan memperhatikan sekitarnya. Dia merasa bahwa Tetua Meng Hao Niang tidak berkata apa-apa karena saat ini banyak murid di sekeliling mereka.
Sekarang ini suasana sedang tidak kondusif, mereka punya banyak pekerjaan dan belum lagi masih banyak murid yang butuh perawatan.
"Kau kemarilah, aku juga perlu memeriksa lukamu." Tetua Meng Hao Niang memanggil Tetua Jiao Feng. Dia sudah banyak mengobati anggota Sekte Lautan Awan saat ini, namun tidak ada waktu untuk mengeluhkan apa pun sekarang.
Tetua Jiao Feng mengembuskan napas dan menurut. Dia duduk di hadapan Tetua Meng Hao Niang dan memang dalam kondisi yang sedang terluka.
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya, Yun Qiao Yue dan Tetua Chu Sheng Nan serta beberapa murid dari Gunung Puncak Xiyue mulai memperbaiki Sekte Lautan Awan.
Jian Yang dan Li Huanshou terpukau melihat ke-15 gadis cantik berbagai usia itu menggunakan teknik kultivasi mereka yang dikenal sebagai Xiūlǐ.
Selendang merah bermotif bunga yang berjumlah belasan itu melayang di sekitar reruntuhan bangunan Sekte Lautan Awan dan mulai berputar.
Bangunan sekte yang rubuh sedikit demi sedikit berdiri kembali dalam putaran selendang merah tersebut. Di sisi lain, para murid dari Puncak Xuyang yang semuanya adalah laki-laki nampak memakai formasi untuk menyatukan kembali tanah dari pulau terapung yang sebelumnya terbelah akibat kekacauan yang ditimbulkan anggota Sekte Lembah Iblis.
Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu yang menyaksikan bagaimana proses pemulihan sekte ini sampai menahan napas. Jika ini adalah tempat tinggal mereka, maka pasti butuh waktu yang tidak sebentar untuk memperbaikinya.
"..............."
Xiao Shuxiang sebenarnya kagum, tetapi suasana hatinya sedang tidak baik. Dia benar-benar malas bahkan untuk memuji betapa hebat kemampuan 'Memperbaiki' para kultivator dari dua Gunung Puncak Suci itu.
Xiao Shuxiang menoleh saat merasakan ada seseorang yang berdiri di dekatnya. Itu ternyata tidak lain adalah Liu Wei Lin, pemuda tersebut melambaikan kipas dan berbicara.
"Benda yang rusak bisa diperbaiki, pohon bisa ditanam lagi, tetapi nyawa yang hilang tidak mampu dihidupkan kembali."
"..............."
Liu Wei Lin menarik napas dan kembali berkata, "Tangan yang terluka bisa diobati. Pakaian yang koyak dapat dijahit kembali, tetapi nyawa yang hilang tidak bisa dihidupkan lagi."
Xiao Shuxiang hanya diam mendengar ucapan 'bernada' milik Liu Wei Lin. Dia tahu pemuda ini mengisyaratkan bahwa pedang pusakanya hanyalah benda, jadi jikalau pun patah----itu sesuatu yang wajar. Tapi masalahnya .... Ini tidak semudah itu.
"............. Yīng xióng bagian dari nyawaku," Xiao Shuxiang berujar sebelum berjalan pergi ke arah gedung yang sudah berdiri kokoh di hadapannya. Dia tanpa bicara lagi mulai meninggalkan Liu Wei Lin yang tertegun sambil berkedip beberapa kali.
Jian Yang melihat Xiao Shuxiang berjalan pergi. Dia memanggil-manggil temannya itu dan bahkan mengejarnya.
"Saudara Xiao...!"
"..............."
Xiao Shuxiang masuk ke sebuah ruangan yang sebelumnya merupakan milik salah seorang murid Sekte Lautan Awan dan tidak pernah keluar lagi. Dia mengurung diri dan bahkan menyegel pintu serta jendela agar siapa pun tidak masuk dan mengganggunya.
"Saudara Jian..!"
Jian Yang tersentak dan spontan menoleh. Dia melihat Li Huanshou mendekat ke arahnya.
"Ada apa dengan Saudara Xiao?" Li Huanshou bertanya dan digelengkan oleh Jian Yang.
"Aku memanggilnya, tapi dia sama sekali tidak menjawab. Kurasa .... Dia masih ingat dengan pedangnya,"
"Ya sudah, ayo kembali..." Li Huanshou bernapas pelan, "Kita biarkan dia tenang dahulu."
Jian Yang mengangguk pelan. Dia dan Li Huanshou berjalan pergi dan di luar gedung----mereka dihampiri oleh Liu Wei Lin, Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu.
"Bagaimana?" Liu Wei Lin bertanya, tetapi dijawab dengan gelengan pelan oleh Jian Yang dan Li Huanshou.
Liu Wei Lin mengembuskan napas dan kemudian berkata, "Biar aku yang pergi dan membujuknya."
"Sebaiknya jangan." Li Huanshou berujar, "Kupikir Saudara Xiao butuh waktu untuk sendiri,"
Lan Guan Zhi mengangguk pelan, dia pun setuju dengan ucapan Li Huanshou. Di sisi lain Ling Qing Zhu juga khawatir dengan kondisi Wali Pelindungnya, tetapi memang untuk saat ini-----membiarkan Xiao Shuxiang menenangkan diri adalah pilihan yang tepat.
Selama dua hari penuh itu, para tetua dan sebagian besar murid Sekte Lautan Awan mengurus pemakaman kultivator yang tewas. Mereka pun bahkan mengurusi mayat para anggota Sekte Lembah Iblis.
Ada sebuah pulau terdekat yang juga bagian dari Sekte Lautan Awan. Tempat itu akrab disebut Shī shān, gunung di mana mayat-mayat dikuburkan.
Xiao Shuxiang tidak ikut dalam prosesi pemakaman para murid Sekte Lautan Awan. Dia fokus pada pemulihannya.
Tetua Chu Sheng Nan sebelumnya sudah mengobati luka luarnya dan Tetua Meng Hao Niang pun juga telah memberinya beberapa pil obat. Kedua wanita itu baik karena berniat menyembuhkan luka dalamnya, tetapi Xiao Shuxiang menolak.
Pemuda itu tahu bahwa ada luka dalam yang hanya mampu diobati seorang diri.
Jadi memang akan percuma bila harus membiarkan Tetua Chu Sheng Nan dan Tetua Meng Hao Niang memeriksanya.
Kondisi Sekte Lautan Awan sendiri masih belum bisa dikatakan 'kembali normal', ini karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Apalagi suasana hati para tetua dan murid-murid masih dalam keadaan berkabung.
*
__ADS_1
*
Kondisi Sekte Lautan Awan berbeda jauh dengan kondisi Kota Yán Gēn, Sekte Lembah Cahaya Surgawi. Tempat itu sangat ramai bahkan di siang hari.
Ada seorang pria yang mempunyai tubuh gempal, pakaiannya terbuat dari kain kualitas terbaik dan begitu mewah. Dia seperti saudagar kaya, apalagi dengan perhiasan di leher dan setiap jari-jari tangannya.
Ada dua pria lain yang menjadi pengawal orang itu. Keberadaan mereka mencuri perhatian pedagang dan pengunjung di Kota Yán Gēn ini. Hanya saja, bila lebih diperhatikan dengan baik----ekspresi para pedagang itu lebih kepada takut daripada merasa senang.
Para pengunjung pun bahkan menepi dan seakan memberi jalan pada ketiga orang itu. Mereka menunduk dan sebagian lagi bahkan mencari jalan yang lain.
Ketiga pria itu berasal dari keluarga Cao. Mereka adalah Wen Ting, Wen Zhang dan satu-satunya pria bertubuh gempal di antara mereka adalah Cao Wen Jing.
"Bukankah mereka terlalu penakut?" Cao Wen Jing tertawa mengejek dan berjalan ke salah seorang wanita yang menarik perhatiannya. Dia dengan tidak tahu malu malah menggoda wanita itu dan bahkan berniat melecehkannya.
"Nona~ kau sangat cantik. Apa aku boleh menyentuhmu, hmm?"
"Ma-maafkan aku," suara wanita itu bergetar dan menepis tangan Cao Wen Jing. Dia berusaha untuk pergi, tetapi tangannya justru dipegang kuat.
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu, apa tidak boleh~?"
"Tolong lepaskan aku," wanita cantik itu sebenarnya bisa saja melawan, tetapi dia hanya akan mati jika berhadapan dengan anggota keluarga Cao. Mereka adalah orang yang disegani di tempat ini dan bisa dibilang Kota Yán Gēn merupakan daerah kekuasaan mereka.
"Tolong Tuan Muda... Tolong lepaskan saya," wanita itu berusaha melepaskan pegangan tangan pria bertubuh gempal di hadapannya. Hanya saja, semakin dia memberontak----justru pria itu semakin senang.
Ekspresi wajah Cao Wen Jing nampak seperti pria mesum dan penjahat. Siapa pun juga akan merasa dilecehkan hanya dengan tatapan mata orang yang tidak tahu tata krama itu.
"Nona, kau tidak perlu malu~ bagaimana jika kau menemani kami bertiga sampai malam, hmm? Aku akan memberikan apa pun yang kau mau~"
"Tidak Tuan Muda, tolong lepaskan aku.."
"Ha ha ha, suaramu indah sekali. Aku--"
"Aah~ berapa lama aku harus menunggu. Aku lelah sekali~"
?!
Ada suara wanita yang menyela ucapan Cao Wen Jing. Semua orang yang tegang sebelumnya langsung mengarahkan pandangan pada satu titik. Beberapa orang bahkan tanpa sadar membuat jalan saat menoleh ke belakang. Mereka kini melihat ada seorang gadis yang duduk di sebuah meja sambil memain-mainkan sedikit rambutnya.
!!!
Sebelumnya, tidak banyak orang yang memperhatikan. Hanya beberapa dan itu pun dengan cara yang diam-diam. Tapi sekarang, semua pandangan seakan tertuju pada gadis tersebut.
Sosok itu memakai pakaian yang sedikit aneh, berbeda dari gadis biasanya. Dia memakai celana panjang hitam yang ketat, pakaian ungu dengan rok selutut yang mengembang, bercorak bunga.
Gadis itu memiliki bentuk tubuh yang bagus, sangat diidamkan setiap wanita dan bahkan membuat pria kesulitan menelan ludah. Cao Wen Jing bahkan sampai tertegun dengan mata yang membulat sempurna, dia bahkan tanpa sadar berkeringat dingin.
"Cantik sekali~" Cao Wen Jing sudah terkenal sebagai pria mesum dan telah membuktikan diri sebagai orang yang sudah banyak melecehkan perempuan sebelum dibunuh. Tetapi sepertinya baru kali ini dia merasakan sesak pada dada dan bagian 'pribadi'-nya.
Cao Wen Jing tanpa sadar melepaskan pegangan tangannya pada gadis yang sebelumnya dia goda. Dirinya pun berjalan ke arah gadis cantik yang sepertinya tidak tahu sedang ditargetkan.
Senyuman mesum terlukis di wajah Cao Wen Jing dan semakin lebar ketika dia sudah di depan gadis yang menjadi incarannya. Dia memperhatikan gadis di depannya dari bawah sampai ke atas dan benar-benar membuatnya semakin sesak.
Tanpa ragu, Cao Wen Jing melihat tangan kiri gadis cantik di hadapannya. Tangan indah dan lentik milik gadis bertubuh bagus ini nampak menepuk pelan jubah ungu yang terlipat rapi di pangkuannya.
Cao Wen Jing menelan ludah dan mulai mengulurkan tangan. Dia meraih tangan indah itu dan membuat sang gadis cantik tersentak.
"..............."
Gadis dengan tubuh menggiurkan itu sama sekali tidak menepis tangan pria asing yang memegangnya. Justru dia mengerutkan kening dan berekspresi kebingungan.
"Kau butuh sesuatu, Tuan?" gadis berambut sebahu tersebut bertanya pada pria bertubuh gempal di hadapannya. Dia membuat pria itu menutup mata sambil menggeleng pelan.
"Suara dengan nada yang indah~ sangat cantik dan menggairahkan. Siapa namamu, Nona~?" Cao Wen Jing mencium punggung tangan gadis yang masih duduk di meja kayu di hadapannya.
Tindakannya itu membuat terkejut orang-orang, bahkan banyak di antara mereka yang menahan napas dan menatap Cao Wen Jing dengan pandangan jijik.
Hanya saja di sisi lain, gadis cantik yang punggung tangannya dicium justru tidak merasa keberatan sama sekali. Gadis itu bahkan tersenyum dan berkata, "Sebelum kujawab. Bukankah sebaiknya Tuan yang lebih dulu memperkenalkan diri..?"
"Manis sekali~ Aku Wen Jing, Tuan Muda dari keluarga Cao. Tapi kau bisa memanggilku, 'Sayang~'. Bagaimana denganmu, Cantik?"
Gadis cantik itu mendengus pelan sebelum tersenyum. Dia pun menjawab, "Tuan bisa memanggilku .......... Yi Wen~"
******
__ADS_1