![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Catatan Penulis :
Kata dengan bentuk italic adalah bagian dari ingatan.
*
*
*
Jian Yang terlihat sangat khawatir. Dia sekarang melayang dengan memakai pedang pusakanya, tepat di sekitar pulau tempat bangunan Sekte Lautan Awan.
Tidak hanya Jian Yang, tetapi juga Yan Tianhen, Lan Guan Zhi, Ling Qing Zhu, termasuk Tetua Wang Jing Li dan Tetua Xie Yanran juga ada. Bahkan beberapa murid Sekte Lautan Awan pun juga ada. Mereka seakan mengelilingi pulau terapung tersebut.
"Kita sudah menunggu lama dan masih belum ada tanda dari Saudara Xiao," Jian Yang menelan ludahnya, "Apa mungkin rencananya sudah gagal?"
"..............." Lan Guan Zhi mendengarnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Di sisi lain, Tetua Wang Jing Li nampak mengepalkan tangannya. "Ini harusnya tidak terjadi jika aku tidak mendengarkan anak itu. Dia jelas masih sangat muda, tapi kenapa aku malah membiarkannya?"
Tetua Wang Jing Li merasa buruk. Dia tahu usia Xiao Shuxiang yang bahkan belum mencapai kepala tiga dan dia seharusnya melarang rencana berisiko pemuda tersebut, tetapi ucapan Xiao Shuxiang tadi sangat menyakinkan hingga dia percaya.
Tetua Xie Yanran pun merasa buruk. "Ini bahkan sudah lebih dari 7 menit, sangat berbeda dengan rencana awal yang hanya dikatakan lima menit. Aku tidak bisa terus diam di sini,"
"Aku akan pergi," Tetua Wang Jing Li hendak melesat ketika dia mendengar seruan salah satu murid Sekte Lautan Awan.
"Ada yang terlempar..!"
Tetua Wang Jing Li tersentak. Dia melihat puing-puing bangunan terlempar dan berjatuhan ke arahnya, beberapa murid menghindari puing-puing tersebut.
Tetua Wang Jing Li menyipitkan mata dan seketika melesat saat tahu ada manusia yang terlempar. Dia pun berhasil menangkapnya dan tersentak saat tahu yang dia tangkap adalah Zhao Lu Si.
Tetua Xie Yanran juga melihatnya dan menjadi tegang. Dia berseru, "Bersiaplah! Kini dimulai..!"
!!!
Jian Yang dan para murid Sekte Lautan Awan langsung mengatur posisi. Begitu pula dengan Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu. Mereka melihat di antara puing-puing bangunan yang terlempar ada juga murid Sekte Lautan Awan yang menjadi tawanan.
Lan Guan Zhi berhasil menangkap satu orang murid perempuan. Hanya saja luka pada murid tersebut sudah terlalu parah dan bahkan telah tiada. Di sisi lain, para murid Sekte Lautan Awan juga ada yang menangkap mayat saudara mereka, tidak sedikit yang bahkan hanya menangkap potongan tubuh saja.
"Ini ...." suara Yan Tianhen bergetar dan raut wajahnya pucat. Dia tidak bisa menerima saudara seperguruannya akan mengalami nasib yang tragis seperti ini.
__ADS_1
"Tidak ada waktu untuk bersedih, Tianhen!" Liu Wei Lin berseru. "Kau harus menguatkan hatimu...!"
Yan Tianhen berusaha mengatur napas. Meski ada satu titik di hatinya yang tidak menyukai Liu Wei Lin, tetapi apa yang dikatakan pemuda itu memang benar.
Yan Tianhen tidak bisa menjadi lemah, dia harus meneguhkan hatinya. Dia bukan lagi pemula dalam dunia yang penuh pertumpahan darah ini.
Di sisi lain, Ling Qing Zhu sebenarnya juga merasakan hal sama. Hatinya berdenyut sakit melihat kondisi para murid Sekte Lautan Awan yang menjadi tawanan. Dan buruknya, dia tidak bisa berbuat apa-apa pada mereka yang telah tiada.
"........... Shuxiang," Ling Qing Zhu menarik napas dan mengingat Wali Pelindungnya. Ucapan pemuda mempesona itu masih terngiang di kepalanya.
"Aku punya satu rencana. Akan kuserang langsung ke tempat mereka. Sementara kalian bantu aku mengepung pulau terapungnya. Biar aku selamatkan para murid dengan caraku sendiri dan setelah mendapat tanda----para Tetua akan langsung menyergap."
"Kau...! Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu menyerang tempat itu sendirian?! Mereka mengincarmu dan kau justru ingin menyerahkan diri begitu saja?!" Tetua Wang Jing Li protes.
Saat itu, ekspresi wajah Xiao Shuxiang tidak berubah. "Siapa yang menyerahkan diri, Tetua? Aku bicara serius. Tidak ada yang boleh menghadapi orang-orang itu selagi mereka masih membawa sandera. Hanya aku seorang yang bisa."
"Tapi kenapa?!"
"Karena hati kalian lemah. Aku akui kalian mempunyai praktik yang tinggi dan jujur saja sangat kuat. Tetapi saat dihadapkan dengan keselamatan nyawa orang lain, kalian tidak bisa mengatasinya. Kalian cenderung memilih mengorbankan diri sendiri dan itu adalah hal yang salah. Aku tidak akan pernah membiarkannya, jadi aku yang akan pergi. Tunggu sampai para sandera itu kubebaskan dan baru setelahnya .... Kalian bisa menyerang."
"Tapi---"
"Lima menit. Percayakan waktu lima menit ini padaku. Bila sampai saatnya tiba dan tidak ada perubahan yang terjadi, maka lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Tetapi sungguh, kalian akan kalah jika tidak mengikuti apa yang kukatakan."
Lan Guan Zhi pun demikian. Dia tidak pernah meragukan pemikiran teman baiknya meski Xiao Shuxiang memang terkadang suka bertindak kekanakan dan sulit sekali diprediksi.
Benar. Sebelumnya telah banyak tindakan tidak waras yang dilakukan oleh teman baiknya, namun semua itu selalu berakhir dengan sesuatu yang luar biasa. Seperti sekarang ini, Xiao Shuxiang melakukan cara yang tidak biasa untuk menyelamatkan nyawa para murid Sekte Lautan Awan.
*
*
Di hadapan musuh-musuhnya. Xiao Shuxiang mungkin terlihat tidak peduli dengan para tawanan. Dia bahkan telah memperlihatkan betapa tidak pedulinya dia dengan menebas tubuh mayat murid Sekte Lautan Awan dan juga melukai mereka yang masih bernyawa.
Tidak hanya itu, Xiao Shuxiang bahkan tidak peduli jika angin kejut yang tercipta dari Teknik Pernapasan dan jurusnya membuat para tawanan itu terlempar ke udara. Apalagi disertai dengan puing-puing bangunan yang juga ikut terlempar.
Xiao Shuxiang berusaha untuk dapat mempertahankan kekuatan dari setiap serangannya. Dia tidak bisa berhenti bergerak sekarang karena jika itu sampai terjadi, maka nyeri akan langsung menjalar ke tubuhnya dan dia bisa saja tidak akan mampu bergerak lagi.
Xiao Shuxiang menahan napas dan masih bertukar serangan dengan Fu Tou. Dia berkata, "Ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku saat ini. Pedang pusakaku, Yīng xióng mempunyai racun yang sangat mematikan. Satu goresan kecil saja, maka lawan akan langsung menjadi gumpalan daging. Tapi kau .... Selain tidak mati menjadi gumpalan, justru kau masih bisa bertarung seperti ini. Apa mungkin kau---"
"Hmph, bukankah iblis adalah makhluk abadi?"
__ADS_1
!!!
Fu Tou menyeringai melihat ekspresi terkejut lawannya. Dia pun kembali berkata, "Iblis tidak akan mati sebelum seluruh makhluk di dunia ini tiada. Kau .... Percuma saja melawanku...!"
Fu Tou menghentakkan kakinya dan menyerang dengan kekuatan yang lebih besar hingga mampu menggetarkan tanah. Dia membuat lawannya tidak mampu bertahan hingga harus menghantam beberapa bangunan yang masih berdiri.
"Ha ha ha, tidak ada yang bisa melawan Iblis. Kami memiliki kekuatan yang besar dan kau hanya seperti semut kecil di mataku." Fu Tou menjilat bilah pedang besarnya, matanya berkilat merah. "Sudah waktunya untuk menyelesaikan ini--"
"Fu Tou," Chu Gu Xiang menyela, dia menapak di samping rekannya. "Kau jangan bunuh dia. Berikan pemuda itu untukku,"
?!
Fu Tou mengerutkan keningnya dan menatap gadis cantik berpakaian ungu gelap di sampingnya ini, "Kenapa kau menginginkan orang itu? Dia hanya pemuda lemah dan praktik kultivasinya itu benar-benar sampah,"
Chu Gu Xiang menatap tajam ke arah Fu Tou, tetapi bibirnya tertarik membentuk senyuman. "Aku menginginkan pemuda itu karena dia sudah berani menghadapi kita sendirian. Dia sepertinya tidak tahu seberbahaya apa Sekte Lembah Iblis."
Chu Gu Xiang bersuara dingin, "Aku tidak ingin dia mati dengan mudah. Ini akan mempermalukanku. Kau mengerti?"
"Hmph, kalau begitu akan kupotong kedua tangannya terlebih dahulu agar nantinya dia tidak bisa melawan,"
Chu Gu Xiang tidak menghentikan Fu Tou. Dia melihat rekannya melesat ke tempat di mana Xiao Shuxiang berada.
*
*
Tubuh Xiao Shuxiang baru berhenti setelah menghantam lima bangunan dan tiga batang pohon serta sebuah batu besar yang sebelumnya selalu menjadi tempat duduknya.
Batu besar itu bahkan sampai pecah berkeping-keping dan merupakan sebuah keberuntungan Xiao Shuxiang masih hidup sekarang.
"Padahal aku berharap ini berakhir..." Xiao Shuxiang terbatuk darah. Dia berusaha untuk bernapas pelan, pandangannya melihat ke langit. "........ Sudah malam,"
Xiao Shuxiang memejamkan mata sejenak. Seluruh tubuhnya saat ini sangat sakit dan bahkan untuk bergerak sedikit saja akan menambah rasa sakitnya hingga berkali-kali lipat.
"Aku lapar .... Dan juga mengantuk ...." Xiao Shuxiang mengembuskan napas pelan. Dia yakin ada beberapa tulangnya yang patah.
Rasanya benar-benar sakit, tapi dia sulit untuk berteriak kesakitan dan melampiaskan semuanya. Dia menahan suaranya.
"Aku benar-benar mengantuk .... Tapi ini belum selesai. Haah.... Sudahlah. Paling tidak .... Para tawanan itu sudah bebas sekarang. Aku pun telah membuat satu kebaikan .... Yang bisa kubanggakan,"
Kilat merah terlihat di langit dan melesat ke tempat Xiao Shuxiang berada. Kilat itu menghantam tanah dan perlahan sosok pria yang tak lain adalah Fu Tou terlihat.
__ADS_1
Pria berotot itu berjarak sekitar 7 meter dari tempat Xiao Shuxiang terbaring. Dia pun berjalan tenang sambil memegang pedang besarnya. Fu Tou menyeringai.
******